Sunday, 26 May 2013

Tugas 2 (Mulok) - Nabilla Khairunnisa Ishadi XI IPA 1


Jakarta kota ku indah dan megah
Disitulah aku dilahirkan
Rumahku di salah satu gang
Namanya gang kelinci

Adalah sebait awal dari lagu Titiek Puspa yang berjudul Gang Kelinci, yang menceritakan bagaimana penuh sesaknya kehidupan di kota Jakarta. Gang Kelinci memang benar adanya, terletak di salah satu area pertokoan Jakarta Pusat, yakni daerah Passer Baroe, atau yang lebih dikenal dengan nama Pasar Baru saat ini.

Pasar Baru adalah kawasan perdagangan yang berpusat di Jalan Pasar Baru, Kelurahan Pasar Baru, Kecamatan Sawah Besar, Jakarta Pusat. Pusat perbelanjaan ini didirikan pada tahun 1820, dan merupakan pusat perbelanjaan tertua di Jakarta.

Pusat perbelanjaan ini dibangun pada tahun 1820 sebagai Passer Baroe sewaktu Jakarta masih bernama Batavia. Orang yang berbelanja di Passer Baroe adalah orang Belanda yang tinggal di Rijswijk (sekarang Jalan Veteran). Toko-toko di Passer Baroe dibangun dengan gaya arsitektur Cina dan Eropa.

Ujung selatan Jalan Pasar Baru berbatasan dengan Jalan Antara dan Jalan Pasar Baru Selatan, serta Jalan Pos yang berdekatan dengan Gedung Kesenian Jakarta. Ujung utara Jalan Pasar Baru berbatasan dengan Jalan Kyai Haji Samanhudi, dekat Metro Pasar Baru dan Jalan Gereja Ayam. Di sisi kiri dan kanan Jalan Pasar Baru terdapat toko pakaian, toko tekstil dan tailor, toko alat olahraga dan sepatu, toko kacamata, dan toko perhiasan emas.

Di Pasar Baru banyak bermukim orang India-Indonesia. Orang India-Indonesia berdagang menjual kain, alat olahraga, dan sepatu di Pasar Baru. Pada tahun 2002 ada sekitar 2.000 keluarga India yang terdaftar sebagai penduduk Jakarta, dan sebagian besar di antara mereka tinggal di pusat kota, khususnya di kawasan Pasar Baru dan Pintu Air. Di kawasan Pasar Baru juga terdapat tempat ibadah masyarakat India-Indonesia.

Di antara toko-toko lama yang masih ada hingga kini adalah Apotek Kimia Farma, toko Lee Ie Seng, toko perabot rumah tangga Melati, toko jam Tjung-Tjung, dan toko kacamata Seis (Tjun Lie). Penjahit jas yang sudah ada sejak dulu adalah Isardas, Hariom, dan Gehimal, dan wanita berbelanja di toko kain Bombay dan Lilaram. Toko-toko besar yang dulunya pernah ada di antaranya Toko Europa dan Toko de Zon. Pengusaha ritel Matahari Putra Prima mendirikan bisnisnya di Pasar Baru pada tahun 1958.

Di ujung utara Jalan Pasar Baru dulunya merupakan pusat pedagang komik. Bioskop yang pernah ada di kawasan Pasar Baru adalah Bioskop Globe, Bioskop Capitol, dan Bioskop Astoria (Bioskop Satria) di Pintu Air. Pasar Baru merupakan tempat kelahiran rumah makan Bakmi Gang Kelinci. Usaha rumah makan ini dimulai pada tahun 1957 sebagai pedagang mi gerobak di Jalan Pintu Besi, depan Bioskop Globe.


Asal-usul Berdirinya Pusat Perbelanjaan Pasar Baru
Berdirinya Pasar Baru ini dimulai sejak tahun 1820 ketika Gubernur Jenderal Daendels mengembangkan Weltevreden, yaitu sebuah tempat di selatan Batavia lama yang dirancang sebagai pusat pemerintahan yang baru. Pasar Baru di bangun di dekat sungai untuk mempermudah pengangkutan barang dari pelabuhan Sunda Kelapa ke Pasar Baru. Pada waktu itu memang ibu kota kerajaan yang juga sengaja dipilih di lokasi dekat dengan pesisir sungai demi kebutuhan tersebut . Pasar tersebut dibuat untuk membedakan Pasar Senen dan Pasar Tanah Abang yang sudah didirikan lebih dulu pada 1733 oleh tuan tanah Justinus Vinck. Dan untuk membedakan satu sama lain, Daendels menyebut pasar itu sebagai Pasar Baru artinya pasar yang baru dibangun. 

Pada awalnya, Pasar Baru hanya berupa pasar yang sangat sederhana, tempat pedagang pribumi menjual hasil kebunnya dengan pikulan serta pedagang kelontong Tionghoa dan orang yang berbelanja adalah orang Belanda yang tinggal di Rijswijk (sekarang Jalan Veteran) Toko-toko di Pasar Baru dibangun dengan gaya arsitektur Cina dan Eropa.Gaya Belanda kuno di Pasar Baru tidak seluruhnya, beberapa rumah memiliki gaya rumah Cina.


Kini, meski Pasar Baru sudah banyak berubah, namun wajahnya tetap sama. Kebetulan, pada hari Minggu tanggal 26 Mei 2013 saya sempat mengunjungi Pasar Baru dan berkeliling di dalam arena Pasar Baru bersama ibu saya. Berikut adalah dokumentasinya :

Sumber: 
http://ekasarihandayani.blogspot.com/2012/01/pasar-baru-warisan-kolonial-yang-masih.html

No comments:

Post a Comment