Friday, 31 May 2013

Tugas 2 - Kisah Perjuangan Kakek Jus Rusady


R. J. Rusady W. ketika masih muda

BIOGRAFI
Orang yang saya angkat untuk dituliskan dalam sebuah profil adalah  R. Jus Rusadi Wirahaditenaya. Beliau adalah adik dari almarhum kakek saya. Beliau yang biasa dipanggil oleh ibu saya Om Yus, lahir pada tanggal 18 Desember 1925, Cirebon, oleh pasangan R. Yusuf Wirahaditenaya (almarhum) dan Garmini (almarhumah). Beliau adalah anak ketiga dari lima bersaudara. Menikah dengan wanita yang beliau sebut dengan tambatan hatinya yang bernama Zus Marry Z. Abdullah (almarhummah), seorang penghubung aktif, yang membantu perjuangan beliau dengan menyelundupkan makanan dan senjata. Beliau memiliki 7 anak, yang bernama, Rulany Indra Gartika, Adella Nurani, Mayke Rulina Aryani, Benny Bintang Laksana, Maya Amyrani, Ricki Ganefi, Pradnya Paramitha Chandra Devy.
Beliau adalah seorang Komandan kompi I Batalyon 33 pelopor di saat itu. Sekarang ini, beliau adalah seorang veteran terhormat yang berusia 88 tahun.
Pendidikan umum yang telah beliau jalani: Freubel School Jakarta, 1933; Europesche Lagere School Jakarta; Nippongo Kogyo Gakko, Tasikmalaya, 1942; Sekolah Teknik Menengah Bandung, 1945
Setelah menjalani pendidikan umum, beliau mengikuti juga pendidikan militer, yaitu:Sekolah Persamaan TNI AD, Cimahi; Sekolah Intelejen AD, Bogor; Kursus Perwira Lanjutan I, Bandung; Asociate Officer Career Course Benning, USA, dan Special Forces Training Course Fort Bragg, USA.
Inilah catatan jabatan yang pernah disandang oleh beliau:
Jawa Barat:
Pa Si I Det I Res Pelopor Div III/TRI, Bandung Timur ; Dan Ki I Yon 33 Res X/ Sukapura Div III/ S1w, Garut ; Pa Si II Yon 306 Bde XIV Div IV/S1w, Garut ; Pa Si II Yon 306 Bde XIV Div IV/ S1w, Sukabumi; Instruktur Intelejen AD SUAD I, Bogor ; Pa Staf Dep. Instr. SSKAD, Bandung ; Pa. Staf Dep. Litbang
Sulawesi Selatan dan Tenggara:
Wakil asisten I Kepala Staf Dam. XIV/ Hasanudin, Makasar; merangkap Wa As I Operasi Kilat Dam XIV/ Hasanudin, Pare-pare; Wa As I Ka Staf Kowilhan III, Makasar.
Sulawesi Utara dan Tengah:
As I Ka Staf Dam XII/ Merdeka, Manado; merangkap As Intel, Laksusda Sulutteng, Manado; merangkap Dan Satgas Screening Laksusda Sulutteng, Manado; merangkap Ketua Badan Koordinasi Intel Sultteng, Manado.
Jakarta:
As I/ Pam Ka Staf Dam V/ Jakarta Raya; merangkap As Intel Laksusda Jakarta Raya; merangkap Dan Satgas Intel Laksusda, Jakarta Raya; merangkap Dan Satgas Screening Laksusda Jakarta Raya; merangkap Ketua Badan Koordinasi Intel Jakarta Raya; masuk Masa Persiapan Pensiun 1978 dan Pensiun 1979.
Buku yang beliau tuliskan berjudul "Tiada Bandung dari Timur"

Pangkat terakhir yang disandangnya di dalam kedinasan militer adalah Kolonel Infanteri TNI AD.
Untuk melestarikan jiwa, semang dan nilai-nilai 45, beliau pun menulis buku yang berjudul “Tiada Berita dari Bandung Timur 1945-1947”. Buku ini berceritakan tentang kesaksian langsung dari salah satu pelaku perjuangan di Front Bandung Timur, yaitu, R.J. Rusady W. 
Buku itu diterbitkan 3 Tahun yang lalu dengan cetakan pertama pada bulan November tahun 2010. Di saat buku ini belum disebarluaskan beliau memberikan buku-buku ini kepada anak-anak dan juga keponakan-keponakannya termasuk juga ibu saya. Saya baru membaca buku ini di tahun 2013 di bulan Mei. Ketika saya belum tahu siapa orang yang segenerasi dengan kakek saya yang bisa diwawancarai dan memiliki peran untuk negaranya. Ibu saya merekomendasikan untuk bercerita mengenai  peranan beliau melalui buku ini. Berhubung deadline tugas sudah dekat dan juga bapak-ibu saya sibuk bekerja maka itu tidak ada yang mengantar saya ke rumah beliau untuk melaksanakan wawancara. Alhamdulillah buku ini cukup detail dalam menyajikan informasinya. Malah sangat detail. Beliau menjelaskan masing-masing sifat-sifat teman-teman seperjuangannya, anggota palang merah, atasannya dan juga kenangan yang berbahaya namun beliau menuliskannya bahwa itu adalah kenangan yang konyol.
PERANAN
Beliau sudah ditugaskan dalam perang dimulai dari usia muda. Kalau saya tidak salah seusia seperti kita, para pelajar. Untuk mengabdi negerinya, beliau sampai merelakan untuk berhenti sekolah terlebih dahulu. Tapi, beliau tidak keberatan. Sepertinya beliau menikmati apa yang dilakukannya. Bukan dia menyukai berada di medan perang, tapi beliau melakukan ini dengan hati yang ikhlas. Beliau termasuk orang yang bermotivasi dan mempunyai jiwa berpetualang. Agar mau mengikuti setiap pertempuran, dari yang besar sampai yang kecil, beliau mengibaratkan ini adalah sebuah lomba. Sebuah lomba yang apabila dimenangkan, kita bisa mendapatkan sebuah piala/throphy. Bagi beliau throphy-nya adalah berupa senjata-senjata milik musuh yang mereka bisa dapatkan setelah memenangkan peperangan. Ada juga peralatan dan perlengkapan perang lainnya. Saya juga melihat di buku ini bahwa beliau memang orang yang suka dengan tantangan.
Menurut beliau sifat heroik ditopang dengan kenekatan dan juga keberuntungan, bukan ilmu pasti.
Beliau berkata bahwa dirinya mau tak mau sudah terbiasa dengan pekerjaannya yang di zaman itu pula yang banyak dari kita belum pernah alami. Bahkan kita mungkin memilih untuk tidak mengalaminya. Seperti tidur di tempat berlindung (misalnya di depan kelas yang ada di sebuah sekolah dasar kecil yang pada saat itu pintunya dikunci semua.) ramai-ramai bersama kawan-kawan seperjuangannya. Pernah juga beliau dan lainnya pernah kehabisan pakaian karena kebanyakan sudah sangat kotor ataupun rusak. Dengan kata lain sudah tidak layak lagi dipakai. Beliau dan kawan-kawannya sampai terpaksa memberikan senjata mereka untuk mendapatkan lembaran kain.
Beliau juga sudah terbiasa mendengar suara senapan yang terus menerus menembak, pelurunya bagaikan menari diatas jalanan yang sudah hancur dan tak jelas bentuknya. Kemudian suara bom yang meledak di darat dan juga di udara. Bahkan ada yang sampai 20 menit ledakan bom tersebut terus terjadi tanpa henti.
Tapi ada satu hal yang sering beliau dengar  tapi suara ini adalah suara yang tak akan beliau pernah terbiasa dengannya dan tidak akan mau mendengarnya lagi. Suara tangisan rakyat Indonesia yang tak berdosa yang menangis karena kehilangan hartanya, keluarganya, mungkin juga ada yang kehilangan bagian badannya akibat serangan tersebut. Sungguh hal yang menyayat hati beliau dan juga bagi saya yang mendengarnya.
Beliau menceritakan kejadiannya kepada saya mengenai salah satu peristiwa yang terkenal di Bandung yang sampai dijadikan sebuah lagu. Ya, itu adalah Peristiwa Bandung Lautan Api.
Pada saat itu, di Bulan Desember pemerintah RI mengeluarkan pengumuman yang isinya agar seluruh mahasiswa/i, pemuda dan pelajar melanjutkan sekolah nya kembali. Keadaan ini mensunyikan hati beliau dan kawan-kawan lainnya. Namun kalau dipikirkan lagi, harus ada yang melanjutkan pendidikan untuk bisa memajukan tanah air ini. Jangan semuanya berperang. Beliau memilih untuk tidak melanjutkan sekolah lagi karena di waktu itu, beliau sudah memegang pasukan dan tak sampai hati untuk meninggalkan mereka semua.
            Pada suatu malam beliau dan kwan-kawan ditugaskan untuk mengepung dan melucutkan anggota Angkatan Pemuda Indonesia (API), di markas yang terletak di Tuindrop, daerah Lengkong. Beliau berkata bahwa mereka selalu menimbulkan masalah dan tugas beliau dan kawan-kawan harus melaksanakan ini dengan baik tanpa pertumpahan darah yang berarti. Banyak yang beliau sita namun sebagian besar yang ada adalah berblok-blok kain putih. Kebetulan di saat itu beliau dan lainnya mulai kehabisan pakaian.
            Dari bulan Desember 1945, hingga Februari 1946 berlangsung pertempuran yang tiada habisnya di kota Bandung, terutam di sepanjang gari Demarkasi (rel kereta api) yang menjadi batas wilayah antara tentara Inggris di Bandung Utara dan tentara Republik Indonesia dengan laskar-laskar perjuangan lainnya di Bandung Selatan.
Atas adanya serangan tentara beliau, pada bulan Maret 1946, tentara Inggris melakukan tembakan beruntun selama 20 menit. Selain itu mengarahkan dua pesaat tempurnya ke daerah Bandung Selatan dengan sasaran Markas Batalyon II Sumarsono di Tegallega. Namun beruntungnya markas tersebut telah dikosongkan sehingga tidak ada korban jiwa. Serangan tersebut hanya mengenai kompleks PTT.
            Pertempuran yang terjadi di Bandung dan beberapadaerah Jawa Barat lainnya ternyata membuat berang Panglima tentara Inggris. Ia menyatakan kehendaknya untuk menduduki seluruh kota Bandung. Ia juga memutuskan untuk melakukan aksi “pembersihan” terhadap Bandung Selatan. Akibatnya, ia mengultimatum seluruh Tentara Republik Indonesia agar meninggalkan kota Bandung terutama bagian Selatan Bandung.
            23 Maret 1946, Walikota Bandung, Syamsurizal, menerima pesan dari Menteri Safrudin Prawirnegara dan Jenderal Didi Kartasasmita untuk menyampaikan amanat kepada Perdana Menteri RI, Sutan Sjahrir mengenai pengosongan kota Bandung dalam Radius 11 km, sebagaimana permintaan pihak Inggris. Sedangkan rakyat dan jawatan sipil diharapkan untuk berada di tempatnya masing-masing .
            Keesokan harinya Kolonel Nasution mendapat oerintah yang membingungkan melaui kawat dari Jogja yang berbunyi “Tiap jengkal tanah tumpah darah harus dipertahankan”. Kemudian kolonel bersama penjabat lainnya mendiskusikan kembalimembahas instruksi pemerintah RI dan pemerintah Jogja.
            Kolonel Nasution menjelaskan bahwa selambat-lambantnya Bandung harus kosong pada tanggal 24 Maret 1946,dan tidak boleh terjadi pengerusakan dan pembumihanguskan
24 Maret 1946, rakyat pun mulai mengungsi ke tempat yang aman. Sementara rakyat mengungsi, tentara-tentara membumi hanguskan semua bangunan yang ada. Setelah matahari terbenam, posisi musuh di Utaraharus diserang dan dibumi hanguskan. Begitu pula, harus ada pejuang yang melakukan penyusupan ke arah Utara, dimana musuh berada.
            Pihak Inggris menjatuhakan bom di kawasan Tegallega untuk menakut-nakuti dan mencegah rakyat mengungsi. Inggris dan Belanda melakukan penembakan jarak jauh dengan Howitzer ke Ciparay, dan dengan pesawat pembom B-29 membom Majalaya. Kobaran api yang menjilat bagian kota Bandung  disertai dengan dentuman bom, senapan mesin serta Howitzer. Minggu, 24 Maret 1946. Hari dimana Bandung terlihat bagaikan lautan api.
            Para pejuang semakin terlibat dalam pertarungan yang sampai membuat kota Bandung terbelah menjadi dua, bagian Utara yang diduduki oleh pasukan sekutu dan Belanda dan bagian Selatan yang masih dipertahankan oleh pasukan kita. Selama bertempur terjadilah seleksi alam yang membentuk sebuah susunan pasukan tempur yang akan selalu ditempatkan di front terdepan sehingga pasukan ini dinamakan Detasemen Pelopor, yang beranggotakan Ukas P., I. Suripto, Sukardjo, Sudjoko, Nondon, Ridwan P., Baay S., Y. Alibasyah, T. Sumitro, Loekito S., E.M. Achir, Lili S., Memed A., Arbain M., Iskandar, dan termasuk juga beliau sendiri (R. J. Rusady W.).
            Disinilah ditunjukan dengan nyata betapa taatnya pejuang-pejuang kita terhadap pemimpinnya, sekalipun butuh pengorbanan perasaan yang tak terhingga.
            Di samping perintah tersebut terdapat pula perintah dari markas besar di Yogyakarta yang pada intinya berisi amanah untuk jangan menyerahkan Bandung begitu saja kepada pihak sekutu. Maka untuk menaati kedua perintah tersebut (Nasution dan Jogjakarta), pukul 20.01 , dilaksanakanlah “serangan perpisahan” berupa serangan umum dan bumi yang hangus, yang juga sekaligusmerupakan upacara pengunduran diri beliau dan kawan-kawannya.

Penugasan dan Operasi lainnya yang pernah dilakukan beliau:
·         Dari tahun 1945-1949 turut dalam Clash fisik 1 dan 2 dengan Belanda, di daerah Bandung Timur dan Priangan Timur
·          Dari tahun 1949-1951turut dalam pengejaran dan penumpasan DI/TII Karto Suwiryo di daerah Jawa Barat, Priangan Timur.
·         Dari tahun 1950-1951 turut dalam pengejaran dan penumpasan terhadap APRA Kapten Raimond Westerling di daerah Priangan.
·         Dari tahun 1964-1967 turut dalam pengejaran dan penumpasan terhadap DI/TII Kahar Muzakkar pada Operasi Kilat di daerah Sulawesi Tenggara dan Selatan dan Tenggara.
·         Dari tahun 1967-1970 turut dalam penumpasan terhadap GPL RPS pada Operasi Sadar di daerah Sulawesi Selatan dan Tenggara.
·         Dari tahun 1970-1972 turut dalam pembersihan terhadap sisa G30S/PKI pada Operasi Tumpas di daerah Sulawesi Utara dan Tengah.
·         Dari tahun 1972-1973 turut dalam pembersihan terhadap sisa-sisa G30S/PKI pada Operasi Manguni dan Operasi Sapta Karya di daerah Sulawesi Utara dan Tengah.
·         Dari tahun 1972-1974 turut dalam pembersihan terhadap sisa-sisa G30S/PKI pada Operasi Sapujagat di daerah Sulawesi Utara dan Tengah

Berikut ini adalah tanda-tanda yang beliau terima:
·         BINTANG PAHLAWAN GERILYA (Membela Kemerdekaan Negara) – 10 November 1958
·         MEDALI SEWINDU ANGKATAN PERANG REPUBLIK INDONESIA
·         BINTANG KARTIKA EKA PAKSI
·         SATYALANCANA PERISTIWA AKSI MILITER KESATU (Perang Kemerdekaan Pertama)
·         SATYALANCANA PERISTIWA AKSI MILITER KEDUA (Perang Kemerdekaan Kedua)
·          SATYALANCANA BHAKTI (Tertembak Dalam Perang)
·         SATYLANCANA KESETIAAN VII (Pengabdian Sewindu)
·         SATYALANCANA GERAKAN OPERASI MILITER II
·         SATYALANCANA GERAKAN OPERASI MILITER IV
·         SATYALANCANA GERAKAN OPERASI MILITER V
·         SATYALANCANA KESETIAN XVI (Pengabdian Dwi Windu)
·         SATYALANCANA DWIDYA SISTHA (Guru/Instruktur)
·         SATYALANCANA PENEGAK  (Penegak Kemerdekaan)
·         SATYALANCANA KESETIAAN XXIV (Pengabdian Tri Windu)
·         MEDALI PERJUANGAN ANGKATAN 45 (Pejuang ’45)
·         SATYA LENCANA LEGIUN VETERAN REPUBLIK INDONESIA
·         BINTANG LEGIUN VETERAN REPUBLIK INDONESIA

Banyak sekali manfaat yang saya dapatkan selain untuk mendapatkan informasi yang lengkap untuk tugas sejarah. Saya jadi lebih menghargai pahlawan dan saya semakin terbuka dalam melihat sesuatu yang spesial dalam hari pahlawan. Saya pun jadi semakin mengenal beliau, walau jujur saya jarang sekali bertemu dengan beliau. Terakhir sekitar lebaran di tahun 2012 kalau tidak salah. Entah kenapa Tuhan membuat skenario dimana saya harus membuka sampul plastik yang membungkus buku  yang tak pernah dibuka selama 3 tahun itu, dan harus membacanya untuk kepentingan tugas. Dan “poof!” saya seperti sihir lebih mengerti sifat beliau dan mengetahui lebih  keluarganya yang mempunyai kebiasaan selalu mengucapkan  kepada ayahnya “Selamat Hari Pahlawn!” dan tidak lupa memberinya bunga pada tanggal 10 November.
Saya mengucapkan terima kasih kepada Tuhan YME, Kakek R. Jus Rusady Wirahaditenaya, dan Pak Shobirin, yang secara langsung dan tidak langsung memberikan saya pelajaran yang sangat berharga ini. Saya juga berterima kasih kepada ibu saya dan teman-teman saya yang sudah mendukung dan membantu saya dengan mengoreksi tugas ini. Mohon maaf apabila ada kesalahan yang saya perbuat. Wassalam.
Beliau (sekarang) di ulang tahun salah satu anaknya, Pradnya Paramitha Chandra Devy yang ke-45

'
“Hormat dan terima kasih kami yang tak terhingga,
Bagi ayah
Pahlawan kami
Untuk Jiwa
Semangat dan Nilai-nilai ‘45
Yang kau junjung tinggi
Yang kau ajarkan kepada kami”

Anak-anak yang bersyukur dan bangga memilikimu:

Rulany Indra Gartika, Adella Nurani, Mayke Rulina Aryani, Benny Bintang Laksana, Maya Amyrani, Ricki Ganefi, Pradnya Paramitha Chandra Devy

No comments:

Post a Comment