Wednesday, 29 May 2013

Tugas 2 (Mulok) - Risyaddina Ihsani Nugraha XI IPA 1

Pada hari Jumat, tanggal 17 Mei 2013, sekitar pukul empat sore, saya tiba di Gereja Katedral Jakarta. Gereja Katedral Jakarta terletak di Jl. Katedral No.7B, Pasar Baru, Sawah Besar, Jakarta Pusat. Di sana saya berkesempatan untuk menjelaskan mengenai sejarah dan seluk-beluk dibalik berdirinya salah satu gereja terbesar di Indonesia ini kepada Bapak Mul.
Bersama Pak Mul di depan Gereja Katedral
Gereja Katedral Jakarta, yang memiliki nama resmi Santa Maria Pelindung Diangkat Ke Surga, De Kerk van Onze Lieve Vrouwe ten Hemelopneming, merupakan salah satu gereja yang terletak di kawasan Jakarta Pusat. Gereja ini beraliran katolik dan memiliki kapasitas sebanyak kurang lebih 800 jemaat.
Bangunan gereja yang megah ini mulai didirikan pada tahun 1891 untuk menggantikan bangunan gereja lama yang terbakar. Pada tahun 1890, bangunan gereja lama pun sempat runtuh; terdapat perbedaan mengenai hari dan tanggal pasti terjadinya peristiwa itu.
Pada awalnya, terjadi perubahan politik di Belanda. Naiknya Louis Napoleon sebagai raja membawa angin positif pada kehidupan keagamaan di Belanda karena ia merupakan seorang Katolik. Pada tanggal 8 Mei 1807, pimpinan gereja Katolik di Roma mendapat persetujuan dari sang Raja untuk mendirikan Prefektur Apostolik Hindia Belanda. Prefektur Apostolik adalah sebuah wilayah Gereja Katolik yang bernaung langsung di bawah pimpinan Gereja Katolik di Roma, yang dipimpin oleh seorang Imam biasa yang ditunjuk langsung oleh Paus. Imam ini disebut Prefek Apostolik.
Pada tanggal 4 April 1808 datang dua orang Imam dari Belanda ke Batavia, yaitu Pastor Yacobus Nelissen, Pr dan Pastor Lambertus Prinsen. Pr. Pastor Yacobus Nelissen, Pr diangkat menjadi Prefek Apostolik pertama.
Pada tanggal 10 April 1808 diselenggarakan misa secara terbuka di rumah kepala Dinas Kesehatan pada saat itu, Dokter F.C.H Assmuss, di Batavia. Misa terlaksana secara sederhana. Pastor Yacobus Nelissen, Pr dan Pastor Lambertus Prinsen. Pr pun untuk sementara tinggal di rumah Dokter Assmuss.
Bulan Mei 1808, kedua pastor Belanda tersebut pindah ke rumah bambu yang dipinjamkan pemerintah untuk pusat kegiatan keagamaan sementara. Letaknya di asrama ketentaraan, pojok barat daya Lapangan Banteng, yang sekarang kira-kira berada di antara Jalan Perwira dan Jalan Pejambon, tepatnya di lokasi Departemen Agama berada. Di tanggal 15 Mei 1808, perayaan Misa Kudus pertama dilaksanakan di gereja darurat, yang tempatnya, jika dilihat pada hari ini merupakan tempat parkir Masjid Istiqlal.
Gereja darurat tersebut tentu tidak dapat digunakan selamanya. Perlu ada tempat yang lebih layak untuk digunakan untuk mengumpulkan umat. Maka pada 2 Februari 1810, Pastor Yacobus Nelissen, Pr mendapat sumbangan sebuah kapel dari Gubernur-Jenderal Meester Herman Daendels, yaitu sebuah kapel sederhana yang terletak di pinggir Jalan Kenanga, di daerah Senen, yang sekarang merupakan lokasi Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto. Kapel tersebut dibangun oleh Cornelis Chasteleijn. Sebelumnya dipakai oleh jemaat Protestan yang berbahasa Melayu dan pada hari biasa dipakai sebagai sekolah. Gubernemen, sebagai pemilik kapel, menghadiahkan gedung kapel beserta apa yang ada di dalamnya, termasuk 26 kursi dan organ yang tidak lagi dapat dipakai. Kondisi bangunan kapel yang ketika itu kurang layak membuat Pastor Yacobus Nelissen, Pr segera mengerahkan sejumlah orang untuk melakukan renovasi. Pekerjaan ini dipercayakan kepada seorang pengusaha bernama Tjung Sun yang berada di bawah pengawasan Jongkind, seorang arsitek, atas nama Dewan Gereja. Kapel ini lah yang kemudian menjadi Gereja Katolik I di Batavia. Dalam bulan yang sama, gereja Katolik pertama di Batavia ini diberkati dan Santo Ludovikus dipilih sebagai pelindungnya. Meskipun pada saat itu gedung gereja tersebut dirasa tidak cukup bagus, namun cukup kuat karena terbuat dari batu dan dapat menampung 200 umat. Dan di dekat gedung gereja dibangun sebuah Pastoran sederhana yang terbuat dari bambu.
Setelah sembilan tahun bertugas, pada tahun 1817, Pastor Yacobus Nelissen, Pr meninggal dunia karena terserang penyakit TBC. Pada tanggal 6 Desember 1817 jenazah Prefek Apostolik pertama tersebut disemayamkan di tempat pemakaman Tanah Abang. Posisi Prefek Apostolik kemudian dilimpahkan kepada Pastor Lambertus Prinsen, Pr.
Sembilan tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 27 Juli 1826, terjadi kebakaran di segitiga Senen. Pastoran yang berada di dekat bangunan gereja turut lebur menjadi abu bersama 180 rumah penduduk di sekitarnya. Sementara itu gedung gereja selamat namun keadaannya sudah rapuh dan tak dapat digunakan kembali.
Memasuki tahun 1827, Komisaris Jenderal yang menjabat pada kala itu ialah Leonardus Petrus Josephus Burggraaf Du Bus de Ghisignies, seorang ningrat yang juga beragama Katolik dan berasal dari daerah Vlaanderen di Belgia. Ia memiliki wewenang penuh di Batavia dan kekuasaan yang dimiliki pun lebih tinggi dari seorang Gubernur Jenderal.
Selama masa jabatan Du Bus de Ghisignies, yaitu pada tahun 1825 sampai 1830, dapat dikatakan Gereja Katolik Indonesia dapat bernapas lega. Du Bus de Ghisignies merupakan seorang beragama Katolik dan sangat memperhatikan kebutuhan umat. Ia juga berjasa dalam menciptakan kebebasan kehidupan beragama di Batavia waktu itu. Salah satu bentuk jasanya adalah dibuatnya Regeringsreglement, yang dimana pada pasal 97 diletakkan “Pelaksanaan semua agama mendapat perlindungan pemerintah”. Ia pula lah yang mendesak Pastor Lambertus Prinsen, Pr untuk segera menetap di Batavia.
Melihat kebutuhan umat yang mendesak akan adanya gereja untuk tempat ibadah, Du Bus de Ghisignies mengusahakan tempat untuk mendirikan gereja baru. Beliau memberi kesempatan kepada Dewan Gereja untuk membeli persil bekas istana Gubernur Jenderal di pojok barat/utara Lapangan Banteng. Ketika itu, berdiri bangunan bekas kediaman panglima tentara Jenderal de Kock di atas tanah tersebut. Umat diberi kesempatan untuk membeli rumah panglima dengan harga 20.000 gulden. Pengurus gereja mendapat pengurangan harga sebesar 10.000 gulden dan pinjaman dari pemerintah sebanyak 8.000 gulden yang harus dilunasi selama 1 tahun tanpa bunga.
Pada tahun 1826, Du Bus de Ghisignies memerintahkan Ir. Tromp untuk menyelesaikan “Gedung Putih” yang dimulai oleh Daendels, pada tahun 1809, dan kini dipakai Departemen Keuangan di Lapangan Banteng. Ir. Tromp juga diminta untuk membangun kediaman resmi untuk komandan Angkatan Bersenjata, tahun 1830, dan sekarang dikenal sebagai Gedung Pancasila di Jl. Pejambon. Perintah ketiga yang diberikan kepada Ir. Tromp adalah merancang Gereja Katolik pertama di Batavia. Lokasinya adalah tempat Gereja Katedral sekarang.
Atas desakan Du Bus De Ghisignies, Ir. Tromp merancang gereja baru berbentuk salib sepanjang 33 x 17 meter. Ruang altar dibuat setengah lingkaran, sedangkan dalam ruang utama yang panjang dipasang 6 tiang. Gaya bangunan ini bercorak barok-gothik-klasisisme; tampak depan bergaya barok, jendela bercorak neogothik, sedangkan pilaster dan dua gedung kanan kiri bercorak klasisistis. Menara tampak agak pendek dan dihiasi dengan kubah kecil di atasnya. Dengan gitu, gaya bangungan tersebut disebut eklektisistis. Ditambah lagi dua gedung untuk pastoran yang mengapit gereja di kanan kiri serta deretan kamar-kamar di belakangnya.
Setelah ditelusur, rancangan Ir. Tromp ternyata membutuhkan dana yang cukup besar dan melampaui kemampuan finansial gereja pada kala itu. Maka dengan sangat disayangkan, rancangan tersebut pun tidak terlaksana. Oleh karena itu gedung yang diperoleh, atas usul Ir. Tromp, dirombak sedemikian rupa sehingga dapat digunakan untuk gereja. Gedung tersebut sebenarnya adalah gedung dengan sebuah ruangan luas di antara dua baris pilar. Di kedua sisi panjangnya dilengkapi dengan gang dan di tengah atap dibangun sebuah menara kecil enam persegi. Di sebelah timur sebagian dari rumah asli tetap dipertahankan untuk kediaman pastor dan di sebelah barat untuk koster, sedangkan Altar Agungnya merupakan pemberian dari Du Bus De Ghisignies. Setelah seluruh pembangunan selesai, pada tanggal 6 November 1829 gereja diberkati oleh Monseigneur Prinsen dan diberi nama Santa Maria Diangkat ke Surga.
Keberadaan gereja ini cukup membantu para imam dalam menjalankan misi pelayanannya di Batavia. Seiring waktu berjalan umat yang mengikuti misa pun semakin banyak. Dan untuk pertama kalinya, pada tanggal 8 Mei 1834, empat orang pribumi suku Jawa dibaptis disana.
Setelah beberapa lama, gedung gereja mulai menunjukkan berbagai kerusakan. Perbaikan yang dilakukan pun hanya sebatas tambal sulam saja. Kemudian pada tahun 1859 diadakan renovasi yang cukup besar, dan pada Mei 1880 gereja mulai difungsikan lagi.
Sekitar sepuluh tahun kemudian, bangunan gereja tersebut runtuh karena sudah parahnya kerusakan yang ada. Hal ini membuat misa tidak mungkin diselenggarakan. Akhirnya pelaksanaan misa pun dilakukan di dalam garasi kereta kuda yang fungsinya telah disesuaikan untuk gereja darurat.
Memasuki akhir tahun 1890, para imam dan umat mulai mengupayakan dibangunnya gereja baru. Orang yang akhirnya ditunjuk sebagai perencana dan arsitek adalah Pastor Antonius Dijkmans SJ, seorang ahli bangunan yang pernah mengikuti kursus arsitektur gerejani di Paris, Perancis serta Cuypers, Belanda.
Di pertengahan tahun 1891 dilakukan peletakan batu pertama untuk memulai pembangunan gereja. Setelah kurang lebih setahun berjalan, pembangunan terpaksa dihentikan karena kurangnya biaya. Selain itu, pada tahun 1894 Pastor Antonius Dijkmans harus pulang ke Belanda karena sakit dan akhirnya meninggal dunia di tahun 1922.
Kemudian, uskup baru, Mgr E.S. Luypen SJ mengumpulkan dana di Belanda dan pembangunan dimulai lagi oleh Insinyur M.J. Hulswit. Dana lainnya terus diupayakan oleh umat.
Akhirnya, pada tanggal 21 April 1901, gereja diresmikan dengan nama De Kerk van Onze Lieve Vrowe ten Hemelopneming - Gereja Santa Maria Diangkat Ke Surga. Sedangkan asal mula nama Gereja Katedral sendiri muncul karena adanya cathedra atau Tahta Uskup di dalam bangunannya.
Selama lebih dari seratus tahun eksistensi Gereja Katedral, berbagai macam peristiwa telah terjadi di tempat suci ini. Di antaranya adalah diselenggarakannya sidang pertama Majelis Wali-wali Gereja Indonesia pada tahun 1925. Lalu adanya kunjungan Paus Paulus VI dan Paus Yohanes Paulus, masing-masing di tahun 1970 dan 1989. Terjadi pula pemugaran dan pengecatan ulang pada gedung gereja pada tahun 1988 dan 2002.

Ternyata, sejarah di balik berdirinya Gereja Katedral ini bukanlah karena persoalan sepele. Perjuangan yang harus dilakukan sewaktu itu tidak dapat dikatakan sebagai hal yang mudah. Karena itu kita sebagai penerus bangsa haruslah menghargai sejarah dan merawat gedung-gedung bersejarah yang ada di Indonesia. Merawat, dalam arti, kita dapat mulai dari hal-hal yang sebetulnya sederhana seperti membuang sampah pada tempat yang telah disediakan dan tidak mencorat-coret dinding bangunan tersebut.

No comments:

Post a Comment