Friday, 31 May 2013

Tugas 2 biografi Farissa Saisarah Munir XI IPA3


Perjuangan Tak Henti 

            Jakarta, 31 Mei 2013.
           
Jumat siang itu sepulang sekolah saya mewawancari ayah saya sebagai narasumber yang akan memberi informasi mengenai kakek saya. Maka dari itu saya harus menelpon ayah saya yang sedang bekerja di kantor. Pada saat jam makan berbagai pertanyaan saya tanyakan dan ayah saya juga menceritakan peran kakek saya di masyarakat pada masa dulu. Mulai dari kakek saya dilahirkan hingga beliau wafat.
Ayah saya adalah anak ke lima dari delapan bersaudara. Ayah saya adalah anak laki-laki pertama. Didikan yang diberikan kakek saya cukup keras kepada ayah saya sebagai anak lelaki pertama. Ayah saya dilahirkan di bireuen, tempat kakek saya dilahirkan hingga masa tua.
Kakek saya merupakan saksi sejarah kemerdekaan Indonesia. Namun beliau sudah wafat pada tahun 2010. Maka ayah saya yang akan menceritakan mengenai kakek saya.
           
Bireuen, 16 November 1921

Pada masa itu Indonesia belumlah merdeka. Tahun itu kakek saya dilahirkan. Beliau bernama Muhammad Daud Hamzah.  Di kota bireuen kakek saya dilahirkan. Kakek saya dilahirkan dari keluarga yang religius, islami. Ayah beliau adalah seorang ulama dan jejak itulah yang diikuti oleh kakek saya.
Ayah dari kakek saya adalah seorang pejuang kemerdekaan. Hamzah namanya. Ayah beliau terkenal dengan nama Tengku Syeikh Panglima Prang. Nama ini adalah sebutan masyarakat karena beliau adalah seorang pemimpin untuk melawan Belanda yang pada masa itu masih menjajah Indonesia.
Mungkin darah yang mengalir ditubuhnya yang membuat beliau menjadi sama seperti ayahnya. Seperti pepatah yang mengatakan buah jatuh  tidak jauh dari pohonnya. Seperti itulah kakek saya dan buyut saya.
Masa kecil kakek saya dilalui di aceh lebih tepatnya di Bireuen. Dari jenjang pendidikan awal hingga sekolah sederajat sma, yang semuanya adalah sekolah agama islam, dilalui di bireun. Namun ketika menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi beliau merantau ke sumatra barat tepatnya bukit tinggi. Beliau memasuki sebuah perguruan bernama normal islam. Pada masa itu, normal islam adalah salah satu perguruan ternama dan terkenal.
Setelah cukup lama menuntut ilmu di Bukit Tinggi, beliau kembali ke Aceh. Di Aceh, lebih tepatnya Bireuen, beliau mengabdikan ilmu yang didapatnya untuk tanah tempatnya dilahirkan. Di Bireun, kakek saya adalah seorang yang dihormati sebagai tokoh masyarakat. Sekembalinya dari bukit tinggi, beliau mengajarkan agama islam dan dikenal dengan sebutan ustadz Tengku Daud Hamzah.
Di masa mudanya beliau adalah pemuda-pemuda Aceh yang menginginkan kemerdekaan Indonesia. Lepasnya Indonesia dari penjajahan Belanda itulah yang diinginkannya saat itu. Sama seperti ayahnya yang tak lain adalah pejuang di Aceh.
Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945 yang berarti pada saat itu beliau berusia 23 tahun, beliau termasuk golongan muda yang merasa tidak puas dengan pemerintahan setelah kemerdekaan Indonesia. Penyebab ketidakpuasan masyarakat Aceh dikarenakan status Aceh pada tahun 1950 diturunkan dari daerah istimewa menjadi karesidenan di bawah Provinsi Sumatera Utara.
Akibat dari ketidakpuasan ini adalah pemberontakan DI/TII di Aceh. Awal mulanya adalah kekecewaan Daud Beureuh Pada tanggal 21 September 1953 Daud Beureuh yang waktu itu menjabat sebagai gubernur militer menyatakan bahwa Aceh merupakan bagian dari Negara Islam Indonesia di bawah pimpinan SM. Kartosuwiryo. Pemberontakan DI/TII di Aceh dipimpin oleh Teuku Daud Beureuh. Sebagai seorang tokoh ulama dan bekas Gubernur Militer, Daud Beureuh tidak sulit memperoleh pengikut. Daud Beureuh juga berhasil memengaruhi pejabat-pejabat Pemerintah Aceh, khususnya di daerah Pidie. Untuk beberapa waktu lamanya Daud Beureuh dan pengikut-pengikutnya dapat mengusai sebagian besar daerah Aceh termasuk sejumlah kota.
Pada masa pemberontakan DI/TII yang dipimpin oleh Daud Bereuh, kakek saya merupakan pengikut beliau.  Kakek saya yang merupakan  seorang ulama, mengikuti Daud Bereuh yang juga seorang ulama selain sebagai gubernur. Dalam menghadapi pemberontakan DI/ TII di Aceh ini semula pemerintah menggunakan kekuatan senjata. Karena aktivitas DI/TII yang dianggap mengganggu keamanan, para anggota DI/TII di Aceh banyak yang ditangkap. Kakek saya adalah salah satu seorang yang ditangkap pada masa itu. Akibat dari itu kakek saya harus dipenjara selama dua tahun. Beliau ditangkap pada tahun 1954. Ketika dipenjara, kakek saya sudah menikah dengan nenek saya sejak tahun 1944 dan memiliki tiga orang anak perempuan. Nama nenek saya adalah Cut Tiarfah. Pada saat kakek saya ditangkap, nenek saya sedang mengandung anak keempat. Pengalaman saat kakek saya dipenjara sangat melekat di ingatan nenek saya. Nenek saya harus membiayai ketiga anaknya dan melahirkan anak ke empat seorang diri. Untunglah pada masa itu kakek saya bekerja sebagai pegawai negri dan berprofesi guru, sehingga masih memperoleh gaji bulanan. Begitulah yang ayah saya ingat ketika ibunya menceritakan kejadian itu.
Sekitar tahun 1960-an (ayah saya lupa persis tepatnya kapan),  kakek saya diangkat menjadi imam besar di masjid raya Bireuen. Beliau menjadi tokoh masyarakat dan salah satu ulama besar. Dari masa itulah beliau diberi gelar dan panggilan ‘Tengku Muhammad Daud Hamzah’.  Tengku adalah gelar yang diberikan masyarakat kepada para ulama yang dihormati di Aceh. Sepanjang hayatnya beliau menyebarkan dan mengajarkan agama islam. Menghadiri nuzurul qur’an (perlombaan membaca al-qur’an) sering beliau lakukan karena kemampuannya dalam menguasai al-qur’an sehingga dipilih menjadi juri acara tersebut.
Sebagai seorang ulama besar, kakek saya dipercayai oleh departemen agama sebagai penghulu. Beliau memiliki wewenang untuk menikahkan orang. Sangat banyak pasangan muda yang datang ke beliau untuk dinikahkan. Kakek saya tidak pernah memasang tarif untuk itu, dia melakukannya semata-mata karena agama sehingga begitu banyak yang datang dan minta dinikahkan ke kakek saya. Namun dari sini, sedikit banyak tentunya menambah pemasukan bagi kakek saya.
Dalam membesarkan anak-anaknya, kakek saya terkenal sebagai orang yang tepat aturan dan disiplin. Beliau juga sangat menanamkan ilmu agama kepada anak-anaknya. Oleh karena itu, keempat putrinya disekolahkan di sekolah agama. Ketika ayah saya dilahirkan tahun 1957, sebagai anak kelima dan  anak laki-laki pertama dalam keluarganya, tentunya kakek saya lebih keras dalam mengajar anak laki-laki. Tetapi ayah saya mengenyam pendidikan di sekolah umum. Namun untuk anak lelakinya, bukan berarti tidak belajar agama, tetapi beliau  mendirikan sekolah daniyah yang terbuka untuk umum dan saat siang hari, anak laki-lakinya diwajibkan sekolah agama disitu. Namun untuk putri kelima yang merupakan anak ke tujuh dari delapan bersaudara, itu adalah satu-satunya putri yang disekolahkan di sekolah umum.
Tidak lama setelah pemberontakan DI/TII kakek saya menjadi anggota Masyumi yang merupakan salah satu partai Islam besar di bidang politik.  Di Aceh partai yang mendominasi pemilihan suara 90% adalah partai Islam.  Selain Masyumi, beliau juga aktif dalam organisasi massa yaitu Muhammadiyah. Tahun 1978 pada masa orde baru, beliau menjadi salah satu anggota DPR Aceh dari partai Golongan Karya (Golkar).
Ayah saya bercerita bahwa dulu dia disekolahkan oleh kakek saya hingga jenjang sma atau lebih tepatnya sekolah teknik menengah. Selulusnya dari sekolah, ayah saya langsung bekerja di Mobil Oil. Ayah saya bekerja untuk membantu ayahnya memenuhi kebutuhan sekolah adik-adiknya 3 orang lagi. Namun berkat didikan kakek saya yang keras, disiplin, dan gigih, setelah beberapa tahun bekerja di perusahaan tersebut, ayah saya mencoba mengikuti seleksi beasiswa oleh perusahaan tersebut. Awalnya ayah saya hanyalah teknisi di perusahaan tersebut. Tanpa disangka, ayah saya mendapatkan beasiswa tersebut dan disekolahkan S1 di Amerika dengan jurusan teknik perminyakan. Sungguh tidak sia-sia pengajaran yang kakek saya berikan sehingga ayah saya bisa mendapatkan itu. Sebagai anak laki-laki pertama ayah saya ditanamkan oleh kakek saya untuk menjadi anak yang bertanggung jawab. Sehingga pada masa ayah saya menuntut ilmu di Amerika, dirinya merasa perlu untuk membantu kakek saya membiayai pendidikan tiga orang adiknya. Setiap bulan ayah saya mengirimkan uang dari Amerika ke Aceh untuk kakek saya dari uang beasiswa dan kerja sampingannya selama disana. Akhirnya ketiga adik ayah saya dapat mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Sepulang dari Amerika, ayah saya mengabdikan dirinya di MobilOil yang kini telah berganti menjadi ExxonMobil hingga sekarang sudah 36 tahun lamanya.
Dari pandangan saya, beliau merupakan sosok kakek yang sangat penyayang terhadap cucunya. Saya adalah salah satu cucu yang sangat disayangnya karena wajah saya sangat mirip dengan ayah. Setiap pulang ke bireuen, rumah tempat ayah saya dilahirkan, kakek saya membuatkan ayunan dengan kain sarung untuk saya tidur dan ayunan dari ban untuk bermain. Setiap pagi juga beliau suka mengajak saya mengambil telor bebek di halaman belakang dan memberi makan ikan.
Pada Di masa tuanya, beliau tinggal di Lhokseumawe, di tempat putri terkecilnya karena sudah mulai sakit-sakitan. Hingga akhir hayat kakek saya, beliau tidak pernah meninggalkan solat walaupun beliau harus melakukannya di tempat tidur. Saya ingat dulu ketika saya kecil, kakek saya memiliki tanda hitam di dahinya karena sujud ketika solat yang begitu lama. Disaat beliau sudah pikun dan lebih banyak tertidur, beliau selalu minta untuk solat ketika sadar. Sampai akhirnya di ujung usia, beliau tidak mengalami komplikasi apapun melainnkan hanyalah penyakit karena umur. Tetapi jika diperiksa secara medis, beliau tidak mengalami komplikasi apapun.
Akhirnya pada bulan April 2010 beliau menutup usia di usia 88 tahun. Sungguh panjang lika-liku hidup yang dilaluinya, mulai dari sebelum kemerdekaan Indonesia hingga Indonesia merdeka. Dari biografi yang saya tuliskan ini juga tercermin sifat beliau yang begitu peduli sosial dan nilai agama dalam dirinya yang tinggi. Mulai dari mengelurkan pendapat apresiasi rakyat Aceh terhadap pemerintah melalui DI/TII lalu dengan partai masyumi dan golkar pada masa orde baru, setelah itu organisasi kemasyarakatan dan menyebarkan agama islam.


















No comments:

Post a Comment