Thursday, 30 May 2013

Tugas 2 (MULOK) - Naryndra Nastiti XI IPA 2

“Jika seseorang tidak mengetahui sejarah, maka orang tersebut tidak tahu apapun. Seperti daun yang tidak mengetahui bahwa ia bagian dari pohon.”

Mempelajari sejarah merupakan hal yang sangat penting. Kita dapat mengintrospeksi kesalahan di masa lalu dan mengembangkan diri kita menjadi individu yang lebih baik di masa yang akan datangnya. Dengan mengetahui sejarah, setiap individu dapat membandingkan masa lampau dengan masa depan, baik secara teknologi, ilmu pengetahuan, serta ideologi dan cara berpikir.

Pada hari Selasa, 28 Mei 2013, di siang yang agak berawan, saya dan keempat teman saya (Astrid Amalia, Dina Ramadhanti, Putri Naura dan Tara Annisa) mengunjungi Museum Joang ’45 yang terletak di Jalan Menteng Raya 31, Jakarta Pusat. Museum ini terletak di pinggir jalan raya sehingga cukup mudah untuk dicari.


Saya sempat bersekolah dasar di daerah Menteng, dan hampir setiap pagi melewati Museum Joang ’45 ini. Timbul rasa penasaran di benak saya tentang apa yang sebenarnya ada di dalam museum ini. Sebagian besar orang mungkin berpikir bahwa museum-museum hanya terletak di daerah Kota Tua maupun Jalan Medan Merdeka saja. Saya dan teman-teman saya memilih museum ini karena kami mencari museum yang mungkin jarang didatangi bahkan jarang diketahui oleh teman-teman kami di sekolah, sehingga saya dapat berbagi sedikit pengetahuan dan benda apa saja yang tersimpan di Museum Joang ’45 ini.

Museum Joang ’45 atau yang lebih dikenal dengan Gedung Joang ’45 dahulu digunakan sebagai sebuah hotel yang dikelola oleh seorang berkebangsaan Belanda yang menetap lama di Batavia. Saat masa pendudukan Jepang, hotel ini direbut oleh pemuda Indonesia dan diubah menjadi Ganseikanbu Sendenbu (Jawatan Propaganda Jepang) yang dikepalai oleh seorang berkebangsaan Jepang, Simizu. Sekarang, Gedung Joang ’45 dijadikan museum dan sebagian bekas kamar hotel dulu dijadikan perpustakaan, ruang bermain anak-anak serta kantor Wirawati Catur Panca.

Di dalam museum ini, terdapat lebih banyak peninggalan saat zaman Jepang. Saya melihat beberapa potongan baju serta alat-alat yang digunakan untuk menjahit baju, seperti mesin jahit, potongan kainnya, dan lain-lain. Terdapat pula pedang-pedang dan berbagai lencana yang digunakan oleh para jenderal dan prajurit di masa sebelum kemerdekaan. Ada pula meja kerja Bung Hatta dan kursi santainya yang dimuseumkan di museum tersebut.

Menurut saya, Museum Joang ’45 merupakan museum yang cukup modern. Setiap ruangan memiliki tampilan video yang sangat menarik, karena film-film yang diputarkan adalah video arsip negara yang menceritakan tentang zaman penjajahan. Museum ini juga sangat bersih dan tertata dengan rapi, dan peninggalan yang dimuseumkan juga memberi pengetahuan yang bermanfaat bagi para pengunjung. Sayangnya, promosi museum ini masih kurang karena saat saya memberitahu teman yang lain bahwa saya telah mengunjungi Museum Joang ’45 ini, mereka bertanya di manakah letak museum ini dan peninggalan apa saja yang ada di museum ini.


Berikut ini merupakan video yang direkam saat saya menjelaskan mengenai peninggalan sejarah yakni buku karangan Ir. Soekarno, di Bawah Bendera Revolusi. (link)

No comments:

Post a Comment