Thursday, 30 May 2013

Tugas 2 - Mulok



Pada hari Jumat dua minggu yang lalu, atau pada tanggal 17 Mei 2013, untuk memenuhi tugas muatan lokal, saya dan tiga orang teman saya mengunjungi sebuah tempat bersejarah yang cukup populer, yang berlokasi di Lapangan Medan Merdeka, Jakarta Pusat, yaitu Monumen Nasional atau yang lebih dikenal dengan nama Monas. Di sana, saya berkesempatan untuk menjelaskan mengenai sejarah Tugu Monas kepada seorang pengunjung, yang sayangnya saya lupa tanyakan siapa namanya. Yang saya ingat, ternyata beliau merupakan salah satu warga Labschool juga. Berikut sedikit penjelasan mengenai Tugu Monas, semoga bisa bermanfaat.


Setelah pusat pemerintahan Republik Indonesia kembali ke Jakarta setelah sebelumnya berkedudukan di Yogyakarta pada tahun 1950 menyusul pengakuan kedaulatan Republik Indonesia oleh pemerintah Belanda pada tahun 1949, Presiden Soekarno mulai memikirkan pembangunan sebuah monumen nasional yang setara dengan Menara Eiffel di lapangan tepat di depan Istana Merdeka. Pembangunan tugu Monas bertujuan mengenang dan melestarikan perjuangan bangsa Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan 1945, agar terus membangkitkan inspirasi dan semangat patriotisme generasi saat ini dan mendatang.
Pada tanggal 17 Agustus 1954 sebuah komite nasional dibentuk dan sayembara perancangan monumen nasional digelar pada tahun 1955. Terdapat 51 karya yang masuk, akan tetapi hanya satu karya yang dibuat oleh Frederich Silaban yang memenuhi kriteria yang ditentukan komite, antara lain menggambarkan karakter bangsa Indonesia dan dapat bertahan selama berabad-abad. Sayembara kedua digelar pada tahun 1960 tapi sekali lagi tak satupun dari 136 peserta yang memenuhi kriteria. Ketua juri kemudian meminta Silaban untuk menunjukkan rancangannya kepada Soekarno. Akan tetapi Soekarno kurang menyukai rancangan itu dan ia menginginkan monumen itu berbentuk lingga dan yoni. Silaban kemudian diminta merancang monumen dengan tema seperti itu, akan tetapi rancangan yang diajukan Silaban terlalu luar biasa sehingga biayanya sangat besar dan tidak mampu ditanggung oleh anggaran negara, terlebih kondisi ekonomi saat itu cukup buruk. Silaban menolak merancang bangunan yang lebih kecil, dan menyarankan pembangunan ditunda hingga ekonomi Indonesia membaik. Soekarno kemudian meminta arsitek R.M. Soedarsono untuk melanjutkan rancangan itu. Soedarsono memasukkan angka 17, 8 dan 45, melambangkan 17 Agustus 1945 memulai Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, ke dalam rancangan monumen itu. Tugu Peringatan Nasional ini kemudian dibangun di areal seluas 80 hektar. Tugu ini diarsiteki oleh Friedrich Silaban dan R. M. Soedarsono, mulai dibangun 17 Agustus 1961.
Pembangunan terdiri atas tiga tahap. Tahap pertama, kurun 1961/1962 - 1964/1965 dimulai dengan dimulainya secara resmi pembangunan pada tanggal 17 Agustus 1961 dengan Soekarno secara seremonial menancapkan pasak beton pertama. Total 284 pasak beton digunakan sebagai fondasi bangunan. Sebanyak 360 pasak bumi ditanamkan untuk fondasi museum sejarah nasional. Keseluruhan pemancangan fondasi rampung pada bulan Maret 1962. Dinding museum di dasar bangunan selesai pada bulan Oktober. Pembangunan obelisk kemudian dimulai dan akhirnya rampung pada bulan Agustus 1963. Pembangunan tahap kedua berlangsung pada kurun 1966 hingga 1968 akibat terjadinya Gerakan 30 September 1965 (G-30-S/PKI) dan upaya kudeta, tahap ini sempat tertunda. Tahap akhir berlangsung pada tahun 1969-1976 dengan menambahkan diorama pada museum sejarah. Meskipun pembangunan telah rampung, masalah masih saja terjadi, antara lain kebocoran air yang menggenangi museum. Monumen secara resmi dibuka untuk umum dan diresmikan pada tanggal 12 Juli 1975 oleh Presiden Republik Indonesia Soeharto. Lokasi pembangunan monumen ini dikenal dengan nama Medan Merdeka. Lapangan Monas mengalami lima kali penggantian nama yaitu Lapangan Gambir, Lapangan Ikada, Lapangan Merdeka, Lapangan Monas, dan Taman Monas. Di sekeliling tugu terdapat taman, dua buah kolam dan beberapa lapangan terbuka tempat berolahraga. Pada hari-hari libur Medan Merdeka dipenuhi pengunjung yang berekreasi menikmati pemandangan Tugu Monas dan melakukan berbagai aktivitas dalam taman.
Rancang bangun Tugu Monas berdasarkan pada konsep pasangan universal yang abadi; Lingga dan Yoni. Tugu obelisk yang menjulang tinggi adalah lingga yang melambangkan laki-laki, elemen maskulin yang bersifat aktif dan positif, serta melambangkan siang hari. Sementara pelataran cawan landasan obelisk adalah Yoni yang melambangkan perempuan, elemen feminin yang pasif dan negatif, serta melambangkan malam hari.[6]Lingga dan yoni merupakan lambang kesuburan dan kesatuan harmonis yang saling melengkapi sedari masa prasejarah Indonesia. Selain itu bentuk Tugu Monas juga dapat ditafsirkan sebagai sepasang "alu" dan "Lesung", alat penumbuk padi yang didapati dalam setiap rumah tangga petani tradisional Indonesia. Dengan demikian rancang bangun Monas penuh dimensi khas budaya bangsa Indonesia. Monumen terdiri atas 117,7 meter obelisk di atas landasan persegi setinggi 17 meter, pelataran cawan, dengan total tinggi sekitar 134 meter. Monumen ini dilapisi dengan marmer Italia.
Salah satu bagian yang menjadi daya tarik Tugu Monas adalah adanya lampu berlapis emas di puncak Monas, atau juga dikenal sebagai Lidah Api Kemerdekaan. Tinggi Lidah Api Kemerdekaan tersebut berkisar sekitar  14 meter dengan diameter 6 meter. Bentuk lidah api dipilih karena melambangkan semangat perjuangan rakyat Indonesia yang bagaikan lidah api yang menyala-nyala. Konon, 28 kilogram dari 38 kilogram emas yang melapisi Lidah Api Kemerdekaan merupakan sumbangan dari seorang pengusaha Aceh yang pernah menjadi salah satu orang terkaya di Indonesia, yang bernama Teuku Markam. Pada peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1995, Lidah Api Kemerdekaan dilapisi kembali oleh emas sehingga beratnya mencapai 50 kilogram. Jika pengunjung mengamati dengan seksama, motif pada Lidah Api Kemerdekaan yang berlapis emas itu tampak seperti seorang perempuan berambut panjang dengan rambut tergerai yang sedang duduk bersimpuh. Sampai hari ini, tidak ada informasi mengenai perempuan yang dimaksud. Di catatan sejarah mengenai Tugu Monas pun tidak ada informasi mengenai perempuan ini.
Di luar Tugu Monas, terdapat Taman Monas. Kolam di Taman Medan Merdeka Utara berukuran 25 x 25 meter dirancang sebagai bagian dari sistem pendingin udara sekaligus mempercantik penampilan Taman Monas. Di dekatnya terdapat kolam air mancur dan patung Pangeran Diponegoro yang sedang menunggang kudanya, terbuat dari perunggu seberat 8 ton. Patung itu dibuat oleh pemahat Italia, Prof. Coberlato sebagai sumbangan oleh Konsulat Jendral Honores, Dr. Mario Bross di Indonesia. Pintu masuk Monas terdapat di taman Medan Merdeka Utara dekat patung Pangeran Diponegoro. Pintu masuk melalui terowongan yang berada 3 m di bawah taman dan jalan silang Monas inilah, pintu masuk pengunjung menuju tugu Monas. Loket tiket berada di ujung terowongan. Ketika pengunjung naik kembali ke permukaan tanah di sisi utara Monas, pengunjung dapat melanjutkan berkeliling melihat relief sejarah perjuangan Indonesia; masuk ke dalam museum sejarah nasional melalui pintu di sudut timur laut, atau langsung naik ke tengah menuju ruang kemerdekaan atau lift menuju pelataran puncak monumen.
Selain menyimpan nilai sejarah sendiri, ada bagian lain dari Tugu Monas yang menyimpan nilai sejarah yang lain, contohnya adalah Museum Sejarah Nasional. Museum ini seolah-olah merangkum peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi di Tanah Air, karena memiliki 51 diorama yang menampilkan sejarah Indonesia dari masa pra-sejarah, kerajaan-kerajaan kuno seperti Sriwijaya dan Majapahit, masa-masa kedatangan bangsa Eropa dan kolonialisme, perlawanan para pahlawan terhadap penjajah (VOC dan pemerintah Hindia Belanda), pergerakan nasional pada awal abad ke-20, pendudukan Jepang, perang kemerdakaan lalu masa revolusi, hingga masa Orde Baru pada pemerintahan Soeharto.
Ada juga bagian lain dari Tugu Monas yang menyimpan sejarah Republik Indonesia, yaitu Ruang Kemerdekaan. Di dalam ruangan ini terdapat naskah asli Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia—disimpan  dalam sebuah kotak kaca yang berlapis emas—kemudian ada juga lambang Republik Indonesia, peta kepulauan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang juga berlapis emas, bendera merah putih, dan dinding yang bertuliskan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.
Bagian lain di Tugu Monas yang juga menceritakan sejarah Indonesia adalah relief sejarah di halaman luar monumen. Relief ini berlanjut secara kronologis searah jarum jam menuju sudut tenggara, barat daya, dan barat laut. Secara kronologis menggambarkan masa penjajahan Belanda, perlawanan rakyat Indonesia dan pahlawan-pahlawan nasional Indonesia, terbentuknya organisasi modern yang memperjuangkan Indonesia Merdeka pada awal abad ke-20, Sumpah Pemuda, Pendudukan Jepang dan Perang Dunia II, proklamasi kemerdekaan Indonesia disusul Revolusi dan Perang kemerdekaan Republik Indonesia, hingga mencapai masa pembangunan Indonesia modern. Relief dan patung-patung ini dibuat dari semen dengan kerangka pipa atau logam, sayang sekali beberapa patung dan arca mulai rontok dan rusak akibat hujan dan cuaca tropis.





No comments:

Post a Comment