Friday, 31 May 2013

Tugas 2 (Mulok) Ariane Putri Dewanto XI IPA 3


            Pada hari Rabu, 29 Mei 2013. Saya bersama teman saya, Astrid Levina, pergi menuju Museum Polri yang letaknya berada di dekat Mabes Polri di daerah Blok M, Jakarta Selatan dan terbuka untuk umum mulai hari Selasa-Minggu tanpa dipungut biaya masuk. Ini adalah link untuk video penjelasan dari saya: 




Tampak depan Museum Polri dengan patung sosok Polisi yang gagah terpampang.
            Sejarah museum ini menceritakan bahwa pada awalnya pembangunan museum ini dicetuskan oleh Kapolri Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri dengan tujuan untuk melestarikan nilai-nilai kesejarahan Kepolisian Negara Republik Indonesia dan pewarisannya kepada generasi mendatang Polisi Indonesia adalah polisi pejuang sejak dicetuskannya Proklamasi Kemerdekaan RI. Deklarasi Polisi istimewa di Surabaya tak lama setelah proklamasi kemerdekaan dilanjutkan dengan konsolidasi organisasi kepolisian yang bersifat nasional pada 1 Juli 1946 oleh Kepala kepolisian Negara Jenderal Polisi R.S. Soekanto menjadi dasar keunikan sejarah Kepolisian Negara Republik Indonesia dibanding institusi kepolisian negara-negara lain.

            Tema kesejarahan tersebut disusun dalam sebuah sudut pandang yang menyajikan tema besar tentang upaya polisi dalam menyelenggarakan keamanan dan ketertiban serta dinamika internal-eksternal yang mempengaruhi sosok lembaga kepolisian RI. Melalui museum inilah, diharapkan dapat muncul gambaran tentang watak kelembagaan polri yang semakin modern, profesional, dan mandiri sesuai dengan tuntuan dari zaman ke zaman yang semakin berkembang.


            Selain itu peresmian museum ini sendiri tentunya dilakukan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 1 Juli 2009, bertepatan dengan HUT Kepolisian Negara Republik Indonesia atau yang lebih dikenal dengan hari Bhayangkara. Lokasi museum berdampingan dengan Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia. Museum ini juga menampilkan ribuan foto dan berbagai benda bersejarah yang disajikan secara apik dan dilengkapi fasilitas multimedia yang interaktif. Museum ini juga terdiri dari tiga lantai, dilengkapi dengan Kids Museum atau Museum Anak.  


             Polri adalah abdi masyarakat selain sebagai pelayan, pelindung dan pengayom masyarakat, dua tugas Polri lainnya adalah menjaga keamanan dan  ketertiban masyarakat didalam negeri serta dan penegakan hukum. Kapolri bisa silih berganti, namun jiwa Tribrata tetap tersemat didalam dada setiap anggota Polri. Peran Polri dalam mengayomi, melindungi dan melayani masyarakat tergambar dari dokumentasi perjalanan keberadaan Polri di tengan tengah masyarakat. Kesederhanaan dalam bersikap dan berpakaian serta sosok yang santun namun tegas telah membawa kecintaan rakyat kepada Polri dimasa itu.  Dalam kondisi penghasilan dari gaji yang pas pas an, anggota Polri tidak tergoda untuk melakukan sesuatu yang mengkhianati perannya sebagai abdi negara.  Semuam itu bisa diwujudkan karena keteladanan para petinggi Polri saat itu, sebutlah salah satu diantaranya  Kapolri Jendral Polisi  Hugeng Imam Santoso.


             Perjalanan sejarah ini patut disaksikan langsung ke Museum Polri dan beri dukungan agar abdi negara ini mampu melaksanakan tugasnya secara benar, elegant dan profesional dan bermoral sejalan dengan visi Polri. Bukankah kita menyadari bahwa dimanapun dimuka bumi ini selalu berlaku hukum : Polisi yang baik adalah produk dari masyarakat yang baik, sebaliknya polisi yang buruk adalah cerminan masyarakat yang suka melanggar hukum dan megabaikan etika kesusilaan.

            Oke deh, sekarang saya mulai saja ceritanya. Sewaktu hari Rabu itu, saya dan Astrid berencana untuk pergi ke museum pada saat mata pelajaran Olahraga, selain memang museumnya sudah buka jam segitu juga pelajaran Olahraga tidak ada apa-apa. Jadi kami memutuskan untuk pergi ke museum sekitar jam 12 menaiki mobil Astrid bersama supirnya. Dikarenakan iPod saya tidak bisa merekam video, jadilah saya meminjam HP teman saya, Rani, untuk kami pinjam guna merekam video selama di museum. Selama perjalanan ke sana, kami berdua diam dan tidak berbicara banyak karena terlalu lelah akhir-akhir ini di sekolah. Bukan hanya belajar-belajar seperti biasa, tetapi tumpukkan remedial yang menanti, tugas-tugas yang menanti, contohnya ya tugas mulok ini. Tetapi apa boleh buat, agar bisa naik kelas saya harus memenuhi remedial-remedial, susulan ulangan hingga tugas ini. Tenang saja, saya mengerjakannya dengan senang hati dan ikhlas. Hehehe.


            Kami sesampainya di sana bingung, seperti yang telah disampaikan bahwa di museum ini harus menjelaskan suatu artefak atau benda yang ada di museum kepada orang lain. Pada awalnya, kami mengajak supir Astrid untuk ikut serta tetapi ia menolaknya karena ia tidak mau turun karena memakai sandal jepit. Hahaha. Akhirnya, kami pun masuk ke dalam museum dan disambut dengan ramah dengan beberapa polisi wanita yang menjaga di meja resepsionis. Lalu, kami diminta untuk meninggalkan kartu pelajar disitu untuk dicatat datanya di dalam buku tamu museum. Kami pun berkeliling sekitar, mengelilingi lantai satu, naik ke lantai dua, dan hampir saja naik ke lantai tiga. Namun, setelah tahu bahwa sedang ada rapat para polisi kami hanya mengelilingi sampai lantai dua saja.


           Setelah dari lantai dua, kami turun lagi dan tertawa kecil karena kebingungan dengan siapa kami akan menjelaskan artefak serta benda-benda di museum ini sebagai dokumentasi tugas kami. Tiba-tiba lewatlah seorang bapak-bapak, saya pun dengan cablas langsung bertanya “Maaf pak, selamat siang. Bapak sedang sibuk gak?” lalu dengan ramah bapak itu menjawab, “Kebetulan saya sedang ada rapat. Ini saya sedang izin untuk sholat dzuhur sebentar ke bawah, Dek. Memangnya ada apa yah?”. Saya pun menjawab bahwa kami butuh orang untuk kami jelaskan artefak serta benda ini, dengan senang hati ia ingin membantu mencarikan orang tetapi kami tolak karena kami tidak enak merepotkan beliau. Setelah memberanikan diri alias karena tadi malu bolak-balik melulu, kami pun langsung meminta bantuan kepada salah satu polisi wanita di depan. Awalnya saya kira mereka bakalan berebutan, ternyata saling lempar-lemparan gitu deh. Pertama kami meminta tolong kepada salah satu polisi wanita yang katanya baru saja melahirkan beberapa minggu yang lalu, ia menolak dan malu karena postur tubuhnya sedang tidak ideal katanya. Ia tidak ingin terlihat tidak bagus di kameranya. Lalu kedua, polisi wanita ini sudah agak tua dan keriput namun tetap cantik menurut saya, ia menolak juga karena tidak mau terlihat keriputan di depan kamera. Yang ketiga, menurut saya sih dia baik-baik saja, putih, cantik, rambutnya juga tertata rapih dan tinggi, namun ia menolak karena katanya sedang sakit perut. Hahahaha. Ada-ada saja yah, akhirnya pun salah satu polisi wanita yang kebetulan sedang bermain-main di mobil polisi yang diletakkan tepat di lobi museum pun bersedia membantu kami. Namanya adalah Redgia, dengan akrab kami berdua memanggilnya “Kak Redgia”.


           Pertama ketika kita memasuki museum, ada koleksi kendaraan roda dua yang sering digunakan oleh polisi, mulai dari angin kereta (sepeda), sepeda motor, sampai patroli polisi tandem sepeda motor yang konon katanya umum digunakan selama kependudukan Belanda dan revolusi Kemerdekaan Indonesia di akhir tahun 1940-an. Selain itu, ada juga beberapa koleksi senjata polisi dari berbagai model dan produsin, seperti M1 Garand dibuat di Amerika Serikat keluaran tahun 1917, Lee Enfield senapan buatan Inggris tahun 1917, senapan Mauser di Jerman antara tahun 1920 hingga 1938, Helm Polisi 854 yang dibuat dari baja dan digunakan pada saat operasi Trikora di Irian Barat. Koleksi senjata dan senjata laras pendek juga dipamerikan di lantai pertama museum ini, di samping berbagai peralatan polisi untuk berkomunikasi antara satu sama lain dan melakukan investigasi ketika sedang bertugas.Sebut sajalah lantai satu ini sebagai ruang khusus Hall of Fame yang menyajikan foto-foto gambaran para pemimpin kepolisian Republik Indonesia plus nilai-nilai organisasi dan budaya kepemimpinan mereka yang diterapkan di jajaran kepolisian dari masa ke masa yang semakin berkembang. Saat mengelilingi, saya sempat melihat foto Om Timur alias jenderal Polisi Drs. Timur Pradopo, beliau adalah Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia sejak 22 Oktober 2010 silam. Jenderal bintang empat alumnus Akpol 1978 ini merupakan Kapolri pengganti Jenderal polisi Bambang Hendarso Danuri. Beliau adalah ayahanda dari sahabat saya saat Sekolah Menengah Pertama, namanya adalah Dea Istighfarina Miranti Pradopo. Sudah lama tidak temu kangen dengan Dea.



Sepeda patroli polisi. 
           Dari sekian artefak atau benda di museum yang saya jelaskan kepada Kak Redgia, salah satunya adalah sepeda polisi. Sepeda menjadi andalan anggota Polri dalam melaksanakan turjawali, mengatur, menjaga dan mengawasi lingkungan.  Mereka bersepeda berkeliling kampung berdua atau bertiga sesuai dengan jadual dan route tertentu dengan hanya dibekali pentungan dan peralatan standar berupa peluit. Sepeda patroli polisi ini sendiri adalah kendaraan yang digunakan para polri, paling sering dalam bentuk sepeda gunung. Mereka dirancang untuk memenuhi kebutuhan yang unik bagi masing-masing departemen. Penggunaan sepeda patroli ini bisa membuat polisi lebih mudah didekati, terutama di daerah kejahatan yang rendah. Sepeda juga dapat diberikan kepada polisi untuk meningkatkan mobilitas dan jangkauan patroli jalan kaki. Selain itu, juga merupakan alat memerangi kejahatan efektif bila digunakan di daerah perkotaan yang berpenduduk padat. Selain itu, jika upaya pidana akan melarikan diri dengan berjalan kaki, polisi memiliki keunggukan kecepatan saat dapat dengan cepat turun jika diperlukan dengan menggunakan sepeda patroli yang ia gunakan saat sedang berpatroli tersebut.

             Naik ke lantai dua, dipamerikan beberapa tema yang berkaitan dengan organisasi polisi dan berbagai tindakan satuan kepolisian di masa lalu hingga masa sekarang. Seperti aksi kepahlawanan oleh satuan polisi dan dokumentasi kegiatan polisi dalam memerangi terorisme. Terdapat juga gambar-gambar kegiatan polisi, seperti membimbing anak-anak SD dengan ceritanya anak-anak itu menjadi polisi, lalu ada pula pada saat melawan demo yang terjadi pada tahun-tahun lalu belaka. Selain itu, uniknya ada sekat khusus anak-anak, disini ada beberapa games, mainan, serta miniatur polisi kecil-kecilan dan juga ada kostum polisi yang bisa dipakai oleh pengunjung siapapun yang datang. Yang lebih menarik lagi adalah Ruang Penegak Hukum. Percaya atau tidak percaya, disini dijabarkan bentuk-bentuk kejahatan yang selama ini pernah terjadi di Indonesia. Tentunya bentuk kejahatan yang ditampilkan adalah yang benar-benar menyetak dunia, seperti contohnya adalah kasus pengeboman hotel j.W Marriot dan Bali, kasus Ryan, serta kasus-kasus lainnya yang menarik perhatian masyarakat tanah air tentunya. Dijabarkan pula muka sosok-sosok pengebom, tetapi bukanlah foto asli mereka melainkan gambaran sketch muka mereka dengan efek watermark. Di situ juga disertai nama lengkap asli mereka di bawah gambar sketch muka tersebut. Selanjutnya ada juga ruangan yang memamerkan kepada pengunjung yang memasuki ruangan tersebut beberapa profil Densus 88 AT yakni Detasemen khusus yang menangani dan menanggulangi terorisme yang terjadi. Walau memang terdengarnya seram, tapi ketika sampai disana kesan itu tidak dampak sama sekali. Malah banyak pengetahuan yang bisa kita gali, seperti bagaimana sesungguhnya tragedi yang terjadi. Karena disana ditampilkan pula sisa-sisa kepingain benda-benda yang hancur akibat ledakan bom teroris, telepon genggam yang pernah digunakan pelaku pengeboman, miniatur bangunan yang runtuh akibat terjadinya tragedi pengeboman di kota bali, dan masih banyak lagi. Sungguh menakjubkan menurut saya, saat melihatnya saya hanya bisa melamun karena sangat menarik bagi saya. Sepertinya ini karena saya suka menonton Crime Scene Investigation di channel AXN, karena seru sekali ternyata mencari tahu penyebab suatu kejahatan terjadi. Hahahaha.


             Sedangkan di lantai tiga, terdapat ruang audiovisual untuk kelompok pengunjung khusus atau untuk mengadakan rapat dan juga ada perpustakaan yang menyimpan banyak buku tentang sejarah, perjuangan dan semua-semuanya tentang polisi. Disini kita bisa meminjam atau sekedar membaca-baca buku di kursi-kursi perpustakaan yang telah disediakan di dalam perpustakaan tersebut. Di museum ini juga dilengkapi fasilitas toilet yang bagus dan lumayan bersih.


              Akhirnya kami pun pulang dan kembali ke sekolah karena memang belum jam pulang sekolah dan tas kami juga masih berada di dalam kelas, selain itu pun kami juga harus mengikuti pelajaran karawitan karena akan ada pengambilan nilai untuk di rapot.


               Saya sangat senang, karena sudah lama tidak mengunjungi museum-museum apalagi Museum Polri ini memang sangat bagus dan memadai fasilitasnya. Ber-AC, lantainya marmer dan bagus, rapih, bersih dan ramah-ramah polisi di sananya apalagi dengan harga tiket masuk yang gratis. Dari situ, saya jadi semakin tertarik untuk lebih mengeksplor museum-museum yang ada di Jakarta. Semoga saja suatu saat nanti saya bisa memenuhi keinginan saya tersebut.


                Saya harap dengan saya mengunjungi museum ini saya semakin mencintai tanah air ini dan dapat menjadi penerus bangsa yang berbudi pekerti dan berguna bagi nusa dan bangsa, serta yang terpenting adalah dapat membahagiakan kedua orang tua saya. Aamiin.


Terimakasih sudah membaca.

 

No comments:

Post a Comment