Friday, 31 May 2013

Tugas-2 Ghinaa Nabiila XI IPS 2


Kakek Soerasto, Tentara Pelajar

Sebagai pelajar, tugas kita adalah belajar. Itu merupakan kewajiban kita sebagai pelajar sebagai bukti tanda bakti kita kepada orang tua serta negara. Hal itu juga merupakan pemikiran kita yang tinggal dalam masa ini, yang tinggal seetelah negeri ini sudah merdeka, yang tinggal menikmati jasa para pahlawan. Akan tetapi, tidak menurut eyang Soerasto, tidak juga menurut para Tentara Pelajar lainnya. Menurut eyang, membela yang menurutnya benar, memerdekakan Indonesia, serta mempertahankannya adalah hal yang lebih penting
Biografi ini adalah biografi kakek saya dari pihak ayah saya yang sudah lebih dulu meninggalkan saya dan keluarga bahkan sebelum ayah saya menikah dengan ibu saya. Ayah saya bernama M. Guntur Widjayanto adalah sebagai sumber informasi utama saya dalam merangkai biografi ini. Selain dari ayah saya, saya juga mengumpulkan informasi dari surat – surat berharga kakek saya yang dokumen nya masih tersimpan rapih di rumah saya.
Kakek saya meninggalkan dua buah koper, serta dua document keeper yang disimpan dirumah ayah saya karena ayah saya adalah anak tertua eyang. Di dalam koper tersebut tertinggal akte – akte dari adik – adik ayah saya sedangkan di koper lainnya tersimpan segala macam penghargaan berupa bintang – bintang serta piagam atas partisipasi dan jasa kakek saya selama hidupnya. Di salah satu document keepernya, kakek saya menyimpan surat – surat berharga seperti surat pernyataan gaji, surat kenaikan pangkat, surah kelulusan beliau semasa kuliah, dll. Sementara di document keeper yang lainnya, kakek saya menyimpan dan mengarsipkan surat – surat yang beliau tulis untuk nenek saya saat mereka belum menikah dalam kurung waktu 1955 – 1961. Surat – surat itu ditulis untuk mengabari, menceritakan, serta menumpahkan isi hati beliau kepada nenek saya. Surat – surat itu tersusun rapih dan tulisannya masih bisa dibaca meskipun saya kurang bisa membacanya dikarenakan tulisan sambung dan ejaan yang saya tidak terbiasa membacanya.

BIOGRAFI
Ia bernama Surasto. Beliau lahir di Sentolo, Yogyakarta pada tanggal 22 November 1932.  Beliau adalah anak ke 3 dari 6 bersaudara yang semasa hidupnya lahir dan besar di Sentoloyo, Yogyakarta. Tahun 1945, eyang lulus dari SD WATES dan melanjutkan pendidikan ke SMP Yogyakarta tapi sempat terputus karena eyang bergabung kedalam Tentara Pelajar. Eyang lulus SMA pada tahun 1952. Pendidikan terakhir beliau adalah sebagai sarjana hukum di Universitas Gadjah Mada dan dinyatakan lulus pada 17 Juni 1961 dan lulus sebagai cum laude. Semasa kuliah, eyang mendapatkan beasiswa dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX.
Beliau memulai karirnya sebagai Pegawai Bulanan/Ahli Tata Usaha di Pelabuhan Palembang pada tahun 1962. Dilihat dari Daftar Riwayat Hidup dari Badan Adiministrasi Kepegawaian Negara, beliau kemudian menjadi Direktur Pelabuhan Teluk Bayur. Tetapi pada tahun 1965, ia pindah ke Tanjung Priok baru kemudian pindah kerja ke Departemen Perhubungan. Departemen Perhubungan Laut ia mengalami kenaikan pangkat berkali – kali dan kemudian sampai pada jabatan terakhir beliau yaitu sebagai Kepala Bagian Inventarisasi Penghapusan Biro Perlengkapan.
Kurang jelas kapan tepatnya eyang kakung bertemu dengan mbah uti (istri eyang, nenek saya). Akan tetapi, seperti yang sudah saya ceritakan di atas, eyang meninggalkan kita sebuah document keeper  yang berisi surat – surat yang ia tulis kepada mbah uti dari tahun 1955 – 1961. Ini adalah bagian paling menarik dari semua peninggalan eyang menurut saya. Sepertinya, eyang bermaksud untuk membukukan surat – surat ini dikemudian hari, karena di bagian awal dokumen ini eyang menyisipkan kata pengantar serta di beberapa bagian terdapat bukti – bukti kejadian seperti foto ketika eyang dan mbah uti bertunangan, fotokopi undangan pernikahan eyang dan mbah uti, dan lain – lain. Ada surat yang ditulis dengan bahasa inggis atau bahasa indonesia, serta ada surat yang ditulis dengan diketik atau tulis tangan, dengan spidol atau tinta.
Eyang memiliki enam anak laki – laki dan 2 anak perempuan sehingga jika di total eyang memiliki 8 anak. Sebenarnya saat hamil anak ke 6, mbah uti keguguran sehingga yang seharusnya eyang memiliki 9 anak menjadi hanya 8 anak. Ayah saya adalah anak tertua eyang yang lahir pada 17 November 1962 dan jarak umur ayah saya dengan adik – adiknya bisa dibilang jauh. Ayah saya lahir di Palembang dan anak ke dua eyang lahir di Teluk Bayur.
Di Jakarta, rumah eyang tidak hanya dihuni oleh anak – anak eyang dan mbah uti saja, akan tetapi banyak saudara – saudara eyang yang tinggal di rumah eyang. Karena umur ayah saya dan adik – adiknya lumayan jauh, ayah saya jadi lebih dekat dengan saudara – saudara lainnya yang seumuran dengan ayah saya.
Ayah saya sering bercerita tentang kebaikan eyang yang merawat dan menampung saudara – saudara yang butuh bantuannya. Karena sifat eyang itulah ayah saya pun berpendapat kalau seseorang menanam kebaikan, kebaikan itu akan berbuah kepada anak orang yang menanam kebaikan itu. Jadi eyang tidak berharap kebaikannya dibalas langsung untuknya melainkan, eyang berharap orang – orang yang dibantuknya itu nantinya .
Eyang meninggal karena sakit kanker hati pada tahun 1991 diumur 52 tahun saat ayah saya kuliah. Eyang dikubur di kuburan yang sama dengan adik ayah saya yang meninggal sebelum lahir. Kuburan eyang berada di Tempat Pemakaman Umum Layur, Rawamangun dan eyang tidak dikubur dengan tanda pahlawan di kuburannya karena permintaanya. Saat mbah uti meninggal, uti juga dikubur ditempat yang sama dengan eyang dan adik ayah saya yang meninggal sebelum lahir.








PERANAN

Tanggal 23 Mei1968, beliau baru mendapatkan Kartu Pemakaian Tanda – Tanda Jasa dari Komandan Daerah Militer V sebagai Tentara Pelajar. Beliau mendapatkan 6 tanda jasa semasa bergabung dengan Tentara Pelajar yaitu:
1.     Bintang Gerilja yang dikeluarkan pada 17 Agustus 1958
2.     Tanda Jasa Perang Kemerdekaan  I yang dikeluarkan 10 November 1958
3.     Tanda Jasa Perang Kemerdekaan II yang dikeluarkan 10 November 1958
4.     Tanda Jasa Gerakan Operasi Militer I yang dikeluarkan 29 Januari 1959
5.     Tanda Jasa Gerakan Operasi Militer VI yang dikeluarkan 29 Januari 1959
6.     Tanda Jasa Satya Lancana Penegak yang dikeluarkan 29 Desember 1967


Di dalam dokumen – dokumen yang ditinggalkan eyang, terdapat daftar sekolah eyang sedari Sekolah Dasar hingga tamat kuliah. Beliau menghabiskan masa – masa beliau sampai tamat kuliah di Yogyakarta. Di selang antara Sekolah Menengah Pertama hingga Sekolah Mengengah Atas, eyang bergabung dengan pasukan Tentara Pelajar Yogyakarta.
Menurut adik eyang yang bernama Eyang Tatik, eyang kakung bergabung dengan Tentara Pelajar Yogyakarta dikarenakan perasaan eyang yang tidak suka dengan Belanda. Pada zaman itu, walaupun Indonesia sudah menyatakan merdeka, perilaku Belanda yang melarang anak – anak untuk sekolah dan  malah menyuruh mereka untuk bekerja pada Belanda membuat eyang kesal. Belanda juga berlaku semena – mena dan kita harus patuh juga tunduk pada Belanda. Sehingga saat ada kesempatan untuk berpartisipasi dalam kemerdekaan Indonesia, eyang pun turut ikut.
Eyang bergabung dengan Tentara Pelajar Yogyakarta bersama dengan Eyang Darto yaitu saudara kandung eyang. Pada saat itu eyang masih seorang pelajar di bangku Sekolah Mengengah Pertama. Eyang tinggal di asrama Tentara Pelajar dan tinggal jauh dari rumahnya. Selama berperang dan bergabung dengan Tentara Pelajar, eyang jarang pulang ke rumah dan juga jarang bertemu dengan keluarga.
Peran eyang saat menjadi Tentara Pelajar yang paling sering dilakukan oleh kelompok pasukannya adalah menghambat datangnya pasokan logistik untuk pasukan Belanda seperti makanan, alat – alat kesehatan, obat – obatan, amunisi perang, senjata, dan lain – lain. Pasukan eyang menyerang iring –iringan pembawa logistik Belanda agar Belanda kekurangan logistik untuk berperang. Setelah diserang, pasokan logistik itu pun dibawa dan dibagikan kepada penduduk Indonesia serta aa yang dibagikan untuk Tentara Pelajar sendiri. Biasanya logistik berupa makanan diberi kepada masyarakat dan obat – obatan, senjata, serta lain – lainnya disimpan untuk logistik Tentara Pelajar.
Saat sedang mencegat iring – iringan pasukan logisitik Belanda, pernah suatu ketika eyang dan pasukannya diserang pesawat tempur Belanda yang sering disebut “Cocor Merah”. Pasukan eyang pun menyebar ke berbagai arah dan eyang terpisah sendiri dan melarikan diri ke daerah kuburan. Di Jawa jaman dahulu, kuburan berbentuk batu dan disebut “kijing”. Eyang menunggu sampai keadaan aman baru mencari teman – temannya yang lain. Akan tetapi, keadaan tak kunjung aman hingga akhirnya eyang pun menghabiskan malam di daerah kuburan diantara kijing – kijing tersebut sendirian.
Ada juga cerita tentang bagaimana eyang dan pasukannya di bom oleh Belanda dan melarikan diri sambil berlari zig – zag agar tidak terkena bom atau tembakan Belanda. Eyang juga pernah merasakan di tembaki oleh tank Belanda di jembatan dan berakhir dengan eyang yang loncat dari jembatan dan berenang di sungai agar selamat.
Walaupun peralatan yang digunakan serta perlengkapan perang yang dipakai Tentara Pelajar dengan Belanda sangat berbeda, menurut eyang pasukannya juga memiliki beberapa keunggulan seperti eyang dan teman – temannya yang mengerti dan hafal seluk beluk dari daerah nya.
Dengan semangat melawan Belanda, eyang dan para Tentara Pelajar lainnya bisa melakukan apa saja untuk menjatuhkan dan mengalahkan Belanda. Bahkan, teman eyang pernah bunuh diri agar dapat menghancurkan tank Belanda dengan cara mem-bom dirinya sendiri.
Dalam operasi – operasinya, eyang sering kali tidur di hutan dan sawah. Karena eyang adalah penduduk asli daerahYogya, eyang jadi tau tempat – tempat strategis untuk menyerang dan bersembuni. Tempat paling aman untuk tidur adalah hutan. Karena pada malam hari, pasukan Belanda tidak berani utuk masuk kedalam hutan. Kondisi hutan yang gelap dan relatif sama semua (banyak pohon yang bentuknya sama) membuat tentara Belanda sering kali tersesat bahkan pada siang hari. Makanya, pasukan Belanda tidak dapat masuk ke hutan pada malam hari.
Kebanyakan hari eyang dihabiskan di hutan, tidur, bersembunyi, menyerang, dan mengganggu pasuka Belanda. Tentara Pelajar dibagi dua, ada yang terjun langsung ke hutan dan berperang dengan Belanda tapi ada juga yang tinggal di asrama menunggu panggilan dari pemerintah kalau – kalau butuh bantuan. Eyang lebih sering berada di hutan ketimbang berada di asrama. Untuk bertahan hidup di hutan, eyang sering kali hanya memakan serangga seperti jangkrik dan belalang agar bisa tetap hidup.
Eyang bergabung dengan Tentara Pelajar sejak 1948 sampai saat Tentara Pelajar di bubarkan pada tahun 1951. Para teman eyang ditawarkan untuk mengikuti ujian persamaan yaitu sebuah ujian persetaraan bagi yang ingin melanjutkan pendidikan atau ditawarkan untuk bergabung dengan TNI atau POLRI jika bersedia. Menurut cerita eyang Tatik, eyang sempat menodorkan pistol bekas perang kepada pengawas ujian persamaan agar dapat lulu. Akan tetapi, eyang mendapat beasiswa dari Sultan Hamengkubuwono IX dan lulus sebagai Cum Laude. Itu membuktikan bahwa eyang termasuk anak yang pintar karena tanpa belajar di Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas, eyang bisa lulus Cum Laude serta mendapat beasiswa.

 PENUTUP
Sekian biografi eyang saya dan cerita tentang peranan eyang saya. Mungkin semua orang tidak mengenal kakek saya seperti pahalwan – pahlawan lainnya. Tapi, setidaknya untuk saya dan keluarga saya tahu cerita eyang akan membuat eyang cukup bahagia.
Saya bangga pada eyang dan dengan tugas ini Alhamdulillah saya menjadi lebih tau tentang eyang yang memang tidak pernah saya temui.

2 comments:

  1. Hai, ghina.
    Perkenalkan saya Puji Setianto.
    Kita pernah bertemu sejak kecil.
    Ayah (mas gun pasti mengenal saya) dan bagaimana kabarnya.

    Saya sangat merindukan keluarga pak Soerasto. Saya sudah lama tidak ke makam beliau, jika bisa saya ingin untuk datang ke makam beliau namun tidak mengetahuinya. Jika ayah mu (mas gun) sempat tolong hubungi saya di 0896 20136134. Posisi saya di depok di universitas indonesia.

    ReplyDelete
  2. Hai, ghina.
    Perkenalkan saya Puji Setianto.
    Kita pernah bertemu sejak kecil.
    Ayah (mas gun pasti mengenal saya) dan bagaimana kabarnya.

    Saya sangat merindukan keluarga pak Soerasto. Saya sudah lama tidak ke makam beliau, jika bisa saya ingin untuk datang ke makam beliau namun tidak mengetahuinya. Jika ayah mu (mas gun) sempat tolong hubungi saya di 0896 20136134. Posisi saya di depok di universitas indonesia.

    ReplyDelete