Friday, 31 May 2013

Tugas 2 (Mulok) - Syadzwina Dwi Putri XI IPA 4





Museum Seni Rupa dan Keramik


Pada tanggal 31 Mei 2013, saya berkunjung ke salah satu dari banyak museum di Kota Tua Jakarta. Museum Seni Rupa dan Keramik berada di depan Museum Fatahillah, tepatnya di Jalan Kantor Pos no.2, Jakarta Barat. Saya mengunjungi museum tersebut bersama teman saya yang juga murid Labschool Kebayoran, Vania Ardhiani.

Alfan dari SMA 44
Ketika kami berkunjung ke Museum Seni Rupa dan Keramik, saat itu sedang ada kunjungan rombongan dari SMA 44 untuk Pameran 10 Pelukis Bali di Jakarta. Salah seorang murid membantu saya dengan mendengarkan penjelasan singkat tentang sejarah bangunan museum.

Museum Seni Rupa dan Keramik dibagun pada tahun 1870. Pada awalnya, gedung tersebut digunakan oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai Kantor Dewan Kehakiman pada Benteng Batavia (Ordinaris Raad van Justitie Binnen Het Kasteel Batavia) dan sebagai Lembaga Peradilan tertinggi Belanda (Raad van Justitie) pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Pitcer Mijer. Kemudian, pada masa pendudukan Jepang dan perjuangan kemerdekaan, sekitar tahun 1944, bangunan ini beralih fungsi sebagai asrama militer NMM (Nederlandsche Mission Militer) oleh tentara KNIL, dan kemudian sebagai gudang logistik oleh TNI.

Pada tahun 1974, bangunan ini direnovasi untuk selanjutnya kembali berubah fungsi menjadi Kantor Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta. Barulah pada 1976, tepatnya tanggal 20 Agustus, bangunan ini diresmikan sebagai Gedung Balai Seni Rupa. Gagasan untuk mengubah bangunan tersebut menjada Balai Seni Rupa dicetuskan oleh wakil presiden saat itu, Adam Malik, dan diresmikan oleh Presiden Soeharto.

Saat itu, di dalam Balai Seni Rupa terdapat Museum Keramik (sayap kanan dan kiri bagian depan) yang diresmikan oleh Ali Sadikin, gubernur DKI Jakarta saat itu, pada tanggal 10 Juni 1977. Sejak tahun 1990, kedua museum tersebut digabung menjadi Museum Seni Rupa dan Keramik, seperti yang kita kenal sekarang.

Sesuai dengan Keputusan Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 475 Tahun 1993 tentang Penetapan Bangunan-Bangunan Bersejarah di Daerah Khusus Ibukota Jakarta sebagai Benda Cagar Budaya dan Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 1999 tentang Pelestarian dan Pemanfaatan Lingkungan dan Bangunan Cagar Budaya, Museum Seni Rupa dan Keramik termasuk ke dalam golongan A (semua jenis bangunan dan bangunan pemugaran). Bangunan ini dilindungi oleh SK Mendikbud Nomor 0128/M/1998.

Tentang gedung itu sendiri, gedung Museum Seni Rupa dan Keramik merupakan hasil karya arsitek Hoofd Ingenier Jhr. W.H.F.H. Van Raders. Gedung Museum Seni Rupa dan Keramik memiliki luas bangunan sekitar 2430 meter persegi yang dibangun di atas tanah seluas 8875 meter persegi. Bangunan tersebut memiliki ciri gaya Eropa Empire yang memadukan gaya Romawi dan Yunani Kuno, dengan delapan pilar besar di bagian depan museum. Pilar-pilar tersebut (doria) biasa melambangkan prajurit-prajurit yang menopang kerajaan. Gaya arsitektur bangunan ini juga biasa disebut Neo-Classic, dengan bagian atas bangunan berbentuk segitiga yang melambahkan mahkota raja. Bangunan ini ditetapkan sebagai bangunan bersejarah dan cagar budaya yang dilindungi pada tanggal 10 Januari 1972.

Ketika saya sendiri berkunjung ke Museum Seni Rupa dan Keramik, bangunan ini sedang dalam masa renovasi. Meski bagian pintu masuk belum berubah, beberapa ruang pameran telah dirubah dengan desain yang lebih modern. Konstruksi ini telah mencakup hingga sembilan ruangan. Ruang 03 (Exhibition Room) hingga 09 (Collection) berisi berbagai koleksi keramik lokal dari berbagai daerah, termasuk dari era Kerajaan Majapahit abad ke-14. Terdapat juga banyak lukisan dari berbagai seniman Indonesia, seperti Sinndoedarsono Sadjono (Kisaran, Sumatra Utara, 14 Desember 1913 – 25 Maret 1985) dan Itji Tarmizi (21 Juli 1939). Kebanyakan lukisan yang berada di ruangan nomor 05 sampai 07 bergaya Surealis.

Sebelum direnovasi, koleksi lukisan Museum Seni Rupa dan Keramik dibagi-bagi dalam ruangan-ruangan berdasarkan periode pembuatannya, yaitu:
     - Ruang Masa Raden Saleh (karya-karya periode 1880 - 1890)
     - Ruang Masa Hindia Jelita (karya-karya periode 1920-an)
     - Ruang Persagi (karya-karya periode 1930-an)
     - Ruang Masa Pendudukan Jepang (karya-karya periode 1942 - 1945)
     - Ruang Pendirian Sanggar (karya-karya periode 1945 - 1950)
     - Ruang Sekitar Kelahiran Akademis Realisme (karya-karya periode 1950-an)
     - Ruang Seni Rupa Baru Indonesia (karya-karya periode 1960 - sekarang)


Terdapat juga ruangan-ruangan khusus untuk memamerkan karya-karya keramik, tetapi ruangan-ruangan tersebut sayangnya sedang ditutup untuk umum ketika saya berkunjung. Keramik-keramik koleksi Museum Seni Rupa dan Keramik berjumlah sekitar 8 ribu koleksi, yang terdiri dari keramik lokal dan keramik asing. Keramik lokal tertua berasal dari Kerajaan Majapahit abad ke-14 berupa peralatan rumah tangga (pasu, kendi, periuk), celengan, terakota pajangan, relief, dan juga bagian-bagian dari bangunan suci. Selain keramik lokal tua Majapahit yang saya sebut tadi, terdapat juga keramik-keramik lokal baru atau modern yang berasal dari berbagai sentra industri keramik Indonesia seperti Lampung, Palembang, Yogyakarta, jawa Tengah, (Klaten, Klampok, Temanggung), Jawa Timur (Malang, Lamongan, Probolinggo, Tuban), Sulawesi Utara, Bali, Lombok (Banyu Mulek), Ambon, Plered, Kasongan, dan Singkawang.

Keramik asing berasal dari berbagai belahan dunia, seperti belanda, Jepang, Vietnam dan Thailand yang berasal dari abad ke-14 hingga 18, dan keramik Cina dari Dinasti Ming dan Ching. Koleksi keramik tertua yang dimiliki oleh Museum Seni Rupa dan Keramik berasal dari Dinasti Tang (618 - 969 M) yang berbentuk guci-guci yang dikenal dengan nama Cangsa Ware dan Olive Green Ware. Selain dari Dinasti Tang, terdapat pula koleksi keramik Cina yang berasal dari masa Dinasti Song (960-1279 M) dan Dinasti Yuan (1280-1368 M).

Salah satu hasil karya yang merupakan ciri khas Museum Seni Rupa dan Keramik adalah totem-totem kayu yang tersebar di sepanjang lorong-lorong bagian dalam gedung yang menghadap ke taman tengah. Totem-totem kayu yang magis dan simbolis ini merupakan karya I Wayan Tjokot dan keluarga besarnya. Totem-totem kayu lainnya merupakan karya seniman modern A.I.G. Sidharta dan Oesman Effendi.

"Ibu dan Anak"
Sementara itu, di antara koleksi lukisan Museum Seni Rupa dan Keramik terdapat lukisan-lukisan yang penting dalam perkembangan seni rupa Indonesia, seperti misalnya lukisan “Bupati Cianjur” oleh R. Saleh yang merupakan lukisan tertua dalam koleksi museum. Selain itu ada juga “Pengungsian” oleh Hendra Gunawan, “Pejuang” karya Sundjono Kerton, “Potret Diri” dan “Topeng” karya Affandi, “Kustiyah” oleh Sudarso, “Wanita” karya R. Basuki Abdullah, dan “Klenteng” oleh Abas Alibasyah. Banyak di antara koleksi-koleksi yang saya lihat bertema perjuangan kemerdekaan Indonesia. Salah satu lukisan favorit saya yaitu “Ibu dan Anak” karya Mulyadi W.

Digolongkan berdasarkan era pembuatannya, pada masa Mooi Indie (1908-1936) terdapat koleksi lukisan karya Wakidi, M. Pirngadi, Ernest Dezentje dan Basuki Abdullah. Dari periode Persagi atau Persatuan Ahli Gambar Indonesia (1938), yang menjadi masa kebangkitan seni rupa Indonesia, diwakili lukisan karya-karya diantaranya Agus Djaya, S. Sudjojono, Henk Ngantung, Emiria Sunassa dan R.G.A. Sukirno.
Dari masa Revolusi/Pendirian Sanggar (1945) terdapat diantaranya lukisan-lukisan karya Sudjono Kerton, Affandi, Trubus, Hendra Gunawan dan Barli Sasmita. Kemudian dari masa Lahirnya Akademi (1950-an) terdapat diantaranya hasil lukisan Kusnadi, Widayat, Bagong Kusudiardjo, Abas Alibasyah, Sunarto P.R., Popo Iskandar, Ahmad Sadali, Srihadi, A.D. Pirous, Amang Rahman, Rudi Isbandi dan O.H. Supono. Dari periode tahun 1960-an terdapat koleksi diantaranya milik Nyoman Gunarsa, Mulyadi dan Joko Pekik. Dan pada periode tahun 1970-an terdapat lukisan karya Abdulrahman, Sri Warso Wahono, Nunung W.S. dan lain-lain,

Selain itu, ketika kami berkunjung ke Museum Seni Rupa dan Keramik, sedang diadakan Pameran 10 Pelukis Bali di Jakarta. Pameran tersebut memamerkan banyak lukisan luar biasa yang merupakan karya pelukis-pelukis asal Bali seperti I Ketut Susana dan I Ketut Masrum.

Pameran 10 Pelukis Bali di Jakarta
Selain koleksi lukisan dan keramik, Museum Seni Rupa dan Keramik memiliki perpustakaan yang berisi buku-buku tentang seni rupa dan keramik yang tersedia untuk umum, pelajar dan peneliti. Bangunan tersebut juga memiliki taman dan aula yang memiliki berbagai fungsi seperti pameran temporer, lomba, dan seminar. Di selasar-selasar yang menghadap taman biasa digunakan untuk pengunjung atau rombongan untuk mencoba membuat hasil karya tanah liat yang bisa dibawa pulang.

Sebagai salah satu pousat pendidikan seni rupa Indonesia, Museum Seni Rupa dan Keramik memiliki visi untuk Menjadikan Museum Seni Rupa dan Keramik sebagai pusat pelestarian seni rupa Indonesia dan sebagai tujuan kunjungan wisata seni dan budaya yang bertaraf internasional. Adapun misi museum ini adalah:  
1.     Meningkatkan sumber daya manusia 

2.     Meningkatkan pelayanan pengunjung 

3.     Melakukan penataan ruang koleksi secara berkala 

4.     Meningkatkan kerjasama dengan mitra museum 

Selain itu, museum ini memiliki tugas pokok untuk Melayani masyarakat dan pengunjung serta mengadakan, menyimpan, merawat, mengamankan, meneliti koleksi, memperagakan dan mengembangkan untuk kepentingan pendidikan, sejarah, kebudayaan, rekreasi, sosial dan ekonomi, baik langsung maupun tidak langsung, dengan fungsi:
1.     Penyusunan program dan rencana kegiatan operasional 

2.     Pengusulan pengadaan koleksi serta sarananya 

3.     Penyelenggaraan usaha - usaha, publikasi, pameran koleksi dan pemasaran 

4.     Pelaksanaan pembuatan deskripsi dan registrasi koleksi
5.     Penyimpanan, penataan dan perawatan koleksi 

6.     Penelitian koleksi 

7.     Pemberian bimbingan dan pelayanan edukatif kultural kepada masyarakat 

8.     Penyelenggaraan pengelolaan perpustakaan museum 

9.     Pelayanan informasi tentang seni rupa dan keramik 

1.  Penyusunan kegiatan ketatausahaan

Sebagai penutup, Museum Seni Rupa dan Keramik Buka setiap hari kecuali Senin dan Hari Libur Nasional, dari pukul 9 pagi sampai 3 sore. Harga tiket adalah Rp 5000 untuk dewasa, Rp 3000 untuk mahasiswa, dan Rp 2000 untuk anak-anak dan pelajar.

No comments:

Post a Comment