Thursday, 23 May 2013

Tugas-2 (Mulok) Ridha Aulia Rahmi XI IPA 4



Museum Nasional adalah museum yang berada di bilangan Jakarta Pusat tepatnya di Jalan Merdeka Barat 12. Museum ini lebih dikenal dengan sebutan Museum Gajah dikarenakan adanya patung gajah terbuat dari perunggu yang terpampang di halaman museum. Patung gajah itu merupakan hadiah dari Raja Thailand yaitu Raja Chulangkorn pada tahun 1871.
Museum ini merupakan salah satu objek pariwisata yang terletak di kawasan Jakarta Pusat yang mengoleksi benda-benda kuno bersejarah yang tersebar di Indonesia. Mulai dari arca kuno, prasasti, benda kerajinan dan lain sebagainya. Kurang lebih koleksinya sudah mencapai lebih dari ratusan ribu buah.
Museum ini tidak pernah sepi pengunjung,setidaknya dalam sebulan ada beberapa sekolah atau rombongan yang mengadakan karya wisata dan menjadikan gedung yang berada di Jalan Merdeka Barat 12 ini sebagai tempat tujuan. Wisatawan mancanegara juga tidak mau kalah dengan wisatawan lokal lho.
Dari sekian banyak koleksi di museum ini saya tertarik dengan sebuah prasasti yaitu Padrão. Padrão berasal dari bahasa Portugis yang berarti batu prasasti berupa tiang berukuran besar yang menggambarkan lambing Kerajaan Portugal. Batu ini didirikan oleh para penjelajah berkebangsaan Portugis sebagai tanda bagian wilayah Portugal pada masa penjelajahan. Para pemimpin ekspedisi penjelajahan yang berasal dari Portugis antara lain; Bartolomeu Diaz, Vasco da Gama, Enrique Leme dan Diogo Cão.
Museum Nasional memiliki dua buah Padrão, yakni yang ditemukan di Maluku dan yang ditemukan di Jakarta. Nah, batu prasasti berupa tiang berukuran besar yang berhasil memikat hati saya adalah Padrão Lonthoir. Peninggalan bersejarah ini terbuat dari batu andesit yang ditemukan di daerah Maluku. Tertera di dalam tulisan-tulisan yang sudah dihapus namun masih dapat terbaca samar-samar bahwa ini merupakan peninggalan bangsa Portugis.
Pada tahun 1705, Jan Van de Broke mendirikan semacam taman hiburan di Pulau Lonthoir (sekitar Kepulauan Maluku) dan ditunjuk oleh pemerintah Belanda untuk mengepalai taman itu. Kemudian batu ini dijadikan sebagai bekti pendirian dan peresmian taman tersebut.
Memang prasasti yang satu ini tidak memiliki banyak penjelasan seperti Padrão Sunda Kelapa berhubung tulisan peninggalan bangsa Portugis di Maluku ini sudah terhapus, sehingga hanya sedikit informasi yang didapatkan oleh para arkeolog. Tapi seru sekali bukan membayangkan pada masa itu sudah berdiri taman hiburan di sebuah pulau di daerah Maluku.
Pulau Lonthoir merupakan pulau yang kaya rempah-rempah, tidak heran para penjajah mampir ke Indonesia untuk mengambil sumber daya alam melimpah yang kita miliki. Orang Indonesia sendiri mungkin tidak mengetahui keberadaan pulau itu. Menurut hasil penjelajahan saya di dunia maya, ternyata tidak sedikit orang yang merekomendasikan untuk berlibur di pulau yang kaya akan pala ini.
Memetik pala merupakan salah satu agenda utama apabila kita berkunjung ke Pulau Lonthoir. Selain itu banyak penyelam yang menjadikan pulau ini sebagai tempat peristirahatan sementara sebelum mereka mulai menyelami dunia bawah laut di sekitar Maluku.
Oiya, saat berkunjung ke Museum Nasional saya berkesempatan untuk berkenalan dengan Mr. Imagi yang berasal dari Jepang. Kebetulan pada hari itu ia sedang mengunjungi museum itu berdua dengan temannya. Setelah berkenalan dan sedikit berbincang-bincang dengan Bahasa Jepang yang sudah diajarkan oleh Sensei di sekolah, saya tertarik untuk berbagi informasi seputar Padrão Lonthoir yang terpampang di sana. Ia pun menanggapi penjelasan singkat saya dengan senang hati. Berikut ini adalah video perjalanan dan penjelasan saya dengan teman-teman dan Mr. Imagi;
Sumber:

No comments:

Post a Comment