Friday, 24 May 2013

Tugas 2 (Mulok) - Ghina Faradisa Hatta XI IPA


Monumen Nasional, Monumen Kebanggaan

Monumen nasional, atau yang sering kita sebut dengan sebutan "Monas" ini merupakan icon kota Jakarta. Terletak di pusat kota Jakarta, menjadi tempat wisata dan pusat pendidikan yang menarik bagi warga Jakarta dan sekitarnya. Monas didirikan pada tahun 1959 dan diresmikan dua tahun kemudian pada tahun 1961. Monas selalu ramai dikunjungi wisatawan untuk melihat keindahan kota Jakarta dari puncak Monas, menambah wawasan sejarah Indonesia di ruang diorama ataupun menikmati segarnya hutan kota seluas kira-kira 80 hektar di tengah kota Jakarta.

Monas mulai dibangun pada bulan Agustus 1959. Keseluruhan bangunan Monas dirancang oleh para arsitek Indonesia yaitu Soedarsono, Frederich Silaban dan Ir. Rooseno. Kemudian pada tanggal 17 Agustus 1961, Monas diresmikan oleh Presiden Soekarno, dan mulai dibuka untuk umum sejak tanggal 12 Juli 1975.
Sedangkan wilayah taman hutan kota di sekitar Monas dahulu dikenal dengan nama Lapangan Gambir. Kemudian sempat berubah nama beberapa kali menjadi Lapangan Ikada, Lapangan Merdeka, Lapangan Monas dan kemudian menjadi Taman Monas.


Pada hari Jumat, tanggal 17, bulan Mei, tahun 2013 yang lalu, saya bersama Jasmine Tiara Iqbal, Bilqis Quinta, dan Nillam Widiastuti mengunjungi Monumen Nasional sepulang sekolah, dengan maksud untuk memenuhi tugas muatan lokal. Sebenarnya, awalnya kami berniat untuk pergi mengunjungi Museum POLRI saja, dikarenakan jarak yang relatif dekat dengan sekolah. Tetapi sesampainya kami di Museum POLRI, ternyata museum tersebut sedang tutup. Maka dari itu, kami memutuskan untuk pergi mengunjungi Monumen Nasional saja.

Kami sampai di Monumen Nasional pada sekitar pukul 14.30 WIB. Setelah membeli tiket masuk, kami pun langsung memasuki museum. Di dalam museum, banyak terdapat diorama yang beragam. Saya memilih untuk menjelaskan diorama yang menggambarkan suasana rapat oleh mahasiswa STOVIA.


STOVIA merupakan singkatan dari School tot Opleiding van Indische Artsen, yang juga merupakan sekolah pendidikan dokter bumiputera. Di  kampus STOVIA inilah berdiri organisasi “Boedi Oetomo”. Pada awalnya, di tahun 1906, bertempatkan di Yogyakarta, dr. Wahidin Sudirohusodo mempunyai gagasan untuk mendirikan studiefonds atau dana pelajar. Tujuannya adalah untuk mengumpulkan dana untuk membiayai pemuda-pemuda bumi putra yang pandai, tetapi miskin agar dapat meneruskan ke sekolah yang lebih tinggi. Untuk mewujudkan gagasannya tersebut, beliau mengadakan perjalanan keliling jawa.

Ketika sampai di Jakarta, dr. Wahidin Sudirohusodo bertemu dengan mahasiswa-mahasiswa STOVIA. STOVIA adalah sekolah untuk mendidik dokterdokter pribumi. Mahasiswa-mahasiswa tersebut antara lain Sutomo, Cipto Mangunkusumo, Gunawan Mangunkusumo, Suraji, dan Gumbrek. Dr. Wahidin Sudirohusodo memberikan dorongan kepada mereka agar membentuk suatu organisasi. Dorongan tersebut mendapat sambutan baik dari para mahasiswa STOVIA.

Pada tanggal 20 Mei 1908 bertempat di Gedung STOVIA. Para mahasiswa STOVIA mendirikan organisasi yang diberi nama Budi Utomo. Budi Utomo artinya budi yang utama. Tanggal berdirinya Budi Utomo yaitu 20 Mei dijadikan sebagai Hari Kebangkitan Nasional.


Nama STOVIA tetap digunakan hingga tanggal 9 Agustus 1927, yaitu saat pendidikan dokter resmi ditetapkan menjadi pendidikan tinggi, dengan nama Geneeskundige Hoogeschool (atau Sekolah Tinggi Kedokteran). Sempat terjadi beberapa kali lagi perubahan nama, yaitu Ika Daigaku (Sekolah Kedokteran) pada masa pendudukan Jepang dan Perguruan Tinggi Kedokteran Republik Indonesia pada masa awal kemerdekaan Indonesia. Kemudian sejak 2 Februari 1950, Pemerintah Republik Indonesia mengubahnya menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, yang masih tetap ada sampai sekarang.

Saya menjelaskan STOVIA kepada 2 orang ibu yang baik hati, setelah selesai menjelaskan dan mengucapkan terima kasih, saya dan teman-teman pun pulang meninggalkan Monumen Nasional.

No comments:

Post a Comment