Friday, 31 May 2013

Tugas-2 Mohammad Abrar Abdurrahman XI-IPS1



Oesman Odang, Seorang Dokter Militer Indonesia Yang Menjadi Peran Penting Saat Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia Tahun 1948 Di krawang-Bekasi
 Prof.Dr.R.H.Oesman Odang
Salah satu peran penting dalam memperjuangkan kemerdekaan Negara Republik Rakyat Indonesia dan mempertahankannya adalah peran profesi Dokter. Dokter di jaman perjuangan mengusir penjajah dari Indonesia masih tidak terlalu banyak, makan peran doktr sangat diperlukan. Pada saat itu juga untuk Melawan penjajah diperlukanya dokter, kalau tidak ada peran ini maka kemenangan melawan penjajah pun sangat sulit untuk dicapai.

Tidak disangka ternyata kakek saya Oesman Odang sering disebut juga sebagai “kiki” atau yang nanti bergelar sebagai prefessor dan dokter di jaman mempertahankan kemerdekaan berperan sebagai Dokter Militer, dan ternyata ia menjadi saksi langsung medan perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Maka dari itu saya mau berusaha wawancara peristiwa tersebut dengan melewati Ayah saya Davy Odang. Melalui Ayah Saya, saya menanyakan informasi – informasi penting tentang beliau. Informasi yang saya dapat cukup lengkap, ditambah dengan dokumen keluarga saya pada yang dibuat oleh Kiki sendiri tentang biografi kelurga besar Odang.

A. Biografi

Prof. Dr. R. H. Oesman Odang adalah seorang dokter Ahli Anak yang lahir pada tanggal 8 Mei 1921 di Bogor yang dilahirkan oleh kedua orang tuanya atau buyut saya yang bernama R. H. Odang dan istrinya Nyi. R. H. Saribanon. Oesman atau yang biasanya disebut “akang” oleh adik – adiknya adalah anak pertama dari lima bersaudara. Beliau memiliki empat adik, adik pertama bernama Jusuf Odang atau disebut “Aki ucup” adik ketiga yaitu R. Ratna Suminar Binti Odang atau lebih kenal dengan nama “nini Mien” adik ketiga bernama Djukardi Odang atau dikenal dengan “aki Udju” adik keempat bernama H. Ishak odang atau dikenal juga dengan sebutan “aki Icak” adik kelima bernama R. Pursita atau disebut sebagai “nini Pung” dan adik terakhir bernama Rasyid Odang atau dikenal sebagai “aki Ratu”

Ayah Kiki Odang atau buyut saya yang bernama R.H Odang tinggal di Bogor bersama istrinya Nyi R. Saribanon melahirkan kakek saya Di bogor tanggal 8 Mei tahun 1921. Buyut saya adalah orang sunda dan  tinggal di bogor dan bekerja sebagai Wedana Bogor (bisa dibilang juga sebagai gubernur bogor jamna itu). Karena kakek saya adalah anak pertama dari tujuh bersaudara, maka kakek saya adalah anak yang bisa dibilang paling di tegasi oleh buyut saya, sebagai anak pertama dan lelaki,  merupakan tanggung jawab yang besar beliau harus dapat untuk mengurusi adik – adiknya. Pada saat beliau lulus dan mau masuk ke universitas tinggi, beliau pertama mengambil fakultas jurusan Hukum, akan tetapi, buyut saya merasa bahwa memasuki sekolah hukum kurang bermanfaat untuk melawan penjajah di masa itu, di saat yang sama, kiki juga berpendapat bahwa ia merasa sekolah hukum bukanlah pilihan yang tepat, karena beliau sangat menyayangi anak – anak, maka beliau berpendapat untuk menjadi dokter anak, dan buyut saya pun juga menutujuinya.

Pada akhirnya kikipun sekolah di kedokteran di Jakarta. Akan tetapi selama beberapa tahun sekolah di fakultas kedokteran kiki pun harus berhenti sekolah karena peperangan terjadi di sekolah kiki, maka sekolah tersebut dilburkan untuk memperebut perjuangan kemerdekaan Rakyat Indonesia. Pada saat libur di sekolah kiki, kiki balik ke kampung halamannya di Leles daerah Garut. Di tahun yang sama di daerah Garut memasuki militer sebagai dokter medis perang, dan ikut serta dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Namun disaat itu pula juga ayah kiki sedang didatangi tamu, lalu tamu itu membawa seorang wanita yang bernama Tuti Surasih yang kelak akan menjadi istri kiki dan menjadi nenek saya tercinta.


Di saat kiki sedang bersekolah menjadi dokter militer, kikipun mempunyai kerjaan sampingan menjadi tukang pos antar surat dengan sepeda ontelnya. Semasa kiki belajar di sekolah militer kedokteran, kiki bercerita kepada ayah saya apa saja yang ia lakukan di sekolah tersebut. Karena sedang dalam kondisi perang melawan jepang, para pelajar mahasiswa tersebut pun akhirnya juga ikut serta turun tangan, dan yang lebih hebatnya lagi langsung maju ke medan perang dengan inisiatif tersendiri untuk memperebutkan kemerdekaan.
Pada saat kemerdakaan diraih dan presiden soekarno menyebutkan pancasila untuk yajng pertama kalinya, semua orang dirakyat Indonesia melakukan pesta pora yang berlanjut selama 3 hari 3 malam tanpa henti. Di saat itulah akhirnya kikipun bisa bersama lebih dekat dengan istrinya Tuti Surasih, karena pada saat jaman melawan jepang, kiki tidak bisa balik ke kampung halaman karena tugasnya yang penting untuk kemerdekaan. Karena sudah bebas bertemu kiki pun akhirnya bersama nenek saya Tuti Surasih pindah  ke bogor bersama kiki dan akhirnya dilaksanakanlah pernikahan mereka berdua pada tanggal yang ditempatkan yaitu enam November tahun 1946. Di saat itu kiki pun sudah lulus dari sekolahnya dan resmi menjadi dokter militer yang sudah terpelajar dan terpengalaman. Akhirnya pada tahun 1948 dianugrahkan dari tuhan yang maha kuasa, anak pertama dari pasangan suami istri kiki lahirlah anak pertama mereka yang men jadi om saya H. Jusuf Rifai Odang yang mempunyai nama yang sama seperti adik kiki yang pertama berjatuh pada tanggal 6 April 1948 di kota Bandung.

Di tahun 1953 pada saat era mempertahankan kemerdekaan Indonesia, kiki pun berhenti menjadi dokter militer ahli medis dengan pangkat terkahirnya mayor. Akhirnya kikipun melanjutkan sekolahnya di FKUI (Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia) selama 7 tahun.  Dan akhirnya kiki pun melanjutkannya sampai S3, dan dengan kerja kerasnya ia berhasil mendapatkan gelar yang membuat nama panjangnya bertambah, yaitu mendapat gelar Profesor dan dokter menjadi Prof. Dr. R. H Oesman Odang. Ia mendapat pekerjaan sebagai Dokter sepsialisasi anak sekaligus menjadi sipil, Ia bekerja di RSUP yang dikenal sekarang sebagai ra ciptomangunkusumo.

Setelah buyut saya meninggal, kiki menjadi kepala keluarga besar Odang, yang mempunyai 5 anak yaitu anak pertama seperti yang diatas H. Jusuf Rifai Odang, anak kedua yaitu Dipnala Tamzil yang lahir tanggal, 26 oktober tahun 1952, lalu anak ketiganya adalah Arief Zulkarnaen Odang yang lahir tanggal 2 april 1954, tiga tahun kemudia anak keempat yang sekarang menjadi ayah saya Davy Mohammad Djafar Odang lahir tanggal 26 Januari 1957, dan anak yang terakhir adalah anak perempuan yang bernama Amy Gayatri Odang yang lahir pada tanggal 6 desember tahun 1961.

Kake saya melakukan pekerjaannya sebagai dokter anak merupakan pekerjaan yang “melegenda” pada saat jaman itu. Karena kiki merupakan dokter nomer satu di Jakarta yang sangat amat dipercayai oleh banyak – banyak orang. Ssampai – sampai sebagian guru – guru labschool pun mengenal kiki saya sebagai sebutanya dokter Odang. Pekerjaan kakek saya sangat banyak dihargai oleh pasien – pasienya, selai bekerja di RSUP, kikipun melakukan pekerjaannya di rumah sebagai ruang praktek pasian juga, ayah saya suak bercerita bahwa banyak sekali pasien yang ia liat ketika bangun pagi – pagi, sampai mengantri di luar pagar. Selain itu juga kakek saya itu bekerja sebagai dosen di Universitas Indonesia bagian Kedokteran. Banyak sekali murid dia, menurut orang – orang dia adalah dokter yang sangat sukses dan sangat bekerja keras baik hati pula. Walaupun saya tidak pernah bertemu denganya, tapi saya sangat terkagum dengan kerjaan yang beliau perbuat dan patut untung dicontohi.

Pada tahun 1991 pada bulan juni kiki terkena serangan jantung untunk pertamakalinya, Alhamdulillah dia masih tertolong. Pada saat ia cek kedokter, kiki terkena penyakit jantung yang sangat parah yang membuat umurunya tidak terlalu panjang lagi. Ini diakibatkan karena kiki merupakan perokok yang sanghat berat. Akhirnya ia harus melkukan operasi di Australia untuk sembuh. Pada bulan agusus tanggal 17 tahun 1991, kake saya tercinta menembus nafas terakhirnya pada saat operasi dan dikubur dijakarta di kuburan karet pada tanggal 23 Agustus 1991.





B. Peranan

Pada saat Ayah saya masih kecil, bersama keluarganya ia sedang berpulang kampung ke Garut dari Jakarta ke bandung menaiki kereta, lalu kiki pun bercerita kepada ayah saya tentang masa perjuangan ia yang iya lewati untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pada tahun 1948, kiki dipaksa ditarik untuk mengikuti perang yang berada lokasi di Kwarang – Bekasi, yang kiki lakukan disana yaitu sebagai dokter militer.

Ia menceritakan bertapa berdarahnya pertarungan itu, ia bercerita bahwa katanya perang terus berlanjut sampai akhirnya pasukan belanda menyerahkan kawasan itu sekitar 3 bulan lebih. Tugas dokter militer itu adalah bahwa kita harus muncul di medan perang dan hanya memawa satu senjata ringan, dan  barang yang lailnya  ia bawa adalah membawa peralatan medis untuk para pejuang yang terluka. Ia menyaksikan betapa sedihnya melihat teman – temanya yang masih tertawa bersama di pagi harinya pas malamnya sudah berkurang satu demi satu, kiki menceritakanya sambil berkaca – kaca di matanya kata ayah saya.. tujuan dalam peperangan ini adalah bahwa kolonial Belanda ingin diperluaskan lebih lanjut di daerah Jawa karena Daerah jawa Merupakan daerah yang banyak kota –kota besar yang berpengaruh sekali dalam bidang ekonomi dan politik. Maka dari itu iya mulai dari bekasi akan tetapi tentu saja Negara Indonesia tidak tinggal diam, dan disitulah kakek saya ikut bertasipitasi.

 Kiki juga ikut berpatisipasi dalan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Pada saat itu iya membantu mengusir kolonial belanda bersama jepang di Bandung. Peran yang ia laksanakan adalah sebagai dokter juga, lucunya disaat itu kiki pun bekerja sama dengan jepang dan membantu jepang dengan mebgobati pelajurit – pelajurit jepang. Perang tersebut berlangung tidak lama karena taktik dan mental jepang yang tidak kenal rasa takut mati dan rasa pengorbanan tinggi. Kiki menceritakan ke ayah saya bahwa orang jepang itu katanya “setan”, ia memotivasikan kita untuk membantu dia melawan jepang karena kita sedarah asia dan warna kulit kuning yang sama, dan kita tak perlu dijajah itulh kata jepang. Karena rasa solidaritas di Negara rakyat Indonesia itu sangat akur dan sifat gotong royong yang sangat amat tinggi. Akhirnya Indonesia pun mau melakukan kerja sama membantai para kolonial belanda yang menjajah di Indonesia. Yang pada akhirnya jepang lah yang menjajah kita.

Hal kemerdakaan yang ia lakukan adalah pada saat dia masih remaja tahun 1930an. Ia berkata bahwa suatu waktu di bogor para penjajah belanda sedang menggerogoti dan merampas harta daerah bogor. Yang menimbulkan rakyat bogor unutk bersatu melawan belanda. Kiki bercerita katanya umur dia baru belasan tahun, tapi karena rasa tidak sudi itu membuat dia tidak memperdulikan umurnya dan ikut berperang melawan penjajah belanda yang sifatnya kurang ajar itu. Hal lucu dari ini adalah bahwa adik – adik kiki atau kakek – kakek saya yang lain walaupun masih kecil iku berpatisipasi melawan kolonial belanda yang kurang ajar tersebut.

Menurut saya kakek saya prof. Dr. R.H. Oesman Odang adalah sosok yang sangat amat saya hormati dan hargai. Kakek saya merupakan contoh yang harus dipatuti untuk anak generasi muda Indonesia sekarang dan mendatang dari segi Sifatnya yang Rajin,baik hati, dan dari sifat rasa bela Negara yang sangat tinggi. Walaupun saya tidak mengenal kakek saya, saya percaya bahwa kakek saya adalah orangyang sangat baik.

7 comments:

  1. Boleh saya tanya di manakah rumah dokter odang yg dipakai buat praktek dahulu?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jl. Proklamasi , sekarang hotel Mega .

      Delete
    2. Jl. Proklamasi , sekarang hotel Mega .

      Delete
  2. Beliau adalah Dokter saya semasa anak2, dahulu kliniknya ada di Jl. Proklamasi (sekarang Hotel Mega) seingat saya.

    ReplyDelete
  3. Salah Satu puteri beliau adalah Amy Orang , sekolah di yapercik sekelas dengan almarhum kakak saya .

    ReplyDelete
  4. Salah Satu puteri beliau adalah Amy Orang , sekolah di yapercik sekelas dengan almarhum kakak saya .

    ReplyDelete
  5. Pak Djukardi Odang merupakan teman ayah saya ..Salam dari Ayah saya untuk beliau

    ReplyDelete