Monday, 27 May 2013

Tugas 2 (Mulok) - Fara Putri Zhafira XI IPA 4


Pada hari Rabu tanggal 17 April 2013,  saya pergi ke Kota Tua bersama teman-teman menggunakan Transjakarta, kami pergi ke Kota Tua untuk berjalan-jalan mengunjungi beberapa museum dengan teman-teman saya.  Museum pertama yang saya kunjungi adalah Museum Bank Indonesia. Museum yang terletak di daerah Kota atau yang biasa kita kenal dengan sebutan daerah Kota Tua, lebih tepatnya museum Bank Indonesia ini beralamat di Jalan Pintu Besar Utara No. 3, Kota, Jakarta Barat. Letak Museum Bank Indonesia berdekatan dengan Stasiun Kereta Api Jakarta Kota (stasiun Beos Kota).  Museum Bank Indonesia merupakan salah satu bangunan yang berusia tua dan memiliki sejarah yang cukup panjang dalam bidang perbankan di Indonesia.  Pada awalnya, museum ini merupakan sebuah rumah sakit yaitu Binnen Hospitaal yang pada tahun 1828 berubah peruntukan sebagai bank, yaitu De Javasche Bank (DJB).  Setelah Indonesia merdeka, De Javasche Bank di nasionalisasikan menjadi bank sentral Indonesia atau Bank Indonesia pada tahun 1953.  Pada tahun 1962, gedung ini tidak lagi dijadikan kantor Bank Indonesia, sehingga gedung ini terbiarkan kosong begitu saja.  Melihat nilai sejarah yang dimiliki oleh gedung ini sangatlah tinggi, pemerintah menetapkan bahwa gedung ini merupakan cagar budaya yang perlu dilestarikan.   Museum Bank Indonesia ini memiliki benda-benda dan dokumen-dokumen bersejarah yang perlu dirawat dan diolah agar dapat dijadikan informasi yang sangat berguna bagi masyarakat.
        Oleh karena itu, Dewan Gubernur Bank Indonesia pada masa itu memutuskan untuk menggunakan gedung Bank Indonesia di daerah Kota yang sudah tidak terpakai tersebut sebagai Museum Bank Indonesia.  Museum ini pertama kali diresmikan pada tanggal 15 Desember 2006 oleh Gubernur Bank Indonesia pada saat itu, Burhanuddin Abdullah.  Meski sudah dibuka untuk masyarakat umum, peresmian museum ini hanyalah soft opening. Grand opening atau peresmian tahap 2 museum ini adalah pada tanggal 21 Juni 2009 oleh Presiden Republik Indonesia pada masa itu yaitu bapak Susilo Bambang Yudhoyono. Museum Bank Indonesia ini dapat dikatakan salah satu museum yang berteknologi sangat modern dan saat ini disajikan dalam bentuk cyber museum.  Teknologi yang digunakan dalam penyampaian informasinya sangatlah canggih, berbeda dari museum lain di Indonesia pada umumnya.  Museum ini sudah menggunakan multimedia,  teknologi layar sentuh sebagai pemutar video, LCD, Parabolic Speaker, panel statik, televisi plasma, dan lain sebagainya. Dalam penyajian informasinya, museum Bank Indonesia juga memiliki diorama-diorama yang dilengkapi dengan sound effect sebagai pendukung diorama tersebut sehingga menjadi terasa lebih nyata dan hidup.  Dengan teknologi yang sudah sangat modern, untuk masuk ke dalam museum Bank Indonesia kita tidak dikenai biaya sedikit pun.  Museum Bank Indonesia ini pun selalu buka setiap hari kecuali hari Senin dan hari-hari besar atau hari libur nasional.

Koleksi Uang Kertas di museum Bank Indonesia
Koleksi Celengan di museum Bank Indonesia
       Museum Bank Indonesia memiliki koleksi benda-benda atau dokumen-dokumen yang memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi seperti berbagai jenis uang logam dan uang kertas dari zaman dahulu dan dari berbagai negara.  Selain itu, museum Bank Indonesia juga memiliki cukup bank koleksi alat-alat perbankan seperti mesin hitung Ontel Remington 77, mesin tik, lemari brankas, ruang brankas (pintu besi) arsek, mesin PTTB, ukiran kayu dengan pepatah dalam bahasa Belanda, alat pelubang kupon/deviden, timbangan emas, dan alat-alat perbankan lainnya.  Museum ini juga menyediakan koleksi film mengenai sejarah perbankan di Indonesia ini seperti misalnya film mengenai pengerahan dana masyarakat pada tahun 1953 sampai dengan tahun 1959, nasionalisasi bank-bank Belanda, pengedaran uang pada tahun 1953 sampai dengan 1959, penyelenggaraan kliring hingga tahun 1959, dewan moneter menurut UU No. 11/1953, dan  sistem kebijakan devisa pada tahun 1953 sampai dengan tahun 1959.

Guci Berglasir Hijau dan Uang Kepeng dari Cina
        Salah satu koleksi dari Museum Bank Indonesia ini adalah guci berglasir hijau dan uang kepeng dari Cina.  Ketika saya sedang berkunjung ke museum ini, sedang ada beberapa orang anak SMA yang kebetulan sedang berkunjung juga.  Lalu saya menjelaskan mengenai salah satu artefak yang terdapat di museum ini yaitu guci berglasir hijau dan uang kepeng dari Cina.

Saya, seorang turis, dan Artefak di Museum Bank Indonesia
           Guci Berglasir Hijau Dan Uang Kepeng Kuno dari Cina ini merupakan salah satu dari sekian banyak artefak yang terdapat di museum Bank Indonesia.  Guci ini ditemukan dalam sebuah penggalian.  Guci ini terbuat dari bahan-bahan bebatuan (stone ware) dengan glasir yang berwarna hijau.  Guci ini berasal dari negara Cina Selatan dan berasal dari jaman dinasti Tang, sekitar abad 10 Masehi.  Di dalam guci ini, ditemukan beberapa keping uang logam Cina yang disebut uang kepeng yang juga berasal dari jaman dinasti Tang.  Tempat pasti dimana guci ini ditemukan tidak diketahui secara jelas, tetapi guci dan uang kepeng yang sejenis dengan guci berglasir hijau dan uang kepeng yang terdapat didalamnya ini banyak di temukan di berbagai tempat di sekitaran pulau Jawa.
Setelah Museum Bank Indonesia, saya dan teman-teman memutuskan untuk berkunjung ke museum Bank Mandiri yang letaknya sangat dekat dengan museum Bank Indonesia, bisa dikatakan bersebelahan.  Meskipun sesama museum bank, isi dari museum Bank Indonesia dengan Bank Mandiri sangatlah berbeda, terutama dari segi teknologi penyampaian informasinya. 
Museum Bank Mandiri merupakan museum yang didirikan khusus untuk Bank Mandiri.  Museum Bank Mandiri ini beralamat di Jalan Lapangan Stasiun Nomor 1 Jakarta Barat dan merupakan salah satu bagian dari cagar budaya Kota Tua di Jakarta.  Museum Bank Mandiri resmi berdiri tanggal 2 Oktober 1998.  Museum ini menempati area seluas 10.039 meter persegi.  Museum Bank Mandiri ini pada awalnya merupakan gedung Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM) atau Factorji Batavia yang merupakan perusahaan dagang milik Belanda yang pada akhirnya terus berkembang menjadi perusahaan di bidang perbankan.  Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM) di nasionalisasikan pada tahun 1960 dan menjadi salah satu gedung kantor Bank Koperasi Tani dan Nelayan (BKTN) Urusan Ekspor Impor.  Pada tanggal 31 Desember 1968, lahirlah Bank Ekspor Impor Indonesia (Bank Exim).  Bersamaan dengan lahirnya Bank Exim, gedung Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM) tersebut beralih menjadi kantor pusat Bank Ekspor Impor Indonesia (Bank Exim), hingga pada akhirnya terjadi legal merger antara Bank Ekspor Impor dengan Bank Dagang Negara (BDN), Bank Bumi Daya (BBD), dan Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) ke dalam Bank Mandiri (1999) sehingga pada akhirnya gedung tersebut pun menjadi asset milik Bank Mandiri.
Gedung Museum Bank Mandiri (ex-Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM)) ini dirancang oleh 3 orang arsitek yang berasal dari Belanda yaitu J.J.J de Bruyn, A.P. Smits dan C. van de Linde. Gedung ini mulai dibangun pada tahun 1929 dan pada tanggal 14 Januari 1933 gedung ini dibuka secara resmi Oleh C.J. Karel Van Aalst, yang merupakan Presiden Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM) yang ke-10.  Gedung ex-NHM ini terlihat sangat kokoh dan megah dengan arsitektur Niew Zakelijk atau Art Deco Classic.  Koleksi yang terdapat dalam museum Bank Mandiri ini tergolong cukup banyak dan berkaitan dengan aktivitas-aktivitas perbankan pada zaman dahulu dan perkembangannya.  Koleksi yang terdapat dalam museum ini sangat beragam, mulai dari perlengkapan operasional bank, surat berharga, mata uang kuno (numismatik), brandkast, dan lain-lain.  Museum Bank Mandiri juga memberikan contoh-contoh bilyet giro dari masa ke masa, pengenalan mesin atm, ada juga mesin penghancur uang, sampai berbagai jenis mesin ketik dari zaman dahulu.  Selain itu, di museum Bank Mandiri ini juga terdapat koleksi perlengkapan operasional bank dari zaman dahulu yang unik, diantaranya adalah peti uang, mesin hitung uang mekanik, kalkulator, mesin pembukuan, mesin cetak, alat press bendel, seal press, safe deposit box maupun aneka surat berharga seperti bilyet deposito, sertikat deposito, cek, obligasi, dan saham. Di samping itu, ornamen bangunan, interior dan furniture museum ini masih asli sama seperti ketika bangunan ini didirikan.


Saya, 2 orang turis, dan Artefak Buku Besar di Museum Bank Mandiri
Pada saat saya berkunjung ke museum Bank Mandiri, terdapat serombongan anak SMP yang sedang berkunjung ke museum Bank Mandiri juga.  Lalu, saya menjelaskan mengenai salah satu artefak yang terdapat di museum ini kepada 2 orang anak SMP tersebut.  Saya menjelaskan kepada mereka mengenai salah satu buku besar yang terdapat di museum Bank Mandiri.  Buku Besar Ex-Nederlandsche Handel-Maatschappij ini memiliki nama lain yaitu Grootboek. Buku besar yang digunakan untuk mencatat laporan keuangan NHM selama 2 tahun, yaitu dari tahun 1846 sampai dengan tahun 1848, ini memiliki jumlah halaman sebanyak 370 lembar dan ukuran panjang 66 cm, lebar 52 cm, dan tebal 13 cm.  Buku besar ini memiliki ukuran yang sangat besar, berbeda dengan buku besar pada zaman sekarang, buku ini memiliki berat 32 kilogram dan berasal dari Pusat Arsip Rempoa.  Laporan keuangan dalam buku besar ini diantaranya adalah mengenai perkebunan dan komoditi.  Buku ini berisi perincian perkiraan perubahan debet dan kredit untuk dilaporkan setiap akhir bulan. Selain itu buku ini juga mencatat keuangan agen-agen yang lain di Surabaya, Semarang, Padang, dan Anyer.
Ketika saya berkunjung ke museum Bank Mandiri, saya dan teman-teman tidak dikenakan biaya sedikit pun, kami hanya diminta untuk mengisi buku tamu setelah itu kami bebas berkeliling museum sepuasnya.  Sama seperti museum Bank Indonesia, museum Bank Mandiri juga buka setiap hari kecuali hari Senin.
Semoga apa yang saya tulis diatas bermanfaat dan menambah pengetahuan kita mengenai beberapa cagar budaya yang berupa museum-museum yang terdapat di kota Jakarta kita ini.  Dan membuat kita tergerak untuk melestarikan cagar budaya tersebut agar pengetahuan dan nilai sejarah yang dimiliki kedua museum tersebut tetap terjaga sampai masa yang akan datang sehingga generasi selanjutnya masih bisa mengetahui sejarah perbankan di Indonesia.


No comments:

Post a Comment