Tuesday, 28 May 2013

Tugas 2 (Mulok) - Kamila Nanda Eriana XI IPA 2

MUSEUM POLRI, MELIRIK SEJARAH KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

“Jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah” –Soekarno

Ya, kita bisa belajar dari sejarah untuk tidak mengulangi kesalahan yang pernah dilakukan oleh para pendahulu kita. Suatu peristiwa sejarah di masa lampau dapat kita ketahui dari keberadaan benda bersejarah sebagai sumber dan bukti bahwa suatu peristiwa di masa lampau memang benar terjadi.
Keberadaan benda bersejarah sangatlah penting untuk mengetahui peradaban, pengetahuan, kebudayaan, teknologi, dan kehidupan masyarakat di masa lampau. Begitu pentingnya keberadaan benda bersejarah karena peradaban dahulu amatlah luar biasa sehingga sulit untuk diartikan walau dengan peralatan canggih pun.
Hal tersebut yang akhirnya membuat saya untuk memilih salah satu di antara 2 tema yang harus saya pilih, yaitu “benda cagar budaya” untuk menyelesaikan Tugas Mulok Sejarah.
Pada hari Selasa tanggal 28 Mei 2013, saya bersama sebagian besar teman-teman dari kelas XI IPA 2 mengunjungi Museum POLRI yang terletak berdampingan dengan Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia, tepatnya di Jl. Trunojoyo no. 3 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 12110.

Museum POLRI dari tampak depan

Museum POLRI diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada hari Rabu tanggal 1 Juli 2009 yang bertepatan dengan HUT Kepolisian Negara Republik Indonesia atau biasa disebut juga dengan Hari Bhayangkara. Museum POLRI merupakan museum sejarah Kepolisian Negara Republik Indonesia termodern di Indonesia. Museum POLRI terbuka untuk kunjungan siswa-siswa SD, SMP, maupun SMA dari seluruh Indonesia, pada hari Selasa-Minggu pukul 09.00-16.00 WIB.
Museum POLRI menampilkan ribuan foto, dokumen penting, dan berbagai benda bersejarah milik Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagai institusi yang terus tumbuh dan berkembang, dari zaman pra-kolonial hinggan zaman reformasi. Koleksi-koleksi museum yang terus-menerus bertambah dari waktu ke waktu ini terletak pada lantai 1 dan 2 yang disajikan secara lengkap dan komprehensif, dilengkapi fasilitas multimedia interaktif yang terletak pada lantai 3.

Koleksi museum pada lantai 1
Koleksi museum pada lantai 1
Koleksi museum pada lantai 2

Pada lantai 1 turut menghadirkan pula Hall of Fame yang ditujukan untuk memperkenalkan tokoh-tokoh pemimpin Kepolisian Negara Republik Indonesia, nilai-nilai organisasi, dan tradisi kepemimpinan yang mereka berikan untuk jajaran Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Hall of Fame pada Museum POLRI

Pada lantai 2 turut menghadirkan pula Museum Anak dengan fasilitas permainan interaktif, buku pengetahuan, aktifitas bermain sambil belajar, dan kuis seputar Kepolisian Negara Republik Indonesia agar anak-anak secara dini sudah mulai diperkenalkan mengenai tugas Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam mengayomi masyarakat. Disini, juga diberi kesempatan kepada anak-anak untuk menjadi detektif dalam sehari seperti melacak pencuri hewan peliharaan, mengamati jejak dan petunjuk, serta berpikir layaknya petugas reserse.

Museum Anak pada Museum POLRI

Selain Museum Anak, turut menghadirkan pula Ruang Tematik yang berada di lantai 2 pula. Pada Ruang Tematik ini kita diperkenalkan tentang profil dan simbol Kepolisian Negara Republik Indonesia beserta penjelasan mengenai sikap kepahlawanannya, pengayomannya terhadap masyarakat, dan penegakan hukumnya terhadap kejahatan yang terjadi.
Ketika baru sampai di Museum POLRI, hati saya bergetar saat membaca Tribrata dan Catur Prasetya yang isinya sebagai berikut :

TRIBRATA

KAMI POLISI INDONESIA :
1.       BERBAKTI KEPADA NUSA DAN BANGSA DENGAN PENUH KETAQWAAN TERHADAP TUHAN YANG MAHA ESA
2.       MENJUNJUNG TINGGI KEBENARAN KEADILAN DAN KEMANUSIAAN DALAM MENEGAKKAN HUKUM NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA YANG BERDASARKAN PANCASILA DAN UNDANG UNDANG DASAR 1945
3.       SENANTIASA MELINDUNGI MENGAYOMI DAN MELAYANI MASYARAKAT DENGAN KEIKHLASAN UNTUK MEWUJUDKAN KEAMANAN DAN KETERTIBAN

CATUR PRASETYA

SEBAGAI INSAN BHAYANGKARA KEHORMATAN SAYA ADALAH BERKORBAN DEMI MASYARAKAT BANGSA DAN NEGARA UNTUK :
1.       MENIADAKAN SEGALA BENTUK GANGGUAN KEAMANAN
2.       MENJAGA KESELAMATAN JIWA RAGA HARTA BENDA DAN HAK ASASI MANUSIA
3.       MENJAMIN KEPASTIAN BERDASARKAN HUKUM
4.       MEMELIHARA PERASAAN TENTERAM DAN DAMAI

Dari sekian banyak benda bersejarah yang terdapat di Museum POLRI, pandangan saya tertuju pada sebuah koleksi perlengkapan Lie Detector kuno. Saya pun tertarik untuk menjelaskan Lie Detector kuno ini kepada salah satu teman saya, Avitya Danastri.


Koleksi Lie Detector kuno pada Museum POLRI 

Lie Detector (alat pendeteksi kebohongan) atau biasa disebut juga dengan poligraf merupakan sebuah alat yang dapat mengukur dan mencatat beberapa indeks fisiologis seperti tekanan darah, nadi, respirasi, dan konduktivitas kulit sementara subjek diminta untuk menjawab serangkaian pertanyaan. Jawaban seorang penipu akan menghasilkan respon fisiologis yang dapat dibedakan dari jawaban seseorang yang bukan penipu.
Lie Detector kuno yang terdapat di Museum POLRI ini adalah Lie Detector kuno buatan dari Lafayette Instrument Company yang digunakan oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia pada tahun 1997-an dengan menggunakan pemeriksaan melalui pneumo calibrate (aliran darah), cardio calibrate (denyut jantung), dan galvanic skin response calibrate (respon terhadap kulit).
Lie Detector kuno ini mendeteksi adanya kebohongan dari sistem gelombang. Seseorang akan dipasangkan 4-6 sensor pada saat dilakukan tes analisis. Jika pada tes analisis terdapat indikasi kebohongan, maka gelombang akan bergetar cepat dan akan dilanjutkan dengan proses interogasi tersangka. Sebaliknya jika pada tes analisis tidak terdapat indikasi kebohongan, maka gelombang tidak akan bergetar cepat dan tidak terdeteksi oleh Lie Detector kuno ini.
Pada Lie Detector kuno dengan pemeriksaan melalu galvanic skin response calibrate (respon terhadap kulit), akan terlihat sebuah indikasi kebohongan jika ujung jari yang merupakan salah satu daerah paling berpori pada tubuh berkeringat karena timbul tekanan yang muncul pada saat seseorang melakukan sebuah kebohongan. Galvanometer yang melekat pada jari-jari subjek akan mengukur kemampuan kulit untuk menghantarkan listrik. Ketika kulit terhidrasi (berkeringat), kulit akan menghantarkan listrik lebih mudah dibandingkan pada saat kulit tidak terhidrasi (tidak berkeringat). Semua data pun tercatat pula pada grafik.
Namun saat ini, Kepolisian Negara Republik Indonesia sudah tidak lagi menggunakan Lie Detector kuno ini. Kepolisian Negara Republik Indonesia kini telah menggunakan poligraf digital yang telah menggunakan sistem komputerisasi untuk keperluan tes analisis indikasi kebohongan terhadap tersangka.
Sangat disayangkan karena keterbatasan waktu, saya hanya dapat menjelaskan Lie Detector kuno saja kepada salah satu teman saya, Avitya Danastri. Namun, saya sempat melihat-lihat semua koleksi-koleksi yang terdapat didalam Museum POLRI, baik koleksi perlengkapan maupun koleksi senjata.
Selain Lie Detector kuno, ada pula koleksi perlengkapan lain seperti Motor Patroli Polisi yang digunakan pada masa pendudukan Belanda hingga pada masa revolusi kemerdekaan, Koper Identifikasi Sidik Jari kuno yang direkam pada kartu sidik jari AK-23 dengan memuat rumus sidik jari, Kamera Single Yashica 635 yang digunakan oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia pada tahun 1958 untuk keperluan pemotretan TKP, Kamera Polaroid 195 Land Camera yang digunakan untuk pengembangan penyelidikan di TKP, Kamera Tersamar Chinon yang digunakan untuk penyelidikan reskrim, dan masih banyak lagi.
Lain koleksi perlengkapan lain pula dengan koleksi senjata yang terdapat didalam Museum POLRI seperti Senapan Garand M1, Senapan Karabin Lee Enfield yang didapat melalui rampasan dari tentara Belanda, Senapan Mauser, Senapan Bren MK-II untuk mengamankan situasi, Roket SPG 82, Senjata HMG/SG 43 untuk menangkis serangan udara, dan masih banyak lagi. Koleksi senjata yang terdapat didalam Museum POLRI ini dahulu dipakai oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia dengan kisaran antara tahun 1917-an hingga tahun 1963-an, dimulai dari zaman pendudukan Belanda, pemberontakan PKI, hingga operasi pengamanan Pepera.
Jam menunjukkan pukul 13.00 WIB. Kunjungan ke Museum POLRI pun harus saya akhiri. Saya bersama sebagian besar teman-teman kelas XI IPA 2 pun harus kembali ke SMA Labschool Kebayoran untuk kembali mengikuti kegiatan belajar-mengajar.



No comments:

Post a Comment