Saturday, 18 May 2013

Tugas 2 (Mulok) - Nindya Aristia Pratiwi XI IPA 4

"Napak Tilas Keping Uang Zaman Kerajaan di Indonesia"


Dahulu, manusia masih melaksanakan sistem tukar menukar barang (barter) demi memenuhi kebutuhannya. Hal ini dikarenakan belum adanya pengetahuan manusia mengenai alat pembayaran yang sah. Manusia direpotkan dengan sistem barter ini karena terkadang barang yang ditukarkan tidak sesuai dengan kebutuhan yang diinginkan. Semakin lama, manusia pun semakin tergerak untuk membuat alat pembayaran yang sah demi memudahkan kegiatan transaksi tersebut. Salah satu alat pembayaran yang telah ditemukan sejak lama adalah uang. Uang pun semakin dikenal oleh masyarakat sebagai alat pembayaran dan tentu saja sangat memudahkan masyarakat dalam bertransaksi. Uang itu sendiri telah berkembang dari masa ke masa hingga menjadi uang yang kita kenal saat ini.
Ketika sebelum masa kerajaan Hindu-Buddha, kegiatan perdagangan yang terjadi di Nusantara telah menuntut penggunaan alat pembayaran yang dapat diterima umum sebagai pengganti dari sistem barter. Memang saat itu alat pembayaran yang digunakan bukanlah uang melainkan  alat pembayaran yang masih sangat sederhana. Contohnya, penggunaan kulit kerang jenis tertentu sebagai alat pembayaran di Irian, penggunaan manik-manik di daerah Bengkulu dan Pekalongan, serta penggunaan belincung (sejenis kapak batu) di daerah Bekasi.
Saya dan adik saya di bagian lobby Museum Bank Indonesia
Untuk mengetahui dan menjelaskan kepada adik perempuan saya bagaimana perkembangan uang yang digunakan masyarakat Indonesia pada masa kerajaan, pada tanggal 05 Mei 2013 saya, adik perempuan saya dan teman saya via mengunjungi salah satu museum yang terletak di kawasan Kota yaitu Museum Bank Indonesia. Museum ini menyediakan berbagai koleksi uang dari masa ke masa. Mulai dari masa kerajaan hingga masa sekarang. Pada tulisan, ini saya akan membahas koleksi museum bank indonesia berupa uang pada masa kerajaan di Indonesia.
Saya dan adik saya di depan koleksi uang zaman kerajaan Hindu-Buddha
          Perkembangan penggunaan uang sebagai alat pembayaran mulai setelah masuknya pengaruh kerajaan Hindu-Buddha ke Indonesia, alat pembayaran pun mengalami kemajuan yang cukup pesat. Kemajuan itu dapat dilihat dari bahan baku pembuatan dan juga desain alat pembayaran tersebut. Di Jawa, alat pembayaran sudah terbuat dari berbagai logam. kerajaan Hindu-Buddha yang telah memiliki alat pembayaran sendiri antara lain, Kerajaan Jenggalan, Kerajaan Buton, Kerajaan Sriwijaya, dan Kerajaan Majapahit. Selain sebagai alat pembayaran, uang ini juga dijadikan sebagai tanda keramat oleh masyarakat saat itu. Berikut adalah beberapa jenis uang hasil peninggalan dari kerajaan Hindu-Buddha.

1. Uang Ma (Kerajaan Mataram Hindu)

Mata Uang Ma Kerajaan Mataram Hindu (Perak 2,1 gr)
         Kerajaan Mataram Hindu atau Kerajaan Mataram Kuno merupakan salah satu kerajaan bercorak Hindu yang berpusat di Jawa Tengah. Berkembangnya uang di kerajaan ini telah dimulai pada sekitar abad ke 9 hingga abad ke 12. Kerajaan Mataram Kuno mencetak dua jenis uang yaitu, uang yang terbuat dari emas dan uang yang terbuat dari perak. Mata uang ini digunakan oleh masyarakat di sekitar Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di Museum Bank Indonesia kita dapat melihat bagaimana bentuk dari uang Ma tersebut baik yang terbuat dari emas maupun yang terbuat dari perak. Berat dari Uang Ma emas yang terdapat di Bank Indonesia antara lain sekitar 2,4 gram dan 1,2 gram. Sedangkan berat dari uang Ma perak yang terdapat di Bank Indonesia antara lain 1,9 gram, 2 gram, 2,1 gram, 2,2 gram dan 2,4 gram. Antara Uang Ma emas dengan Uang Ma perak terdapat beberapa perbedaan. Pada Uang Ma emas, bagian depannya terdapat huruf Devanagari “Ta”. Di bagian belakangnya terdapat lekukan ke dalam yang dibagi dalam dua bagia, masing-masing terdapat semacam bulatan. Sedangkan pada Uang Ma perak, bagian depannya dicetak huruf Devanagari “Ma” yang merupakan singkatan dari masa dan di bagian belakangnya terdapat lekukan ke dalam dengan pola bunga cendana.
Mata Uang Ma Kerajaan Mataram Hindu (emas 2,4 gr)
2. Uang Ma atau Krisnala (Kerajaan Jenggala)
          Pada abad ke-12, Kerajaan Jenggala sebagai kerajaan yang cukup berpengaruh di wilayah timur Pulau Jawa turut serta dalam pembuatan uang sebagai alat pembayaran yang sah. Uang yang dibuat oleh Kerajaan Jenggala diberi nama Uang Ma juga atau disebut juga Krisnala. Sama seperti uang pada zaman Kerajaan Mataram Kuno, bahan baku untuk pembuatan Krisnala ini kebanyakkan adalah perak dan juga emas. Meskipun terbuat dari bahan baku yang sama, desain dari Krisnala ini memiliki perubahan dibandingkan dengan Uang Ma Kerajaan Mataram Kuno. Krisnala ini digunakan oleh masyarakat di sekitar Jawa Timur. Namun sayang, di Museum Bank Indonesia kita hanya dapat melihat Krisnala yang terbuat dari emas saja.
Mata Uang Ma Kerajaan Jenggala (emas)

            3. Uang Ma (Kerajaan Majapahit)
Mata Uang Ma Kerajaan Majapahit
          Kerajaan Majapahit merupakan salah satu kerajaan yang sangat berkuasa di Nusantara pada masa itu. Ketika masa Kerajaan Majapahit, terdapat pula uang sebagai alat pembayaran. Salah satu uang yang digunakan pada masa Kerajaan Majapahit adalah Uang Ma yang sama seperti sebelumnya terbuat dari emas dan perak pula. Uang Ma yang ditemukan di bekas peninggalan Kerajaan Majapahit merupakan Uang Ma dalam huruf Nagari atau huruf Siddham. Dan beberapa merupakan Uang Ma dalam bahasa jawa kuno. Selain itu ditemukan pula uang emas dengan tulisan ‘ta’ dalam huruf Nagari.
Uang Ma ini beredar pada masyarakat di sekitar Jawa Timur dan digunakan sekitar abad ke 14 hingga abad ke 16. Berat Uang Ma emas Kerajaan Majapahit yang terdapat di Bank Indonesia ini adalah 24 gram.


            4. Mata Uang Gobog (Kerajaan Majapahit)
         Selain Mata Uang Ma, Kerajaan Majapahit juga memiliki mata uang lainnya yang dinamakan Mata Uang Gobog. Mata Uang Gobog ini merupakan koin yang memiliki bentuk bulat dengan terdapat lubang di tengah koin tersebut. Hal ini disebabkan karena pengaruh koin-koin yang berasal dari Jepang dan juga Cina karena pada masa itu koin-koin Cina sempat menjadi alat pembayaran di Indonesia.
Mata Uang Gobog
           Koin Gobog ini merupakan asli buatan masyarakat Indonesia. Biasanya, bahan baku dari koin Gobog ini adalah tembaga. Berat dari koin Gobog yang terbuat dari tembaga ini sekitar 17,4 gram dan 21,6 gram.    Koin gobog ini memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan Mata Uang Ma sebelumnya. Koin Gobog ini memiliki dua sisi dimana salah satu sisinya terdapat gambar wayang-wayang seperti Srikandi, Arjuna, dan Semar. Sedangan sisi lainnya terdapat angka tahun pada masa itu.
          Koin Gobog digunakan oleh masyarakat di sekitar wilayah Jawa Timur pada abad ke 12 hingga ke 16. Namun koin Gobog ini tidak dipergunakan sebagai alat pembayaran, melainkan dijadikan persembahan di kuil-kuil layaknya yang dilakukan oleh warga Cina maupun warga Jepang. Hal ini menyebabkan koin gobog disebut juga koin-koin kuil. 



Setelah masa kejayaan kerajaan Hindu-Buddha berakhir, maka Indonesia mulai memasuki masa kejayaan kerajaan Islam. Sama seperti pada masa Kerajaan Hindu-Buddha, pada masa kerajaan Islam, Indonesia juga memakai uang sebagai alat pembayaran yang sah. Pada abad ke-15 ketika Islam mulai berkembang di nusantara, berbagai mata uang telah beredar. Banyak kerajaan Islam yang memproduksi mata uang nya masing-masing antara lain, mata uang dari Kerajaan Samudera Pasai, Kerajaan Aceh, Kerajaan di Jambi, Kerajaan di Palembang, Kerajaan Banten dan juga Kerajaan di Sumenep. 
Saya dan adik saya di depan koleksi mata uang zaman kerajaan Islam
Mata uang yang dikeluarkan pada umumnya bertuliskan Arab karena pengaruh dari Agama Islam. Contohnya adalah Uang Kerajaan Jambi yang pada sisi belakangnya terdapat tulisan Arab “Sanat 1256” dan pada sisi depannya terdapat “Cholafat al Mukmin”. Lalu terdapat pula keunikan pada uang kerajaan Sumenep karena uang tersebut berasal dari uang asing yang diberi cap “Sumenep” dengan aksara Arab. Hal ini menampakkan bahwa pada masa kejayaan kerajaan-kerajaan Islam tersebut telah berperan penting dalam kegiatan perniagaan di Nusantara, sehingga uang-uang kerajaan tersebut beredar beriringan dengan peredaran uang asing bahkan bisa ditukarkan dengan mata uang asing tersebut. Misalnya satu Real Spanyol sama dengan enam belas mas (dirham) Aceh dan empat shilling Inggris sama dengan lima mas (dirham) Aceh. Berikut adalah contoh dari  mata uang pada masa kejayaan kerajaan Islam.

1. Uang Kampua/Bida (Kerajaan Buton)
Uang Kampua/Bida
          Uang Kampua atau yang dikenal juga sebagai bida merupakan salah satu uang yang berbentuk unik karena uang ini dibuat dari kain tenun. Uang ini merupakan alat pembayaran yang digunakan pada masa Kerajaan Buton di daerah Sulawesi. Uang ini bukan dibuat dengan cara dicetak melainkan ditenun oleh putri-putri istana maupun kalangan kerajaan. Salah satu koleksi yang ada di Museum Bank Indonesia adalah uang kampua yang berlaku pertama kali pada masa Ratu Bulawambona di abad ke-14.
           Keunikan lain dari uang kampua ini adalah jumlah dan corak dari kainnya ditentukan oleh “panitia” pimpinan Menteri Besar Kerajaan yang disebut “Bonto Ogena”. Ia lah yang akan mengawasi dan juga mencatat setiap lembar kain kampua baik yang telah selesai ditenun maupun yang telah selesai di potong. Selain itu, motif dan corak uang kampua akan selalu diubah-ubah hampir setiap tahunnya. Hal ini dilakukan agar tidak timbul pemalsuan dari uang kampua tersebut. Jika ada masyarakat yang melakukan pemalsuan terhadap uang kampua tersebut maka akan menerima hukuman yang berat yaitu, hukuman pancung.
           Pemotongan kain kampua memiliki ketentuan tersendiri yaitu, memiliki lebar empat jari dan sepanjang telapak tangan mulai dari tulang pergelangan tangan hingga ke ujung jari tangan. Tangan yang digunakan sebagai standard pengukuran adalah tangan dari sang Bonto Ogena itu sendiri. Lalu pada awal pembuatannya, uang kampua ini memiliki nilai tukar sama dengan satu butir telur ayam.

             2. Gobog Banten/Kasha
Gobog Banten. Bagian depan tulisan Arab " Pangeran Ratoe Ing Banten"
            Uang Gobog Banten atau dikenal juga dengan Kasha dibuat oleh Kerajaan Banten pada abad ke-16. Uang ini memiliki bentuk yang serupa dengan uang gobog pada zaman Kerajaan Majapahit yaitu, memiliki pola seperti koin cash di Cina dengan lubang di tengah koin tersebut. Pada awalnya, bagian muka uang ini memiliki tulisan “Pangeran Ratu” dalam bahasa Jawa. Namun seiring mengakarnya agama Islam di Banten maka bagian uang muka ini diganti dengan tulisan “Pangeran Ratoe Ing Banten” dalam bahasa Arab. Uang Kasha ini telah dicetak dalam berbagai jenis mulai dari timah hingga banten. Salah satu koleksi Museum Bank Indonesia adalah Kasha yang dicetak pada zaman Sultan Maulana Muhammad.

              3. Uang Dinar (Kerajaan Gowa)
Uang Dinar Kerajaan Gowa (emas 0,6 gr)
            Di daerah Sulawesi Selatan pada zaman dahulu pernah menggunakan uang dinar yang diproduksi olek Kerajaan Gowa. Uang dinar ini pertama kali diproduksi pada masa Sultan Alaudin Awwalul Islam yang berupa uang dinar dengan berat 2,46 gram emas. Dinar Kerajaan Gowa yang paling banyak beredar adalah Dinar Sultan Hasan Al-Din yang bertuliskan huruf Arab “Khada Allah Malik Wa Sultan Amin" artinya Pejuang Allah Kerajaan Sultan Amin. Uang ini beredar dari Ternate, Tidore, Minahasa, Butung, Sumbawa, Gowa Talo, dan juga Papua. Uang Dinar Kerajaan Gowa yang terdapat di Museum Bank Indonesia memiliki berat 0,6 gram emas.

               4. Uang Derham (Kerajaan Aceh)
Uang Derham Kerajaan Aceh (emas)


           Setelah Kerajaan Aceh berhasil menaklukkan Kerajaan Samudera Pasai, Kerajaan Aceh juga membuat mata uangnya mengikuti jejak Kerajaan Samudera Pasai. Uang yang diproduksi Kerajaan Aceh merupakan uang derham yang dibentuk dari emas, perak, dan juga timah. Diameter uang derham Kerajaan Aceh adalah sekitar 12 – 44 mm. Pada permukaan uangini terdapat tulisan Arabnya. Uang yang dibentuk dari timah memiliki sebutan yaitu, “Keueh”. Uang ini memiliki nilai tukar dengan uang emas. 1 uang emas sama dengan 400 keueh. 
Uang Derham Kerajaan Aceh (perak)

Uang Aceh (timah)
               5. Piti Buntu dan Piti Tebok (Kerajaan Palembang)
Piti Buntu (timah)
             Kerajaan Palembang mencetak dua jenis mata uang yaitu, Piti Buntu dan Piti Tebok. Perbedaan kedua jenis mata uang ini sesuai dengan ada atau tidaknya lubang di tengah koin tersebut. Piti Tebok memiliki lubang di tengah koinnya. Kata tebok sendiri dalam dialek Palembang memilki arti “lubang”. Lalu Piti Buntu tidak memiliki lubang di tengah koinnya. Uang yang diproduksi oleh Kerajaan Palembang ini ada yang dibentuk dari timah dan juga tembaga merah. Biasanya, piti buntu yang terbuat dari timah ditempatkan pada kantong daun nipah yang bisa berisi hingga 250 keping.


                6. Uang Kerajaan Jambi
Uang Kerajaan Jambi
                Kerajaan Jambi turut mencetak uang yang berjenis piti dan terbuat dari timah. Salah satu koinnya ada yang berbentuk Oktagonal (segi 8) dengan tulisan “Sultan Anom Sri Ingalaga”. Selain itu terdapat juga uang yang bagian depannya terdapat tulisan “Cholafat al Mukmin” dan bagian belakangnya terdapat tulisan “Sannat 1256 (H)”

                 7. Uang Real Batu (Kerajaan Sumenep)
               Tidak seperti kerajaan lainnya, Kerajaan Sumenep memiliki mata uang namun bukan hasil produksi kerajaan itu sendiri melainkan uang tersebut berasal dari mata uang asing. Mata uang asing tersebut kemudian diberi cap bertulisan Arab yang bertulisan “Sumanap”. Uang Kerajaan Sumenep yang berasal dari uang Real Spanyol disebut juga real batu karena bentuknya yang tidak beraturan menyerupai batu. Uang Real Batu ini dibuat dari perak campuran. Dulunya uang ini banyak beredar di Mexico yang kemudian beredar juga di Filipina karena daerah jajahan Spanyol. Selain uang Real Spanyol, Kerajaan Sumenep juga pernah menggunakan uang gulden Belanda dan juga uang thaler Austria. 
Uang Real Batu (Kerajaan Sumenep)

Sekian penjelasan saya mengenai koleksi-koleksi uang pada zaman kerajaan yang terdapat di Museum Bank Indonesia. Koleksi-koleksi Museum Bank Indonesia memang sangat beragam dan juga sangat menarik untuk dilihat. Tempatnya yang nyaman dan tidak panas  pun membuat para pengunjung semakin betah untuk berlama-lama melihat koleksi-koleksi numismatik yang terdapat di Museum Bank Indonesia. Jika ingin melihat berbagai koleksi mata uang di atas, kalian dapat mengunjungi Museum Bank Indonesia yang terdapat di Jl. Pintu Besar Utara No. 3 Jakarta Barat. Aksesnya pun mudah dan untuk masuk ke dalam museum ini tidak dikenakan biaya apapun. 












No comments:

Post a Comment