Friday, 31 May 2013

Tugas-2 M.Rifqi Fauzan Bunawar XI IPS 2

SEJARAH KAKEK SAYA
Kakek saya yang bernama Zailani Bunawar lahir pada tanggal 12 Oktober 1927 di Palembang dusun Plaju di situlah kakek saya lahir dan kampong halaman kami cucung – cucungnya, dan disitulah kisah kakek saya yang mempertaruhkan nyawanya untuk Indonesia berawal.

Kakek saya bersekolah di Belanda Governement Milo di Yogyakarta disitulah kakek saya berpendidikan Sekolah Menengah Pertama dilanjutkan, Sekolah Menengah Atas di AMS Palembang, dan setelah SMA kakek saya masuk ke Universi Jepang dan setelah itu kakek saya masuk tentara perwira angktan perang di magelang dan kakek saya angkatan pertama perwira perang di Indonesia, itulah pendidikan kakek saya sepanjang hidupnya namun selama melaksanakan pendidikannya kakek saya tidak hanya belajar dan belajar saja namun ia tetap memperjuangkan bangsa dan negaranya untuk lepas dari penjajahan Belanda.

Kakek saya berawal menjadi tentara di masa usia yang masih muda ia mulai menjadi tentara yang memata-matai belanda sejak lulus SMP dan disitulah awal mula kakek saya menjadi tentara ia berkerja dibawah tanah untuk memata-matai belanda melalui telepon international yang di lakukan belanda ia mendengarkan apa yang dikatakan pasukan belanda di telepon itu, dan it uterus berlanjut hingga kakek saya masuk ke SMA di AMS dan kakek saya di minta untuk menjadi tentara yang memilik pangkat Sersan Mayor karena kepintaran dan kecerdasanya dalam bahsa maupun memikirkan strategi perang maka kakek saya di naikan pangkatnya menjadi Captain dan kepala perlengkapan perang naiknya jabatan kakek saya menjadi Captain karena Jendral Riyakudu yang meminta kakek saya untuk menjadi pemimpin perang untuk tentara Indonesia, namun pada saat itu kakek saya mempin pasukan perangnya di lampung tidak hanya kepala perang kakek saya juga kepala perlengkapan di daerah Lampung itu dia yang mengatur dari mulai senjaata hingga kendaraan, dan disitulah kakek saya mempunyai misi yang sangat besar dan sangat membahayakan kakek saya di minta untuk merundingkan genjtan senjata yang terjadi di daerah Palembang dengan Belanda agar tidak terus menerus terjadinya genjatan senjata karena kakek saya pintar dalam berbahasa Belanda dan cerdas maka ia lah orang yang ditunjuk untuk mewakili Indonesia untuk merundingkan permasalahan itu, dan disitulah nasib bangsa Indonesia pada masa itu apakah akan terus bertumpahan darah untuk mempertahankan daerah itu atau merundingkannya dan tidak ada lagi korban yang berjatuhan lagi, tidak hanya membawa nama bangsa Indonesia tapi disitu juga nyawa taruhannya dengan keberanian tentara Indonesia dan kakek saya membuat perjanjian untuk merundingkan genjatan senjata ini dengan belanda dan perundingan ini perundingan yang sangat besar hingga meja hijau, perundingan ini bertempat di shell Plaju dimana disitulah tempat markas Belanda, Kakek saya pun di jemput dengan sejumlah tentara Indonesia dengan kapal besar dan sejumlah pasukannya ikut serta dan menuju ke Plaju untuk merundingkan genjatan senjata ini, dan perundingan itu membuahkan hasil bahwa tentara Indonesia harus mundur ke Prabumoleh dan tidak ada lagi gencatan senjata antara Indoensia dengan Belanda.
Itulah peranan utama kakek saya selama berperang namun tak hanya itu saja yang menyisakan di kenangan kakek saya ia juga menceritakan btapa pahitnya perang melawan penjajah demi bangsa dan negaranya, sungguh salut saya dengan kakek saya jiwa pejuang dan rasa kebangsaannya sangat lah tinggi apapun yang dilakukannya itu demi bangsa Indonesia yang sangat ia cintai, nyawa adalah taruhannya dan keluarga sanak saudara di tinggalkannya demi negaranya sungguh betapa hebatya kakek saya yang dengan seluruh kemampuannya ia korbankan demi Indonesia.

Kali ini saya akan menceritakan pahitnya perang kakek saya di masa itu, selama peperangan terjadi kakek saya terus berusaha bagaimana caranya untuk melawan para penjajah namun Indonesia sangatlah kurang dari berbagai hal dari senjata, pakaian, dan perlengkapan-perlengkapannya hanya dengan bermodalkan nyali atau jiwa pejuang yang amat sangat besar dan percaya bahwa Indonesia akan menang hanya itulah tentara Indonesia miliki dengan bermodalkan bambu runcing dan senjata apa adanya Indonesia tetap maju pantang mundur daya juang yang tinggi mereka tidak mengenal takut, mereka berperang terus dengan keterbatasan perlengkapan namun kakek saya hebatnya ia tak pernah lelah untuk memperjuangkan bangsanya, kakek saya dengan bermodalkan keberanian dan kecerdasan yang sangat amat tinggi ia membawa pasukannya, ia berperang di hutan dan terus berperang dikala itu pasukannya tertembak di bagian perut tidak 1-2 peluru melainkan 10 peluru menghantam perutnya namun tentara itu tetap hidup dengan usus atau bagian dalam perut yang terbuka dan melewer kemana-mana dengan pintarnya kakek saya berusaha untuk menahan tentara ini untuk tetap hidup dengan helemnya ia berikan kepada tentara itu untuk menahan isi perut itu agar tidak keluar-keluar  dan kakek saya juga tertembak di bagian dadanya namun ia masih sanggup untuk menahannya dan tidak telalu parah namun kakek saya berusaha dan mencari bantuan untuk tentara itu ia pergi dan mencari bantuan hingga ke sebuah desa yang berisikan petani-petani disitulah kakek saya dan tentara itu mendapatkan bantuan namu sayanyang tidak sampai disitu tentara Belanda tidak tinggal diam melihat kakek saya dan tentara itu pergi mencari bantuan mereka terus mengejar kakek saya hingga dapat dengan kecerdasannya kakek saya dan pasukannya mencari cara bagai mana agar tidak di curigai oleh tentara Belanda, kakek saya dan pasukannya meminjam baju petani itu dan tidak semua memakai hanya kakek saya dengan salah satu pasukannya yang di pilih kakek saya dengan ciri khas tangan yang kasar dan ternyata dengan kecerdasan kakek saya yang seperti itu berhasil menghindari tentara belanda kakek saya dengan salah satu pasukannya berdiri di tengah sawah dengan pacul dan topi,baju pinjaman warga desa dan menyamar berpura-pura menjadi petani dan tentara Belanda pun melihat dan meraba tangan kakek saya dan salah satu pasukannya dan tentara Belanda itu pergi dan tidak curiga dengan kakek saya dan salah satu pasukannya itu ternyata pasukan Belanda melihat tangan kakek saya dan salah satu pasukannya itu kasar dan tentara Belanda ber0anggapan bahwa tangan kasar itu adalah petani, namun setelah tentara Belanda pergi kakek saya mengalami penyakit kudisan atau gatal-gatal di kulit di karenakan baju dari warga desa yang dipinjamnya sangat gatal dan kotor karena warga desa tersebut tidak pernah mengganti baju mereka tiap hari akibat itulah kakek saya dan salah satu pasukannya sakit gatal-gatal, dan setlah tinggal di desa itu menetap beberapa hari kakek saya pun melanjutkan penjalanannya menuju markas Indonesia untuk mengatur ulang strategi peperangan itu terjadi di Palembang selama gencatan senjata itu terjadi.

Tidak hanya itu kakek saya juga mendapatkan musibah yang mungkin amat sangat menyakitkan ketika ia di perbolehkan pulang untuk bertemu keluarga, ibu, bapak dan saudara-saudaranya dan untuk melepas rasa rindu, sesampainya di rumah dengan kondisi cuaca yang hujan deras hingga mengakibatkan meluap air dari sunggai hingga ke rumah rumah warga dan kebetulan rumah kakek saya itu dekat sekali dengan sungai yang mengalir terus ke sungai musi itu, ternyata kakek saya pun tetap di incar oleh tentara Belanda, tentara Belanda mengirim Nika atau yang di sebut mata-mata dari belanda untuk mencari dimana tempat tinggal kakek saya keluraganya, saudaranya, ibu, bapaknya tinggal dan ketika kakek saya sampai di rumah kakek saya pun langsung di kepung dari luar oleh tentara Belanda dan dengan bingungnya kakek saya untuk melakukan apa dan disitu bapak dari kakek saya memberikan jalan keluar melalui ubin yang terbuat dari kayu itu  dibukanya untuk melarikan diri dari kepungan tentara Belanda dan kakek saya pun langsung berenang menuju ke sungai dan terus berenang menyberangi sungai musi demi mempertahankan dirinya, dan semua tentara Belanda yang mengepung rumah kakek saya terus bergegas mengejar kakek saya dan mengikutinya berenang namun tentara Belanda tidak sanggup mengejar kakek saya yang melirkan diri, kakek saya pun bingung untuk pergi kemana ia pun bertahan hidup dengan memakan makanan yang ada di hutan dari ular,biawak,dan berbagai macam makanan yang ia dapat makan dimakan lah olehnya sekitar 2-3 hari dihutan kakek saya pun mencoba untuk pergi dan kembali ke markas tentara Indonesia, dan sesampainya di markas teman-teman kakek saya pun heran dan terkaget-kaget melihat kondisi kakek saya yang masih hidup padahal kabar yang terdengar di markas itu adalah bahwa kakek saya telah di tawan bahkan meninggal di tangan Belanda namun tidak seperti itu kenyataannya tentar Belanda tidak sanggup untuk berenang dan mengejar kakek saya, dan kakek saya pun mencoba untuk kembali kerumah dan menemui sanak saudara dan orang tuanya. Sekitar dua sampai tiga tahun kemudian kakek saya pun di minta berhenti menjadi tetnara oleh bapak dari kakek saya di karenakan takut nyawa kakek saya menghilang dan kakek saya pun sekitar tahun 1947-an berhenti menjadi tentara karena permintaan bapak dari kakek saya. Dan setelah kakek saya berhenti menjadi tentara dia melanjutkan kerja di sebuah perusaan asing yang bernama Stenfek namun ia kerja di Stenfek tidak lama dan berpindah pekerjaan ke kabefarma dengan mendapatkan fasilitas-fasilitas yang memadai dan disitulah tempat kakek saya terakhir berkerja.

Sekarang saya akan menceritakan kisah cinta kakek saya, awalnya kakek saya ingin menikah di Jakarta sewaktu sekolah perwira dengan calon istrinya yang bernama Rohana namun setelah ibu dan bapak dari kakek saya mengetahuinya mereka pun menjemput kakek saya pulang bersama keluarganya yang berisikan 4 laki-laki dan 5 perempuan, mereka menjemput kakek saya dengan alesan karena kakek saya itu adalah anak pertama dan laki-laki maka kalau ingin menikah harus  di kampong halaman yaitu di Palembang semua perlengkapan pun di siapkan oleh ibu dari kakek saya, dan ternyata itu hanyalah semacam tipuan agar kakek saya pulang karena ibu dan bapak dari kakek saya tetap memegang teguh tradisi dari kampong mereka yaitu harus menikah dengan sesama warga Palembang  dan kakek saya pun menikah dengan nenek saya HJ. Siti Nurbaya  pada tahun 1955 pada saat itu kakek saya berusia 28 tahun dan nenek saya 23 tahun dan dari hasil pernikahan mereka di karuniai 5 orang anak  2 perempuan dan 3 laki-laki.


Inilah kisah akhir dari kakek saya yang sangat saya kagumi bahwa ia adalah seorang captain dari perwira tentara angkatan pertama di Indonesia banyak gelar dan bintang,dan pensiunan yang sangat besar jumlahnya yang ia peroleh akibat kerja kerasnya dan banyak teman-teman dari kakek saya yang meminta kakek saya untuk mengambil tanda jasa itu namun kakek saya menjawab “saya tidak mau mengambil tanda jasa itu karena banyak teman-teman kita yang saat perang mati, tertembak, hilang tangan atau kakinya dan mereka lah yang sepantasnya mendapatkan penghargaan dan di urus oleh pemerintah melalui uang yang di berikan kepada saya, saya tidak akan mengambilnya saya pun sudah cukup memiliki gaji dari pekerjaan saya” namun temannya membalas “ambilah zai anak cucuk mu akan membutuhkan itu” dan kakek saya membalasnya “mereka harus berusaha jika ingin mendapatkan apa yang mereka mau bukan melalui kerja keras orang lain”, dan itulah yang membuat saya salut dan kagum terhadap kakek saya yang memiliki sifat bijaksana, dewasa, berkepimpinan dan memiliki rasa semangat juang dan peduli sesama. Kini namanya hanya bisa di kenang dan ceritanya bisa menjadikan semangat untuk saya ataupun orang lain kakek saya meninggal di tahun 2005. H.Zailani Bunawar-
Nara sumber;HJ. Siti Nurbaya(nenek saya)

No comments:

Post a Comment