Tuesday, 28 May 2013

Tugas 2 (Mulok) - Ristya Nintyana XI IPA 2


Pada hari Rabu, tanggal 17 April 2013 saya mengunjungi lokasi wisata Kota Tua yang terletak di Jakarta Barat. Di lokasi tersebut terdapat tempat-tempat bersejarah yang patut dikunjungi. Mulai dari Museum Bank Mandiri, Museum Bank Indonesia, Museum Keramik, Museum Fatahillah, Museum Wayang, dan Stasiun Kota. Dengan arsitektur yang ‘jadul’ bangunan-bangunan di sekitar lokasi wisata kota tua menjadi daya tarik bagi para wisatawan dalam negeri maupun luar negeri. Selain bisa mendapatkan informasi-informasi berguna dari Museum, para wisatawan juga bisa berfoto-foto di sekitar lokasi wisata dengan suasana dan latar yang cukup unik.

Diantara lokasi-lokasi wisata yang tersebut, Museum Bank Indonesia cukup mencuri perhatian saya sehingga saya beserta teman-teman memutuskan untuk mengunjungi Museum Bank Indonesia. Museum Bank Indonesia pada awalnya merupakan sebuah rumah sakit Binnen Hospitaal, dan pada tahun 1828 bangunan ini diambil alih oleh De Javasche Bank. Pada tahun 1953, De Javasche Bank dinasionalisasikan menjadi Bank Sentral Indonesia atau yang sering kita sebut dengan Bank Indonesia. Akan tetapi, penggunaan gedung ini sebagai kantor dari Bank Sentral Asia atau Bank Indonesia tidak berlangsung lama. Pada tahun 1962, Bank Sentral Asia atau Bank Indonesia sudah tidak menempati gedung ini sebagai kantor dan lebih memilih untuk pindah ke tempat yang baru. Sejak saat itu, untuk beberapa saat kedepan, gedung tersebut pun menjadi kosong dan tidak ada yang memakai. Hal ini sangat disayangkan karena gedung tersebut memiliki nilai sejarah yang tinggi. Melihat nilai kesejarahan yang sangat tinggi pada bangunan ini, pemerintah DKI Jakarta memutuskan untuk menjadikan gedung ini sebagai bangunan cagar budaya yang patut dilestarikan. Selain itu, Bank Indonesia juga memiliki benda-benda dan dokumen-dokumen bersejarah yang perlu dirawat dan dilestarikan sehingga dapat memberikan informasi-informasi yang sangat berguna untuk generasi mendatang. Dengan adanya keinginan untuk dapat memberikan pengetahuan kepada masyarakat mengenai peran Bank Indonesia dalam perjalanan sejarah bangsa, termasuk memberikan pemahaman tentang latar belakang serta dampak dari kebijakan-kebijakan Bank Indonesia yang diambil dari waktu ke waktu secara objektif, Dewan Gubernur BI telah memutuskan untuk membangun Museum Bank Indonesia dengan memanfaatkan gedung BI Kota yang perlu dilestarikan. Pelestarian gedung BI Kota tersebut sejalan dengan kebijakan Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta yang telah mencanangkan daerah Kota sebagai daerah pengembangan kota lama Jakarta. Bahkan, BI diharapkan menjadi pelopor dari pemugaran/revitalisasi gedung-gedung bersejarah di daerah Kota. Peresmian Museum Bank Indonesia dilakukan melalui dua tahap, yaitu peresmian tahap I dan mulai dibuka untuk masyarakat (soft opening) pada tanggal 15 Desember 2006 oleh Gubernur Bank Indonesia saat itu, Burhanuddin Abdullah, dan peresmian tahap II (grand opening) oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, pada tanggal 21 Juli 2009.

Di dalam museum Bank Indonesia terdapat berbagai macam diorama, dan cerita-cerita bagaimana Bank Indonesia didirikan. Penyampaian cerita-cerita pun sangatlah menarik. Terdapat patung-patung, lightings, dan background sound yang menambah daya tarik para pengunjung. Selain itu, terdapat juga benda-benda bersejarah yang digunakan pada zaman lampau.  Saya memilih sebuah mesin ketik merk Underwood sebagai objek yang akan saya bahas. Di Museum Bank Indonesia, saya bertemu dengan seorang pelajar yang sekalian menjadi ‘turis’ yang akan saya guide di sekitar Museum Bank Indonesia. Pelajar tersebut kebetulan juga merupakan pelajar kelas 11 Ia juga sedang melihat-lihat sekitar museum untuk dijadikan bahan referensi untuk tugas di sekolahnya.

Mesi tik merek Underwood Elliott Fisher ini merupakan mesin tik yang cukup ternama pada zaman tersebut. Mesin tik – mesin tik yang di produksi oleh perusahaan Underwood Elliott Fisher ini pertama kali ditemukan pada tahun 1895 oleh John T. Underwood. Pada tahun 1939, perusahaan underwood sudah memproduksi sekitar lima juta mesin tik. Sebenarnya, penemu mesin tik Undeerwood ialah seorang blasteran  Jerman-Amerika yang berna,a Franz Xaver Wagner. Ia menunjukkan penemuannya itu kepada John Thomas Underwood sebagai pengusaha pada saat itu. John Thomas Underwood sangat mendukung dengan adanya penemuan yang ditemukan oleh Franz Xaver Wagner dan akhirnya memutuskan untuk membeli perusahaan dan menawarkan hasil penemuannya itu ke publik. Mesin tik pertama yang diproduksi ialah mesin tik Underwood No.1 dan Underwood No.2s. Mesin tik tersebut dibuat antara tahun 1896 dan tahun 1900. Mesin-mesin tik tersebut terlabel “Wagner Typewriter Co.” yang tertera pada bagian belakang dari mesin tik tersebut. Setelah itu mesin tik Underwood no.5 muncul pada tahun 1900 dan telah dijuluki sebagai “The first tryly modern typewriter”.  Sekitar dua juta mesin tik tersebut terjual pada tahun 1920-an awal. Pada bulan Desember tahun 1927, perusahaan Underwood Typewriter bergabung dengan perusahaan Elliott-Fisher dan menciptakan nama perusahaan yang baru menjadi “Underwood-Elliott-Fishcer Co.” Sehingga Mesin tik yang dipajang di Museum Bank Indonesia ini kira-kira diproduksi sekitar tahun 1927—an.

Mesin tik ini mempunyai ukuran 24cm x 19cm x 18cm. Sedangkan meja yang menopang mesin tik ini mempunyai ukuran 99cm x 43cm x 87cm. Mesin tik ini dibuat pada tahun 1950-an, terbuat dari besi. Mesin tik khusus ini dipakai untuk mengetik jurnal efek-efek. Desain mesin tik ini berbeda dengan desain mesin tik yang biasa digunakan. Mesin tik ini berada di atas suatu meja, dengan tuts berada di atas dan huruf-huruf nya berada di bawah. Apabila tuts ditekn, huruf yang berada pada pucuk tangkai berferak ke bawah dan menekan permukaan kertas di bawahnya. Di sebelah kanan mesin terdapat meja (nampan), sedangkan di sebelah depan ada kerangka besi berbentuk persegi.


Selain mengunjungi Museum Bank Indonesia, saya dan teman-teman mengunjungni Museum Bank Mandiri. Museum Bank Mandiri tidak jauh berbeda dengan Museum Bank Indonesia, tetapi Museum Bank Mandiri lebih menekankan pada objek-objek yang di produksi dan digunakan oleh Bank Mandiri, seperti kartu debet, mesin ATM, mesin tik, mesin cetak, dan lain-lainnya. Museum Bank Mandiri juga merupakan gedung cagar budaya di kawasan wisata Kota Tua. Museum Bank Mandiri berdiri pada tanggal 2 Oktober 1998, memiliki luas 10.039 m2. Gedung Museum Bank Mandiri ini dahulu dirancang oleh 3 orang arsitek belanda yaitu J.J.J de Bruyn, A.P. Smits, dan C. van de Linde. Gedung ini mulai dibangun tahun 1929 dan pada tanggal 14 Januari 1933 dibuka secara resmi oleh C.J Karel Van Aalst, Presiden Nederlandsche Handel-Maatschappij ke-10. Gedung ex- Nederlandsche Handel-Maatschappij  ini tampak kokoh dan megah dengan arsitektur Niew Zakelijk atau Art Deco Klasik.

Pada awalnya gedung tersebut merupakan gedung Nederlandsche Handel-Maatschappij(NHM) atau Factorji Batavia yang merupakan perusahaan dagang milik Belanda yag kemudian menjadi perusahaan di bidang perbankan. Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM) dinasionalisasi pada tahun 1960 dan menjadi salah satu gedung kantor Bank Koperasi Tani & Nelayan (BKTN) Urusan Ekspor Impor. Kemudian bersamaan dengan lahirnya Bank Ekspor Impor Indonesia (Bank Exim) pada tanggal 31 Desember 1968, gedung tersebut pun beralih menjadi kantot pusat Bank Export Import (Bank Exim), hingga akhirnya legal merger Bank Exim bersama Bank Dagang Negara (BDN), Bank Bumi Daya (BBD) dan Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) ke dalam Bank Mandiri (1999), maka gedung tersebut pun menjadi asset Bank Mandiri. (Info: Wikipedia)

Di Museum Bank Mandiri saya juga bertemu dengan sekelompok pelajar yang sedang mengeksplorasi sekitar museum Bank Mandiri yang akan menjadi teman kami selama di Museum Bank Mandiri. Pelajar-pelajar tersebut merupakan murid-murid dari SMP Negri 113 yang berlokasi tidak terlalu jauh dari lokasi Museum Bank Mandiri.

Objek dari Museum Bank Mandiri yang saya pilih dan akan saya bahas adalah sebuah Buku Besar yang digunakan oleh Nederlandsche Handel-Maatschappij. Buku besar ini memiliki jumlah halaman sekitar 370 lembar, memiliki berat sebesar 32 kilogram dan berasal dari Pusar Arsip Rempoa. Buku besar ini digunakan oleh Nederlandsche Handel-Maatschappij untuk mencatat laporan keuangan dari tahun 1846 sampai dengan tahun 1848, diantaranya mengenai perkebunan dan komoditi. Buku ini berisi perincian perkiraan perubahan debet dan kredit untuk dilaporkan setiap akhir bulan. Selain itu buku ini juga mencatat keuangan agen-agen yang lain di Surabaya, Padang, dan Anyer.


Masih banyak objek-objek, cerita-cerita, diorama-diorama maupun keindahan-keindahan arsitektur yang menarik dan bisa didapat di Museum Bank Mandiri dan Museum Bank Indonesia. Akan tetapi butuh waktu yang cukup lama untuk mengeksplor seluruh isi dari Museum Bank Mandiri maupun Museum Bank Indonesia. Menurut saya, Bangunan cagar budaya maupun benda cagar budaya yang dilestarikan di Museum Bank Mandiri dan Museum Bank Indonesia cukup dirawat dengan baik sehingga generasi-generasi kedepan masih bisa menikmati dan mengggali informasi-informasi yang menguntungkan. Akan tetapi, menurut saya Museum Bank Mandiri yang saya kunjungi kurang dirawat kebersihannya. Beberapa objek-objek yang ada di dalam museum terlihat kusam dan berdebu. Selain itu, pegawai atau karyawan yang bekerja di museum tersebut terlihat kurang.  Faktor-faktor tersebut membuat daya tarik pengunjung dan turis-turis kurang. Terlihat dari keramaian yang kurang di Museum Bank Mandiri, mencerminkan daya tarik yang kurang dari museum tersebut. Apabila museum-museum tersebut dirawat dengan baik, saya yakin pengunjung akan lebih tertarik untuk mengeksplor museum-museum tersebut. Pengunjung akan lebih merasa nyaman dan bersemangat mengunjungi museum-museum tersebut. Saya harap pelestarian benda cagar budaya maupun bangunan cagar budaya tersebut lebih ditingkatkan kembali sehingga bermanfaat bagi masyarakat sekitar.

 





No comments:

Post a Comment