Thursday, 30 May 2013

Tugas 2 (Mulok) - Zahra Fathiya XI IPA 1


Jumat, 17 Mei 2013 lalu, saya mendatangi sebuah masjid yang terletak di pusat ibukota Jakarta. Sebuah masjid yang berdiri di sebelah timur laut lapangan Medan Merdeka, di atas tanah yang dulunya merupaka taman Wilhelmina. Ya, inilah masjid yang dikenal sebagai masjid terbesar se-Asia Tenggara, Masjid Istiqlal.
Masjid Istiqlal merupakan sebuah bangunan masjid yang sudah mulai dibangun sejak sekitar 52 tahun lalu. Pembangunan masjid ini diprakarsai oleh presiden Indonesia saat itu, Ir. Soekarno, pada tahun 1951. Sejak itu, Masjid Istiqlal menjadi sebuah masjid nasional, tempat berbagai kegiatan keislaman dilakukan. Selain itu, masjid ini juga sekarang menjadi tujuan wisata, baik umat muslim maupun non-muslim. Salah satu wisatawan yang saya temui ketika mengunjungi Istiqlal kemarin adalah Bu Erna. Ia bersama dengan 3 temannya terlihat asyik berfoto di depan masjid Istiqlal saat saya mengajaknya bicara.
Saya dan Bu Erna
             
 Sejak lama, di Indonesia sudah berdiri berbagai bangunan keagamaan khas zaman kejayaan berbagai agama, seperti candi-candi pada zaman Hindu-Buddha, dan gereja yang dibangun ketika Belanda berkuasa di Indonesia. Namun, ketika Indonesia merdeka, mayoritas penduduk Indonesia merupakan penganut agama Islam sehingga timbul gagasan pembangunan sebuah masjid nasional.
                 
Pada tahun 1950, dilakukan sebuah pertemuan sejumlah tokoh Islam, di antaranya KH. Wahid Hasyim selaku mentri agama RI dan H. Anwar  Tjokroaminoto dari Partai Syarikat Islam, yang dipimpin KH. Taufiqurrahman di tempat yang dulunya merupakan gedung pertemuan Desca Park. Hasil pertemuan ini adalah terpilihnya H. Anwar Tjokroaminoto sebagai ketua Yayasan Masjid Istiqlal dan ditentukannya kata “Istiqlal”, yang artinya kebebasan atau kemerdekaan, sebagai nama masjid yang dibangun atas rasa syukur umat muslim Indonesia atas kemerdekaan yang negara ini dapatkan.

Sempat terjadi perdebatan mengenai lokasi pembangunan Masjid Istiqlal. Pendapat pertama dikemukakan oleh Ir. H. Mohammad Hatta selaku wakil presiden RI saat itu. Ia berpendapat agar pembangunan masjid tersebut dilakukan di Jl. Moh. Husni Thamrin (saat ini lokasi Hotel Indonesia) karena daerah tersebut merupakan pemukiman muslim. Selain itu, belum ada bangunan di tempat itu sehingga tidak memerlukan biaya penggusuran bangunan di sekitar lokasi. Pendapat kedua  yang dikemukakan presiden RI saat itu, Ir. Soekarno, mengusulkan agar pembangunan masjid tersebut dilakukan di Taman Wilhelmina. Ir. Soekarno melihat pada masa-masa sebelumnya, masjid-masjid besar selalu dibangun di dekat keraton Jawa atau alun-alun kota. Seandainya dibangun di atas Taman Wilhelmina yang berisi reruntuhan Belanda pada saat itu, masjid Istiqlal akan dikelilingi gedung-gedung kenegaraan, pusat-pusat perdagangan, serta dekat dengan Istana Merdeka. Walaupun dari segi biaya pembangunan di Jl. Moh. Husni lebih menguntungkan, pada akhirnya diputuskan untuk membangun Masjid Istiqlal di atas Taman Wilhelmina. Untuk membangun masjid ini, pada akhirnya bekas benteng Belanda, Benteng Prins Frederick, yang sudah berdiri sejak  1837 dibongkar.

Pada bulan Februari tahun 1955, diumumkan sebuah sayembara maket Masjid Istiqlal, dengan Ir. Soekarno sebagai ketua dewan jurinya, di surat kabar. Selain Ir. Soekarno, dewan juri yang lainnya juga merupakan ulama-ulama dan arsitek-arsitek terkenal. Yaitu, Ir. Roeseno, Ir. Djuanda, Ir. Suwardi, Ir. R. Ukar Bratakusumah, Rd. Soeratmoko, H. Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA), H. Abu Bakar Aceh, dan Oemar Husein Amin.
Sayembara ini disambut baik dengan antusias oleh masyarakat Indonesia. Peminat sayembara ini mencapai 30 peserta. Ada 27 peserta yang pada akhirnya menyerahkan hasil karyanya, namun hanya 22 peserta yang memenuhi persyaratan lomba. Sayembara berakhir pada 30 Mei  1955. Pada akhirnya, didapat 5 peserta yang dipilih menjadi nominator pemenang sayembara ini. Kelima peserta itu adalah:
  1. Pemenang pertama adalah Fredrerich Silaban, dengan disain bersandi Ketuhanan
  2. Pemenang kedua adalah R. Utoyo, dengan disain bersandi Istighfar
  3. Pemenang ketiga merupakan Hans Gronewegen, dengan disain bersandi Salam
  4. Pemenang keempat merupakan 5 orang mahasiswa ITB dengan disain bersandi Ilham
  5. Pemenang kelima adalah 3 orang mahasiswa ITB dengan disain bersandi Khatulistiwa dan NV. Associatie dengan sandi Lima Arab
Pada akhirnya, pada tanggal 5 Juli 1955 di Istana Merdeka ditetapkanlah Fredrerich Silaban sebagai pemenang pertama dan ia dianugerahkan medali emas 75 gram dan hadiah uang sejumlah Rp. 25.000,00. Maket inilah yang pada akhirnya menjadi Masjid Istiqlal saat ini.
Pembangunan dimulai 6 tahun kemudian. Taman Wilhelmina ini pada mulanya merupakan sebuah kawasan sepi, kotor, dan gelap berisi reruntuhan Benteng Prins Frederick yang tidak terurus. 21 Mei 1961, beramai-ramai sekitar 50.000 orang datang untuk membantu membersihkan daerah tersebut. Datang orang dari berbagai daerah dan berbagai lapisan masyarakat untuk membantu mempersiapkan kawasan tersebut sebagai lokasi pembangunan Masjid Istiqlal.

Pemancangan tiang pertama dilakukan bertepatan dengan Maulid Nabi Muhammad SAW, 24 Agustus 1961, dan disaksikan ribuan umat muslim Indonesia. Namun, akibat keadaan negara yang berkali-kali mengalami masalah, pembangunan masjid ini tidak berjalan dengan mulus. Sejak pertemuan pertama di Desca Park pada tahun 1950 hingga pembangunan tahun 1965 tidak tampak perkembangan yang benar-benar signifikan. Situasi politik Indonesia saat itu belum stabil. Indonesia yang pada saat itu menganut paham demokrasi parlementer mengalami masalah internal di mana berbagai partai saling bertikai dan berusaha memenuhi keinginan masing-masing. Hingga pada akhirnya, di tahun 1965, kondisi ini sampai pada titik puncak dan terjadilah peristiwa G30S/PKI. Peristiwa G30S/PKI inilah yang menyebabkan pembangunan masjid Istiqlal akhirnya benar-benar dihentikan sepenuhnya. Pembangunan masjid ini baru dilakukan 1 tahun kemudian, setelah keadaan politik negara mulai stabil dan masalah-masalah antar partai tersebut mereda. Dipelopori oleh KH. M. Dahlan dan dikoordinasi oleh KH. Idam Chalid, pembangunan masjid ini kembali dilakukan hingga akhirnya selesai beberapa tahun tahun kemudian. Pembangunan masjid ini memakan biaya sekitar Rp. 7.000.000.000,00 yang sebagian besar diambil dari APBN. Sejak 22 Februari 1978 masjid ini diresmikan oleh Soeharto, selaku presiden saat itu, dan dibuka untuk umum.

Masjid Istiqlal, sebagai masjid nasional, tentu harus bisa menampung banyak orang di dalamnya. Selain itu masjid ini harus memiliki sirkulasi udara yang baik agar terasa sejuk walaupun ada sangat banyak jamaat solat di dalamnya. Karena itu, gaya minimalis merupakan bentuk arsitektur yang paling cocok untuk masjid ini.

Berbeda dengan masjid Jama di india, Grozny Central Dome di Rusia, Masjid Sultan Ahmed di Istanbul, dan masjid-masjid besar lainnya, Masjid Istiqlal tampak jauh lebih sederhana namun tanpa meninggalkan kesan megahnya. Bangunan ini dipenuhi bentuk-bentuk geometris yang sangat sederhana dalam ukuran raksasa yang membuatnya tampak elegan dan megah. Tembok-tembok masjid yang putih ini dipenuhi lubang-lubang yang berguna sebagai jendela, penyekat, dan ventilasi, dan fungsi estetika. Masjid ini didonminasi oleh batuan marmer pada tiang-tiang, lantai, dan dindingnya. Namun, beberapa pihak tetap menganggap arsitektur Masjid Istiqlal yang dilengkapi kubah bola dan menara tingginya terlalu bersifat Timur Tengah kontras dengan tradisi arsitektur budaya Islam nusantara.

Bangunan Masjid Istiqlal terdiri dari sebuah bangunan utama dan sebuah bangunan tambahan, yang berfungsi sebagai tangga dan tempat solat tambahan. Di atas bangunan utama masjid terdapat kubah besar berdiameter 45 meter. Angka 45 ini melambangkan tahun 1945, dimana terjadi peristiwa proklamasi kemerdekaan Indonesia. Di bawah kubah ini terdapat 12 pilar penopang melingkar yangb melambangkan angka kelahiran Nabi Muhammad, 12 Rabiul Awwal, serta melambangkan 12 bulan hijriyah.
Masjid Istiqlal memiliki tujuh gerbang yang dinamai berdasarkan tujuh nama dari Asmaul-Husna, yaitu Al-Fattah (pembuka), Al-Quddus (Suci), As-Salam (damai), Al-Malik (Raja), Al-Ghaffar (Pengampun), Ar-Rozzaq (Rezeki), dan Ar-Rahman (Pengasih). Ketujuh gerbang ini melambangkan tujuh lapisan langit serta tujuh hari dalam seminggu. Masjid ini memiliki 5 lantai yang melambangkan Rukun Islam sekaligus Pancasila. Dibentuknya 2 kubah, kubah utama dan kubah yang lebih kecil, melambangkan langit dan bumi, kepentingan akhirat dan dunia, serta hubungan manusia dan Tuhannya, yang saling melengkapi. Masjid ini juga hanya memiliki satu buah menara, bukan banyak menara, untuk menunjukkan keesaan Allah SWT. Menara yang dilapisi marmer ini memiliki tinggi 6,666 centimeter yang melambangkan salah satu pendapat dalam jumlah ayat Al-Qur’an.

Bangunan Masjid Istiqlal hanya menempati 26% dari lahan yang ditempatinya. Lahan seluas 932 hektar ini lebih banyak dipenuhi taman dan halaman. Namun, Masjid Istiqlal tetap dikenal akan kemegahan bangunannya. Di dalam Masjid Istiqlal juga terdapat bedug raksasa berumur 300 tahun. Sedangkan di taman masjid terdapat kolam besar dengan air mancur yang dapat menyemburkan air hingga setinggi 45 meter. Tetapi, air mancur ini hanya diaktifkan pada hari Jumat dan hari-hari besar Islam.

 
Pada tahun 1991 digelar Festival Istiqlal pertama untuk turut memeriahkan Visit Indonesia Year 1991. Festival ini bertujuan untuk memamerkan seni dan kebudayaan islam di Indonesia. Pada festival ini datang banyak pemuka agama dari berbagai negara seperti Iran, Arab, hingga Cina. Festival Istiqlal kedua digelar tahun 1995, memperingati 50 tahun proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Pernah juga terjadi sebuah insiden di Masjid Istiqlal. Pada 19 April 1999, sebuah bom meledak di lantai dasar masjid. Peristiwa ini menimbulkan dua korban luka dan kerusakan-kerusakan beberapa kantor organisasi Islam yang bertempat di masjid ini, seperti Majelis Ulama Indonesia. Dua bulan kemudian polisi menangkap tujuh orang pengamen, yang menempatkan bom di lantai dasar masjid,  sebagai tersangka kasus pengeboman ini. Namun, sampai sekarang belum diketahui siapa otak dibalik kasus pengeboman Masjid Istiqlal.

Di sebrang Masjid Istiqlal terdapat sebuah bangunan gereja terkenal yang sudah diremiskan sejak tahun 1901, Gereja Katedral Jakarta atau De Kerk van Onze Lieve Vrouwe ten Hemelopneming. Kedua bangunan keagamaan yang berdampingan ini merupakan simbol kerukunan dan toleransi beragama. Bahkan, pada hari-hari besar umat katolik, mobil-mobil yang tidak mendapat parkir di Gereja Katedral diizinkan untuk memarkir kendaraannya di parkiran Masjid Istiqlal yang dapat menampung sekitar 800 kendaraan. Begitu pula sebaliknya, ketika hari raya Islam lahan parkir gereja Katedral dapat digunakan bagi oleh umat muslim yang ingin pergi ke Masjid Istiqlal. Selain kedua bangunan yang berdampingan ini, Fredrerich Silaban, arsitek Masjid Istiqlal pun merupakan seorang Kristen protestan. Hal ini juga dapat menjadi simbol toleransi beragama dan saling menghargai di Indonesia, khususnya Jakarta.

Sebagai masjid terbesar di Asia Tenggara, Masjid Istiqlal merupakan sebuah tujuan wisata di Jakarta. Berbagai wisatawan sering datang ke masjid ini setiap harinya. Bukan hanya umat muslim, orang-orang non-muslim pun dapat mengunjungi masjid ini dengan sebelumnya mendapatkan  pembekalan informasi mengenai Islam dan Masjid Istiqlal, misalnya pengunjung diwajibkan mengenakan busana yang sopan. Bagi pengunjung yang mengenakan celana pendek akan dipinjamkan sarung, dan bagi pengunjung wanita diminta mengenakan kerudung. Banyak tokoh penting yang pernah datang ke Masjid Istiqlal, diantaranya Presiden Amerika tahun 1994 Bill Clinton, Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad, ketua partai komunis Cina Li Yuanchao, Pangeran Charles, dan lainnya. Presiden Amerika, Barack Obama, dan istrinya pun pernah mengunjungi Masjid Istiqlal dan sejak itu semakin banyak wisatawan asing yang berkunjung ke masjid ini. Tercatat setiap harinya bisa mencapai 20 wisatawan asing mengunjungi Masjid Istiqlal.

Masjid ini merupakan masjid kebanggaan rakyat muslim di Indonesia dan merupakan sebuah symbol kebesaran agama Islam di Indonesia. Semoga dengan terus berdirinya masjid ini, masyarakat muslim di Indonesia terus menerapkan kaidah-kaidah Islam dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi muslim yang taat tanpa melupakan toleransi beragama.

No comments:

Post a Comment