Monday, 20 May 2013

Tugas 2 (Mulok) - Nadhira Zhafirany XI IPA 1


Kota Tua, Tempat Sejarah Bercerita


Pada hari Rabu, tanggal 17 april 2013, saya dan beberapa teman saya mengunjungi Kota Tua. Kota Tua Jakarta atau juga dikenal dengan sebutan Batavia Lama (Oud Batavia), adalah sebuah wilayah kecil di Jakarta dengan luas 1,3 kilometer persegi melintasi Jakarta Utara dan Jakarta Barat (Pinangsia, Taman Sari dan Roa Malaka).
Kota Tua memiliki banyak sekali cagar budaya yang sangat menarik untuk dikunjungi. Ada banyak museum-museum, seperti Museum Wayang, Museum Bank Indonesia, Museum Bank Mandiri, Museum Bahari, dan lain-lain. Ada juga Gedung Arsip Nasional, Vihara Jin De Yuan, Replika Sumur Batavia, dan lain-lain. Kota Tua merupakan tempat yang sangat cocok untuk menambah ilmu, mencari informasi, dan menikmati peninggalan-peninggalan Kota Jakarta. (info: http://kotatuajakarta.org)

Kami memutuskan untuk mengunjungi Museum Bank Mandiri dan Museum Bank Indonesia. Untuk sampai Kota Tua, banyak cara yang dapat digunakan, salah satunya menggunakan angkutan umum di Jakarta yaitu Trans-Jakarta atau lebih dikenal dengan Busway. Kami menggunakan busway untuk sampai ke Kota Tua. Dari halte di depan Masjid Al-Azhar, kami turun di halte Kota. Dari sana, kami memutuskan untuk langsung mengunjungi Museum Bank Mandiri.

Museum Bank Mandiri terletak di Jl. Lapangan Stasiun No. 1, Jakarta Barat dan merupakan salah satu cagar budaya Kota Tua di Jakarta. Museum Bank Mandiri berdiri sejak tanggal 2 Oktober 1998 sampai sekarang. Museum ini memiliki luas 10.039 m2. Pada awalnya, museum ini adalah gedung Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM) atau Factorji Batavia yang merupakan perusahaan dagang milik Belanda yang kemudian berkembang menjadi perusahaan di bidang perbankan.
Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM) dinasionalisasi pada tahun 1960 menjadi salah satu gedung kantor Bank Koperasi Tani & Nelayan (BKTN) Urusan Ekspor Impor. Kemudian bersamaan dengan lahirnya Bank Ekspor Impor Indonesia (BankExim) pada 31 Desember 1968, gedung tersebut pun beralih menjadi kantor pusat Bank Export import (Bank Exim), hingga akhirnya legal merger Bank Exim bersama Bank Dagang Negara (BDN), Bank Bumi Daya (BBD) dan Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) ke dalam Bank Mandiri (1999), maka gedung tersebut pun menjadi asset Bank Mandiri. (sumber)
Museum Bank Mandiri berisi tentang sejarah perkembangan Bank Mandiri yang terkait aktivitas perbankan pada zaman “tempo doeloe”. Ada mesin-mesin ATM bank mandiri, contoj-contoh kartu kredit, perlengkapan operasional bank, brankas, surat-surat berharga, dan lain-lain. Untuk harga tiket masuk ke dalam museum ini adalah gratis dan terbuka untuk umum, kita hanya perlu mengisi buku pengunjung.

Di Museum Bank Mandiri, saya menjelaskan tentang buku besar yang berada di museum tersebut kepada 2 orang siswi SMP yang kebetulan sedang mengunjungi Museum Bank Mandiri itu juga.

 


Buku tersebut memiliki berat 32 kg dan berisi 370 lembar. Buku ini ditemukan di Pusat Arsip Rempoa. Buku ini digunakan oleh NHM untuk mencatat laporan keuangan dari tahun 1846-1848. Diantaranya mengenaio perkebunan dan komoditi. Buku ini berisi perinician perkiraan perubahan debet dan kredit untuk dilaporkan setiap akhir bulan. Selain itu, buku ini juga mencatat keuangan agen-agen yang lain di Surabaya, Semarang, Padang, dan Anyer.

Setelah selesai melihat-lihat dan menikmati saksi bisu sejarah Bank Mandiri, kami berniat mengunjungi Museum Bank Indonesia. Sayangnya, saat sampai di depan Museum Bank Indonesia, satpam museum tersebut mengatakan bahwa sedang ada acara di dalam museum tersebut. Museum baru bisa dikunjungi  pada pukul 13.00. Akhirnya kami memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu.
Setelah jarum pendek akhirnya menunjukkan angka 1, kami mendatangi Museum Bank Indonesia lagi dan untunglah, museum tersebut sudah bisa dikunjungi lagi. Kami berniat untuk mengambil foto di depan museum tersebut, tetapi karena keadaan lingkungan yang kurang aman, kami mengurungkan niat kami dan langsung masuk ke dalam.

Tiket Masuk Museum Bank Indonesia

Untuk masuk ke Museum Bank Indonesia, kita sama sekali tidak dipungut biaya. Tetapi, di sana, kita diharuskan untuk menitipkan tas kita dan hanya diperbolehkan membawa dompet, handphone, dan barangberharga lainnya. Hal ini untuk menjaga para pengunjung tetap aman. Museum Indonesia buka setiap hari kecuali hari senin dan pada saat libur nasional.
Museum Bank Indonesia adalah sebuah museum di Jakarta, Indonesia yang terletak di Jl. Pintu Besar Utara No.3, Jakarta Barat (depan stasiun Beos Kota), dengan menempati area bekas gedung Bank Indonesia Kota yang merupakan cagar budaya peninggalan De Javasche Bank dan dibangun pertama kali pada tahun 1828.
Museum Bank Indonesia diresmikan melalui dua tahap, yaitu peresmian tahap I dan mulai dibuka untuk masyarakat (soft opening) pada tanggal 15 Desember 2006 oleh Gubernur Bank Indonesia saat itu, Burhanuddin Abdullah, dan peresmian tahap II (grand opening) oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, pada tanggal 21 Juli 2009.
Museum ini menyajikan informasi tentang peranan Bank Indonesia di Indonesia sejak sebelum kedatangan bangsa barat di Nusantara hingga terbentuknya Bank Indonesia pada tahun 1953 dan kebijakan-kebijakan Bank Indonesia. Penyajiannya sangat beragam dan menarik. Museum ini menggunakan diorama, manequine, sound information, gallery, berbagai macam video dan alat-alat multimedia lainnya dalam penyampaian informasi. Ada juga contoh-contoh uang dari berbagai macam negara dan berbagai jenis zaman yang sangat menarik untuk dilihat. Semua hal ini sangat menyenangkan membuat pengunjung dapat sangat menikmati pengalaman mengunjungi museum ini.


Salah satu contoh uang yang ada di Museum Bank Indonesia 

Selain hal-hal yang telah dijelaskan di atas, museum ini juga memiliki ruangan yang berisikan alat-alat operasional perbankan Bank Indonesia pada zaman dulu. Hal-hal unik yang jarang diketahui orang. Saya menjelaskan tentang mesin pons kepada salah satu pengunjung disana. Ia merupakan siswa SMA dan kebetulan juga sedang mengunjungi Museum Bank Indonesia.



Mesin Pons ini merupakan alat perofator yang terbuat dari besi dengan teknik cetak dan dikonstruksi. Mesin pons ini memiliki ukuran 31.5 cm untuk panjangnya, 36 cm untuk panjang tangkainya, 9 cm untuk lebarnya, dan 19.5 cm untuk tingginya. Mesin pons terdiri dari sebuah tatakan persegi panjang dengan badan yang menyatu dengan tatakan. Di ujung tatakan terdapat laci kecil untuk menemoatkan potongan kertas yang berupa bintang. Badan tersebut melengkung membujur sesuai dengan panjang tatakan.
Di atas ujung (kepala) badan terdapat tangkai besi berwarna hitam berpenampang bundar. Bila ditekan, tangkai ini menggerakan sebuah torak ke bawah. Ujung dari torak berbentuk segilima. Badan alat ini dicat dengan warna biru. Sedangkan gagangnya berwarna hitam.
Alat ini berfungsi untuk memberi lubang pada uang keryas sebagai tanda bahwa uang tersebut sudah tidak layak edar dan kemudian dimusnahkan. Kapasitas melubangi setumpuk uang sekitar 25 lembar. Mesin ini digunakan pada kira-kira sebelum tahun 2000an.

Begitulah perjalanan saya ke Kota Tua dan ke Museum Bank Mandiri dan Museum Bank Indonesia. Mengunjungi museum, harus saya akui, adalah hal yang sangat jarang saya lakukan. Banyak faktor-faktor yang mempengaruhi, seperti jauhnya museum dari tempat dimana saya tinggal. Lalu, menurut saya juga karena kurangnya publikasi atau ajakan atau daya tarik dari museum.
Saat saya menggunakan angkutan umum yaitu busway saat menuju ke Kota Tua dan saya tiba di haltenya, saya melihat bahwa halte tersebut sangat membutuhkan perawatan. Saya membayangkan, jika saja halte ini lebih dirawat, maka Indonesia, tepatnya Jakarta, tidak akan kalah dengan negara-negara lain yang memiliki angkutan umum yang sangat modern dan bagus. Sangat disayangkan kurangnya kesadaran masyarakat Indonesia.
Menjadi tour guide orang asing di Museum Bank Indonesia dan Museum Bank Mandiri merupakan salah satu pengalaman tersendiri yang menarik dan menyenangkan. Dengan menjelaskan salah satu peninggalan atau barang yang ada di museum-museum tersebut, dapat menambah wawasan kita dan sekaligus orang-orang yangkita jelaskan.
Akhir kata, menurut saya, kita harus lebih menjaga dan melestarikan museum-museum yang berada di Indonesia untuk menjadi pengetahuan dan peninggalan penting yang dapat kita turunkan kepada anak-cucu kita. Kita juga harus lebih mempublikasi kan dan meningkatkan daya tarik serta kenyamanan museum-museum di Indonesia agar semakin banyak orang yang mengunjunginya, dan kita, dapat dengan bangga menunjukkan peninggalan dan bukti penting sejarah bangsa kita kepada negara lain.

No comments:

Post a Comment