Wednesday, 29 May 2013

Tugas-2 MULOK Muhammad Arkandiptyo XI IPA 1 - Stadion Gelora Bung Karno

Stadion Utama Gelora Bung Karno.
Saksi sebuah mimpi.

Prolog: Anti-Mainstream.
Ketika ditugaskan oleh pak Shobirien untuk mendokumentasikan sebuah tempat sejarah di lingkungan kota Jakarta ini, segera pikiran bergidik untuk mencari beberapa daerah yang berlimpah tempat-tempat macam itu untuk didatangi.

Daerah Kota Tua.
Menteng.
Pelabuhan Sunda Kelapa.
Sekitar Monas.

Mainstream!
Itu yang ada dipikiranku.

Ketika pertengahan bulan Mei teman-teman backpacer dari WBPacker, gabungan anak-anak dari teman-teman sekantor ayahku ingin jalan-jalan ke Salabintana, Sukabumi sempat terbersit untuk mengunjungi kembali sebuah tempat bernama Gunung Padang.
Sebuah situs megalitik yang sudah berumur lebih dari 4000 tahun, tersembunyi diantara berhektar-hektar lahan teh milik PTPN (PT Perkebunan Nusantara).
Konon katanya kini Gunung Padang sudah menjadi sebuah situs yang dirawat, berkat artikel dari salah satu teman SMA ayahku di National Geographic Indonesia, tempat ia menjadi editor. Kala itu ketika terakhir kali mengunjungi Gunung Padang, tempat itu masih antah beratah - 2,5 jam perjalanan menembus jalan bebatuan diantara kebun teh yang amat luas, dengan Innova yang untungnya kala itu dibekali bensin full-tank, dan tentunya, selayaknya sebuah situs sejarah yang tidak terawat, tiada penanda khusus, namun tetap ada sekelompok mungil orang yang setia menjaganya.

Sudah sempat meng-SMS si empu yang memberikan tugas ini,

"Pak, Boleh tidak kalo yg tugas mulok tempatnya agak diluar Jakarta sedikit?"
padahal yang dimaksud diluar Jakarta itu 5 jam dari Jakarta

"Boleh"
Satu kata sederhana yang melegalisir keinginan itu. Sayangnya tidak kesampaian.

Karena waktu mepet dan jalanan hujan kala itu kami langsung menuju ke villa om Yogana tepat di Salabintana, dan tidak menuju ke Gunung Padang.

Ya, niat tidak tersampaikan mengakibatkan tugas tidak dilaksanakan.
Tapi tugas ya tetap tugas, lalu otak memutar pikiran lagi.
Dengan sebuah tekad untuk mencari tempat yang anti-mainstream untuk direkam dalam paragraf demi paragraf di blok ini, tiap kali pulang sekolah terutama jika larut malam setelah menjemput ayah terlebih dahulu tentunya mata ini dengan jeli melihat sekitar, sekalian membunuh waktu dalam kemacetan Jalan  Sudirman sekalian pula melihat tempat yang potensial untuk tugas ini.

Dan tercetuslah sebuah ide.
Stadion Utama Gelora Bung Karno!
Mengapa tidak? Stadion yang kini berkapasitas 88,000 paska renovasi untuk pengadaan ruang VIP di Piala Asia 2007 itu sendiri merupakan tempat bersejarah.


Part I : Pagi yang Menyulap Wajah GBK
Dan dengan itu, suatu hari minggu ketika HBKB, atau yang lebih sering dikumandangakan oleh kawula muda seperti kami sebagai CFD digelar seperti biasa, sepeda MTB yang biasa disimpan didepan kolam ikan itu dikayuh kencang menuju jantung kota Jakarta, setelah bertemu teman-teman didepan sekolah pada pukul 8 di pagi hari.

Dan ketika kami sampai, pagi hari minggu dimana outer ring / lingkar luar Stadion tersebut biasanya didominasi oleh pemandangan orang-orang yang latihan gerak jalan, mahasiswa fakultas kedokteran universitas jaket kuning yang menggelar tenda tensi gratis, anak-anak SMA/mahasiswa yang berjalan dengan tangan mereka yang selalu memangku kardus yang disulap menjadi kotak donasi untuk acara-acara sekolah mereka, truk Cimory yang selalu bertengger di dekat pintu X, serta para penjaja air tebu segar kini seakan-akan disulap menjadi sebuah parade Islamis.

Selain para penjual air tebu yang tetap ada.

Takbir berkumandang di sudut sana dan sini, penjual menggelar tikar berdagang peci, tasbih, dan buku-buku zikir.
Ada seorang pimpinan regu yang dengan toanya mengabsen rombongannya dari Tigaraksa, jauh dari Tangerang.
Ada pula pimmpinan yang hanya berbekal jaket almamater, suara, dan kepalan tangannya mengumandangkan yel-yel yang disambut dengan Tahmid dan Takbir.
Ada pula serombongan kaum hawa berkerudung, mengibarkan bendera hitam kebanggaan mereka yang bertuliskan kaligrafi berlafadz "Laa Ilaaha Illa-Allah Muhammadan Rasulullah" dengan warna lawannya, putih. Kartu Pengenal mereka menandakan mereka berasal lebih jauh lagi, dari Garut tepatnya.

Rupanya sedang terjadi sebuah Majelis Akbar Hizbut Tahrir Indonesia.
Dan dengan label "Akbar" dan "Indonesia" itu, itu memang sebuah ajang Akbar dan Nasional, tidak perlu penjelasan, cukup dilihat sendiri....

Bahkan penjual air tebu langgananku pun mengiyakan "Sampai Tribun Atas juga penuh mas."

Part 2 (Bagian Inti Tugas)
Sejarah Gelora Bung Karno

Perhelatan akbar yang pagi itu aku saksikan sendiri merupakan sebuah kesaksian bahwa sesungguhnya mahakarya yang lahir dari keinginan seorang Raden Kusno Sosrodihardjo yang dikenal sebagai Presiden Pertama Republik kita ini memang sebuah tempat bersejarah.

Sebuah tempat yang meninggalkan warisan yang masih bisa terus digunakan oleh anak cucu generasi yang menciptakannya. Memang itulah definisi sesungguhnya dari sebuah tempat bersejarah.

Dari manakah Stadion ini awal mulanya berasal? Apakah Bung Karno kejatuhan ilham dari langit? Tidak.
Semua berawal ketika di tahun 1956 ia berkunjung ke Uni Sovyet, dimana ketika itu ia, sebagai seorang yang dianggap para petinggi negara tersebut sebagai salah satu politisi ulung sekaligus kepaa negara berpengaruh di dunia terlebih lagi di negara-negara dunia ketiga yang baru saja merdeka, diberi kesempatan untuk berpidato dihadapan khalayak rakyat Sovyet bersama dengan para petinggi negara itu di Stadion standar Olimpiade di Ibu Kota mereka, Moskow, yaitu Stadion Luzhniki.

Stadion Luzhniki berada di jantung kota Moskow pada masa itu, dan hingga kini juga masih merupakan stadion termutakhir, terbesar sekaligus terpanas di seantero Rusia karena selalu menghadirkan derbi antara dua nama besar Liga Primer Rusia yaitu Lokomotiv Moskwa dan CSKA Moskwa.

Kunjungan ke Sovyet kala itu, yang hanya mungkin terjadi karena pihak Sovyet menuruti keinginan Bung Karno untuk menggali kembali makam Imam Bukhari di Uzbekistan, menggugah pikiran bung Karno.

Sepulang dari Sovyet, ia mengatakan berkeinginan untuk membangun sebuah stadion sekalber Luzhniki di Indonesia. Hal itupun juga ditanggapi baik oleh pihak Uni Sovyet yang berjanji akan memberikan bantuan finansial serta tenaga dalam proyek tersebut.

Sebagai pendongkrak momentum untuk melegitimasi serta memberikan efek pengaruh yang lebih besar, atas perintah Sukarno maka KONI pun mengajukan bidding / pencalonan tuan rumah Asian Games IV 1962 dengan mencalonkan Jakarta sebagai tuan rumah. Kongres IOC Asia pada 23 Mei 1958 di Tokyo pun berhasil dimenangkan Jakarta setelah mengalahkan Karachi, Pakistan di putaran akhir pemilihan tuan rumah dengan selisih 2 suara (22-20)

Keberhasilan pencalonan tersebut benar-benar memberikan momentum untuk proyek impian Sukarno ini. Bulan berikutnya, Uni Sovyet pun menepati janjinya; hutang sebesar USD 12,500,000 (yang kala ini bisa mencapai USD 200 Milyar harganya) serta bantuan tenaga ahli pun dikucurkan dan diratifikasi oleh kedua negara ini. Namun Sukarno tetap menginginkan orang Indonesia sendiri kepercayaannya yang berada dalam kepemimpinan proyek ini, maka ditunjuklah Frederik Silaban, yang kelak juga mengarsiteki pembangunan mesjid Istiklal sebagai kepala proyek serta arsitek dari Gelanggang Olahraga ini.

Kompleks Gelanggang Olahraga Olimpiade tersebut akhirnya dipilih untuk berdiri di Senayan, sebuah daerah pacuan kuda lama Belanda yang dikelilingi oleh perkampungan Betawi pada masa itu, alasannya adalah karena Senayan merupakan daerah pinggir antara daerah kota Jakarta pada masa itu dengan kota satelit/permukiman Kebayoran Baru yang baru dibangun pada masa itu. Dapat diibaratkan sebagai Bintaro di masa kini.

2 Tahun pertama dana tersebut dikucurkan dalam pembangunan arena-arena penunjang seperti Tennis Indoor dan Istora, barulah pada 12 Desember 1960 batu pertama diletakkan oleh Bung Karno sendiri untuk membangun Stadion Gelora Bung Karno, dan dengan hanya 1,5 tahun menunggu sebelum Asian Games IV bergulir, stadion tersebutpun berhasil diselesaikan tepat waktu, hal ini juga dimungkinkan dengan sebuah perpindahan paradigma politik dari politik Demokrasi Liberal ke politik Orde Lama / Demokrasi Terpimpin dimana Soekarno memegang sebuah peranan besar dalam menetapkan dan menentukan kebijakan serta proyek-proyek negara, dimana sebelumnya kewenangan Soekarno cukup terbatas oleh gerak-gerik Pemerintahan Parlementer yang selalu bergejolak oleh persaingan kekuasaan koalisi partai-partai.

Sejak berdiri Stadion tersebut juga sering digunakan sebagai tempat Soekarno untuk berpidato kepada rakyatnya.

Berkat suksesnya Asian Games IV, banyak event yang diselenggarakan dikompleks tersebut, mulai dari pesta olahraga besar lainnya seperti  GANEFO / Games of New Emerging Forces I 1963, SEA Games 1979, 1987, 1999 dan 2011, dan menjadi markas besar timnas Indonesia dan berbagai pertandingan pentingnya. 

Tidak hanya itu, banyak ajang besar diselenggarakan pula di GBK, bahkan ketika rezim Orde Baru-Suharto berkuasa, walaupun namanya diubah menjadi Stadion Gelora Senayan dalam rangka untuk menjauhkan pengaruh Sukarno pada generasi muda, namun tetap saja banyak event yang digelar, bahkan tidak hanya perlomaan olahraga namun juga event lain seperti event keagamaan, dimana pada tahun 1989 Paus Yohanes Paulus II (Karol Wojtyla) pernah mengadakan misa agung / grand mass di GBK, lalu juga konser Bon Jovi pada tahun 1995.

Walaupun harus disayangkan ketika di masa Orde Baru, GBK yang berada dibawah naungan kepengurusan YGOS / Yayasan Gelanggang Olahraga Senayan, banyak lahan yang awalnya pada masa Soekarno diperuntukkan untuk pengembangan Kompleks GBK dialihfungsikan. aslinya, kompleks GBK mencakup daerah yang sangat besar, dari kawasan Ratu Plaza, Senayan City hingga Jembatan Semanggi dengan luas memanjang hingga seluruh daerah gedung DPR/MPR, namun dibawah Orde Baru banyak Hotel, Pusat Perbelanjaan, serta perluasan kompleks Pemerintah (DPR/MPR) memakan banyak lahan asli yang dikhususkan oleh Soekarno dan timnya.

Setelah Orde Baru lengser, nama GOS / Gelanggang Olahraga Senayan kembali diubah menjadi GBK, serta event-event yang lebih beragam juga mulai diselenggarakan, meskipun beberapa orang menilainya sebagai sebuah komersialisasi namun buktinya hal tersebut dapat membawa nama SUGBK kembali ke permukaan kebanggaan bangsa, mulai dari rutinnya diselenggarakn pertandingan Piala Tiger / AFF, lalu juga semakin banyak konser/perayaan yang diselenggarakan, contohnya perayaan 100 tahun Kebangkitan Nasional pada tahun 2008, konser Linkin Park / A Thousand Suns World Tour 2011, serta SM-Town World Tour Live III (2012) dan MuBank World Tour (2013), tidak pula lupa yang akan sangat dekat yaitu pertandingan persahabatan Indonesia vs Belanda tanggal 7 Juni mendatang.

Part 3
Konstruksi SUGBK

Konstruksi Stadion Utama Gelora Bung Karno ini sangat merupakan sebuah percontohan dari Stadion Luzhniki di Moskow, namun tidak dilupakan oleh Bung Karno yang merupakan seorang Insinyur, bahwa kontras dengan kondisi alam di Rusia, Indonesia merupakan sebuah negara tropis dengan iklim panas sepanjang tahun, konstruksi Luzhniki yang dirancang untuk menahan panas yang tadinya menguntungkan di Rusia tentu akan merugikan di Indonesia.

Maka dari itu, Bung Karno dan timnya pun memikirkan sebuah solusi untuk hal tersebut, di sebuah era dimana belum terdapat teknologi pendingin skala besar maka perubahan di konstruksi merupakan solusinya; akhirnya solusi tersebut dicetuskan dan terbukti berhasil: Rangkaian atap baja berbentuk oval dan memanjang melindungi penonton didalam stadion dan di luar stadion dari sengatan panas tropis. Teknik tersebut diberi nama oleh Bung Karno sebagai Temu Gelang. Tidak hanya berfungsi sebagai penyerap panas, design dari atap tersebut juga memungkinkan Stadion ini untuk menjadi terlihat lebih besar, memberikan kesan lebih menakjubkan bagi mereka yang melihatnya.
Penemuan brilian ini kelak menjadi percontohan bagi stadion-stadion di negara tropis lainnya dan masih terbukti hingga sekarang, dari pengalaman saya sendiri beberapa kali menonton timnas Indonesia di SUGBK, hawa panas yang dirasakan memang merupakan dalam ambang yang wajar dan normal.

SUGBK awalnya memiliki kapasitas lebih dari 100,000 penonton, tepatnya, 117,845 penonton. Sebuah angka unik bagi Sukarno yang sangat menghargai simbolisme, jika dilihat angka tersebut bisa diurai menjadi 1: 17-8-45, yang mengartikan tanggal 17 Agustus tahun 1945 yang menjadi sebuah penanda era baru bagi sejarah bangsa Indonesia.

Namun hal tersebut harus dipotong menjadi 100,800 penonton beberapa tahun kemudian karena kapasitasnya tidak mencukupi, lalu pada tahun 2006 dipotong lagi menjadi 88,300 penonton mengingat ketika akan menjadi tuan rumah bersama Piala Asia 2007, dibutuhkan sebuah standarisasi Internasional oleh FIFA yang meminta ruangan VIP yang mencukupi.
SUGBK didirikan terdiri dari 12 pintu serta 24 sektor.

Seperti halnya Stadion Olimpiade lainnya, SUGBK juga memberikan ruang-ruang dibawah tribun penonton sebagai tempat latihan para atlit nasional dari berbagai cabang, beberapa PB/Pengurus Besar badan federasi olahraga nasional bermarkas di GBK, antara lain PB Percasi (Catur), PB Pobsi (Billiard - tempat bermain billiard yang murah dan enak pula), PB Bridge Indonesia, PB PSSI, PB Anggar Indonesia, PB Olahraga Pernapasan dan beberapa nama lainnya juga bermarkas di SUGBK.

Part 4
Harapan

SUGBK memang merupakan sebuah warisan sejarah.
Sayangnya keadaannya semakin lama, walaupun semakin sering dipakai untuk perhelatan besar maupun peyewaan kecil-kecilan, seringkali lupa untuk dirawat dengan benar, baik oleh para pengguna maupun pengurusnya.

Maintenance, kata orang, merupakan kelemahan orang Indonesia.
Orang Indonesia sering bisa membuat sebuah proyek yang hebat namun dibiarkan begitu saja hingga 20 tahun kemudian rusak lalu baru saat itu, saat harus benar-benar diganti oleh sesuatu yang baru, diperbaiki. Pengalamanku keliling berbagai tempat di Nusantara merupakan sebuah kesaksian bahwa komentar tersebut yang aku dengar pertama kali tercetus dari pemikiran seorang ekspatriat teman sekantor ayah yang kini tinggal di Kemang, itu benar adanya.

Dan SUGBK termasuk salah satu korban kurangnya maintenance tersebut.
Harus diakui memang, kini semuanya menjadi lebih baik, sering melihat dari balik pintu gerbang selalu rumput diairi dan dibersihkan oleh para pengurus lapangan, namun tribun-tribunnya dan daerah sekitarnya? Biasanya H-1 minggu event besar baru dibenahi kembali, bisa dibayangkan jika tidak ada event besar mungkin saja tribun terbengkalai, begitu juga daerah sekitarnya, bahkan di bagian outer ringnya. Ada satu bagian didekat pintu VI dimana terdapat palang-palang yang disediakan bagi mereka yang ingin berlatih pull-up dan latihan tangan lainnya, namun dari dulu pertama kali melihat ia belum pernah dicat ulang, kini, karat-karat merajalela dibesi-besinya, membuat mereka yang ingin menggunakannya juga pasti akan berfikir dua kali sebelum memakai.

Kebersihan sendiri menjadi sebuah probematika yang cukup akut menggerogoti lingkungan SUGBK, memang dibersihkan setiap harinya, tapi alangkah lebih baiknya jika standar Internasional dimana selalu ada para petugas yang stand-by untuk membersihkan sampah yang ada dan bagi para pembuah sampah sembarangan agar ditegaskan... Terlihat sekali setiap kali ada sebuah event besar sampah bertebaran dimana-mana bahkan sebelum event tersebut dibuka! Memang keesokan harinya sudah bersih kembali, dan seringkali antrian terjadi hingga berjam-jam sebelum sebuah event di SUGBK, namun hal ini perlu ditinjau kembali penanganannya. Kesadaran bersama baik dari yang menggunakannya serta yang mengurusnya perlu dikembangkan.

Selain itu tentunya, peremajaan teknologi penunjang harus selalu ditinjau kembali, karena dengan peremajaanlah, stadion-stadion ternama di Eropa dapat bertahan dan selalu layak pakai, salah satunya seperti Olimpiastadion Berlin, Jerman.

Namun dibalik semua kritik tersebut aku cukup senang dengan sebuah fakta yang dapat kita lihat sendiri bahwa dengan adanya Car Free Day / HBKB setiap hari minggu lingkungan SUGBK selalu ramai, dan keramaian itu hadir walaupun tidak ada event besar, dan hal tersebut menurutku sendiri merupakan sebuah penggerak perekonomian dan juga tanda, bahwa warga Jakarta belum semuanya berubah menjadi manusia-manusia metropolis yang telah menjauhkan diri mereka dari pentingnya kehidupan sosial yang sederhana, hal tersebut juga mendorong bahwa tidak hanya hari minggu, tapi setiap hari selalu ada sebuah interaksi sosial yang dibangun di lingkungan SUGBK, bahwa ada sebuah produk sampingan nan positif dari harapan awal Bung Karno sebagai pencetus ide dan pemilik mimpi tentang membangun SUGBK sebagai sebuah Stadion Utama dari Kompleks yang layak untuk kapasitas Internasional dan Olimpiade:

Lingkungan Gelora Bung Karno menjadi sebuah tempat, dimana warga ibu kota negara kita dapat tetap menjaga kesehatan mereka sambil berinteraksi bersama orang-orang yang mereka cintai.

Bisa jadi itu keluarga mereka yang mereka ajak lari pagi sebelum menikmati Lontong Sayur yang enak
Atau teman satu sekolah mereka yang mengayuh sepeda bersama
Kiranya pula cuman jadi tempat bertemu / meeting point teman-teman sekantor yang kemudian akan langsung berangkat ke Puncak untuk menghabiskan akhir pekan.
Mungkin juga teman-teman sekomunitas yang sekedar ingin berburu foto keramaian.

Namun intinya, telah banyak cerita di Gelora Bung Karno yang tercatat, baik kecil maupun besar, telah membentuk kehidupan orang banyak, baik sebagai sebuah kesatuan masyarakat maupun individu dalam sebuah komunitas, secara sederhana dan sehat.

-Pejaten, 2013
MAr

No comments:

Post a Comment