Wednesday, 22 May 2013

Tugas 2 (Mulok) - Sarah Khairunnisa Adwiarto XI IPA 1



Bank-bank pemberi saksi sejarah

Di tanggal 17 April 2013 saya dan tiga teman saya berkumpul untuk pergi ke museum dalam rangka melihat beberapa peninggalan bersejarah serta menyelesaikan tugas mulok sejarah. Hari Rabu tanggal 17 tersebut, sudah kami rencanakan dari seminggu yang lalu. Karena kebetulan di hari itu sekolah kami libur, kami berangkat dari pagi, kira-kira pukul 10 pagi dari rumah teman saya. Lalu kami diturunkan di halte busway Masjid Agung karena kami akan melanjutkan perjalanan kami dengan Busway Trans-Jakarta, itung-itung hemat dan memanfaatkan transportasi kota sendiri. Di perjalanan, kami berunding tentang museum yang akan kami kunjungi. Awalnya kami memiliki tujuan yang berbeda-beda. Saya berkeinginan untuk mengunjugi Museum Nasional, karena hanya museum itu termasuk museum yang belum pernah saya kunjungi di Jakarta. Selain itu, saya pernah mendengar dari teman saya, bahwa Museum Nasional tersebut sangat rapih dan berstandar internasional. Teman-teman saya yang lain, ada yang ingin ke museum wayang, museum layangan dan monas. Tetapi, karena kami terlalu lama dalam berunding, akhirnya tibalah kami di halte paling terakhir, yaitu Halte Kota. Walaupun pada akhirnya kami mengobservasi di museum-museum di Kota Tua, kami tidak khawatir, karena Kota Tua kaya akan tempat menarik dan bersejarah, contohnya seperti Gedung Arsip Nasional, Pasar Ikan, Stasiun Jakarta Kota, Museum Bank Mandiri, Museum Bank Indonesia serta tempat bersejarah lainnya. Kota tua yang dahulu dikenal sebagai Batavia Lama (Oud Batavia) merupakan suatu tempat yang  memiliki luas 1,3 kilometer persegi melintasi Jakarta Barat hingga Jakarta Utara. Jadi, tidak perlu heran jika di Kota Tua hampir mencangkup 30 tempat bersejarah.  Sayangnya, lokasi Kota Tua terlalu padat dengan mobil-mobil yang parkir sembarangan. Kebanyakan angkutan umum yang parkir sembarangan membuat Kota Tua terlihat tidak teratur. Lalu saluran air atau got yang sangat tidak enak dipandang, membuat kami dan mungkin turis-turis yang ingin berkunjung ke kota tua tidak nyaman pergi ke museum Kota Tua dengan pemandangan-pemandangan seperti itu. Seharusnya, karena Kota Tua merupakan salah satu tujuan para turis dan bahkan masyarakat Indonesia untuk menggali kebudayaan Indonesia, Kota Tua harus dijaga lingkungannya, dengan melaksanakan tindakan berupa tidak boleh membuang sampah sembarangan, tidak jualan sembarangan dan tidak parkir di sebelah trotoar atau tempat sembarang lainnya. Kota Tua juga seharusnya membuat tempat parkir bertingkat agar mobil-mobil berparkir dengan rapih, lalu membuat lokasi khusus tempat angkutan umum berkumpul. Hal ini seharusnya dapat diterapkan agar selain Kota Tua terlihat dan tertata rapih, pejalan kaki yang menggunakan trotoar dapat lebih menikmati dalam melihat keindahan gedung-gedung kuno peninggalan masa lalu.

Dari di Halte Kota tua, berhubung perut kami semua keroncongan dan waktu menunjukkan jam-jam makan siang, saya mengajak beberapa teman saya untuk makan terlebih dahulu di A&W yang terletak di Stasiun Jakarta Kota. Hari itu merupakan pertama kalinya saya masuk ke Stasiun Jakarta Kota. Menurut saya, bangunan dari Stasiun tersebut sangatlah indah sekali karena keantikkan arsitekturnya. Atapnya tinggi sehingga membuat stasiun tersebut terlihat sangat besar dan luas. Sayangnya, masalah kebersihan, keamanan dan ketidakterawatnya stasiun itu menutupi hal-hal tersebut. Stasiun yang masih aktif dan beroperasi itu menimbulkan orang-orang berjualan di lantai sembarangan, orang-orang duduk-duduk dan tiduran di lantai. Serta sampah, dan orang-orang yang merokok sembarangan. Sedangkan hal tersebut benar-benar merusak lingkungan stasiun yang megah itu. Jika hal-hal perusak tersebut dapat dihilangkan, stasiun itu dengan dipoles sedikit dengan ditambahkan kursi untuk tempat tunggu, diberi kipas angin yang besar, dan dibangun toilet yang bersih, akan menjadikan Stasiun ini lebih megah dan berkelas dari yang seharusnya, bahkan dapat menyaingi Grand Central Terminal di New York. Bila Pemerintah DKI membaca tulisan saya, mudah-mudahan stasiun Jakarta kota dapat diberi perhatian lebih, agar orang-orang yang kian melaksanakan perjalanannya lebih aman dan nyaman dalam menggunakan transportasi kota selain busway atau Trans-Jakarta.

Usai makan siang, kami langsung berangkat ke tujuan pertama kami, yaitu Museum Bank Mandiri.  Museum Bank Mandiri terletak di Jl. Lapangan Stasiun No. 1, Jakarta Barat dan merupakan salah satu bagian dari cagar budaya Kota Tua di Jakarta. Sekilas sejarah dari Museum Bank Mandiri, museum ini berdiri tanggal 2 Oktober 1998 dan dirancang oleh 3 orang arsitek Belanda yaitu J. J. J. de Bruyn,  A. P. Smits dan C. van de Linde. Dahulu merupakan Kantor Wilayah Nederlandsche Handel Maatschappij (NHM) yang dikenal sebagai de Factorij Batavia. Gedung NHM di bangun tahun 1929 dan dibuka untuk umum pada tanggal 14 Januari 1933. NHM yang dinasionalisasi pada tahun 1960 ini merupakan perusahaan dagang milik Belanda yang kemudian berkembang menjadi perusahaan di bidang perbankan. Selain itu, NHM juga merupakan salah satu gedung kantor Bank Kopertasi Tani dan Nelayan (BKTN) urusan Ekspor Impor. Kemudian, seiring lahirnya BankExim pada 31 Desember 1968, gedung ini beralih menjadi Kantor Pusat Bank Exim, hingga akhirnya legal merger dengan tiga bank lainnya, yaitu Bank Dagang Negara (BDN), Bank Bumi Daya (BBD), Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) ke dalam Bank Mandiri (1999), maka gedung tersebut menjadi asset Bank Mandiri. 

Di Museum Bank Mandiri, kami menemukan banyak barang yang sangat asing dan tidak pernah kami pikir bahwa barang itu ada. Pada saat kami berjalan beberapa langkah dari loket, kami menemukan buku yang sangat besar dan asing sekali bagi kami. Berhubung kami bertemu dengan anak-anak SMP yang baru pulang sekolah, kami menjelaskan serta mengajak foto bersama dua diantara mereka usai menjelaskan tentang Grootboek. Buku ini dinamakan Buku Besar atau Grootboek. Sesuai dengan namanya, buku ini sangat tebal, terdapat 370 lembar di dalamnya. Buku ini juga berukuran sangat besar dan berat, ukurannya (p x l x t) 66 x 52 x 13 cm dan memiliki berat 32 kilogram. Buku ini berasal dari Pusat Arsip Rempoa. Buku yang telah ditulis dengan tulisan sambung ini, dahulu digunakan untuk menuliskan laporan keuangan, tepatnya pada tahun 1846 hingga 1848. Pengguna laporan keuangan di Grootboek adalah NHM (Nederlandsche Handel-Maatschappij). Buku ini juga berisikan tentang perincian perkiraan perubahan debet kredit untuk dilaporkan setiap akhir bulan. Agen-agen lain yang dicatat pada buku ini adalah di Surabaya, Semarang, Padang dan Anyer. 
                   

Selain buku besar, kami menemukan mesin ATM jaman dahulu, kartu kredit jaman dahulu, komputer-komputer yang dahulu digunakan sebagai penyimpan data, peti uang, dan kalkulator.

Saya dan ketiga teman saya melanjutkan petualangan kami ke museum selanjutnya, yaitu museum Bank Indonesia. Museum Bank Indonesia yang terletak di Jl. Pintu Besar Utara no. 3, Jakarta Barat ini memiliki sejarah yang sangat mempengaruhi kehidupan perekonomian negara Indonesia.  Karena, area bekas gedung Bank Indonesia Kota ini merupakan cagar budaya peninggalan De Javasche Bank yang di bangun pertama kali pada tahun 1828. Bank yang didirikan oleh Pemerintah Hindia ini berfungsi sebagai bank sirkulasi yang bertugas mencetak dan mengedarkan uang. Pada tahun 1953, keluar Undang-Undang Pokok Bank Indonesia yang menetapkan pendirian Bank Indonesia menggantikan fungsi De Javasche Bank.

Museum ini menyajikan informasi peran Bank Indonesia dalam perjalanan sejarah bangsa yang dimulai sejak sebelum kedatangan bangsa barat di Nusantara hingga terbentuknya Bank Indonesia pada tahun 1953. Ada pula kebijakan-kebijakan Bank Indonesia dan lain-lain. Di ruangan bagian penceritaan sejarahnya sangat menarik bagi saya, karena ruangan ini dapat menempatkan saya ke suasana peristiwa yang diceritakan. Multi media, Sound effect, lighting, serta dekorasinya lah yang membuat ruangan ini sensasional. 
                   


Selain sejarahnya, jalan di museum tersebut mengantarkan kami ke tempat adanya koleksi emas dan uang-uang dari jaman dahulu. Tetapi karena informasi kurang jelas, saya tidak menjadikan emas dan uang-uang jaman dahulu  sebagai topik untuk tugas sejarah. 
                   

                   

Setelah saya selesai mengunjugi lokasi tersebut saya mengelilingi museum Bank Indonesia kembali. Berhubung hari mulai sore, dan museum akan tutup beberapa saat lagi, maka kami bergegas untuk mencari benda-benda bersejarah lainnya di Museum Bank Indonesia. Saat saya mengelilingi museum tersebut, saya menemui suatu ruangan yang berisi tentang barang-barang peninggalan masa lalu, walaupun di ruangan itu tidak ada sisi Bank Indonesia nya sama sekali, di ruangan itu lah saya dan teman-teman saya menemukan barang yang akan kami telusuri lebih lanjut. Saya menemukan suatu telepon yang sangan langka dan sangat antik. Telepon itu diberi nama telepon berdiri atau standing phone bermerk Ericsson. Berhubung ada seorang perempuan sepantaran saya yang sedang melihat-lihat barang-barang unik peninggalan masa lalu, saya ajak dia melihatnya bersama-sama dan sekaligus saya jelaskan tentang benda unik itu.
                       



                   
Dari banyak benda yang ada di ruangan tersebut, telepon itu sangat menarik bagi saya, karena bentuknya yang unik, serta dapat diberdirikan. Karena bentuknya yang dapat diberdirikan, benda itu fleksibel dapat ditaruh di ruangan apa saja. Telepon Berdiri bermerk Ericsson dibuat oleh perusahaan Ericsson di Swedia kira-kira pada tahun 1950-1960. Badan yang menopang telepon dibuat dari kayu-kayu asli Eropa. Alat untuk berbicara berada di bagian atas, sedangkan alat untuk mendengar berada di bagian samping. Telepon ini juga diperkirakan menjiplak telepon yang pernah diproduksi pada tahun 1930an. Di tahun 1930an, telepon pada umumnya berbentuk biasa yaitu dengan tombol angka yang diputar dan dengan gagang telfon, maka dari itu, telepon berdiri ini sudah menjadi limited edition saat pertama kali dipublikasikan.


 Usai dari berkeliling-keliling Museum Bank Mandiri dan Bank Indonesia hingga sore, kami sepakat untuk mengahiri perjalanan kami dengan berjalan kearah pulang menggunakan Trans-Jakarta. Walaupun saya belum sempat memutari Museum lainnya di Kota Tua, saya mendapat hikmah serta hal-hal yang harus diubah kelak. Hikmah yang saya ambil dari perjalanan ke museum-museum ini adalah, ternyata banyak sekali benda-benda serta cerita-cerita yang menjadikan negara kita merdeka dalam segala bidang dan seperti sekarang ini, namun belum banyak orang ingin mengunjungi dan mencari tahu akan sejarah-sejarah masa lalu. Mungkin dikarenakan oleh kondisi Jakarta yang sering macet dan kondisi kota tua yang belum menarik untuk dikunjungi. Bahkan, saya pribadi tidak terlalu tertarik mengunjungi museum-museum tersebut dikarenakan faktor macet dan ketidakterpeliharanya lingkungan museum. Maka dari itu, saya sangat ingin mengutarakan pikiran-pikiran saya agar masyarakat dapat tertarik mencari tahu tentang sejarah-sejarah masa lalu di museum-museum. Selain kritik mengenai perubahan lingkungan Kota Tua, Stasiun Jakarta Kota, saya berharap museum-museum yang kaya akan peninggalan sejarah ini, dapat dilengkapi dengan setidaknya orang yang memberikan pengarahan seperti Tour Guide. Atau dapat lebih bagus lagi jika semua museum di Jakarta didesain seperti Museum Bank Indonesia, yang cerita-cerita tertulis itu dilengkapi dengan suasana peristiwa yang di ceritakan. Jadi, sejarah yang dibaca dapat terasa lebih hidup.  Hal ini dapat diwujudkan dengan ditambahkan dekorasi multi media, lighting, dan mungkin bila ada cuplikan-cuplikan masa lalu dapat diputar di tempat bersejarah tersebut.

Saya yakin, bila lingkungan dan isi museum-museum di Jakarta dapat terpelihara dan diubah seperti yang saya ulaskan sebelumnya, museum-museum di Jakarta akan banyak sekali pengunjung dan banyak orang yang tertarik dengan sejarah-sejarah yang dimiliki oleh Jakarta bahkan Indonesia. Sehingga, hal ini dapat menimbulkan rasa nasionalisasi yang dapat menyebabkan semangat berprestasi dan meneruskan perjuangan bangsa dalam bidang pendidikan serta bidang lainnya yang dapat dinilai sebagai hal yang memajukan Negara Indonesia.

Untuk mengakhiri tulisan ini, saya berharap, benda-benda yang saya jelaskan dapat bermanfaat serta segala kekurangan dan kelebihan dari museum yang saya kunjungi dapat membuat para pembaca tertarik untuk mendukung gerakan-gerakan yang dapat melestarikan budaya Indonesia dengan memelihara serta mengunjungi museum-museum yang dimiliki oleh kita bersama.

No comments:

Post a Comment