Friday, 31 May 2013

Tugas 2 (Mulok) - Vania Ardhiani Samodro XI IPA 2

Di dunia ini, terdapat banyak bukti sejarah yang tersebar luas dan merata di seluruh penjuru dunia. Ada dua jenis dari bukti terjadinya sebuah peristiwa di masa lalu, yang biasa disebut sebagai  sejarah, yang pertama adalah bukti hidup berupa seseorang yang hidup di masa itu, di mana nantinya orang itu akan dapat menceritakan tentang apa yang ia saksikan di masa tersebut. Yang kedua adalah bukti tidak hidup yang berupa peninggalan-peninggalan dari peradaban di masa lalu, yang telah diciptakan orang di masanya utnuk membantu kehidupan mereka di saat itu. Beberapa dari bukti-bukti yang tidak hidup ini dilindungi sedemikian rupa oleh pemerintah agar tetap dapat menjadi bukti keberadaban masa-masa sebelumnya. Umumnya, benda yang berupa bangunan akan dijadikan bangunan yang dilindungi dan tidak boleh diubah bentuknya sebagai bukti sejarah , dan benda yang berukuran relatif lebih kecil akan dimasukkan ke dalam museum. Museum akan mengategorikan benda-benda bersejarah tersebut sesuai dengan fungsinya, letak di mana benda-benda tersebut ditemukan, bahan pembuat benda-benda tersebut, dan masih banyak lagi cara menggolongkan benda tersebut.

Setiap benda bersejarah memiliki kisahnya masing masing. Kisah tersebut dapat mewakilkan seseorang yang pada saat itu telah melakukan sebuah hal yang sangat berpengaruh bagi orang lain, kemudian hasil karyanya sengaja diabadikan, maupun satu kisah dari sebuah benda yang secara tidak sengaja di tinggalkan oleh orang-orang yang menceritakan tentang keseluruhan dari peradaban orang-orang yang tinggal di masa itu. Tugas sejarah sebagai mata pelajaran muatan lokal yang diberikan kali ini adalah mencari tahu tentang cerita di balik sebuah benda bersejarah yang terdapat di berbagai macam tempat, kemudian menjelaskannya kepada orang lain.

Pada tugas sejarah ini, saya melakukan sebuah kunjungan ke museum yang terletak di daerah Kota Tua, yaitu Museum Seni Rupa dan Keramik. Museum yang di dalamnya terdapat koleksi lukisan dan patung ini beralamatkan di Jalan Pos Kota No 2, Kotamadya Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta. Kunjungan ini saya lakukan pada tanggal 31 Mei 2013 bersama dengan seorang teman saya yang bernama Syadzwina Dwi Putri. Museum ini buka dari hari Selasa sampai Minggu pada pukul 09.00 hingga pukul 15.00, dan tutup di hari Senin dan Hari Libur Nasional. Tiket masuknya sendiri seharga lima ribu rupiah untuk dewasa, tiga ribu rupiah untuk mahasiswa, dan dua ribu rupiah untuk pelajar maupun anak-anak.

Gedung Museum Seni Rupa dan Keramik

Gedung Museum Seni Rupa dan Keramik sendiri merupakan hasil karya arsitek yang bernama Van Raders pada tahun 1870. Gedung Museum Seni Rupa dan Keramik dengan luas bangunan + 2430 m2 dan dibangun diatas tanah seluas + 8875 m2 ini memiliki gaya arsitektur Eropa Empire. Gaya atau style arsitektur ini konon diciptakan atau dirancang oleh Kaisar Napoleon yang memadu gaya arsitektur Romawi dan Yunani Kuno. Gaya bangunan seperti ini lebih dikenal dengan gaya Neo-Classic. Ciri khas gaya arsitektur ini pada umumnya bagian atas depan berbentuk segitiga yang menggambarkan Crown atau Mahkota Raja, sedang bagian teras depan ditopang tiang pilar atau Doric (doria). Tiang-tiang pilar seperti ini juga dijumpai pada bangunan dari jaman Mesir Kuno sebagai simbol atau penggambaran dari pasukan tentara yang mendukung kekuatan dan kokohnya kerajaan.

Pada awalnya, gedung ini digunakan sebagai Lembaga Peradilan Tertinggi Belanda  pada tanggal 21 Januari 1870. Kemudian pada masa pendudukan Jepang dan masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, gedung yang sekarang menjadi museum ini dijadikan sebagai asrama NMM (Nederlandsche Mission Militer) oleh tentara KNIL. Kemudian di masa kedaulatan Republik Indonesia bangunan ini diserahkan kepada TNI dan dijadikan sebagai gudang logistik, selanjutnya pada tahun 1970 sampai dengan 1973 digunakan sebagai Kantor Walikota Jakarta Barat. Baru pada tahun 1974, bangunan ini dipugar kemudian dijadikan Kantor Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta. Barulah pada tanggal 20 Agustus 1976, atas gagasan Adam Malik, bangunan ini dijadikan sebagai Gedung Balai Seni Rupa oleh Soeharto. Di dalam gedung ini terdapat Museum Keramik yang diresmikan oleh Ali Sadikin yang merupakan Gubernur DKI Jakarta pada saat itu, tanggal 10 Juni 1977.

Semenjak tahun 1990, Balai Seni Rupa digabung dengan Museum Keramik menjadi Museum Seni Rupa dan Keramik. Sesuai dengan keputusan Gubernur Kepala Daerah Khusu Ibukota Jakarta Nomor 475 tahun 1993 tentang Penetapan Bangunan-Bangunan Bersejarah di Daerah Khusu Ibukota Jakarta sebagai Benda Cagar Budaya dan Peraturan Daeran Nomor 9 Tahun 1999 tentang Pelestarian dan Pemandaatan Lingkungan dan Bangunan Cagar Budaya, Museum Seni Rupa dan Keramik masuk dalam golongan A. Bangunan tersebut dilindungi oleh SK Mendikbud Nomor 0128/M/1998.

Di museum ini, terdapat sekitar 500 karya seni rupa yang terdiri dari koleksi lukisan dan patung. Koleksi tertua berupa lukisan Bupati Cianjur karya R. Saleh Syarif Bustaman (1807-1880). Dari masa Mooi Indie (1908-1936) terdapat koleksi lukisan yang mengacu pada keindahan karya Wakidi, M. Pirngadi, Ernest Dezentje serta Basuki Abdullah. Masa Persatuan Ahli Gambar Indonesia (1938) yang menjadi masa kebangkitan seni rupa  di Indonesia diwakili lukisan karya Agus Djaya, S. Sudjojono, Henk Ngatung, Emiria Sunassa, RGA Sukirno dan lain-lain. Mada Revolusi/Pendirian Sanggar (1945) terdapat lukisan karya Sudjono Kerton, Affandi, Trubus, Hendra Gunawan, Barli Sasmita dan lain-lain.

Kemudian dari masa Lahirnya Akademi (1950-an) terdapat lukisan Kusnadi, Widayat, Bagong Kusudihardjo, Abas Alibasyah, Sunarto PR, Popo Iskandar, Ahmad Sadali, Srihadi, AD Pirous, Amang Rahman, Rusi Isbandi, OH Supono dan lain-lain. Tahun 1960-an terdapat koleksi Nyoman Gunarsa, Mulyadi, Joko Pekik. Tahun 1970-an terdapat lukisan karya Abdulrahman, Sri Warso Wahono, Nunung WS. Tahun 1980-an terdapat lukisan karya Ivan Sagito, Dede Eri Supria, Sarnadi Adam, Subandiyo. Kemudian dekade 90-an terdapat lukisan karya Nasirun dan I Made Sukandana.

Di antara koleksi tersebut ada beberapa koleksi unggulan dan amat penting bagi sejarah seni rupa Indonesia, contohnya adalah yang berjudul Pengantin Revolusi karya Hendra Gunawan, Bupati Cianjur karya Raden Saleh, Ibu Menyusui karya Dullah, Seiko karya S. Sudjojono dan Potret Diri karya Affandi. Koleksi seni rupa yang lain yang terdapat di museum ini adalah patung yang bercirikan klasik tradisional dari Bali, totem kayu yang magis dan simbolis karya I Wayan Tjokot, totem dan kayu patung karya seniman G. Sidharta, Oesman Effendi, Popo Iskandar, Achmad Sadali, Srihadi S, Fajar Sidik, Kusnadi, Rusli, Nashar, Zaini, Amang Rahman, Suparto, Irsam, Mulyadi W, Abas Alibasyah, Amri Yahya, AS Budiman, Barli, Sudjana Kerton dan masih banyak seniman dari berbagai daerah. 

Pada kunjungan yang saya lakukan ini, saya memberikan sebuah penjelasan singkat mengenai sebuah patung dada yang berada di bagian depan museum, yang letaknya di dekat pintu masuk kepada salah seorang pengunjung yang berasal dari SMA 44 yang bernama Umi. Patung dada karya Irawan dan Honda ini adalah patung seorang tokoh yang merupakan seorang pelukis legendaris yang bernama Pangeran Raden Saleh Syarif Bustaman, yang sebelumnya telah disebut sebagai pelukis dari lukisan tertua yang ada di museum ini yang berjudul Bupati Cianjur. Beliau sendiri adalah seorang yang lahir pada tahun 1807 di Terboyo, Semarang, Jawa Tengah dari keluarga Tumenggung Kyai Ngabehi Kertoboso Bustaman. Beliau merupakan seorang pelukis yang secara sistematis menggunakan cat minyak dan mengambil teknik-teknik Barat: realisme pada potret, pencarian gerak, perspektif dan komposisi berbentuk piramid dan sebagainya. Namun beliau juga mengekspresikan individualitas dan kreativitas pada karyanya dengan gaya tradisional, sehingga beliau membuka jalan bagi seniman-seniman Indonesia untuk mengekspresikan ide secara lebih bebas.
 
Patung Dada Raden Saleh Syarif Bustaman

Raden Saleh muda pertama kali diajarkan di Bogor oleh seniman AJ Belgia Payen. Payen mengakui bakat mudanya, dan membujuk pemerintah kolonial Belanda untuk mengirim Raden Saleh ke Belanda untuk belajar seni. Beliau tiba di Eropa pada 1829 dan mulai belajar di bawah bimbingan Cornelius Kruseman dan Andries Schelfhout. Dari Kruseman-lah, Raden Saleh mempelajari keterampilan dalam melukis potret, dan kemudian diterima di berbagai istana di Eropa untuk ditugaskan melukis potret. Dari 1839, ia menghabiskan lima tahun di Istana Ernst, Grand Duke of Saxe-Coburg-Gotha, yang menjadi pelanggan tetapnya. Dari Schelfhout-lah Pangeran Raden Saleh mempelajari keterampilan menjadi seniman lukis lansekap. Pada tahun 1839, Raden Saleh melukis satu dari karya agungnya berjudul “Singa dan Ular”, yang merupakan simbolisasi peperangan abadi antara yang baik dan jahat, dan Delacroix melukis lukisan dengan tema yang sama berjudul “Macan dan Ular” pada tahun 1862, dua puluh tiga tahun setelah lukisan asli Raden Saleh.

Dari Schelfhout, Raden Saleh melanjutkan keterampilannya sebagai seorang pelukis pemandangan. Raden Saleh mengunjungi beberapa kota di Eropa serta Aljazair. Di Den Haag, penjinak singa memperbolehkan Raden Saleh untuk mempelajari singanya, dan dari kunjungan tersebut dibuatnya lukisan yang paling terkenal tentang perkelahian binatang membawa ketenarannya sebagai seniman.


Pangeran Raden Saleh kembali ke Indonesia pada tahun 1851 setelah hidup di Eropa selama 20 tahun dan kemudian menikah dengan keluarga berpengaruh dari Kesultanan Yogyakarta. Beliau meneruskan pekerjaannya melukis, memproduksi potret aristokrat Jawa, dan banyak lagi lukisan lansekap. Beliau merupakan seniman yang sangat berpengaruh bagi dunia persenian di Indonesia, dan beliau mahir dalam membuat lukisan binatang, potret maupun lansekap. Pangeran Raden Saleh meninggal pada tanggal 23 April 1880, di usianya yang ke-73 tahun setelah kembali dari perjalanan keduanya ke Eropa demi mengunjungi keluarganya di Eropa untuk yang terakhir kali. Beliau kemudian dimakamkan di Bogor, Jawa Barat, lebih tepatnya di Jalan Bondongan (kini Jalan Pahlawan), bersebelahan dengan makam istrinya RA Danurejo, putri dari Kesultanan Mataram.

No comments:

Post a Comment