Friday, 31 May 2013

Tugas 2 (Mulok) - Muharam Kemal Adam XI IPA 4


PRASASTI SINGASARI (GADJAH MADA)


           Indonesia adalah negara yang kaya akan sejarahnya. Semua cerita atau sejarah itu tidak hilang begitu saja, karena semua sejarah terdahulu tersimpan di sebuah prasati. Prasasti adalah piagam atau dokumen yang ditulis pada bahan yang keras dan tahan lama. Penemuan prasasti pada sejumlah situs arkeologi, menandai akhir dari zaman prasejarah, yakni babakan dalam sejarah kuno Indonesia yang masyarakatnya belum mengenal tulisan, menuju zaman sejarah, dimana masyarakatnya sudah mengenal tulisan. Ilmu yang mempelajai tentang prasasti disebut Epigrafi.

           Di antara berbagai sumber sejarah kuno Indonesia, seperti naskah dan berita asing, prasasti dianggap sumber terpenting karena mampu memberikan kronologis suatu peristiwa. Ada banyak hal yang membuat suatu prasasti sangat menguntungkan dunia penelitian masa lampau. Selain mengandung unsur penanggalan, prasasti juga mengungkap sejumlah nama dan alasan mengapa prasasti tersebut dikeluarkan.

           Salah satu prasasti yang ada di Indonesia ini adalah prasasti singosari. Prasasti ini adalah sebuah peninggalan sejarah yang berasal dari kerajaan Singasari yang berada di daerah Jawa Timur atau lebih tepatnya di Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Prasasti ini dikenal juga dengan sebutan Prasasti Gajah Mada, ditemukan pada tahun 1904 di kolam Haji Napi’i di sebelah utara Candi Singosari, Malang dan sekarang berada dan menjadi koleksi Museum Nasional Jakarta, dengan nomor inventaris D 111. Prasasti tersebut berangka tahun 1273 Saka (1351 M), beraksara Jawa Kuno dan bahasa Jawa Kuno dengan pahatan yang dalam sehingga sangat jelas dibaca. Hampir tidak ada kerusakan yang berarti dari fisik prasasti itu, kecuali ada pahatan yang dalam dan berbentuk persegi yang menimpa beberapa huruf. Hingga sekarang belum diketahui apa maksud dari pahatan persegi yang dalam tersebut. Prasasti ini terbuat dari bahan batu andesit dengan bertuliskan 17 baris.
           Prasasti ini ditulis untuk mengenang pembangunan sebuah caitya atau candi pemakaman yang dilaksanakan oleh Mahapatih Gajah Mada untuk menghormati “Mahabrahmana Sewasogata”, yaitu para pendeta dari aliran “rsi”, Saiwa dan Bauda, yang ikut meninggal bersama Raja Kertanagara dari kerajaan Singosari  ketika diserang musuh. Ketika prasasti ini dikeluarkan, raja Majapahit yang memerintah ketika itu adalah Ratu Tribhuwanotunggadewi. Diperkirakan Caitya yang dibangun tersebut adalah salah satu candi kecil yang ada di sekitar Candi Singosari. Paruh pertama prasasti ini merupakan pentarikhan tanggal yang sangat terperinci, termasuk pemaparan letak benda-benda angkasa. Paruh kedua mengemukakan maksud prasasti ini, yaitu sebagai pariwara pembangunan sebuah caitya.

           Isi dari prasasti ini antara lain bertuliskan aksara Jawa Kuno dan bahasa Jawa Kuno yang disusun berdasarkan baris, diantaranya:
1.     / 0 / 'i śaka ; 1214 ; jyeṣṭa māsa ; 'irika diwaśani
2.     kamoktan. pāduka bhaṭāra sang lumah ring śiwa buddha /’ ; /’ swa-
3.     sti śri śaka warṣatita ; 1273 ; weśaka māsa tithi pratipā-
4.     da çuklapaks.a ; ha ; po ; bu ; wara ; tolu ; niri tistha graha-
5.     cara ; mrga çira naks.atra ; çaçi dewata ; bâyabya man.d.ala ;
6.     sobhanayoga ; çweta muhurtta ; brahmâparwweśa ; kistughna ;
7.     kâran.a wrs.abharaçi ; ‘irika diwaça sang mahâmantri mûlya ; ra-
8.     kryan mapatih mpu mada ; sâks.at. pran.ala kta râsika de bhat.â-
9.     ra sapta prabhu ; makâdi çri tribhuwanotungga dewi mahârâ
10. ja sajaya wis.n.u wârddhani ; potra-potrikâ de pâduka bha-
11. t.âra çri krtanagara jñaneçwara bajra nâmâbhis.aka sama-
12. ngkâna twĕk. rakryan mapatih jirṇnodhara ; makirtti caitya ri
13. mahâbrâhmân.a ; śewa sogata samâñjalu ri kamokta-
14. n pâduka bhaṭâra ; muwah sang mahâwṛddha mantri linâ ri dagan
15. bhat.âra ; doning caitya de rakryan. mapatih pangabhaktya-
16. nani santana pratisantana sang parama satya ri pâda dwaya bhat.â-
17. ra ; ‘ika ta kirtti rakryan mapatih ri yawadwipa maṇḍala /’

Dan dapat diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, diantaranya:

1.     Pada tahun 1214 Saka (1292 Masehi) pada bulan Jyestha (Mei-Juni) ketika itulah
2.     Sang paduka yang sudah bersatu dengan Siwa Buddha.
3.     Salam Sejahtera! Pada tahun Saka 1273 (1351 Masehi), bulan Waisaka
4.     Pada hari pertama paruh terang bulan, pada hari Haryang, Pon, Rabu, wuku Tolu
5.     Ketika sang bulan merupakan Dewa Utama di rumahnya dan (bumi) berada di daerah barat laut.
6.     Pada yoga Sobhana, pukul Sweta, di bawah Brahma pada karana
7.     Kistugna, pada rasi Taurus. Ketika sang mahamantri yang mulia. Sang
8.     Rakryan Mapatih Mpu (Gajah Mada) yang beliau seolah-olah menjadi perantara
9.     Tujuh Raja seperti Sri Tribhuwanotunggadewi Mahara-
10. jasa Jaya Wisnuwarddhani, semua cucu-cucu Sri Paduka
11. Almarhum Sri Kertanegara yang juga memiliki nama penobatan Jñaneswara Bajra
12. Dan juga pada saat yang sama sang Rakryan Mapatih Jirnodhara yang membangun sebuah candi pemakaman (caitya) bagi kaum
13. Brahmana yang agung dan juga para pemuja Siwa dan Buddha yang sama-sama gugur
14. Bersama Sri Paduka Almarhum (=Kertanagara) dan juga bagi para Mantri senior yang juga gugur bersama-sama dengan
15. Sri Paduka Almarhum. Alasan diabangunnya candi pemakaman ini oleh sang Rakryan Mahapatih ialah supaya berbhaktilah
16. Para keturunan dan para pembantu dekat Sri Paduka Almarhum.
17. Maka inilah bangunan sang Rakryan Mapatih di bumi Jawadwipa.
           Selain itu, prasasti berisi tentang pembangunan caitya (bangunan suci) pada tahun 1273 Saka (1351 Masehi) untuk para brahmana Siwa dan Buddha di lingkungan sekitar pedharman (percandian) Śri Krtanagarajnaneśwarabraja (kertanegara) di Singosari (Siwabudha) yang wafat pada tahun 1213 Saka (1291 Masehi) sebagai tempat pemberian bakti sanak saudara (keturunan Kertanegara) yang setia kepadanya. Hadir pula Patih Gajah Mada tokoh utama Majapahit dan penasehat raja (sapta prabhu) yaitu Tribhuwantotungadewi yang tidak lain adalah ibu dari Maharaja Hayam Wuruk. Pada saat pembuatan prasasti tersebut Maharaja Hayam Wuruk baru menjabat selama 1 tahun masa pemerintahannya. Sehingga sangatlah wajar jika upaya awal adalah mempersatukan klan (keluarga besar) Rajasa di sekitar Ibukota Majapahit.

Sejarah Kerajaan Majapahit

            Kerajaan Majapahit adalah kerajaan berorak Hindu yang terakhir dan terbesar di pulau Jawa. Nama kerajaan ini berasal dari nama buah maja yang pahit rasanya. Nama kerjaan ini diambil dari orang Madura yang berkelana bersama Raden Wijaya untuk membuka hutan di Desa Tarik, mereka menemukan sebuah pohon maja yang berbuah pahit, padahal, rasa buah ini seharusnya manis. Oleh karena itu, mereka menamakan permukiman yang baru mereka bangun itu dengan nama Majapahit.

            Awal mulanya, daerah ini merupakan daerah yang diberikan dari Raja Jayakatwang dari Kerajaan Kediri kepada Raden Wijaya. Raden Wijaya adalah menentu dari Raja Kertanegara dri Kerajaan Singasari. Pada saat Kerajaan Singasari diserbu dan dikalahkan oleh Jayakatwang, Rade Wijaya berhasil melarikan diri. Ia mencari perlindungan kepada Bupati Madura yang bernama Arya Wiraraja. Dengan bantuan orang Madura, ia membangun permukiman di Desa Tarik yang kemudian diberi nama Majapahit tersebut.
            
          Pada tahun 1292, armada Cina yang terdiri dari 1000 buan kapal dengan 20.000 orang prajurit tiba di Tuban, Jawa Timur. Tujuan mereka adalah untuk menghukum Raja Kertanegara karena tidak mau tunduk kepada Kaisar Kubilai Khan dari Cina. Mereka tidak mngetahui bahwa Raja Kertanegara telah wafat oleh Raja Jayakatwang dari Kediri.

            Melihat peluang ini, Raden Wijaya mengambil kesempatan untuk merebut kembali Kerajaan Singasari. Ia menggabungkan diri dengan pasukan Cina dan menyerang Raja Jayakatwang di Kediri. Kerajaan Kediri tidak mampu menghadapi pasukan negeri Cina dan akhirnya Raja Jayakatwang pun berhasil dikalahkan.kemenangan itu membuat pasukan Cina bergembiran dan berpesta pora. Mereka tidak menyangka bahwa pasuka Raden Wijaya akan menggunakan kesempatan ini untuk berbalik menyerang. Pasukan Raden Wijaya berhasil memukul mundur pasukan Cina untuk kembali ke tanah airnya. Dan pada saat itu sudah berdirilah Kerajaan Majapahit.

            Pada saat itu, Raden Wijaya diangkat untuk menjadi raja pertama dari Kerajaan Majapahit dengan gelar Sri Kertajasa Jayawardhana. Namun setelah beliau wafat, tahtanya jatuh kepada anaknya yang bernama Jayanegara. Pada awal pemerintahannya, Jayanegara harus menghadapai sisa pemberontakan yang tidak sempat dibasmi oleh Raja Raden Wijaya.

            Pada waktu pemberontakan Kuti dan Semi, Raja Jayanegara diselamatkan oleh pasukan pengawal Bhayangkari yang dipimpin oleh Gajah Mada. Kemudian ia diungsikan ke Desa Bedander.Raja Jayanegara meninggal pada tahun 1328 karena dibunuh oleh salah satu seorang dharmaputra yang bernama Tanca.oleh karena ia tidak berputra, ia kemudian digantika oleh putrinya yang bernama Bhre Kahuripan.

            Dimasa kepemimpinan Ratu Tribuanatunggadewi ada pemberontakan paling berbahaya  yaitu pemberontakanSadeng dan Keta pada tahun 1331. Namun, pemberontakan itu akhirnya dapat dipadamkan oleh Gajah Mada. Setelah itu, Gajah Mada bersumpah dihadapan raja dan para pembesar kerajaan bahwa iya tidak akan amukti palapa (memakan buah palapa), sebelum iya dapat menundukkan nusantara. Nusantara disini meliputi Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Tahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, dan Tumasik (sekarang Singapura).

            Pada tahun 1350, Ratu Tribuanatunggadewi mengundurkan diri untuk menjadi Ratu. Dan pada tahun yang sama anaknya yang bernama Hayam Wuruk menggantikannya. Selma masa pemerintahan raja-raja terdahulu, pemerintahan Raja Hayam Wuruk merupakan masa kejayaan bagi Kerajaan Majapahit seperti, menguasai hamper wilayah yang sangat luas. Hamper seluruh nusantara tunduk kepada Kerajaan Majapahit.

            Namun, kejayaan ini tidak berangsur lama. Pada tahun 1364, Gajah Mada wafat. Dan kematian Gajah Mada ini merupakan titik tolak kemunduran Kerajaan Majapahit. Hal ini ditambah perparah lagi setelah Hayam Wuruk wafat pada tahun 1389.

            Pada tahun 1401, terjadi perpecahan keluarga Wikramawardhana (menantu Raja Hayam Wuruk) dengan Wirabhumi (anak dari Hayam Wuruk, namun, bukan dari Permaisuri sehingga tidak berhak untuk menggantikan Raja Hayam Wuruk.

            Pada akhirnya karena melemahnya Kerajaan Majapahit. Satu demi satu daerah kekuasaannya melepaskan diri. Tidak ada lagi raja yang kuat dan mampu memerintah kerajaan yang demikian luas. Menurut catatan, Kerajaan Majapahit runtuh sekitar pada tahun 1500-an yang didasarkan pada tahun yang bersimbol Sima Ilang Kertaning Bhumi.

No comments:

Post a Comment