Thursday, 30 May 2013

Tugas 2 (Mulok) -Ozsadevi Sonia XI IPA 3


Seperti kita ketahui bersama, saat ini para generasi muda penerus bangsa lebih senang untuk menghabiskan waktunya di mall dibandingkan dengan mengunjungi tempat-tempat wisata yang bersejarah. Padahal, dengan melakukan kunjungan ke tempat bersejarah tersebut kita dapat menambah wawasan serta mengetahui perjuangan yang pernah dijalankan oleh bangsa kita di masa lampau. Maka dari itu, atas dasar ini saya pun memutuskan untuk mengunjungi Monumen Nasional pada hari Sabtu tanggal 26 Mei 2013, sebagai salah satu tempat bersejarah yang ada di Jakarta sekaligus untuk menyelesaikan tugas Muatan Lokal.
Monumen Nasional atau kita kenal dengan sebutan Tugu Monas merupakan salah satu objek wisata sejarah yang paling terkenal di Jakarta. Monas terletak di Lapangan Medan Merdeka, Jakarta Pusat dengan luas 80 hektar. Tugu setinggi 132 meter ini dimahkotai lidah api yang dilapisi lembaran emas yang melambangkan semangat perjuangan yang menyala-nyala sesuai dengan tujuan pendirian Tugu Monas yaitu mengenang perlawanan dan perjuangan rakyat Indonesia untuk merebut kemerdekaan dari pemerintahan kolonial Hindia Belanda.  Lidah api yang terletak di puncak Tugu Monas tersebut terbuat dari perunggu dengan berat 14,5 ton dan dilapisi dengan emas seberat 50 kg. Diameter dari lidah api tersebut adalah 6 m  dan terdiri dari 77 bagian yang disatukan. Awalnya, emas yang dilapisi pada lidah api hanya seberat 30 kg. Tetapi, untuk menyambut setengah abad (50 tahun) kemerdekaan Indonesia, maka lapisan emas yang terdapat pada lidah api tersebut ditambah hingga 50 kg.
Tugu Monas mulai dibangun pada tahun 1961, setelah diresmikan pembangunannya oleh Presiden Soekarno. Pendirian Tugu Monas dirancang oleh arsitek Indonesia yaitu Friedrich Silaban dan juga R. M. Soedarsono serta PT Adhi Karya sebagai kontraktor utama dimana PT Adhi Karya membantu dalam penyediaan tiang fondasi.
Pembangunan dari Tugu Monas sendiri terdiri dari tiga tahapan. Tahapan pertama berlangsung pada kurun waktu 1961/1962 hingga 1964/1965 diawali dengan Soekarno yang secara seremonial menancapkan pasak beton yang pertama untuk menandakan dimulainya pembangunan dari Monumen Nasional. Penancapan pasak beton tersebut berlangsung pada tanggal 17 Agustus 1961. Terdapat 284 pasak beton yang digunakan sebagai fondasi bangunan dan sebanyak 360 pasak bumi ditanamkan untuk digunakan sebagai fondasi museum sejarah nasional. Keseluruhan pemasangan fondasi sudah siap pada bulan Maret 1962. Untuk pembangunan dinding museum di dasar bangunan telahselesai pada bulan Oktober dan untuk pembangunan obelisik akhirnya siap pada bulan Agustus 1963.
Pembangunan tahap kedua berlangsung pada kurun waktu 1966 hingga 1968. Karena pada masa tersebut berlangsung Gerakan 30 September 1965 (G-30-S/PKI) dan adanya upaya kudeta, maka pada tahap ini pembangunan dari Tugu Monas sempat tertunda. Untuk tahap akhir, berlangsung pada kurun waktu 1969 hingga 1976 dengan melakukan penambahan diorama pada museum sejarah. Meskipun pembangunan telah selesai dilaksanakan, tapi masih ada beberapa masalah yang terjadi seperti kebocoran air yang menggenangi museum.
Akhirnya, Tugu Monas diresmikan pada tanggal 12 Juli 1975 oleh Presiden Republik Indonesia Soeharto dan pada hari itulah, Tugu Monas dibuka untuk umum. Lokasi pembangunan monumen ini dikenal dengan nama Medan Merdeka. Lapangan Monas telah mengalami lima kali pergantian nama yaitu Lapangan Gambir, Lapangan Ikada, Lapangan Merdeka, Lapangan Monas, serta Taman Monas.
Jika diperhatikan, pada halaman luar dari Tugu Monas mengelilingi monumen, pada setiap sudutnya terdapat relief timbul yang menggambarkan tentang sejarah Indonesia. Relief ini berawal di sudut timur laut dengan mengabadikan kejayaan Nusantara pada masa lampau; menampilkan sejarah Singhasari dan Majapahit. Relief ini berlanjut secara kronologis searah jarum jam menuju sudut tenggara, barat daya, dan barat laut. Secara kronologis menggambarkan masa penjajahan Belanda, perlawanan rakyat Indonesia dan pahlawan-pahlawan nasional Indonesia, terbentuknya organisasi modern yang memperjuangkan Indonesia Merdeka pada awal abad ke-20, Sumpah Pemuda, Pendudukan Jepang dan Perang Dunia II, proklamasi kemerdekaan Indonesia disusul Revolusi dan Perang kemerdekaan Republik Indonesia, hingga akhirnya mencapai masa pembangunan Indonesia modern. Relief dan patung-patung yang terdapat di sekitar Tugu Monas ini terbuat dari semen dengan kerangka pipa atau logam. Namun seiring berjalannya waktu, saat ini beberapa patung dan arca mulai mengalami kerusakan akibat hujan dan cuaca tropis.
Tugu Monas terdiri dari berbagai ruangan yang memiliki fungsi yang berbeda-beda. Ruangan yang terdapat di Monas di antaranya adalah museum sejarah nasional Indonesia yang terdapat di bagian dasar Tugu Monas. Ruang Museum sejarah perjuangan nasional ini memiliki ukurang yang cukup luas yaitu 80 x 80 meter. Karena begitu luasnya ruangan ini, maka sekitar 500 orang pengunjung dapat ditampung di dalam ruangan ini secara bersamaan. Di bagian dalam cawan Tugu Monas terdapat Ruang Kemerdekaan yang berbentuk amphitheater. Di bagian atas Tugu Monas, terdapat pelataran puncak dan api kemerdekaan.
Tetapi dari banyaknya ruangan yang terdapat di Monas, saya secara khusus melakukan kunjungan ke Ruang Kemerdekaan yang terletak di dalam cawan Tugu Monas dan juga Pelataran Puncak Tugu Monas. Tidak dibutuhkan banyak biaya untuk dapat menikmati wisata sejarah di Tugu Monas. Cukup membayar Rp 2000 untuk masuk ke dalam Tugu Monas dan Rp 2000 lagi untuk dapat naik dan menikmati pemandangan di pelataran puncak.
Untuk mencapai Ruang Kemerdekaan, pengunjung dapat masuk melalui sebuah tangga berputar dari pintu sisi utara dan juga selatan. Ruangan ini dibuat untuk mengenang perjuangan bangsa Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan melawan penjajah. Ruangan ini menjadi simbol kenegaraan dan kemerdekaan Indonesia sehingga di dalam ruangan ini, kita dapat menemukan berbagai benda bersejarah yang berkaitan dengan perjuangan bangsa Indonesia dalam meraih kemerdekaan.
Benda-benda bersejarah yang dapat kita temukan di Tugu Monas diantaranya adalah naskah asli Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang diketik oleh Sayuti Melik. Naskah tersebut tersimpan rapi didalam kotak kaca yang terdapat di dalam gerbang berlapis emas. Pintu yang menyimpan naskah asli Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ini terletak pada dinding sisi barat tepat di tengah ruangan dan berlapis marmer hitam. Gerbang Kemerdekaan merupakan nama dari pintu gerbang berlapiskan emas ini. Gerbang Kemerdekaan akan membuka secara mekanis akan membuka sambil memperdengarkan lagu "Padamu Negeri". Kemudian, akan diikuti dengan rekaman suara Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno yang sedang membacakan naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.Pintu gerbang mekanis ini terbuat dari perunggu yang memiliki berat 4 ton yang dilapisi pula dengan emas. Pintu gerbang ini juga dihiasi dengan ukiran bunga Wijaya Kusuma yang merupakan lambang dari keabadian dan juga bunga Teratai yang merupakan lambang dari kesucian.
Selain itu, pada bagian Selatan ruang kemerdekaan terdapat pula lambang negara Indonesia yaitu Burung Garuda dalam bentuk patung. Lambang negara Indonesia yang ditampilkan di ruang kemerdekaan ini terbuat dari perunggu dengan berat 3,5 ton dengan berlapiskan emas.  
Pada bagian timur terdapat tulisan naskah proklamasi yang dituliskan oleh perunggu. Seharusnya pada bagian timur ini, terdapat pula bendera dari Negara Republik Indonesia yang paling suci dan dimuliakan yaitu Sang Saka Merah Putih. Bendera yang ditampilkan tersebut merupakan bendera asli yang dikibarkan pada Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Akan tetapi karena kondisinya sudah semakin tua dan rapuh, bendera suci ini tidak lagi ditampilkan di dalam Ruang Kemerdekaan Tugu Monas
Sedangkan, pada bagian utara dari ruang kemerdekaan terdapat dinding yang terbuat dari marmer hitam. Pada dinding ini, ditampilkan peta kepulauan Negara Republik Indonesia yang dilapisi dengan emas. Pembuatan peta Indonesia pada dinding dari ruang kemerdekaan ini melambangkan lokasi Negara Kesatuan Republik Indonesia yang begitu luas dan indah. Selain peta kepulauan Negara Republik Indonesia, pada dinding ruang kemerdekaan terdapat pula tulisan yang berisikan naskah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia yang dibacakan oleh Soekarno.
 Isi dari naskah Proklamasi Kemerdekaan tersebut adalah :
P R O K L A M A S I
Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan
dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.

Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05
Atas nama bangsa Indonesia.
Soekarno/Hatta.
  
Untuk mencapai pelataran puncak, pengunjung dapat menggunakan sebuah lift yang terdapat pada pintu masuk di bagian selatan Tugu Monas. Pintu masuk tersebut terletak di seputar plaza taman Medan Merdeka atau di bagian utara dari Taman Monas. Di sekitar badan lift, terdapat pula tangga darurat yang terbuat dari besi. Pelataran puncak  memiliki ukuran 11 x 11 meter dengan ketinggian 115 meter dari permukaan tanah. Dengan ukuran yang sedemikian rupa, maka dalam satu kali kunjungan, pelataran puncak dapat menampung 50 pengunjung.
Melalui pelataran puncak inilah, pengunjung dapat menikmati pemandangan kota Jakarta yang begitu indah. Jika kita melihat ke arah selatan maka kita dapat melihat Gunung Salak dari kejauhan di wilayah kabupaten Bogor, Jawa Barat. Jika kita melihat ke arah utara maka kita dapat menemukan laut lepas yang membentang dengan pulau-pulau kecil berserakan di sekitarnya. Bila kita melihat ke arah barat maka kita dapat menyaksikan pesawat-pesawat yang akan berangkat atau baru saja tiba di Bandara Soekarno Hatta.
Puncak dari Tugu Monas berupa "Api Nan Tak Kunjung Padam" yang memiliki makna agar perjuangan bangsa Indonesia tidak akan pernah surut sepanjang masa.

Tugu Monas melakukan pelestarian terhadap konsep angka keramat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yaitu 17 Agustus 1945 (17-08-1945). Pelestarian tersebut diterapkan dalam jarak serta ukuran dari lidah api. Untuk angka 17, diperoleh dari jarak pelataran puncak menuju ke lidah api yaitu dengan jarak 17 meter. Untuk angka 8, diperoleh dari rentang tinggi yang didapatkan antara ruang museum sejarah ke dasar cawan yaitu sebesar 8 meter. Sedangkan untuk angka 45, diperoleh melalui luas dari pelataran puncak dengan bentuk bujur sangkar dengan luas sebesar 45 x 45 meter.

No comments:

Post a Comment