Friday, 31 May 2013

Tugas 2 (mulok) - Dhiya Divia Rachmat XI IPA 4



Pada hari Sabtu tanggal 4 Mei 2013, saya berkunjung ke salah satu museum terkenal di Jakarta, yaitu Museum Gajah. Saya berkunjung ke museum tersebut bersama seorang sukarelawan dari Jerman yang bekerja di kantor AFS, adik saya yang merupakan siswa SMP Al-Izhar Pondok Labu, dan orang tua saya. Saya membawanya ke museum agar saya dapat mengerjakan tugas ini sekaligus agar ia juga dapat mempelajari sedikit lebih dalam sejarah Indonesia. Kami mengunjungi Museum Gajah, atau yang juga disebut sebagai Museum Nasional Indonesia, pada pagi hari sehingga belum banyak orang di dalam museum tersebut.


            Museum Gajah terletak di Jakarta Pusat. Lebih persisnya, museum tersebut berada di Jalan Merdeka Barat 12. Museum ini merupakan museum yang pertama dan yang terbesar di kawasan Asia Tenggara. Museum ini lahir pada tanggal 24 April tahun 1778, pada saat pembentukan Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (yang artinya “Ikatan Kesenian dan Ilmu Batavia” dalam bahasa Belanda). Ketua perkumpulan tersebut menyumbang sebuat gedung beserta koleksi buku dan benda-benda budaya yang akan menjadi dasar pendirian museum. Pada masa pemerintahan Inggris, Sir Thomas Stamford Raffles memerintahkan pembangunan gedung baru yang terletak di Jalan Majapahit No. 3. Setelah koleksi memenuhi museum di Jalan Majapahit tersebut, pemerintah Hindia-Belanda mendirikan gedung yang sampai sekarang masih ditempati. Gedung museum ini baru dibuka untuk umum pada tahun 1868. Setelah kemerdekaan Indonesia, museum ini diserahkan kepada pemerintah Republik Indonesia. Sebutan Museum Gajah didapatkan dari dihadiahkannya patung gajah yang terbuat dari perunggu oleh Raja Chulalongkorn dari Thailand.
            Museum Gajah ini mempunyai dua sayap yaitu sayap di sebelah Selatan yaitu Gedung Gajah dan sayap sebelah Utara yaitu Gedung Arca. Di dalam Gedung Gajah terdapat berbagai macam koleksi bersejarah yaitu koleksi patung batu, ruang harta, koleksi keramik, koleksi etnografi,koleksi prasejarah, koleksi era kolonial, dan koleksi-koleksi lainnya seperti koleksi perunggu, tekstil dan koleksi numismatik. Museum Nasional Indonesia ini memiliki koleksi seni Hindu-Buddha terbanyak. Relik-relik dan prassasti-prasasti yang berada di museum ini telah dikumpulkan dari Jawa, Bali, Sumatera, dan Kalimantan. Dalam ruangan harta, terdapat koleksi harta, emas, dan artefak-artefak berharga yang diatur dalam dua ruangan yaitu ruangan harta arkeologi dan koleksi etnografi. Pada ruang harta arkeologi terdapat emas kuno dan relik-relik yang ditemukan dari temuan-temuan arkeolog, dan sebagian besar dari Jawa kuno. Salah satu koleksi yang paling berharga adalah patung Prajnaparamita. Pada ruang harta etnologi, terdapat harta-harta yang didapatkan dari rumah-rumah kerajaan di Indonesia seperti dari istana-istana, keraton, dan puri Indonesia yang terdapat di Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, dan kawasan Indonesia Timur (Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua). Dalam ruangan harta tersebut terdapat banyak perhiasan kerajaan seperti gelang dan cincin yang tertanam dengan batu rubi dan berlian, mahkota kerajaan, emas royal, pedang dan perisai, dan lain-lain. Koleksi keramik di Museum Gajah ini berkisar antara terakota Majapahit sampai keramik-keramik dari Cina, Jepang, Vietnam, Thailand, dan Myanmar. Koleksi etnografi di museum ini terdiri dari berbagai macam benda yang merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari serta barang-barang yang digunakan dalam upacara-upacara dan ritual-ritual agama. Koleksi tersebut diatur sesuai dengan lokasi geografis masing-masing daerah di Nusantara yaitu dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Bali, Kepulauan Sunda Kecil (Nusa Tenggara), Sulawesi, Maluku, dan Papua. Museum ini menyimpan beberapa artefak prasejarah dalam koleksi prasejarahnya seperti tengkorak dan kerangka Homo erectus, Homo floresiensis, dan Homo sapiens, beserta alat-alat batu, menhir, batu kapak, kapak perunggu, nekara, dan juga senjata-senjata kuno. Pada ruangan koleksi era kolonial, terdapat koleksi perabotan rumah (furniture) kolonial antik dari era Perusahaan Hindia Belanda atau VOC (Verenigde Oost indische Compagnie) sampai era Hindia Belanda. Namun, sebagian besar koleksi dari ruangan tersebut telah dipindahkan ke museum lain yaitu Museum Sejarah Jakarta yang sebagian besar menampilkan koleksi-koleksi dan sejarah kolonial Batavia (Jakarta tua).
Dalam Gedung Arca koleksi-koleksinya didasarkan pada kerangka unsur budaya yang dikelompokkan menjadi sistem keagamaan dan upacara keagamaan, sistem sosial dan organisasi, sistem pengetahuan, bahasa, seni, sistem mata pencaharian, dan teknologi dan alat-alat. Tata letak dari empat tingkatan Gedung Arca adalah sebagai berikut. Lantai pertama mengenai manusia dan lingkungan, lantai kedua mengenai ilmu pengetahuan, teknologi dan ekonomi, lantai ketiga untuk organisasi sosial dan pola pemukiman, dan lantai keempat untuk harta dan keramik. Gedung tersebut juga memiliki dua ruang pameran sementara (di lantai dasar dan di lantai bawah tanah atau basement). Lantai bawah tanah tersebut juga merupakan ruangan ASEAN yaitu ruangan yang berisi artefak-artefak dari kesepuluh negara-negara ASEAN.

Perahu Asmat

            Dari seluruh artefak bersejarah yang terdapat dalam kedua gedung di Museum Gajah tersebut, saya memilih suatu artefak yang menarik perhatian saya yaitu sebuah perahu. Perahu tersebut bernama “Perahu Asmat”. Perahu Asmat, atau “Asmat Canoe” dalam bahasa Inggris, adalah perahu tradisional yang merupakan alat transportasi bagi orang-orang Asmat karena sebagian besar penduduk Asmat memilih bertempat tinggal pada daerah-daerah pesisir pantai atau di pinggir sungai. Keadaan alamnya tidak memungkinkan untuk dibuatnya jalan-jalanan beraspal, sehingga tidak semua kendaraan bermotor dapat berjalan melalui jalan di kawasan tempat tinggal kaum Asmat. Maka dari itu, sistem transportasi yang paling aman dan digunakan oleh penduduk-penduduk Asmat adalah dengan transportasi air melalui air sungai. Perahu-perahu panjang dan perahu-perahu bermotor sering menjadi pilihan untuk bepergian antara kampung dan distrik, dan juga untuk mencari sagu dan gaharu di hutan. Bentuk Perahu Asmat tersebut sangat panjang dan langsing. Pada bagian kepala perahu tersebut dibuatkan patung dan pada sisi-sisinya diberi ukiran-ukiran. Perahu Asmat ini pada umumnya terbuat dari kayu bakau atau kayu kelapa. Pembuatan perahu tersebut dikerjakan di rumah khusus laki-laki atau yang disebut yeu. Hampir setiap laki-laki dari kaum Asmat dapat membuat perahu kecuali perahu yang digunakan untuk berperang. Pekerjaan pembuatan perahu biasanya dilakukan secara bergotong royong. Panjang Perahu Asmat kira-kira 2,5 meter sampai 5 meter. Cara mengayuh perahu ini adalah dengan posisi badan berdiri. Perahu tersebut hanya dapat ditumpangi oleh lima sampai enam orang dan satu orang yang duduk untuk menunjukkan jalan dan mengarahkan perahu untuk melalui jalan yang aman. Pada umumnya, perahu-perahu kaum Asmat dihias dengan ukiran-ukiran motif belalang sembah atau manusia yang melambangkan nenek moyang mereka. Pada sisi-sisi perahu, banyak terdapat motif-motif spiral yang melambangkan binatang kuskus atau motif zigzag ataupun huruf “S”. Di samping perahu yang digunakan sebagai alat transportasi air, ada juga perahu yang hanya disimpan di yeu (rumah khusus laki-laki). Perahu tersebut dianggap sebagai perahu nenek moyang yang motif-motifnya melambangkan kura-kura, ikan, atau ular air, dan perahu tersebut hanya digunakan untuk memperingati kematian nenek moyang. Perahu tersebut merupakan lambang alat transportasi mereka menuju ke dunia arwah setelah meninggal dunia.
Dayung yang digunakan

            Orang-orang Asmat merupakan kelompok etnis dari New Guinea yang tinggal di Papua, Indonesia. Penduduk Asmat tersebut memiliki salah satu tradisi ukiran kayu yang paling terekenal di daerah Pasifik dan karya-karya mereka dicari oleh banyak kolektor-kolektor di dunia. Orang-orang Asmat tinggal di daerah Barat Daya pulau Papua, yaitu daerah yang membatasi Laut Arafura dengan luas daerah secara total 18.000 km2 dan daerah tersebut mengandung bakau, rawa pasang surut, rawa air tawar, dan hutan-hutan hujan dataran rendah. Daerah tempat tinggalnya para penduduk-penduduk Asmat termasuk dalam Lorentz National Park dan World Heritage Site, yaitu area yang dilindungi yang terbesar di kawasan Asia-Pasifik. Populasi total kaum Asmat adalah sekitar 70.000 nyawa. Kata “Asmat” digunakan untuk nama kaum mereka dan serta untuk nama daerah yang mereka tinggali.
            Para penduduk Asmat pada umumnya mendapat makanan dari tumbuhan sagu, ikan, binatang buruan di hutan, dan makanan-makanan lainnya yang dapat diperoleh di hutan ataupun di air sungai. Alat-alat dan bahan-bahan untuk membuat perahu Asmat, untuk membuat rumah, dan untuk ukiran juga mereka kumpulkan sendiri. Karena sering terjadinya kebanjiran, rumah-rumah tempat tinggal penduduk Asmat dibuat antara dua atau tiga meter di atas permukaan tanah, di atas tiang-tiang kayu. Di beberapa daerah-daerah pedalaman, orang-orang Asmat juga tinggal dalam rumah pohon, kadang 25 meter di atas permukaan tanah. Para penduduk Asmat juga memiliki rasa hormat yang mendalam terhadap nenek moyang, khususnya mereka yang dulunya merupakan prajurit kaum Asmat.
Patung Nenek Moyang
            Suku Asmat menganut Animisme sampai dengan datangnya para Misionaris pembawa ajaran baru, maka mereka baru mulai mengenal agama lain selain agama nenek moyang. Kini, masyarakat suku tersebut telah menganut berbagai macam agama seperti Protestan, Katolik, dan Islam. Masyarakat Suku Asmat menjalankan proses kehidupannya seperti masyarakat lain pada umumnya yaitu yang pertama kehamilan, kelahiran, pernikahan, dan kemudian kematian. Pada proses kematian, bila yang meninggal adalah kepala suku maka jasadnya disimpan dalam bentuk mumi dan dipajang di depan joglo suku. Tetapi jika yang meninggal adalah masyarakat umum, maka jasadnya dikuburkan. Proses ini dilakukan dengan nyanyian berbahasa Asmat dan pemotongan ruas jari tangan anggota keluarga yang ditinggalkan. Ritual kematian juga termasuk dalam salah satu upacara-upacara suku Asmat. Yang lainnya merupakan Ritual Pembuatan dan Pengukuhan Perahu, Upacara Bis, dan Upacara Pengukuhan dan Pembuatan Rumah.



No comments:

Post a Comment