Friday, 31 May 2013

Tugas 2 (Mulok)

Pada hari Kamis, saya bersama teman-teman saya berkesempatan mengunjungi Museum Kehutanan di gedung Manggala Wanabakti. Gedung Manggala Wanabakti ini terletak di Blok VI, Jalan Jenderal Gatot Subroto, Senayan. Gedung ini semula dikenal sebagai Gedung Pusat Kehutanan, yang didirikan atas kesadaran pada Rimbawan Indonesia bahwa kepemimpinan nasional dalam bidang kehutanan perlu ditunjang dengan sarana yang mendukung.

Gedung ini terdiri dari gugusan-gugusan perkantoran pemerintah (Departemen Kehutanan), perkantoran swasta, bangunan fasilitas umum yang terdiri dari ruang auditorium dan sekitarnya untuk penyelenggaraan berbagai acara, bangunan mechanical/electrical, sarana olahraga beserta kelengkapannya dan bangunan khusus yaitu Museum dan Perpustakaan Kehutanan. Gugusan bangunan ini dikelilingi Taman Hutan dan memiliki areal parkir kendaraan untuk pengunjungnya.

Museum Kehutanan yang kami kunjungi ini cukup besar, dengan dua lantai dan memiliki luas 1.466 meter persegi. Museum yang juga memiliki perpustakaan ini mencakup koleksi sebanyak 736 artefak, outdoor dan indoor. Contoh-contoh yang dipamerkan di museum tersebut antara lain adalah pohon jati berusia 139 tahun, yang berasal dari Cepu, Jawa Tengah. Selain itu juga terdapat fosil kayu berusia 40.000 tahun lebih, gelondong jati yang berusia 336 tahun, yang beberapa lingkaran kambiumnya dihubungkan dengan tahun-tahun peristiwa penting sejarah Indonesia, diorama tipe hutan di Indonesia, patung Pak Mantri Hutan Zaman Dulu, patung penyaradan kayu jati gelondong oleh enam sapi, dan lokomotif tua yang terletak di luar gedung.  Museum yang kaya akan sejarah ini dibuka setiap hari Senin sampai Jumat, dari jam 09.00 hingga jam 15.30, serta tidak dipungut biaya. Pengunjung hanya diharuskan untuk menulis nama di buku tamu.

Lantai 1 Museum Kehutanan Manggala Wanabakti
(dokumentasi diambil dari internet)

Artefak yang saya bahas dalam tugas mulok ini adalah alat-alat penebangan zaman dahulu, yang terdiri dari kampak dan lain-lain. Saya menjelaskan artefak ini kepada salah seorang pengunjung bernama Bapak Febri. Berikut adalah videonya:

No comments:

Post a Comment