Tuesday, 28 May 2013

Tugas 2 (Mulok) - Nabila Elga Putri Nedria XI IPA 4

Pada hari Minggu, 5 Mei 2013, saya dan bersama teman sekelas saya yaitu Dahlia Ramya, Ridha Aulia, Bagus Arifianto, Badra Gufhran dan Sandhia Mahardhika berniat untuk mengunjungi museum di sekitar Jakarta untuk mencari artefak sebagai bahan penulisan essay tugas sejarah.

Setelah berbagai macam pertimbangan kami memutuskan untuk mengunjungi sebuah museum yang berada di Jl. Merdeka Barat 12, Jakarta Pusat. Letak yang strategis sangat menarik perhatian dan memudahkan saya untuk menemukan museum ini. Letaknya yang tepat berada di pusat kota juga membuat museum ini tetap ramai meskipun hari itu menunjukkan hari Minggu. Museum ini adalah Museum Nasional atau yang lebih sering dikenal dengan museum gajah.


Museum Nasional adalah sebuah lembaga studi warisan budaya dan pusat informasi edukatif kultural dan rekreatif. Museum ini kerap disebut museum gajah dkarenakan adanya patung gajah perunggu hadiah dari Raja Chulalongkom atau Rama V dari negeri Thailand, patung tersebut berdiri tegah di depan gedung megah ini.

Museum Nasional didirikan pada 24 April 1778 oleh sekumpulan ilmuwan Belanda tepatnya di kota Batavia (Jakarta) yang bernama “Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen” atau yang memiliki arti “Perkumpulan Batavia untuk Seni dan Ilmu Pengetahuan”. Khususnya untuk mempromosikan penelitian di bidang sejarah, arkeologi dan etnografi pada masa tersebut. J.C.M Radermacher, salah seorang pendiri Museum Nasional ini menyumbangkan bangunan, koleksi buku0buku dan benda-benda budaya yang merupakan awal berharga untuk sebuah museum dan perpustakaan bagi masyarakat. Karena peningkatan jumlah koleksi seriring berjalannya waktu, Jenderal Sir Thomas Stamford Raffless, pada awal abad ke 19 atau pada masa colonial inggris, membangun tempat baru di Jalan Majapahit no. 3 untuk menampung koleksi-koleksi baru tersebut. Tepatnya di Pavilyun gedung Harmonie dan memberikan nama Literacy Society.

Pada akhirnya, pemerintah Hindia Belanda memutuskan untuk mendirikan gedung baru yang sampai pada hari ini masih berdiri tegak dan telah mengalami renovasi berkali-kali. Museum ini secara resmi dibuka pada tahun 1968.

Museum Nasional memiliki banyak koleksi benda-benda bersejarah dari seluruh Nusantara. Di antaranya termasuk koleksi arca-arca, prasasti yang berasal dari kerajaan-kerajaan di Nusantara dan benda-benda seni budaya serta beraneka ragam benda-benda yang digunakan pada upacara tradisi dan ritual dari berbagai suku bangan yang ada di Indonesia.

Museum gajah memiliki koleksi kurang lebih sebanyak 141.899 benda bersejarah yang terdiri atas tujuh jenis koleksi yaitu koleksi prasejarah, koleksi arkeologi, koleksi keramik, koleksi numismtik-heraldik, koleksi sejarah, koleksi etnografi dan koleksi geografi.

Sumber koleksi berasal dari penggalian arkeologis, hibah kolektor sejak masa colonial Belanda dan juga pembelian. Koleksi keramik dan koleksi etnografi di museum ini adalah koleksi terbanyak dan terlengkap di dunia. Museum ini merupakan museum pertama dan terbesar di Asia Tenggara.

Materi yang akan saya perjelas kali ini adalah pada bagian koleksi etnografi yang tepatnya berada pada gedung unit B museum ini. Koleksi etnografi Museum Nasional menyajikan benda-beda atau hasil budaya dari suku-suku bangsa di seluruh tanah air. Sebagian besar koleksi etnografi pada museum ini dikumpulkan pada masa pemerintahan colonial Belanda terutama pertengahan abad ke-19 dan awal abad ke-20 Masehi.

Pengertian etnografi sendiri berasal dari kata ‘ethnos’ yang berarti bangsa dan ‘graphien’ berarti tulisan atau uraian. Jadi vberdasarkan asal katanya, etnografi berarti tulisan tentang atau mengenai suatu bangsa. Namun pengertian etnografi tidak berhenti hanya sebatas itu. Etnografi lahir dari antropologi di mana jika kita berbicara etnografi maka kita tidak lepas dari dunia antropologi. Etnografi merupakan ciri khas antropologi yang merupakan metode penelitian lapangan asli dari antropologi.

Etnografi biasanya berisikan atau menceritakan tentang suku bangsa atau suatu masyarakat yang biasanya diceritakan yaitu mengenai kebudayaan suku atau masyarakat tersebut.

Pada sisi koleksi etnografi, saya disambut hangat oleh 3 buah patung kayu yang berdiri tegak, tinggi dan megah. Tertera di bawahnya bahwa 3 artefak tersebut adalah “Hampatong”.

Bertepatan dengan keberadaan saya di depan salah satu dari 3 patung Hampatong ini. Saya menjelaskan arti dan makna dari Hampatong ini pada seorang pengunjung Museum Nasional ini yang akrab dipanggil dengan Ibu Kiki. Ia datang sendirian untuk mengisi waktunya sembari menambah ilmu untuk bahan pembelajaran beliau.


Hampatong yang berasal dari kata patong ini dapat diartikan sebagai patung atau Ancestor Statue (patung leluhur) untuk arti dalam bahasa inggris, ini adalah bukti dari kebudayaan rumah tangga dan kepercayaan dari Suku Dayak. Hampatong pada umumnya adalah ukiran atau patung yang dibentuk dari sebongkah kayo atau besi. Hampatong ini memiliki makna tersendiri bagi suku pedalaman Kalimantan atau biasanya lebih dikenal dengan Suku Dayak. Makna tersebut berkaitan dengan rasa takut dan kepercayaan bagi suku tersebut di sekitar kita-kita,

Pada umumnya semua penduduk di Negara Indonesia berasal dari Cina Se;atan, termasuk Suku Dayak di Kalimantan. Asal mula Suku dayak di Kalimantan adalah migrasi bangsa Cina dari Provinsi Yunnan di Cina Selatan pada 3000-1500 SM (Sebelum Masehi). Sebelum datang ke wilayah Indonesia, mereka mengambara terlebih dahulu ke Tumasik dan Semenanjung Melayu.

Dunia Supranatural bagi Suku Dayak Pulau Kalimantan memang sudah mendarah daging dan merupakan ciri khas dari Suku itu sendiri. Ini bukan berarti menunjukkan bahwa suku Dayak adalah suku kanibalisme, karena sebenarnya suku Dayak adalah suku yang cinta damai asalkan tidak merasa tertindas atau diperlakukan semena-mena.

Suku dayak juga memiliki ciri khas dalam bidang kesenian. Ciri khas dari ukiran-ukiran pada baju mauapun perabotan rumahnya sangat khas dan berbeda dari suku-suku lain yang ada di nusantara. Warna nya juga yang etnis terkesan sedikit mistis karena biasanya selalu ada makna dan arti dari setiap ukiran yang dibuat di kebudayaan suku ini.

Kesenian dan kerajinan tangan yang banyak di hasilkan oleh suku ini adalah perhiasan manik-manik dan juga patung-patung atau perabotan rumah tangga yang biasanya terbuat dari lempengan dan kayu-kayu ukir. Salah satunya adalah Hampatong.

Hampatong biasanya diletakkan di depan pintu setiap rumah ataupun di gerbang desa Suku Dayak. Patung-patung ini dipercaya digunakan sebagai pelindung bagi masyarakat desa Suku Dayak dari penyakit dan gangguan roh jahat. Hampatong berkaitan dengan kematian dan leluhur, dianggap sebagai representasi dari Individu yang sudah meninggal atau secara umum dikenal sebagai figur nenek moyang.

Hampatong yang menjulang tinggi di tengah ruangan di Museum ini memiliki bentuk ukiran dan bentuk yang berbeda-beda. Memang dikarenakan hampatong adalah wujud bentuk patung leluhur yang tidak harus selalu sama bentuknya, tetapi bila dilihat secara seksama, patung-patung ini memiliki kemiripan dan gaya ukir yang sama satu antar yang lainnya. Tinggi dan lebar dari patung ini juga beragam. Bentuk-bentuk ini di ukir sesuai dengan kepercayaan setiap suku atau desa itu sendiri. Maka bentuk dari hampatong yang berbeda kadang juga memiliki arti dan makna yang berbeda.

Pada masyarakat Ngaju di Kalimantan Tengah, Hampatong diletakkan di dalam rumah karena dipercaya akan memberikan keuntungan dalam keluarga, memberi kesehatan dan hasil panen yang melimpah. Pada masyarakat benua1, Hampatong biasanya menggambarkan figure manusia yang sedang memegang ular. Patung ini digunakan pada saat upacara pengobatan yang disebut “Balian Senteu” dalam upaya mengusir roh-roh jahat yang mengganggu orang-orang yang sakit.

Adapula Hampatong yang dibuat dengan ukuran kecil yang berfungsi sebagai jimat bagi penduduk Suku Dayak. Hampatong tersebut biasanya digunakan sebagai liontin kaling yang dipercaya dapat melindungi si pemakai dari kekuatan jahat dan malapetaka.

Maka dari itu, dengan keeksistensian Suku Dayak hingga hari ini, menyimpulkan bahwa kepercayaan dan adat pada masyarakat di Nusantara masih sangatlah kental. Budaya peletakkan hampatong ini masih berlanjut hingga sekarang.


No comments:

Post a Comment