Wednesday, 29 May 2013

Tugas 2 (MULOK) -Niken Rahadiani Maheswari XI IPA 1



  
 Kuas-Kuas di Langit






 ........ Kuambil buluh sebatang
Kupotong sama panjang
Kuraut dan kutimbang dengan benang
Kujadikan layang-layang......

Begitulah kira-kira lirik lagu Layang-layang. Layang-layang memang sudah tak asing lagi bagi masyarakat Indonesia dan sudah dikenal sejak lama. Layang-layang telah dikenal sejak dulu kala dan hinga kini masih diminati. Bahan dan bentuk layang-layang telah mengalami perubahan mengikuti perkembangan zaman.

Layang-layang menjadi permainan sejuta umat yang amat disenangi. Baik dari kalangan tua, muda, atas, bawah, semua pasti mengenal layang-layang. Cara membuatnyapun mudah. Bahan-bahan yang dibutuhkan adalah dua bilah bambu kecil yang sudah diraut, benang, lem, kertas,serta kuas dan beberapa warna cat untuk melukis. Namun siapa sangka dibalik zaman yang semakin modern ini, layang-layang justru makin jarang terlihat berkibar di angkasa, ditengah hiruk-pikuk gedung-gedung pencakar langit.

Tanpa mengesampingkan perkembangan dunia layang-layang modern, Museum  Layang-Layang Indonesia sebagai satu-satunya museum layang-layang di Indonesia berupaya untuk melestarikan budaya layang-layang tradisional yang unik dari setiap wilayah di Indonesia.

Minggu 26 Mei 2013 lalu, Saya mengunjungi Museum Layang-Layang, Jakarta yang terletak di Jl H. Kamang No. 38 Jakarta Selatan,DKI Jakarta 12450. Museum ini menyimpan berbagai koleksi layang-layang unik dari berbagai penjuru Indonesia bahkan hingga ke mancanegara.

Melestarikan tradisi bukan hal yang terlalu rumit. Dengan latar belakang kegemarannya bermain layang-layang hingga kemudian mengoleksi aneka layang-layang dari berbagai daerah, Endang W. Puspoyo berinisiatif untuk mendirikan Museum Layang-layang Indonesia sebagai salah satu bentuk kepeduliannya terhadap pelestarian budaya Indonesia.

Tak banyak yang tahu tentang Museum Layang-layang Indonesia. Menempati area seluas 3000 meter persegi di lokasi selatan Jakarta tepatnya di Jl. H. Kamang No.38, Pondok Labu, museum ini memang tak nampak terlalu mencolok. Karena letaknya berjarak kurang lebih 1 km dari jalan raya Pondok Labu.

Dalam satu area yang luas dan asri ini, ada beberapa pendopo didirikan di sana. Ruang yang berada paling depan, adalah kantor pengelola Museum Layang-layang Indonesia. Sedikit ke dalam, di sebelah kirinya terdapat beberapa kavling tempat workshop keramik dan produksi layang-layang. Ditengah area, berdiri pendopo utama. Di sana adalah tempat para pengunjung dapat menonton beberapa film dokumenter layang-layang. Lalu pada aula depan di pendopo kedua, ada berbagai bentuk dan aneka warna layangan berukuran setinggi palang-palang pintu dan ada pula yang digantung pada rangka langit-langit pendopo (karena ukurannya yang sangat besar). Di sana terdapat sebuah pintu gerbang dengan palang berukir, tingginya seukuran tubuh manusia. Melangkah masuk ke dalam, berarti kita sedang berada dalam ruang museum layang-layang.

Museum Layang – layang ini didirikan oleh Endang W. Puspoyo yang merupakan pakar kecantikan yang menekuni dunia Layang-layang sejak tahun 1985 dengan membentuk Merindo Kites & Gallery yang bergerak dibidang tersebut. Selain itu, berbagai festival dalam dan luar negeri telah diikutinya dan berbagai kemenangan pun telah diraihnya. Dari kecintaannya tersebut akhirnya pada 21 Maret 2003, berdirilah Museum Layang-layang.

Museum layang-layang Indonesia memiliki berbagai macam koleksi dari seluruh pelosok Nusantara hingga Mancanegara, termasuk layang-layang tradsional dan modern. Mulai dari layang-layang miniatur yang berukuran 2 cm yang berasal dari Cina, hingga yang berukuran besar yang mencapai lebar hingga 3 meter. Bahkan museum ini memiliki layang-layang berukuran raksasa terbesar di tanah air seperti “Megaray” berukuran 9 x 26 meter.

Pertama kali memasuki gerbang Museum Layang-Layang Indonesia, terlihat suasana ‘ramah’ yang seolah-oleh sengaja ditampakkan oleh pendiri museum melalui bangunan bergaya Jawa yang khas berdinding batu bata merah yang disusun rapi dengan atap khas Jawa. Masuk lebih kedalam, pengunjung akan disambut dengan kanopi pohon yang rindang yang seolah mempertahan kharisma yang telah dibangun bertahun-tahun.

Di wilayah museum ini terdapat 2 pendopo yaitu, Pendopo Merah dan Pendopo Putih. Pendopo Merah terhubung dengan ruangan tempat menyimpang puluhan layang-layang yang memiliki ragam bentuk untuk kemudian dipertontonkan kepada pengunjung. Sedangkan Pendopo Putih terhubung dengan rumah pendiri Museum Layang-layang Indonesia, Ibu Endang W. Puspoyo. Di pendopo ini terpajang banyak benda-benda antik, termasuk di antaranya sebuah kereta kencana dan pecut yang di sandarkan di tiangnya.

Melewati kanopi pohon, pengunjung akan disambut dengan susana tenang, teduh, ramah, dan bersih. Tak terlihat satupun sampah yang terserak. Di tengah-tengah tertanam sebuah pohon rindang dan sebuah penunjuk jalan agar pengunjung tidak tersesat,  meski Museum Layang-Layang Indonesia terhitung bukan museum yang besar. Di depan pohon ada panggung kecil yang biasa digunakan saat acara perpisahan taman kanak-kanak atau juga bisa dipakai untuk umum. 

Sebelum memasuki ruang tempat menyimpan koleksi layang-layang, terlebih dahulu pengunjung harus membayar tiket masuk di loket yang terletakdi sebelah kanan, tepat setelah pengunjung melewati kanopi pohon yang rindang. Pengunjung cukup merogoh kocek Rp 10.000 untuk menikmati satu paket tour keliling museum, termasuk menonton video dan membuat kreasi unik lainnya di wilayah museum. Serta tentunya memandangi berbagai macam koleksi layangan yang ada di dalamnya.

Berbagai kegiatan yang ditawarkan dalam sekali tour antara lain :
1. Pemutaran film. yang menayangkan film mengenai sejarah dan kegiatan festival layang- layang.
2. Tour Museum. Yang berupa pengenalan layang-layang tradisional, kreasi dan sport dari Indonesia dan Mancanegara.
3Membuat Layang-Layang: merakit, menghias dan mewarnai layang-layang sesuai tingkat usia dengan bahan dan alat yang disediakan. Melukis Layang-Layang. Mewujudkan ide dan kreatifitas menggunakan cat acrilyc pada layang-layang berbahan polyester.
4. Membuat Keramik. Belajar membentuk mencetak dan menghias keramik dengan bahan tanah liat. 
5.   Melukis Payung dengan cat acrilyc di atas payung dari bahan kertas.
6.  Melukis dan mewarnai t-shirt, caping dan lampion.
7. Membatik. Menggambar dengan canting dan malam di atas kain. Pewarnaan dilakukan  dengan pilihan warna yang menarik.

Kegiatan-kegiatan di atas berguna untuk mengasah kreatifitas pengunjung dan menambah pengetahuan dengan cara memperkenalkan kegiatan-kegiatan yang bersifat praktikal dan unik kepada pengunjung sehingga pengujung tertarik untuk mencoba mengaplikasikannya.



 Terbang Melintasi Batas

Memasuki Pendopo Merah, jika pengunjung melihat ke langit-langit pendopo terpasang anggun di seluruh langit-langitnya, beragam bentuk dan ukuran layang-layang, dari kategori kreasi sampai sport. Dari kategori kreasi, di antaranya adalah Layang-layang berbentuk delman yang ditarik oleh seekor kuda. Layang-layang ini memenangkan salah satu juara dari festival layang-layang kreasi di Yogyakarta. Layang-layang berbentuk delman ini adalah kreasi 3 dimensi yang berasal dari Jepara. Selain itu, ada pula layang-layang berbentuk burung berkepala naga (Janggan) yang berasal dari Bali yang merupakan layang-layang tradisional, tergantung indah, seolah siap membelah angkasa. Terdapat pula layang-layang kreasi 3 dimensi berbentuk belalang yang berasal dari Jepara. Tedapat pula layang-layang sport yang dikendalikan oleh dua tali, yang bernama stunt kite. Masih dalam jenis layang-layang sport, terdapat pula layang-layang yang cara kerjanya dikendalikan oleh empat tali dan tidak memakai rangka, yang bernama Guatrepoil. Bahan yang digunakan untuk membuat layang-layang ini juga berbeda dengan bahan yang dipakai dalam proses pembuatan layang-layang biasa yang memakai kain parasut. Kain yang dipakai adalah kain restop yang diimpor dari luar negeri.. Ada pula yang-layang yang berasal dari Madura, bernama Len Bulenan. Len Bulenan berarti bulan. Rangka layang-layang ini terbuat dari bambu dan bahan pembungkusnya terbuat dari plastik berwarna putih, karenan bulan identik dengan warna putih, maka digunakan bahan plastik berwarna putih. Bentuk layang-layang ini terdiri dari bentuk bulan purnama dan bulan sabit. Umumnya, pada layangan ini dipasang juga alat bunyi yang dapat mengeluarkan bunyi pada saat terbang, seperti layangan tradisional Indonesia lainnya.

  
Len Bulenan




Selain layang-layang yang berasal dari dalam negeri, museum ini juga memiliki koleksi layang-layang dari luar negeri, seperti Vietnam, Cina, Jerman, Korea dan Thailand. Layang-layang yang terpajang tepat di atas pintu masuk ruang pajang museum adalah layang-layang yang berasal dari Vietnam berbahan dasar kertas, bernama Jisaw. Selain itu, ada pula layang-layang yang berasal dari Malaysia bernama Wau Bulan dan Wau Merak. Wau adalah istilah untuk Layang-layang dengung.

Wau bulan merupakan jenis wau yang paling populer di Malaysia. Kepopulerannya didominasi oleh rakyat pantai timur di Semenanjung Malaysia.

Sejarah Wau Bulan bermula pada zaman kerajaan Srivijaya, yang menurut legenda, awalnya digunakan oleh seorang putera bernama Dewa Muda. Corak bunga dan daun pada Wau Dewa Muda dikatakan merupakan peta daerah yang telah dikuasainya.
Layang-layang dari Vietnam

Bentuk wau ini menyerupai bulan sabit pada bagian depan dan separuh bulatan pada bagian ekornya. Justru, wau tersebut terlihat seperti bulan yang terbit di langit apabila diterbangkan.
Dari segi ukurannya, wau bulan lebih besar berbanding wau lain. Biasnya ukuran wau bulan adalah sepanjang 2.5 meter dengan tinggi 3.5 meter. Ini untuk memastikan corak yang terdapat pada wau tersebut terlihat jelas dan dan menyala. Corak yang menyala adalah daya tari jenis wau ini. Pemilihan warna yang terang dan corak yang lebih besar menjadi pilihan.

Selain Wau Bulan, jenis Wau lain yang terdapat di Museum Layang-Layang Indonesia adalah Wau Merak. Wau Merak adalah jenis Wau yang menjadi kebanggan masyarakat negeri Johor, berasal dari Sulawesi, Indonesia, dan sering dimainkan oleh masyarakat Bugis selepas waktu menuai padi.
Kiri : Wau Merak, Kanan : Wau Bulan , Tengah :Cula,
Bawah : Tapean
Sebelum dikenal sebagai Wau Merak, layang-layang ini dikenal sebagai layang-layang kipas. Nama Wau Merak adalah wujud reka dari ekor layang-layang ini yang mengembang seperti ekor burung merak. Kelinan utama Wau Merak dari jenis wau yang lain adalah terdapatnya balong yang dibuat dari rotan dan dibalut dengan benang warna-warni di bagian kepalanya. Balong ini menyerupai balong yang terdapat pada burung Merak. Di bagian ujung ekor Merak ini juga dipasang benang berwarna-warni sepanjang empat kali panjang layang-layang tersebut.

Pada jaman dahulu, busur Wau Merak dikatakan mampu menghasilkan tujuh jenis bunyi. Permukaan Wau Merak juga dihiasi dengan ukiran sobek dan motif. Motif yang biasa digunakan adalah lada hitam dan daun gambir. Alasan utama pemilihan motif ini adalah karena pernah menjadi sumber ekonomi dan penghidupan masyarakat Johor pada pertengahan abad ke 19.

Perkataan “wau” dikatakan berasal dari perkataan Thailand memandangkan negeri seperti Kelantan, Terengganu, Perlis dan Kedah menggunakan perkataan tersebut.

Perkataan layang-layang pula digunakan di kebanyakan negeri-negeri seperti di Pantai Barat dan Selatan Semenanjung Malaysia seperti Selangor, Melaka dan Johor. Ini dapat dibuktikan menerusi catatan Tun Seri Lanang yang menyatakan bahawa Raja Ahmad bermain layang-layang bersama pemuda-pemuda serta kerabat DiRaja, dan tidak pula disebut bermain wau.

Selain itu kemunculan nama wau juga dikaitkan bunyi yang terhasil daripada busur yang diikat pada wau. Apabila dinaikkan ke udara, daun ibus yang dipasang pada busur tersebut akan menghasilkan bunyi “wau’, “wau’, “wau’ secara berirama.

jisaw. sport kite menggunakan 4 kendali. berbahan dasar  khusus

Permainan layang-layang atau wau amat digemari oleh penduduk-penduduk kampung. Permainan ini dimainkan semenjak lebih 500 tahun yang lalu. Wau masih digemari dan dimainkan di kawasan-kawasan seperti Kelantan, Terengganu, Kedah dan Perlis. Musim bermain wau adalah buluh yang diraut halus yang ditampalkan dengan kertas berwarna mengikut bentuk rangka. Wau bukan sahaja dimainkan tetapi dipertandingkan yang dititikberatkan ialah kecantikan rupa, kemerduan bunyi dan tinggi serta keindahan naiknya.


Permainan wau atau pun lebih dikenali layang-layang suatu ketika dahulu lebih popular di kawasan pedalaman seperti di kawasan pantai dan kawasan lapang seperti di padang, sawah padi dan sebagainya.

Kini permainan tersebut telah mulai popular dan diminati oleh pelbagai kaum termasuklah mereka yang menetap di kawasan bandar. Bukan itu sahaja, ia telah diperkenalkan hingga ke peringkat antarabangsa seperti di Pasir Gudang Kite Festivals International Guests yang diadakan pada setiap tahun. Sambutan festival ini juga sangat memberangsangkan terutamanya peserta dari luar negara.

Sejarah Permainan Wau

Kedatangan permainan wau di Malaysia tidak dapat dipastikan kesahihan tarikh serta asal-usulnya. Walau bagaimanapun menurut sejarahwan Clive Hart, layang-layang di Malaysia berasal dari negara China. Ini kerana rekabentuk serta karektor mempunyai persamaan dengan layang-layang tradisional dari negara China.

Layang-layang pada masa dahulu menggunakan daun kayu yang lebar. Kemungkinan evolusi layang-layang di Malaysia juga turut menyerap unsur-unsur kebudayaan dari negara China.

Mitos Permainan Wau
Permainan wau dikaitkan dengan mitos ‘Semangat Padi’ yang berasal dari utara Semenanjung Malaysia iaitu di negeri Kedah.
Layang-layang Pegasus
Rokaku

Diceritakan bahawa ada sepasang suami isteri di negeri tersebut yang bekerja sebagai petani di sebuah kaki bukit dengan menanam padi huma. Ketika mereka sedang menanam padi, mereka terjumpa seorang bayi perempuan lalu dipeliharanya bayi tersebut sehinggalah dewasa. Oleh kerana suaminya ingin mengucapkan syukur dan terlalu menyayangi anak gadisnya itu maka beliau selalu membawakan makanan ke tempat anak gadisnya bermain iaitu di baluh padi.

Perbuatan suaminya itu telah menyebabkan sang isteri merasa sangat cemburu. Disebabkan perasaan cemburunya itu dia telah menyiksa anak gadisnya sehingga melarikan diri mengikut arah mata angin barat. Akibatnya, pada tahun itu juga padi yang telah dikerjakan tidak menjadi. Menurut Tok Nujum yang ditemui menyatakan bahawa anak gadis mereka sebenarnya adalah ‘Semangat Padi’ dan menasihatkan petani tersebut sebagai tanda meminta maaf mereka dikehendaki membuat sebuah lembaga yang menyerupai Wau Bulan dan diterbangkan menggunakan tali jerami.


Codybox buatan Museum
Layang-Layang
 Indonesia yang berangka aluminium
Terdapat pula layang-layang berbentuk pegasus yang dikendalikan oleh satu tali, berasal dari Magelang.

Layang-layang yang berasal dari Yogyakarta, umumnya memang memiliki ukuran yang besar-besar, dikarenakan angin di Parangtrititis cukup kuat untuk menerbangkan layang-layang kreasi 3 dimensi.

Museum Layang-layang Indonesia juga memiliki layang-layang yang rangkanya terbuat dari aluminium. Menurut penuturan dari pengrajin layang-layang di museum tersebut, layang-layang lebih nyaman dimainkan bila rangkanya terbuat dari bambu. Hal ini dikarenakan, rangka aluminium jika sudah bengkok susah untuk kembali ke bentuk semula, berbeda dengan bambu yang cenderung elastis.
Kakjang Lako

Pembuatan layang-layang di museum ini dapat memakan waktu 2 minggu hingga 3 bulan. Dan memakan biaya yang tidak murah, terutama untuk jenis layangan kreasi.

DI museum ini terdapat pula betuk layangan yang bernama rokaku dengan motif Hanoman yang berasal dari Bandung.



       
Angso Duo
Di atas pintu masuk ruang galeri, tergantung dua layang-layang tradisional kembar yang berasal dari Jambi, Angso Duo dan Kajang Lako. Bentuk dasar dari layang-layang Kajang Lako adalah belah ketupat dengan diberi variasi pada bangian bawah yang tujuannya adalah memperkuat desai etnik.

Kajang Lako merupakan salah satu rumah adat yang ada di Jambi. Selain rumah, Kajang Lako juga merupakan nama perahu yang digunakan oleh raja atau penguasa negeri yang diiringi oleh pengawal dan rombongan lainnya untuk bersantai, bersenang-senang atau melakukan dinspeksi ke daerah-daerah di bawahnya.

Dandang Laki
Dandang Bini
















Dandang Bini adalah layang-layang tradisional yang berasal dari Kalimantan Selatan. Kata “dandang” diambil dari sebutan alat untuk memasak nasi di daerah Kalimantan Selatan. Layang-layang Dandang Laki, mempunyai pasangan sejodoh yaitu layang-layang Dandang Bini. Keduanya biasa diterbangkan pada masa sehabis panen, di tengah lahan sawah pada musim panas. Dengan harapan agar musim panen selanjutnya membawa berkah bagi penduduk sekitar.

Pada Dandang Laki, alat bunyi yang dipakai adalah dua bilah bambu yang dikaitkan pad arangka kepala sisi kiri dan kanannya. Bambu dengan ukuran diameter kira-kira 10 sentimeter tersebut, bentuknya seperti kentongan. Celah dibuat membujur di tengahnya. Jika layang-layang Dandang Laki diterbangkan dengan hembusan angin yang cukup kencang, bunyinya akan terdengar sejauh satu kilometer dengan suara merdu.
                               
Bambu yang diikatkan pd Dandang Laki, dpt berbunyi
                                                   

Letak pemasangan bambu pada Dandang Laki














              
Salah satu pembuat bambu


 Layang-Layang Tertua di Dunia



                        
KHAGATI. Layang-layang tertua di dunia. 

Usianya mungkin lebih dari 4000 tahun. Termasuk layangan unik dan purba karena terbuat dari daun ubi hutan dan kerangkanya dari bambu. Benangnya terbuat dari serat daun pandan duri. Karena semua bahan pembuatnya berasal dari tumbuhan itualh, mengapa layangan Khagati ini disebut  layangan purba.

Layang-layang tertua ini terbuat dari jalinan daun gadung yang teksturnya tipis dan ringan namun berserat tebal tak mudah sobek. Rangkanya terbuat dari bambu dan bagian belakangnya dilapisi oleh kulit pohon waru agar layang-layang ini kuat menahan terpaan angin
Pada bagian kepala belakang layang-layang ini, dikaitkan sebilah bambu kecil yang melengkung menarik seutas daun lontar hingga berbentuk seperti busur. Jika layang-layang terbang di udara, maka terpaan angin akan meniup kuat daun lontar itu hingga berbunyi kencang, “kowang..kowang…kowang.” Oleh sebab itulah, bilahan bambu itu disebut kowangan.

Selain itu, masih banyak sekali koleksi layang-layang di Museum Layang-Layang Indonesia. Di antaranya:
Layang-layang dari daun
 pisang

Alat untuk mengendalikan jisaw dan
stunt kite, serta bilah bambu yang disebut kowangan
Layang-layang model Museum
Layang-Layang Indonesia
Layang-layang dari daun lontar

Layang-layang "Dewi Sri"

Layang-layang terkecil di dunia, dari
Cina (2 cm)


          


Layang-layang terpanjang di dunia. ekornya mencapai 100 meter





Berbagai jenis benang dan pengendali
Layang-layang















Teruslah berkibar di angkasa. Buat Indonesia bangga akan keberagamanmu yang membesona. Warnai langit pertiwi dengan corak-corak khasmu yang tak kan lekang oleh waktu. Jangan sampai tenggelam dibalik gedung-gedung tinggi nan angkuh yang berdiri kokoh menutupi singgasanamu di angkasa. Tetaplah kau menari di angkasa. 





















Sumber:




















No comments:

Post a Comment