Thursday, 30 May 2013

Tugas 2 (Mulok) - Afiq Mohamad Riandrayana XI IPA 2

                 Pada tanggal 28 Mei 2013 yaitu hari Selasa, saya bersama  teman-teman dari IPA 2 mengunjungi Museum Nasional Indonesia. Museum ini akrab dijuluki sebagai Museum Gajah oleh masyarakat umum karena adanya patung gajah di depannya. Menariknya, patung gajah yang terbuat dari perunggu itu merupakan hadiah dari Raja Thailand yaitu Raja Chulangkorn pada tahun 1871. Museum ini berlokasi di Jl. Medan Merdeka Barat 12, Jakarta Pusat. 

             Keberadaan Museum Nasional ini berawal pada tanggal 24 April 1778 di saat dibentuknya himpunan bernama Bataviaasch Genootschap van Kunsten en etenschappen yang bertujuan memajukan penelitian ilmu pengetahuan dan seni oleh Pemerintah Belanda. Salah satu pendirinya, J.C.M. Radermacher, menyumbang sebuah gedung yang bertempat di Jalan Kalibesar beserta dengan koleksi buku dan benda-benda budaya yang nanti menjadi dasar untuk pendirian museum.

              Pada masa pemerintahan Inggris di tahun 1811 hingga 1816, Sir Thomas Stamford Raffles yang saat itu juga merupakan direktur dari Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen memerintahkan pembangunan gedung baru yang terletak di Jalan Majapahit No. 3. Gedung tersebut digunakan sebagai museum dan ruang pertemuan untuk Societeit de Harmonie atau Literary Society. Lokasi gedung ini sekarang sudah menjadi bagian dari kompleks Sekretariat Negara. Pada tahun 1862, Pemerintah Belanda mendirikan gedung baru yang hingga saat ini kita kenal sebagai Museum Gajah karena museum di Jalan Majapahit sudah sipenuhi koleksi. Museum tersebut resmi dibuka pada tahun 1868.

             Setelah Indonesia merdeka, pengelola museum tersebut  (Lembaga Kebudayaan Indonesia) menyerahkannya kepada Pemerintah RI  pada tanggal 17 September 1962. Semenjak itu  Direktorat Jenderal Kebudayaan yang berada di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bertanggungjawab mengelola museum itu. Di tahun 2005, Direktorat Jenderal Kebudayaan dipindah ke Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Itulah asal usul museum ini.

             Sesampainya di sana kami bergegas masuk berbekal 2 buah kamera. Walaupun biaya tiket untuk orang dewasa Rp 5.000, kami yang berstatus pelajar mendapat diskon sehingga hanya perlu membayar Rp 2.000 saja untuk dapat masuk. Kami melihat berbagai macam kelompok pengunjung, mulai dari pelajar hingga orang asing. Rupanya terdapat ratusan ribu artefak yang dipajang di sini. Koleksi yang ada di museum ini mencakup kategori sejarah, geografi, arkeologi, prasejarah, numimastik, keramik, serta etnografi. 

          
              Walau kami tidak sempat untuk menjelajahi seluruh ruangan museum, saya akhirnya menemukan satu benda yang saya rasa cukup unik menurut saya. Benda tersebut terletak di lantai dua ruang museum yang sepertinya baru karena bernuansa modern di sayap kanan bangunan museum bila dilihat dari depan. Salah satu alasan saya tidak memilih artefak - artefak yang besar dan dekat dengan pintu masuk adalah karena lebih besar kemungkinannya benda tersebut sudah dijelaskan atau didokumentasikan oleh siswa lain. Benda yang saya maksud ialah senapan api yang panjangnya sekitar 2 meter berjulukan "Setengga", berikut link videonya adalah: http://www.youtube.com/watch?v=M-I-y0UYgRo



                 

No comments:

Post a Comment