Monday, 27 May 2013

Tugas 2 (Mulok)-Ikko Haidar F. XI IPA 3



Museum Satria Mandala: Koleksi Sejarah, Kenangan, dan Alutsista TNI



Pada hari Minggu tanggal 26 Mei 2013, saya dan orang tua saya mengunjungi Museum Satria Mandala yang kebetulan letaknya tidak terlalu jauh, yaitu di daerah Kuningan, tepatnya pada Jalan Gatot Subroto Kav. 14. Museum ini diresmikan oleh mantan presiden RI Soeharto sebagai sarana untuk menyimpan sejarah perjuangan TNI. Awalnya bangunan Museum ini adalah rumah dari salah satu istri dari Bung Karno, dengan nama Ratna Sari Dewi. 

Museum ini menyimpan berbagai alutsista yang pernah dipakai oleh ketiga cabang TNI (meski sebagian besar adalah alutsista yang berasal dari zaman 1960-1970an), meski ada beberapa koleksi seperti maket tank dan pesawat tempur modern yang ada dibagian Ruang Senjata. Selain itu, museum ini juga memiliki tiga ruang diorama, namun hanya ruang diorama II yang buka ketika saya datang kesana.

Museum ini buka untuk umum setiap hari dari jam 09:00-14:30, kecuali Senin dan libur nasional

Halaman Museum

Ketika Saya datang di Museum tersebut, hal yang pertama kali saya amati adalah beberapa Alutsista yang sengaja dipamerkan di halaman museum yang seolah menyambut kedatangan para pengunjungnya. Diantaranya adalah rudal darat ke udara SA-2 Guideline, helicopter angkut Bell 212 (UH-1), tank M3A3 Stuart,MiG-21 Fishbed, dan meriam artileri AL. Barang-barang ini jugalah yang membuat museum ini dapat dengan mudah dikenali dari jauh pun karena letaknya yang berada di halaman depan

Selain itu, terdapat replica KRI 602 Macan Tutul, yang merupakan kapal cepat torpedo yang terlibat dalam pertempuran Laut Arafuru. Pada saat itu yang mengomandani kapal tersebut adalah Laksamana Madya Yos Sudarso (alm) yang gugur ketika kapalnya dikaramkan akibat serangan dari kapal patrol milik Belanda.



Atas-Bawah: KRI 602 Macan Tutul, SA-2 Guideline dan Bell 212, MiG-21 dan M3A3 dan meriam artileri
 Interior Museum: Ruang Diorama II

Setelah puas mengamati alutsista yang berada di halaman museum, saya dan orang tua saya kemudian masuk ke bagian Museum. Loket masuknya untuk dewasa adalah Rp. 2500,-. Per orangnya.

Sebenarnya ada tiga ruang diorama di Museum tersebut, akan tetapi, Ruang Diorama I yang berada didepan pintu masuk dan Ruang Diorama III yang berada dibelakang Museum sedang tutup sehingga saya hanya bisa melihat-lihat di Ruang Diorama II.

Ketika berjalan dari area loket masuk ke Ruang Diorama II, terdapat gambar-gambar yang memuat momen ketika para staf TNI menerima pejabat asing dari berbagai Negara yang mengunjungi Museum Satria Mandala.

Tak jauh kemudian sampailah di Ruang Diorama II. Ruang ini bercerita banyak tentang perang mempertahankan kemerdekaan yang berlangsung dari tahun 1945-1947, dan juga tentang misi kontingen garuda yang dikirim ke berbagai lokasi konflik di seluruh dunia dalam rangka misi peace enforcement oleh PBB. 

Disana disajikan tentang pertempuran-pertempuran yang sering didengar seperti misalnya pertempuran 5 hari di Semarang dan Bandung Lautan Api. Namun ada juga beberapa pertempuran-pertempuran yang barangkali belum pernah kita dengar, seperti misalnya pertempuran Bogor, pertempuran merebut Lanud Bugis Malang, dan sebagainya

Selain itu juga disajikan gambar-gambar tentang misi Kontingen PBB Garuda mulai dari Kontingen Garuda I (Konga I) di Mesir hingga yang paling baru yang ada di museum adalah Kontingen Garuda XXIII/B (Konga XXIII; UNIFIL) di Lebanon (Kontingen Garuda yang saat ini bertugas adalah Kontingen Garuda XXXV/A (Konga XXXV/A;UNAMID di Sudan).


Atas-Bawah: Diorama pertempuran lima hari Semarang, peta misi Kontingen Garuda
 Disudut Timur Laut ruangan Diorama II terdapat ruangan yang memuat foto-foto peranan TNI di operasi militer selain perang (OMSP) atau sesuai dalam plakat yang berada diantara jajaran foto yang ada di ruangan tersebut, yaitu “Diluar Bidang Hankam” dan “Sosial masyarakat”, serta peranan TNI dalam Misi Internasional. Seperti misalnya program ABRI Masuk Desa (AMD) yang dilakukan sejak tahun 1980an dan berbagai misi kemanusiaan lainnya.

Di dinding sebelah Utara terdapat gambar para panglima besar TNI AD, sementara di dinding sisi Selatan terdapat gambar Alutsista modern yang digunakan oleh TNI, seperti misalnya APC AMX 13, tank Scorpion 90, pesawat tempur F-16A, dan sebagainya.

Perlu diingat bahwa foto-foto tersebut kebanyakan berasal dari era 1980-1990an akhir (Oleh karenanya caption foto-foto tersebut semuanya masih bertuliskan “ABRI”). Tidak adanya foto yang memuat alutsista yang lebih modern yang dimiliki oleh TNI adalah suatu hal yang disayangkan, meskipun memang foto-foto yang lama ini merupakan suatu kenangan yang sangat layak untuk disimpan di dalam museum tersebut, dan barangkali, dalam beberapa tahun, mungkin kita bisa melihat Alutsista TNI yang digunakan pada era 2000an di Museum Tersebut.



Atas-Bawah: Salah satu sudut gambar Alutsista, Gambar panglima besar TNI, dan Ruangan yang dimaksud

Interior Museum: Ruang Senjata

Asyik
 Jujur, ini adalah bagian yang paling saya tunggu dari kegiatan saya mengunjungi museum Satria Mandala. Bagian tersebut memuat koleksi tentang persenjataan yang pernah digunakan oleh TNI sejak zaman perang kemerdekaan (1945) hingga Operasi Seroja (1960an). Malah beberapa senjata yang ada disitu masih digunakan hingga sekarang

Terdapat beberapa jalur yang masing-masing memuat etalase yang memuat senjata-senjata yang pernah digunakan oleh Indonesia, kebanyakan merupakan rampasan musuh yang kemudian disusun berdasarkan jenisnya

Di jalur tengah terdapat persenjataan berupa pistol dan submachine gun yang dipakai oleh TNI. Bagian kiri memuat sebagian besarnya adalah submachine gun sedangkan bagian kanannya memuat pistol dan revolver yang digunakan oleh TNI. Kebanyakan dari mereka adalah hasil rampasan dari musuh dan kemudian dipamerkan di ruangan ini.

Di jalur kiri, terdapat koleksi senapan yang kebanyakan adalah tipe bolt action Lee-Enfiled dan Arisaka, serta submachine gun Sten dan Owen yang digunakan oleh Inggris, Jepang, dan Australia dalam PDII (Dan Agresi Militer, yang kemudian dirampas oleh pasukan Indonesia dan kemudian dipamerkan setelah dipensiunkan, dan senjata-senjata tradisional/improvisasi yang digunakan oleh pejuang ketika perang kemerdekaan. Selain itu, terdapat replica model alutsista modern seperti tank Scorpion 90, jet tempur F-16A, dan helicopter NAS-232 Super Puma yang dipamerkan.

Ada juga etalase yang memuat senapan serbu yang ada di ujung ruangan mengarah ke pintu keluar. Terdapat berbagai tipe senapan serbu seperti M16A1, AK-47, G3, dan SP-1/2 yang pernah digunakan pada tahun 1950-1960an (Bahkan M16A1 dan AK-47 masih digunakan meski sebagian besar sudah digantikan oleh SS-1/2)

Tak jauh dari situ, terdapat bagian yang memuat senjata berat seperti senapan mesin M2HB dan MG42, dan beberapa model lain yang tidak saya ketahui karena tidak adanya plakat seperti di etalase yang mengidentifikasi tipe senjata tersebut. Selain itu, terdapat peluncur anti-tank jenis Bazooka yang dipamerkan disitu.

Karena kebetulan Ayah saya penasaran dengan senapan-senapan yang berada di ruangan tersebut, maka saya pun kemudian memberi Beliau penjelasan terhadap jenis-jenis senapan yang ada.

Video disini (12:58 menit):



Halaman Belakang Museum: Pesawat Tempur dan Tank

Setelah keluar dari ruang senjata dan member penjelasan kepada Ayah, maka Saya dan orang tua kemudian “disambut” oleh koleksi pesawat tempur klasik di sebelah Selatan, dan Wisma Waspada Purbawiwesa disebelah Timur. Wisma Waspada Purbawiwesa memuat diorama tentang pertempuran TNI meredam berbagai pemberontakan di Indonesia, akan tetapi, karena keterbatasan waktu, Saya tidak berkunjung kesana

Setelah beristirahat sejenak, Saya kemudian memutuskan untuk memotret pesawat tempur yang ada di kejauhan, meskipun saya tidak sempat kesana, lagi akibat alasan waktu. Yang saya sempat potret hanyalah pembom B-25J Mitchell yang berada diluar dan terlihat sangat menonjol, serta Ambulans si Gajah, prototype Panser Rel, dan mobil DD1 yang berada di seberang B-25J

Kemudian Saya dan orang tua pun memutuskan untuk pulang dengan melalui koleksi tank yang ada dibelakang Museum. Terdapat berbagai tank yang kebanyakan adalah milik Marinir TNI AL seperti M3A1 Stuart, BTR-50P, LVTP-5, dan PT-76, serta Panhard tua, sebelum kemudian meninggalkan Museum.

Atas-Bawah: Tank PT-76, B-25J dan hangar pesawat tempur klasik, Mobil DD-1
 
Penutup

Sekian dari perjalanan saya di Museum Satria Mandala. Jujur sebagai penggemar hal-hal berbau kemiliteran Saya senang melihat koleksi-koleksi Alutsista yang ada disana. Semoga kedepannya Museum Satria Mandala bisa lebih baik lagi.

Demikian yang Saya bisa sampaikan, mohon maaf bila ada kekurangan. Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

No comments:

Post a Comment