Friday, 31 May 2013

Tugas 2 (Mulok) - Nur Azzahra M XI IPA 3


Museum Sejarah Jakarta

Museum Sejarah Jakarta


Pada hari Minggu, 26 Mei 2013 saya berkunjung ke Museum Sejarah Jakarta atau yang dikenal sebagai Museum Fatahillah. Museum Sejarah Jakarta terletak di kawasan Kota Tua, tepatnya di Jalan Taman Fathillah No. 2, Jakarta Barat. Luas areal seluruhnya 1.358,8 m2, dan bangunan yang berada diatasnya tersebut, dilindungi oleh Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta (Keputusan Mendikbud No.28/M/1988 dan keputusan Gubernur DKI Jakarta No.475 tahun 1993). Arsitektur bangunannya bergaya abad ke-17 bergaya neoklasik dengan tiga lantai dengan cat kuning tanah, kusen pintu dan jendela dari kayu jati berwarna hijau tua. Bagian atap utama memiliki penunjuk arah mata angin.

             Museum ini selalu ramai penuh pengunjung, baik pengunjung lokal atau domestik maupun pengunjung yang datang dari luar negara. Disana, saya menemukan seorang turis yang bersedia saya beri tahukan sejarah Museum Sejarah Jakarta. Turis tersebut adalah seorang wanita berumur 30 tahun yang berkewarganegaraan India. Antares namanya. Ia bilang, ia tertarik mengunjungi Indonesia daripada negara-negara lain karena Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya akan sejarah, karena itu ia mengunjungi Museum Sejarah Jakarta dengan adik perempuannya. Antares rupanya tertarik mendengarkan saya menjelaskan sejarah tentang sebuah musem sejarah.   



Anatres dan Saya

            Gedung yang sekarang merupakan Museum Sejarah Jakarta yang megah ini dahulu merupakan Staadguis kota Batavia, artinya ‘Balai Kota’. Awalnya pada tanggal 27 April 1626, Gubernur jenderal Pieter de Carpentier memutuskan untuk membangun gedung balai kota yang kemudian direnovasi pada tanggal 25 Januari 1707 pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Joan van Hoorn dan selesai di renovasi pada tanggal 10 Juli 1710 pada masa pemerintahan Gubernur jenderal Abraham van Riebeeck.. Pertama pada tahun 1620-an, digunakan sebagai balai kota sampai tahun 1627. Karena kegiatan VOC semakin meningkat, maka dibangun gedung baru ditempat yang sama. Gedung baru itu hanya bertahan sampai tahun 1707. Selanjutnya Gubernur Jenderal Joan Van Hoorn, pada tanggal 25 Januari 1707, mulai membangun gedung baru (gedung yang sekarang), diatas puing-puing gedung balai kota yang lama. Menurut catatan lain, Gedung Museum Sejarah Jakarta mulai dibangun pada tahun 1620 oleh Gubernur Jendral Jan Pieterszoon Coen sebagai gedung balai kota kedua pada tahun 1626 (balai kota pertama dibangun pada tahun 1620 di dekat Kalibesar Timur). Menurut catatan sejarah, gedung ini hanya bertingkat satu dan pembangunan tingkat kedua dilakukan kemudian. Tahun 1648 kondisi gedung sangat buruk. Tanah Jakarta yang sangat labil dan beratnya gedung menyebabkan bangunan ini turun dari permukaan tanah. Solusi mudah yang dilakukan oleh pemerintah Belanda adalah tidak mengubah fondasi yang sudah ada, tetapi menaikkan lantai sekitar 2 kaki (56 cm). Menurut suatu laporan 5 buah sel yang berada di bawah gedung dibangun pada tahun 1649. Tahun 1665 gedung utama diperlebar dengan menambah masing-masing satu ruangan di bagian Barat dan Timur. Setelah itu beberapa perbaikan dan perubahan di gedung stadhuis dan penjara-penjaranya terus dilakukan hingga menjadi bentuk yang kita lihat sekarang ini. Peletakan batu pertama oleh putri Gubernur Jenderal Joan Van Hoorn, yang bernama Petrolina Willemina Van Hoorn. Adapun perencanaannya oleh WJ. Van Der Veld, dan pembuatannya dipimpin oleh J. Kemmers. Bangunan kemudian diresmikan oleh gubernur Jenderal Abraham van Riebeck (1653-1713), putra Jan van Riebeck, pendiri Capetown, kota tertua di Republik Afrika Selatan. Dahulu lapangan didepannya merupakan halaman utama kota Batavia.

Balai Kota pada tahun 1820


            Gedung Balai kota bercorak sederhana, bergaya klassisistik tercampur dengan usur Barok. Rancangan bangunan dikerjakan oleh kepala tukan VOC, W.J van de Velde, dan dibangun dibawah pimpinan kepala tukang kayu J.F. Kemmer selama tiga tahun. Bangunan ini menyerupai Istana Dam di Amsterdam, terdiri atas bangunan utama dengan dua sayap di bagian timur dan barat serta bangunan sanding yang digunakan sebagai kantor, ruang pengadilan, dan ruang-ruang bawah tanah yang dipakai sebagai penjara.  

            Selain digunakan sebagai stadhuis, gedung ini juga digunakan sebagai ‘’Raad van Justitie'’ (dewan pengadilan). Pada tahun 1925-1942, gedung ini dimanfaatkan sebagai Kantor Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan pada tahun 1942-1945 dipakai untuk kantor pengumpulan logistik Dai Nippon. Tahun 1952 gedung ini menjadi markas Komando Militer Kota (KMK) I, lalu diubah kembali menjadi KODIM 0503 Jakarta Barat. Tahun 1968, gedung ini diserahkan kepada Pemda DKI Jakarta, lalu diresmikan menjadi Museum Sejarah Jakarta pada tanggal 30 Maret 1974.

            Seperti umumnya di Eropa, gedung balaikota dilengkapi dengan lapangan yang dinamakan ‘’stadhuisplein'’. Menurut sebuah lukisan uang dibuat oleh pegawai VOC ‘'’Johannes Rach”’ yang berasal dari ‘'’Denmark”’, di tengah lapangan tersebut terdapat sebuah air mancur yang merupakan satu-satunya sumber air bagi masyarakat setempat. Air itu berasal dari Pancoran Glodok yang dihubungkan dengan pipa menuju stadhuiplein. Pada tahun 1972, diadakan penggalian terhadap lapangan tersebut dan ditemukan pondasi air mancur lengkap dengan pipa-pipanya. Maka dengan bukti sejarah itu dapat dibangun kembali sesuai gambar Johannes Rach, lalu terciptalah air mancur di tengah Taman Fatahillah. Pada tahun 1973 Pemda DKI Jakarta memfungsikan kembali taman tersebut dengan memberi nama baru yaitu ‘'’Taman Fatahillah”’ untuk mengenang panglima Fatahillah pendiri kota Jakarta.

            Kantor terpenting dalam Balai Kota adalah Dewan Kotapraja (College van Scheepren) dan Dewan Pengadilan (Raad can Justitie). Tetapi banyak instansi lain berkantor di gedung ini seperti panitia kesejahteraan anak-anak yatim piatu, catatan sipil, dll.  Antara tahun 1622 dan 1640 satu ruangan hari minggu dipakai untuk mengadakan ibadah, sampai Gereja Belanda di sisi barat halaman kota selesai dibangun. Balai kota kedua beberapa waktu dipergunakan juga sebagai tempat pemakaman Jan Pieterszoon Coen (1587-1629), pendiri Batavia, sebelum jenazahnya dipindahkan ke gereja, di tempat yang sekarang menjadi Museum Wayang. Karena banyak rapat dan pembicaraan dilakukandi dalam gedung ini, maka terkenal dengan sebutan Gedung Bicara atau Bi-cha-lo.     
 

            Seperti yang saya sebut sebelumnya, selain sebagai balai kota, Gedung Museum Sejarah Jakarta juga berfungsi sebagai penjara, yakni penjara Dewan Keadilan dan penjara Dewan Kotapraja yang mempunyai penjaranya sendiri sendiri.

            Penjara di bawah wewenang Dewan Keadilan berada di bagian timur gedung Balai Kota (Sekarang Kantor Kota Tua) dan dipakai untuk tahanan VOC sedangkan Penjara di bawah wewenang Dewan Kotapraja adalah di bagian barat dekat jalan Pintu Besar dan dipakai untuk tahanan warga Kota Batavia yang bukan pegawai VOC. Halaman belakang dan beberapa gedung di sampingnya juga dipakai untuk penjara dan rumah penjaga.

            Selain ruang penjara tersebut ada juga ruang di bawah penjara Dewan Kotapraja ("doncker gat" atau lubang gelap), serta nama sebuah sel dibawah gedung belakang yang lebih dikenal dengan "Penjara Bawah Tanah" (Dua ruang di bawah wewenang Dewan Keadilan dan tiga di bawah wewenang Dewan Kotapraja ).      Tahanan bukanlah orang orang yang sudah diadili tetapi menunggu proses pengadilan (menunggu keputusan hakim ). Pada abad 17 dan 18 ada beberapa bentuk hukuman yaitu hukuman mati, hukuman siksa, hukuman dirantai dan kerja keras namun sejak abad 19 baru ada hukuman penjara.

            Yang tinggal lama di penjara hanya ada dua kelompok yaitu budak budak yang dikirim oleh majikan mereka karena pelanggaran yang seringkali bersifat sepele dan orang yang belum melunasi utangnya dan memilih tinggal di penjara saja. Dengan membayar sipir kondisi mereka di penjara tidak terlalu buruk.

            Jumlah tahanan yang meringkuk di dalam penjara sering melebihi tiga ratus orang. Karena kondisi kesehatan penjara ini sangat buruk banyak tahanan yang sudah meninggal sebelum perkara mereka diajukan ke meja pengadilan sebagian besar akibat menderita tifus kolera dan disentri.

            Penjara ini ditutup 1846 lalu dipindahkan ke sebelah timur Jalan Hayam Wuruk (sekarang pasar Lindeteves)
            Hukuman mati dilaksanakan di depan serambi yang bertiang tiang pada hari tertentu setiap bulan. Para hakim duduk mengenakan pakaian kebesaran mereka pada balkon di lantai dua untuk menyaksikan pelaksanaan hukuman mati. Sedangkan lonceng di menara gedung dibunyikan 3 kali selama proses pelaksanaan hukuman mati





            Pejuang yang pernah ditawan disini antara lain Untung Suropati seorang budak belian pedagang Pieter Cnoll, dia adalah satu dari sedikit sekali orang yang bisa meloloskan diri dari perkara ini (sekitar tahun 1670). Dia kemudian memberontak melawan Belanda dan terlibat dalam pembunuhan Captain Tack pada tahun 1686 di Kraton Kratosuro. Meninggal 1706

            Pada tahun 1830 Pangeran Diponegoro Pahlawan Perang Jawa tahun 1825-1830. Ditahan selama hampir satu bulan di tingkat dua dalam sayap gedung sebelah timur setelah dia ditangkap di Magelang secara khianat sebelum pengasingannnya ke Manado.

            Sel dibawah tanah menggunakan tralis yang sangat kuat. Bola bola yang kuat diikat pada kaki tawanan supaya mereka tidak bisa lari.

            Hukuman mati Tjoen Boen tahun 1896 di depan gedung Balai Kota merupakan eksekusi yang terakhir di tempat ini.

            Pada tahun 1919, dalam rangka 300 tahun berdirinya kota Batavia, warga kota Batavia khususnya Belanda mulai tertarik dengan sejarah kota Batavia. Pada tahun 1930 didirikanlah sebuah yayasan yang bernama Oud Batavia (Batavia Lama) yang bertujuan untuk mengumpulkan segala ihwal tentang sejarah kota Batavia. Pada tahun 1937, Yayasan Oud Batavia mengajukan rencana untuk mendirikan sebuah museum mengenai sejarah Batavia, yayasan tersebut kemudian membeli gudang perusahaan Geo Wehry & Co yang terletak di sebelah timur Kali Besar tepatnya di Jl. Pintu Besar Utara No. 27 (kini museum Wayang) dan membangunnya kembali sebagai Museum Oud Batavia. Museum Batavia Lama ini dibuka untuk umum pada tahun 1939.
            Museum Oud Batavia ini menonjolkan peninggalan-peninggalan Belanda yang bermukim di Batavia sejak awal abad XVI. Koleksi tersebut terdiri dari:
Mebel
Perabot rumah tangga
Senjata
Keramik
Peta
Buku-buku
Museum Oud Batavia ini adalah sebuah lembaga swasta yang berada dibawah naungan Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Ikatan Batavia untuk Seni dan Ilmu Pengetahuan) yang didirikan pada tahun 1778 yang berjasa juga dalam mendirikan Museum Nasional.

            Pada masa kemerdekaan museum ini berubah menjadi Museum Djakarta Lama di bawah naungan LKI (Lembaga Kebudayaan Indonesia) dan selanjutnya pada tahun 1968 ‘’Museum Djakarta Lama'’ diserahkan kepada PEMDA DKI Jakarta. Gubernur DKI Jakarta pada saat itu, Ali Sadikin, kemudian meresmikan gedung ini menjadi Museum Sejarah Jakarta pada tanggal 30 Maret 1974.



            Untuk meningkatkan kinerja dan penampilannya, Museum Sejarah Jakarta sejak tahun 1999 bertekad menjadikan museum ini bukan sekedar tempat untuk merawat, memamerkan benda yang berasal dari periode Batavia, tetapi juga harus bisa menjadi tempat bagi semua orang baik bangsa Indonesia maupun asing, anak-anak, orang dewasa bahkan bagi penyandang cacat untuk menambah pengetahuan dan pengalaman serta dapat dinikmati sebagai tempat rekreasi. Untuk itu Museum Sejarah Jakarta berusaha menyediakan informasi mengenai perjalanan panjang sejarah kota Jakarta, sejak masa prasejarah hingga masa kini dalam bentuk yang lebih rekreatif. Selain itu, melalui tata pamernya Museum Sejarah Jakarta berusaha menggambarkan “Jakarta Sebagai Pusat Pertemuan Budaya” dari berbagai kelompok suku baik dari dalam maupun dari luar Indonesia dan sejarah kota Jakarta seutuhnya. Museum Sejarah Jakarta juga selalu berusaha menyelenggarakan kegiatan yang rekreatif sehingga dapat merangasang pengunjung untuk tertarik kepada Jakarta dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya warisan budaya.

            Sekarang , objek-objek yang dapat ditemui di museum ini antara lain perjalanan sejarah Jakarta, replika peninggalan masa Tarumanegara dan Pajajaran, hasil penggalian arkeologi di Jakarta, mebel antik mulai dari abad ke-17 sampai 19, yang merupakan perpaduan dari gaya Eropa, Republik Rakyat Cina, dan Indonesia. Juga ada keramik, gerabah, dan batu prasasti. Koleksi-koleksi ini terdapat di berbagai ruang, seperti Ruang Prasejarah Jakarta, Ruang Tarumanegara, Ruang Jayakarta, Ruang Fatahillah, Ruang Sultan Agung, dan Ruang MH Thamrin.


            Terdapat juga berbagai koleksi tentang kebudayaan Betawi, numismatik, dan becak. Bahkan kini juga diletakkan patung Dewa Hermes (menurut mitologi Yunani, merupakan dewa keberuntungan dan perlindungan bagi kaum pedagang) yang tadinya terletak di perempatan Harmoni dan meriam Si Jagur yang dianggap mempunyai kekuatan magis. Selain itu, di Museum Fatahillah juga terdapat bekas penjara bawah tanah yang dulu sempat digunakan pada zaman penjajahan Belanda.

No comments:

Post a Comment