Friday, 31 May 2013

Tugas 2 - Kallista Alsadila


Selama kurang lebih tiga ratus lima puluh tahun lamanya, Indonesia mengalami masa penjajahan sebelum akhirnya memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus tahun 1945. Penjajahan ini dimulai dari kedatangan Inggris, masa penjajahan yang lama oleh Belanda, dan pendudukan Jepang. Kemerdekaan yang telah dimiliki bangsa Indonesia, sangat susah untuk didapatkan. Suka-duka sampai pertumpahan darah dialami bangsa Indonesia, yang akhirnya dapat mengibarkan Sang Saka Merah Putih.

            Perjuangan bangsa Indonesia tercatat dalam beberapa naskah sejarah seperti yang terdapat pada Arsip Nasional. Akan tetapi, selain bukti tertulis, perjuangan bangsa ini juga dapat kita ketahui dari saksi-saksi sejarah yang hidup pada masa itu. Pengalaman hidup para saksi sejarah merupakan warisan bagi kita, generasi muda Indonesia.

            Untuk tugas sejarah kelas XI, saya ditugaskan untuk mencari salah seorang saksi perstiwa sejarah dan mewawancarainya. Pada kesempatan ini saya mewawancarai salah satu saksi sejarah yang telah menyaksikan banyak peristiwa sejarah yang terjadi di Indonesia mulai dari penjajahan oleh bangsa Belanda, kemerdekaan Indonesia, orde Lama, orde Baru, Reformasi dan sampai sekarang. Nenek saya atau Neni begitulah sapaan beliau sehari-hari oleh anak dan cucu-cucunya, salah satu saksi sejarah yang bersedia saya wawancarai. Untuk wawancara kali ini saya mendatangi ke kediaman beliau, yang berada persis disebelah rumah saya. Dalam wawancara ini, saya bertanya tentang bagaimana suasana sana terjadi penjajahan dan peristiwa-peristiwa penting lainnya.

Biografi
Lahir di Kota Bandung pada tanggal 12 Maret 1943, Nenek saya, Subianti binti Isnandar merupakan salah satu saksi kejadian pada masa Belanda menjajah Indonesia. Beliau merupakan anak pertama dari 6 saudara, yang terdiri dari 3 perempuan dan 3 laki-laki. Masa kecil beliau dihabiskan di kota Pare, Kediri, Jawa Timur. Sampai kira-kira usia 5 tahun, beliau sekeluarga pindah ke kota Jakarta tepatnya di daerah Jatinegara. Beliau menempuh pendidikan tingkat Sekolah Dasar di Jatinegara sampai kelas 3. Setelah itu beliau  harus pindah dan meneruskan pendidikan kelas 4 tingkat Sekolah Dasar di daerah Cilacap, Jakarta Pusat. Setelah itu beliau meneruskan pendidikan Sekolah Tingkat Menengah di Sekolah Swasta Masudirini, di daerah Jatinegara. Setelah tamat SMP, beliau melanjutkan pendidikan di S.G.K.P (Sekolah Guru Kepandaian Putri) di Jalan Budi Utomo. Setelah itu beliau menetap di Jakarta sampai sekarang.
Pada Tahun 1962, beliau menikah dengan kakek saya yaitu  Moeljono Maksoem di Jakarta. Kakek sampai sekarang bekerja di Sukabumi sebagai Dokter Spesialis Anak. Pada awalnya kakek diberikan 2 pilihan daerah untuk berdinas, yaitu Irian atau Sukabumi. Karena Sukabumi lebih dekat dengan Jakarta, akhirnya kakek memilih berdinas di Sukabumi.
Dari pernikahan ini, beliau memiliki 4 anak, 2 perempuan dan 2 laki-laki. Putri pertama mereka adalah Ira Primayana yang sekarang merupakan Dokter Ahli Akupuntur di RSPP (Rumah Sakit Pusat Pertamina). Anak ke-2 mereka adalah ayah saya, Arga Bharata, yang merupakan lulusan S2 Magister Management ITB (Institut Teknologi Bandung), Business & Administration Technology. Anak ke-3 mereka adalah Ario Pramadhi, yang merupakan lulusan S2 UI (Universitas Indonesia). Terakhir adalah Hertiana Wulandari. Sekarang keempat anak beliau, sudah menikah.

Peranan
Tahun 1946, merupakan tahun dimana ibukota RI dipindahkan ke Yogyakarta. Walaupun sudah merdeka, negara Indonesia masih dijajah oleh Belanda. Beliau sempat merasakan bagaimana mencekam-nya keadaan pada saat dijajah Belanda. Pada saat itu beliau berusia 3 tahun dan tinggal di Pare, Kediri.
“Waktu itu ada suara gaduh seperti sekerumunan orang mendatangi wilayah rumah Neni” begitu cerita awalnya. Tenyata sekerumunan orang itu adalah tentara Belanda. Tanpa pikir  panjang, beliau lari keluar rumah bersama keluarganya. Diluar sudah banyak orang berlari tanpa arah yang merasa ketakutan. Dipikiran beliau pada saat itu, beliau harus mencari tempat paling aman agar tidak diketahui oleh para tentara Belanda. Beliau pun bersembunyi dibawah pohon bambu, sambil memikirkan tempat aman untuk beliau bersembunyi. Setelah itu akhirnya mereka lari ke bunker rumah mereka. Bunker merupakan tempat dibawah tanah, yang sengaja dibuat untuk tempat persembunyian. Dari cerita beliau, bunker tersebut digali sendiri oleh beliau dan keluarganya. Setelah masuk ke dalam bunker, mereka menunggu beberapa saat sampai para tentara pergi. Setelah merasa yakin mereka keluar dari tempat persembunyian. Tetapi yang tidak diduga-duga, masih ada beberapa tentara yang berpatroli. Untung saja beliau cepat masuk lagi kedalam sehingga tidak sempat ketahuan oleh tentara-tentara tersebut.

No comments:

Post a Comment