Friday, 31 May 2013

Tugas 2 (Mulok) - Adhitya Bayu Siswonegoro


Arca Ganesha dari Candi Banon, Koleksi Museum Nasional



                Pada Hari Minggu, awal Bulan Mei, saya pergi ke Museum Nasional Indonesia, atau lebih akrab dikenal dengan Museum Gajah. Disebut Museum Gajah karena terdapat patung gajah di depan museum ini. Museum ini terletak di Jl. Merdeka    12, Jakarta Pusat. 

                 Museum Nasional yang merupakan salah satu gedung peninggalan kolonial Belanda ini adalah sebuah lembaga studi warisan budaya dan pusat informasi edukatif kultural dan rekreatif yang berperan untuk menyelamatkan dan melestarikan benda warisan budaya bangsa Indonesia. Hingga saat ini koleksi yang dikelola berjumlah 141.899 benda, terdiri atas 7 jenis koleksi yaitu prasejarah, arkeologi, keramik, numismtik-heraldik, sejarah, etnografi dan geografi.

                Museum pertama dan terbesar di Asia Tenggara ini diresmikan pada tahun 1868 oleh Persatuan Kesenian dan Ilmu Pengetahuan Batavia, tapi secara institusi Museum ini lahir pada tahun 1778, saat pembentukan Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen oleh pemerintah Belanda (sekarang Lembaga Kebudayaan Indonesia).

                Di dalam museum ini terdapat banyak sekali peninggalan mulai dari zaman kerajaan Hindu-Buddha sampai dengan Islam, saya pun tak jarang takjub dengan koleksi-koleksi yang dimiliki museum ini. Hanya saja Museum Gajah ini sepertinya kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah, terlihat dari tempatnya yang agak berdebu dan juga ongkos masuknya yang tergolong sangat murah untuk sebuah museum nasional.

                Ketika baru memasuki museum tersebut, saya langsung menemukan arca Ganesha yang mendorong saya untuk mengetahui dan juga menjelaskan lebih lanjut mengenainya.

                Di dalam agama Hindu, Ganesha termasuk salah satu dewa yang paling populer, di samping Dewa-dewa Trimurti, yakni Brahma (dewa pencipta alam semesta), Wisnu (dewa pemelihara alam semesta), dan Siwa (dewa perusak alam semesta). Sejak bertahun-tahun lalu temuan arca Ganesha dari seluruh Indonesia sangat banyak jumlahnya. Ada yang berhiasan sederhana, ada pula yang kelihatan megah. Hal ini tentu saja disesuaikan dengan keterampilan seniman pembuatnya atau kondisi ekonomi masyarakat sekitar.

                Untuk mata Barat, Ganesha terlihat sangat aneh, sebuah angka hampir lucu yang memiliki tubuh laki-laki (dan sedikit perut a) kepala gajah, empat lengan (setidaknya), hanya satu gading, dan menghabiskan waktunya berkeliling di kecil mouse. Dia dilihat dengan hormat dalam agama Hindu, di mana atribut yang sama, dilihat dalam cara yang berbeda, membuat dia perwujudan dari kebijaksanaan dan belajar, pelindung disiplin ilmiah serta seni, remover hambatan, dan karenanya dipanggil pada awal dari masing-masing dan setiap usaha sebagai dewa kesuksesan. Seperti banyak patung Hindu lainnya dan jimat, patung Ganesha mewakili aspirasi tertentu dari kehidupan yang produktif.

                Hindu telah dipraktekkan selama berabad-abad di seluruh wilayah luas Asia dan kisah asal-usul dewa Hindi banyak. Kebanyakan tradisi Hindu Ganesha cast sebagai anak Siwa dan istrinya, Parvati. Empat utama sekte agama Hindu penting semua tempat pada dewa Ganesha, tetapi interpretasi dari cerita asal yang berbeda untuk masing-masing. Para Shakta, misalnya melihat Parvati sebagai Yang Mahatinggi dan Siwa sebagai pendampingnya.

                Parvati dikatakan nilai pengasingan, jadi suatu hari ketika dia ingin mencuci dan tidak punya-satu terdekat untuk membantu mengawasi untuknya, Parvati digunakan untuk menghasilkan pasta kunyit anak laki-laki. Dewi memberikan dia kehidupan dan memintanya untuk melindungi privasi, dan ini adalah bagaimana Ganesha diciptakan, tanpa intervensi nyata dari Siwa nya ‘ayah’.

                Tanpa diketahui Ganesh, Shiva Parvati suami akan segera pulang, tapi anak itu mengikuti perintah yang ditetapkan oleh dewi dan melarang Raja dari memasuki istananya. Pertempuran pun terjadi dan Siwa, penguasa Destruction, memukul anak itu ke bawah, memutuskan kepalanya.

                Ketika Parvati menemukan apa yang telah dilakukan suaminya, dia marah dan tuntutan bahwa suaminya membuat hal-hal yang benar. Shiva memerintahkan pelayan untuk menjelajahi hutan untuk makhluk hidup pertama dan membawa kepalanya sebagai pengganti nya jatuh ‘anak’. Yang pertama membuat mereka temukan? Gajah.

                Jadi Ganesha menjadi dewa dengan kepala gajah dan tubuh manusia. Kepala gajah yang besar datang untuk melambangkan kebijaksanaan dan pengetahuan yang luas. Telinga gajah besar yang digunakan untuk dengan mudah mendengar dan membedakan antara baik dan buruk. Mereka juga memungkinkan dia untuk mendengar tangisan dan permohonan dari semua hamba-hamba-Nya. Seperti gajah, Ganesha bisa menjadi dewa, lembut peduli tapi ia masih mampu agresi dan kehancuran ketika diprovokasi. Salah satu fitur yang tidak biasa pengamat yang teliti akan memperhatikan bahwa Ganesha hanya memiliki satu gading.

                Kisah di balik gading tunggal bervariasi. Beberapa menyarankan bahwa Ganesha ditugaskan dengan menulis sebuah cerita epik Mahabharata disebut dan digunakan gading ketika penanya gagal. Cerita lain menunjukkan bahwa itu dicuri oleh penjahat yang menggunakannya untuk anting-anting fashion untuk wanita.

                Kisah Ganesha adalah fantastis dan penuh drama dan intrik seperti cerita Hindu yang paling tentang dewa-dewa mereka. Ganesha merupakan bagian yang populer dari budaya India dan dianggap sebagai pertanda baik.

                Ganesa atau Ganesha adalah dewa berkepala gajah. Di kalangan masyarakat Hindu, Ganesha dianggap setengah manusia dan setengah dewa. Peranan Ganesha begitu penting karena dia adalah anak Dewa Siwa.

                Masyarakat Hindu percaya Ganesha merupakan dewa ilmu pengetahuan. Maka di banyak tempat, termasuk di Indonesia, sampai sekarang masyarakat Hindu sering membangun kuil berisi Dewa Ganesha. Konon hal ini dimaksudkan agar anak-anak yang dilahirkan menjadi pintar dan berbakti kepada orang tua.

                Sebagai dewa ilmu pengetahuan, Ganesha selalu mengundang kekaguman para pakar ikonografi (pengetahuan tentang seni arca kuno) karena bentuk, gaya seni, dan langgamnya yang berbeda-beda. Namun ciri utama Ganesha tetap sama, yakni memiliki belalai yang sedang mengisap isi mangkok dalam genggaman tangan depannya.

                Mangkok tersebut, menurut mitologi Hindu, berisi cairan ilmu pengetahuan yang tidak habis-habisnya walaupun diisap terus-menerus olehnya. Hal inilah yang kemudian diidentikkan dengan ilmu pengetahuan, yang tak pernah habis digali dan tak pernah henti digarap. Mungkin, hal demikianlah yang diharapkan dari para manusia.              
                                                   
                Karena popularitas Ganesha sangat tinggi, dia juga dipuja sebagai dewa penyingkir segala rintangan, baik gangguan gaib (magis) maupun gangguan fisik. Ganesha semakin dipuja karena dia memiliki sahabat karib tikus. Sang tikus kemudian dijadikannya sebagai wahana (kendaraan tunggangan). Karena itu dalam pengarcaannya Ganesha selalu menunggang tikus (musaka). Musaka merupakan simbol dari keangkuhan diri. Jadi diharapkan musaka itu akan berperan sebagai pengendali dari keangkuhan seseorang.                                      
                          
                Sering diartikan pula bahwa tikus sesuai dengan sifat Ganesha. Tikus dapat melewati segala rintangan di lokasi mana pun, seperti di dalam rumah, sawah, dan selokan. Begitu pun yang diharapkan dari Ganesha, karena gajah mampu mendobrak segala pepohonan di hutan dengan tubuhnya yang gagah dan kuat. Pepohonan diibaratkan berbagai masalah besar.

                Menurut para arkeolog di zaman Hindia Belanda seperti W.F. Stutterheim dan R. Goris, pemujaan secara khusus kepada Ganesha (dinamakan Ganaphati), banyak dilakukan masyarakat kuno di Jawa dan Bali. Tafsiran ini didasarkan atas banyaknya temuan arca Ganesha di sejumlah situs arkeologi. Uniknya, pemujaan sejenis kepada dewa-dewa lainnya tidak pernah ditemukan. Kemungkinan dewa-dewa lain kurang memperoleh perhatian dari masyarakat kuno karena peranannya dianggap kecil.                                                                                      

                Selain menjadi arca sebagai objek wisaka. Dari sekian banyak cerita tentang Dewa Ganesha itu sendiri, saya mengambil beberapa kesimpulan dari cerita Ganesha yang dapat kita cermati sisi positifnya.                                                                                        

1. Cerita Ganesha mengajarkan kita agar teguh memegang amanah. Lihatlah betapa Ganesh yang sudah berjanji untuk melaksanakan perintah ibu (angkat)nya, benar-benar teguh dan bertanggung jawab sekalipun ia harus kehilangan kepalanya.                                           
         
2. Cerita Ganesha juga mengingatkan kita agar jangan cepat mengambil keputusan atau bertindak ketika pikiran dan perasaan masih sedang diliputi emosi. Lihatlah Bhatara Shiwa yang akhirnya juga menyesal karena terlanjur memenggal kepala si Ganesh.                                                  
                
3. Kita diingatkan agar tidak mudah menyalahkan orang lain ataupun berburuk sangka atas apa yang menimpa diri kita. Ganesha tidak pernah menyesali Dewi Parwati yang telah membuat kepalanya terpancung, dan juga tidak menyalahkan Bhatara Shiwa yang memancung kepalanya.

4. Ganesha juga mampu membuang jauh-jauh rasa dendam dalam hatinya atas apa yang telah terjadi dan menimpa dirinya.

5. Ganesha bekerja tanpa pamrih, walaupun fasilitas yang diterima kadang-kadang kurang sesuai dengan yang seharusnya, ia tetap bekerja sebaik-baiknya dan tidak menuntut macam-macam.

6. Ganesha boleh saja wajahnya si buruk rupa, tapi tidak untuk hatinya.

7. Ganesha mengajarkan agar hidup itu tetap dijalankan dengan ceria dan optimisme, dan berbuat yang terbaik sesuai kemampuan kita walaupun kita punya keterbatasan, baik keterbatasan fisik, pikiran, tenaga ataupun harta.
 
8. Ganesha mengajarkan agar kita tidak mudah menyerah, apalagi rendah diri dengan kekurangan yang ada, tetapi justru mengoptimalkan potensi yang dimiliki, tanpa perlu merasa sombong, hebat atau benar sendiri.

9. Ganesha juga mengajarkan bagaimana menjadi orang yang selalu berbuat baik dan bermanfaat bagi orang lain, dimanapun ia berada.


No comments:

Post a Comment