Friday, 31 May 2013

Tugas 2 (Mulok) - Putri Naura Assyifa

“If you don't know history, then you don't know anything. You are a leaf that doesn't know it is part of a tree. ”
― Michael Crichton
Penampang depan Gedung Joang

Dalam postingan ini, saya akan menceritakan dan menjelaskan sedikit tentang kunjungan saya bersama 4 teman sekelas saya yang lainnya ke Museum Juang ’45 yang berada di Menteng. Kunjungan ini kami lakukan dalam rangka menyelesaikan tugas Sejarah sekaligus menunaikan kewajiban kami sebagai pemuda-pemudi Indonesia yang mesti mengenal sejarah perjuangan bangsanya.

Pada hari Selasa yang cerah itu sebenarnya kami belum mempunyai tujuan yang pasti ingin ke mana, namun, kami memutuskan untuk menuju daerah Jakarta Pusat yang terkenal masih banyak bangunan cagar budayanya. Alhamdulillah perjalanan hari itu tidak dihiasi dengan kemacetan jalan-jalan protokol Jakarta yang sepertinya juga telah melegenda dan menjadi sejarah tersendiri di Ibukota. Selama perjalanan saya juga senang melihat pemandangan jalan-jalan di Menteng yang masih kerap meninggalkan kesan sejarah, selain itu juga karena domisili dan ruang lingkup keseharian saya masih berkutat di sekitar Jakarta Selatan, saya jarang mengunjungi daerah ini.

Dalam perjalanan, kami melintasi Museum Juang 45 dan sepakat untuk memasuki museum tersebut. Setelah membeli tiket museum seharga dua ribu rupiah, kami langsung masuk ke dalamnya setelah sebelumnya mengambil brosur yang berisi informasi tentang bangunan ini dan langsung disambut oleh udara sejuk dari pendingin ruangan serta kutipan tulisan Pembukaan UUD 1945.

“Karena kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa. Dan oleh sebab itu, maka, penjajahan di atas dunia harus dihapuskan…………..”

Kesan pertama yang saya dapatkan 5 menit pertama setelah masuk dan melihat beberapa benda benda yang dipamerkan adalah, ‘wow, ternyata museum ini sangat modern. Ada TV LCD di setiap sudut yang menampilkan film dokumenter sejarah, dan interior ruangan juga sangat modern walaupun tidak kehilangan unsur vintage. Ditambah lagi suasana dalam museum yang dingin membuat tempat ini sangat nyaman . Namun mengapa banyak orang yang jarang tertarik ke sini ya?’ diam-diam saya malu terhadap tabiat saya sendiri karena sudah sepuluh tahun lebih tinggal di Jakarta namun masih jarang mengeksplor sisi lainnya selain mall-mall yang bertebaran. Dalam hati saya membuat janji kepada diri saya sendiri untuk mengunjungi tempat-tempat serupa ini lebih sering.

Kembali ke topik, sekarang mari saya berikan sedikit informasi tentang museum ini. Museum Juang 45 atau yang lebih dikenal dengan Gedung Juang berlokasi di kawasan Menteng, dulunya lebih dikenal dengan Menteng 31, karena letaknya yang berada di jalan Menteng No.31, Jakarta Pusat.

Gedung ini bersejarah bagi bangsa Indonesia mulai dari persiapan kemerdekaan hingga mempertahankan kemerdekaan. Gedung ini diresmikan pada tahun 1974 oleh Presiden Soeharto, setelah dilakukan direnovasi. Bangunan Gedung ini bergaya arsitektur Eropa dengan pilar-pilar besar di bagian depan  dilapisi cat putih. Di kawasan Gedung Juang 45 ini sendiri terbagi menjadi beberapa bangunan. Bangunan utama yang merupakan museum, lalu ada bangunan di kiri dan kanan bangunan utama yang digunakan sebagai kantor pengelola Museum, ruang Sinema Juang dan ruang perpustakaan untuk anak-anak. Dibagian belakang dari bangunan museum ada ruang pamer mobil dinas pertama kepresidenan RI dan wakilnya. Ada juga bangunan tambahan yang  dibangun pada masa Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin, diperuntukkan untuk kantor Dewan harian Angkatan 45 dan Kantor Dewan harian Angkatan 45 cabang DKI Jakarta, Kantor Wirawati Catur Panca Nasional dan DKI Jakarta.

Bangunan yang dibangun sekitar tahun 1920-an ini dulunya milik keluarga pengusaha Belanda yang bernama LC Schomper yang  menetap lama di Batavia. Oleh Schomper bangunan ini didirikan untuk dijadikan Hotel, dengan nama Hotel Schomper 1. Hotel tersebut saat itu termasuk yang cukup baik dan terkenal di kawasan pinggiran Selatan Batavia, dengan bangunan utama yang berdiri megah di tengah dan diapit deretan bangunan kamar-kamar penginapan disisi kiri dan kanannya untuk menginap para tamu.

Bangunan kamar penginapan yang tersisa saat ini tinggal beberapa yang ada di sisi utara gedung utama, saat ini dipergunakan sebagai ruang perpustakaan dan kantor pengelola Museum Juang 45.

Pada masa Pendudukan Jepang di Indonesia (1942-1945) dan menguasai Batavia, hotel tersebut diambil alih oleh pemuda Indonesia dan beralih fungsi sebagai kantor yang dikelola Ganseikanbu Sendenbu (Jawatan Propaganda Jepang) yang dikepalai seorang Jepang, “Simizu”.

Di kantor inilah kemudian diadakan program pendidikan politik yang dimulai pada 1942 untuk mendidik pemuda-pemuda Indonesia dan dibiayai sepenuhnya pemerintah Jepang. Yang menjadi pembicara diantaranya adalah Soekarno, Hatta, Moh. Yamin, Sunaryo, dan Achmad Subarjo. Dan yang memperoleh pendidikan politik diantaranya adalah Sukarni, Adam Malik, Chaerul Saleh, A.M. Hanafi dan beberapa lagi lainnya yang kemudian dikenal sebagai Pemoeda Menteng 31. Inilah kelompok yang ‘menculik’ Soekarno, Hatta, serta Fatmawati dan Guntur ke Rengasdengklok sehari sebelum proklamasi kemerdekaan. Dan sejak itu namanya kemudian diganti dengan nama Gedung Menteng 31.

Setelah kemerdekaan, gedung ini pernah digunakan untuk kantor Kementerian Pengerah Tenaga Rakyat, dan Kantor Dewan Harian Nasional 45.

Museum ini giat mengadakan kegiatan-kegiatan yang bisa menarik pengunjung, baik rutin maupun tahunan. Adapun aktivitas maupun acara  yang diadakan antara lain Diskusi dan Pekan Museum Joang yang terbuka untuk umum (Lomba Pidato, Lomba Puisi, Lomba Melukis, Lomba Mewarnai, Lomba Sejarah dan Budaya), cerdas cermat Sejarah antarpelajar, dan lain-lain. Acara-acara seperti ini biasa diselenggarakan bertepatan dengan perayaan hari besar Nasional, seperti Hari Pahlawan, Hari Kebangkitan Nasional, dan Hari Kemerdekaan Indonesia.
Lomba mirip tokoh sejarah.
Fasilitas yang tersedia bagi pengunjung Museum Juang '45 adalah ruang pameran tetap dan temporer dengan pojok multi media, bioskop Juang 45, studio penayangan film-film dokumenter dan film perjuangan lama, perpustakaan referensi sejarah ilmiah yang dilengkapi komik-komik perjuangan untuk bacaan anak, children room, ruang khusus untuk kreativitas anak dilengkapi game komputer pahlawan, mewarnai, puzzle, dan studio foto yang menyediakan kostum para pejuang untuk dikenakan pengunjung serta souvenir shop.

Koleksi Museum

Museum ini mempunyai koleksi atribut ataupun benda bersejarah dari masa perjuangan atau persiapan kemerdekaan hingga masa mempertahankan kemerdekaan, yakni antara tahun 1942 hingga 1950-an.  Terdapat foto-foto perjuangan kemerdekaan, berbagai info tentang proklamasi, peristiwa rapat akbar di lapangan IKADA, dan beberapa peristiwa pemberontakan terhadap penjajah lainnya, seperti Bandung Lautan Api dan Pertempuran 10 November di Surabaya.

Pengunjung juga dapat melihat beragam koleksi lukisan yang terkait dengan semangat perjuangan bangsa Indonesia, di antaranya lukisan pada masa revolusi fisik, lukisan tentang tokoh-tokoh nasional yang mendapat pendidikan politik Jepang, dan lukisan perjuangan Panglima Besar Jenderal Soedirman.  Sayang, lukisan yang dipamerkan kebanyakan dalam bentuk replika. Selain itu, ada juga beberapa tokoh perjuangan ditampilkan dalam bentuk patung perunggu atau tembaga.

Koleksi lain yang bernilai sejarah tinggi di museum ini adalah tiga buah mobil milik presiden dan wakil presiden RI pertama yang digunakan selama menjalankan tugas kenegaraan pada masa awal kemerdekaan. Dua mobil dinas ini memunyai nomor mobil REP 1 (dipakai oleh Ir. Soekarno) dan REP 2 (dipakai oleh Mohammad Hatta). Mobil satu lagi adalah mobil "korban" pengeboman terhadap Presiden oleh Jepang yang terjadi di Cikini. Peristiwa tersebut sampai sekarang dikenal sebagai “Peristiwa Cikini”.

Selain itu, ada beragam patung pahlawan pergerakan Indonesia, panji-panji perjuangan, pakaian Barisan Keamanan Rakyat (BKR) dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR), serta pakaian para pahlawan pejuang 45.
poster propaganda
poster propaganda (1)

Koleksi-koleksi yang menarik perhatian saya antara lain poster-poster propaganda Jepang dengan ejaan lama yang khas. Selain itu menurut saya tandu yang dipakai untuk mengangkut Jenderal Soedirman juga unik. Adapun di video yang saya tampilkan, saya memilih  “runcing bambu” sebagai objek penjelasan karena setelah saya melirik penjelasan singkat tentang objek tersebut saya langsung tertarik. Dahulu saya kira runcing bambu tak lain seperti pisau, hanya dipakai sebagai senjata tajam untuk melukai musuh, namun ternyata banyak taktik cerdik yang digunakan para pejuang Indonesia dalam memanfaatkan sumber daya alam yang melimpah.
Kontak  Museum
Email : Moseumjoangjakarta@yahoo.com
Facebook : Moseumjoangjakarta
Twitter : @Moseumjoang45
Website : www. Moseumjoang45jakarta.or.id


No comments:

Post a Comment