Friday, 31 May 2013

Tugas 2 (Mulok) - Tatar Christanto Octaviancar



 Pada 28 Mei 2013 yaitu hari Selasa, saya mengunjungi Museum Nasional Indonesia bersama teman sekelas saya yaitu jako dan rayhan. Museum ini akrab dijuluki sebagai Museum Gajah oleh masyarakat umum karena adanya patung gajah di depannya. Menariknya, patung gajah yang terbuat dari perunggu itu merupakan hadiah dari Raja Thailand yaitu Raja Chulangkorn pada tahun 1871. Museum ini berlokasi di Jl. Medan Merdeka Barat 12, Jakarta Pusat. 

             Keberadaan Museum Nasional ini berawal pada tanggal 24 April 1778 di saat dibentuknya himpunan bernama Bataviaasch Genootschap van Kunsten en etenschappen yang bertujuan memajukan penelitian ilmu pengetahuan dan seni oleh Pemerintah Belanda. Salah satu pendirinya, J.C.M. Radermacher, menyumbang sebuah gedung yang bertempat di Jalan Kalibesar beserta dengan koleksi buku dan benda-benda budaya yang nanti menjadi dasar untuk pendirian museum.


              Pada masa pemerintahan Inggris di tahun 1811 hingga 1816, Sir Thomas Stamford Raffles yang saat itu juga merupakan direktur dari Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen memerintahkan pembangunan gedung baru yang terletak di Jalan Majapahit No. 3. Gedung tersebut digunakan sebagai museum dan ruang pertemuan untuk Societeit de Harmonie atau Literary Society. Lokasi gedung ini sekarang sudah menjadi bagian dari kompleks Sekretariat Negara. Pada tahun 1862, Pemerintah Belanda mendirikan gedung baru yang hingga saat ini kita kenal sebagai Museum Gajah karena museum di Jalan Majapahit sudah sipenuhi koleksi. Museum tersebut resmi dibuka pada tahun 1868.


             Setelah Indonesia merdeka, pengelola museum tersebut  (Lembaga Kebudayaan Indonesia) menyerahkannya kepada Pemerintah RI  pada tanggal 17 September 1962. Semenjak itu  Direktorat Jenderal Kebudayaan yang berada di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bertanggungjawab mengelola museum itu. Di tahun 2005, Direktorat Jenderal Kebudayaan dipindah ke Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Itulah asal usul museum ini.


             Sesampainya di sana setelah membayar uang masuk sebesar Rp 5.000,-  kami bergegas masuk berbekal 2 buah kamera hp . Kami melihat berbagai macam kelompok pengunjung, mulai dari pelajar hingga orang asing. Rupanya terdapat ratusan ribu artefak yang dipajang di sini. Koleksi yang ada di museum ini mencakup kategori sejarah, geografi, arkeologi, prasejarah, numimastik, keramik, serta etnografi. 
              Walau kami tidak sempat untuk menjelajahi seluruh ruangan museum, saya menemukan sebuah arca unik dengan nama syiwa mahaguru atau pe ndeta agastya yang memiliki postur tubuh yang agak buncit dan ternyata memiliki cerita yang cukup menarik,arca tersebut saya temukan di museum nasional jakarta lantai satu di ruangan yang berada tepat di depan pintu masuk, berikut adalah  video-nya
 

No comments:

Post a Comment