Friday, 31 May 2013

Tugas-2 (Mulok) - Rheza Daniswara XI IPA 3

Sumur Maut Lubang Buaya


Pada kesempatan kali ini saya akan menceritakan tentang apa yang saya lakukan saat kunjungan saya ke museum lubang buaya atau biasa disebut monumen pancasila sakti di daerah Lubang Buaya, Cipayung, Jakarta Timur, dekat dengan Bandar Udara Halim Perdanakusuma.

Monumen ini dibangun di atas lahan seluas 9 Hektar, atas prakarsa Presiden ke-2 RI, Soeharto. Dibangun untuk mengingat perjuangan para Pahlawan Revolusi yang berjuang mempertahankan ideologi negara Republik Indonesia, Pancasila dari ancaman ideologi komunis.

Sebelum menjadi sebuah museum sejarah, tempat ini merupakan tanah atau kebun kosong yang dijadikan sebagai pusat pelatihan milik Partai Komunis Indonesia. Kemudian, tempat itu dijadikan sebagai tempat penyiksaan dan pembuangan terakhir para korban Gerakan 30 September 1965 (G30S/PKI).
Di kawasan kebun kosong itu terdapat sebuah lubang sumur tua sedalam 12 meter yang digunakan untuk membuang jenazah para korban G30S/PKI. Sumur tua itu berdiameter 75 cm.

Pertama kali sampai di Monumen, saya melihat tangan Ahmad Yani tampak menunjuk ke sesuatu, saya masih penasaran kenapa dia digambarka seperti sedang menunjuk. Di bawah monumen ada relief-relief yang menceritakan kekejaman PKI mulai dari zaman Muso menguasai Madiun sampai zamannya Mbah Harto yang “menumpas PKI”.

Dari Monumen itu, saya langsung pergi ke arah rumah-rumah. Rumah-rumah itu merupakan tempat kegiatan para sukarelawan PKI. Ada ruang komando, dapur, sampe teras penyiksaan Jendral-Jendral. Di situ diperlihatkan muka-muka Jendral yang sudah berdarah-darah, meskipun hanya replika tapi ini hanya satu-satunya di Indonesia bahkan di dunia. Museum Pembantaian Kamboja saja tidak ada replika patung seperti itu.
Setelah itu saya pergi ke truk merek Dodge yang dipakai untuk menculik Jendral-Jendral. Truk ini dibawah kendali pasukan Dul Arief, komandan penculikan Jendral-Jendral itu. Truk ini dirampas PKI dari kantor PN Artha Yasa (sekarang kantor Peruri), biasanya truk ini dipakai untuk mengangkut koin-koin uang.


Lalu saya menuju tempat yang harus dikunjungi di kawasan museum ini. The Deadly Crocodile Pit. Katanya darah yang ada disumur itu asli dan berbau, tapi sekarang sudah tidak, dan saya merasa kalo darahnya itu hanya cat. Katanya juga, disitu ada jin yang nungguin.

Setelah itu saya menuju museumnya. Tapi sebelum ke museum, ada 2 mobil yang saya hampiri dulu. Pertama ada Mobil Letjen Yani. Merek mobilnya pun jarang terdengar, Oldsmobile. Bukan Mercy, bukan Ford. Disamping mobil Lejten Yani, ada mobil Pangkostrad juga, mobilnya Jend Harto. Merek mobilnya standar, toyota.


Saya masuk ke museumnya, di lobbynya, saya melihat museum ini ada kesamaan dengan museum Satria Mandala. Karena memang museum-museum seperti Satria Mandala dan Museum yang bernama Museum Pengkhiatanan PKI ini dibawah kendali oprasional Pusjarah TNI. Di dalamnya ada diorama-diorama tentang betapa mengerikannya peristiwa-peristiwa yang menyangkut dengan PKI.

Di bagian diorama ini saya jadi tahu banyak hal, ternyata Komunis itu mulai bekerja beberapa bulan setelah Indonesia merdeka di Jogja, nama peristiwanya Peristiwa Tiga Daerah. Diorama selanjutnya menyeritakan tentang Gerombolan Ubel-Ubel di Tangerang. Namanya Ubel-Ubel karena anggota gerombolannya memakai baju hitam. Dan ternyata yang menyulik Otto Iskandar Dinata itu Gerombolan Ubel-Ubel.

Saya terus jalan dan sampai di bagian ruang yang namanya Relik dan Bekas Darah. Terus berjalan dan akhirnya saya menemukan sesuatu yang menarik di awal-awal. Ada sebuah koran tahun 1960-an yang menulis headline “PKI : Kalau tidak mau dibunuh, ditjungkil sadja matanja”. Korannya pun menulis tentang prosedur penyiksaan dengan cungkil mata sampai alatnya pun difoto.


Akhirnya saya sampai di ruangan Bekas Darah, tepatnya ruangan Relik. Di sini terdapat baju-baju asli yang para Jendral-Jendral itu pakai sewaktu diculik dan disiksa. Termasuk juga koleksi-koleksi barang para Jendral, mulai seragam sampai tongkat golfnya. Saya melihat koleksinya Mas Pierre Tendean. Ada raket tennis Wilsonnya masih asli pula, kameranya ada juga, lalu ada surat saat Pierre Tendean mau ada rekrutmen. Seperti ini cuplikan suratnya :

"Papi dan mami jang tertjinta
Datang di Tjimahi dengan baik. Perdjalanan dengan baik.
Tidak boleh keluar asrama dan makanan djelek. Mungkin tinggal
+/- 20 hari. Saja minta surat ini supaja djangan dibalas."

Singkat dan jelas. Lalu saya keluar dan selesai lah perjalanan saya. Tetapi saya di sini bukan hanya jalan-jalan, tetapi juga harus menceritakan sebuah benda atau apapun yang bersejarah di museum itu kepada pengunjung lain. Dari sejumlah benda dan lokasi bersejarah di kawasan kompleks museum Pancasila Sakti, saya memilih yang paling anyar, yaitu the Deadly Crocodile Pit, atau biasa disebut Lubang Buaya.

Lubang Buaya merupakan perumpamaan atau nama lain untuk sumur yang digunakan oleh para Komunis untuk membuang mayat para pahlawan revolusi, perwira tinggi maupun jendral TNI pada saat peristiwa Gerakan 30 September PKI. Total pahlawan yang gugur mungkin ada banyak, namun yang kita tahu yang dibuang ke dalam sumur maut tersebut ada tujuh orang. Ketujuh pahlawan tersebut antara lain, Jendral Ahmad Yani, Letnan Jendral Suprapto, Letnan Jendral Haryono, Letnan Jendral Siswondo Parman, Mayor Jendral Pandjaitan, Mayor Jendral Sutoyo Siswomiharjo, dan Kapten Pierre Tendean. Untuk menghormati para pahlawan revolusi tersebut  Presiden kala itu, Presiden Soeharto, membangun monumen di daerah lubang buaya yang berupa patung-patung dari para pahlawan revolusi. Monumen itu sekarang berdiri tegak seperti semangat para pahlawan revolusi.

Dinamakan sumur maut dikarenakan, sumur tersebut menjadi tempat pembuangan mayat tetapi warga sekitar lebih menyebutnya sebagai Lubang Buaya, karena terdapat di kawasan lubang buaya dan menyerupai lubang dan menyeramkan seperti buaya. Karena itu warga negara asing yang datang berkunjung ke museum ini menyebutnya sebagai the Deadly Crocodile Pit, yang berarti Sumur/Lubang Buaya Maut.

Sumur itu asli dan masih ada dan dimuseumkan supaya berguna untuk pendidikan, terutama pelajaran sejarah. Walaupun sudah merdeka bukan berarti sudah damai, nyatanya masih saja ada peristiwa-peristiwa seperti itu. Memang Indonesia sudah bukan melawan penjajah, tetapi melawan Komunis dan juga pemberontak. Selain manisnya rasa kemerdekaan, ada juga rasa pahitnya peristiwa G 30 S PKI.

Penggambaran di sumur maut tersebut dibuat nampak seperti asli, dengan efek darah pada dinding sumur dan ada suara-suara rekaman bagaimana menyeramkannya peristiwa itu pada zaman dulu. Walaupun saya tahu itu semua hanya replika, tetapi terasa bagi saya seperti ada pada saat peristiwa itu.

Saya kurang begitu mengerti tentang keaslian cerita peristiwa Gerakan 30 September oleh PKI. Apakah benar begitu, atau ada versi yang lain. Yang jelas siapapun yang memperlakukan para korban G 30 S, baik pelaku maupun dalangnya, seharusnya mendapatkan hukum yang setimpal. Dan seharusnya peristiwa se’genting’ itu sudah terbongkar dan diselesaikan masalahnya. Tetapi malah di rahasiakan dan dibiarkan menjadi misteri, yang membuat generasi pelajar bingung tentang apa yang sebenanrnya terjadi.


Sekian penjelasan dari saya. Kurangnya saya mohon maaf.

No comments:

Post a Comment