Thursday, 23 May 2013

Tugas-2 Prima Widyo Kuntoro XI IPS 2



Nek Anang Melawan PKI




1.Biografi

 Nama kakek saya adalah Adani Aman, SH . Beliau lahir di Pagar Alam , Sumatera Selatan pada tanggal 23 Januari 1936. Saya biasa memanggil kakek saya nek anang. Kakek Anang dulu hidup  bersembilan bersaudara di Pagar Alam , Sumatera Selatan. Ayah dari Kakek Anang bernama Nek Aman . Sedangkan , Ibu dari Kakek Anang bernama Cik Nona . Ibu dari Kakek Anang biasanya saya dan saudara - saudara saya yang lain panggil dengan nama Nek Uyang . sampai sekarang ibu dari
Kakek Anang yang bernama Cik Nona masih hidup dan tinggal di Lahat , Sumatera Selatan. Kakek Anang memiliki Istri yang bernama Nurhasanah . Saya dan adik - adik saya biasa memanggil istri Kakek Anang dengan nama Nek Ibu . Seingat saya dan adik - adik saya Nek Nurhasanah bekerja sebagai bidan di Palembang , Sumatera Selatan. Kakek Anang dan Nek Nurhasanah memiliki lima orang anak yaitu Yan Megawandi , Andi Wijaya , Yasrif Hidayat , dan yang terakhir yaitu Ibu saya sendiri Marty Adani . Kakek Anang dan Nek Nurhasanah mengadopsi satu orang anak lagi bernama Nani Nurniati. Pada tahun 1970 Kakek Anang datang ke Palembang , Sumatera Selatan . Mengutarakan niatnya ingin membeli mobil sedan (waktu itu sedan menjadi taxi Bandar Pagaralam). Kakek anang betul - betul heran , orang seperti bapak mau beli mobil lagi , sedan lagi. Bapak tidak dapat mengemudi. setelah kakek saya berunding dengan keluarga - keluarganya akhirnya telah diambil keputusan bahwa kakek anang akan membeli sebuah opelet (angkot) sekond. Menurut perhitungan  diatas kertas waktu itu, pastilah angkot itu akan banyak membantu perekonomian keluarga kakek anang pada saat itu. Karena setoran angkot setiap hari seribu rupiah sedangkan biaya asrama bibik laita sebulan hanya lima ribu rupiah. Jangan akan membiayai Bibik Laita sekolah , bahkan kadang - kadang uang gaji Kakek Anang "dimakan" oleh opelet itu. Entah berapa lama keadaan itu berlangsung , akhirnya keluarga kakek Anang berunding untuk menjual opelet itu walaupun merugi . Uangnya disimpan untuk ongkos naik haji Nek Aman dan Cik Nonah . Pada bulan Juni tahun 1971 , setelah menderita demam selama tiga hari Nek Aman menutup mata untuk selama - lamanya , mulailah kehidupan keluarga kakek Anang dan Cik Nonah ke babak yang baru. Cik Nona yang selama ini wanita keras, tegar , dalam menghadapi kesulitan , beberapa hari sepeninggal Nek Aman , pernah jatuh sakit hingga tidak sadar, Alhamdulillah Cik Nonah bangkit lagi. Bibik Aspiah sudah bersekolah di Bandar , Bibik Ety setelah tamat terpaksa drop aut atau berhenti dari sekolah untuk menemani cik nonah di Bandar. Melihat bibik ety belum bersekolah kembali, justeru Cik nonah yang merasa sedih . Tahun berikutnya barulah bibik ety melanjutkan sekolah di Lahat , Sumatera Selatan. Kebun yang sudah dirintis oleh Nek Aman di Bandar , Sumatera Selatan diteruskan oleh cik nonah , sawah diseberang di paruhkan m berdagang pun hasilnya memadai. Untuk biaya sekolah bibik Laita , bibik ety dan aspiah tidak pernah Cik nonah atau biasanya yang say panggil nek uyang meminta bantuan dari keluarga - keluarganya yang lain , bahkan cik nona mampu membeli sebidang sawah di Bandar , Sumatera Selatan. Kakek Anang dan saudara- saudaranya yang lebih tua hanya melakukan pengawasan , memberi nasihat dan arahan kepada adik bertiga itu. Uang Pensiun janda tiap bulan pun membantu Cik nona walaupun pada saat itu tidak seberapa untuk membantu perekonomian keluarga Kakek Anang. Setelah bibik esty dan bik aspiah tamat sekolah , Laita sudah berumah tangga ,sekitar tahun 1993 cik nona pulang kembali ke singapure untuk beristirahat dan bernostalgia disana. Sekitar tahun 1999, Cik Nona mulai sakit-sakitan,apa lagi ketika ginjal cik nona mulai bermasalah, cik nona akhirnya pindah ke Palembang , Sumatera Selatan. Pada tahun 2004 nek Nurhasanah meninggal dunia , Cik nona  akhirnya pindah lagi ke Bangka Belitung ikut bersama bibi ety. Alasan beliau ,Cik nona lebih dibutuhkan di sana karena bibi ety dan Hartono (suami Bibik ety) sama sama bekerja. Jadi , setiap siang hari rumahnya kosong . Dengan alasan yang sama , setelah nek Akmal dinas di Pagar Alam , Sumatera Selatan , Cik Nona pun ikut bibik Lita ke Lahat , Sumatera Selatan. Tahun 2011akhir setelah beberapa lama di rawat di rumah sakit akhirnya Cik Nona keluar dari rumah sakit dan diperbolehkan pulang. dengan berbagai pertimbangan Cik nona kembali ke rumah Bibik Laita di Lahat , Sumatera Selatan. Sekarang kesehatan Cik nona sudah mulai merosot , cik nona sudah mulai sulit berjalan , syukur saja pikirannya masih normal , dan komunikasinya masih baik. Kakek saya dulu bekerja sebagai guru SMEA di Palembang , Sumatera Selatan. Beliau biasanya mengajar di sekolah – sekolah negeri di daerah Palembang , Sumatera Selatan.  Dulu selain menjadi guru kakek saya juga menjabat sebagai kepala sekolah selama dua puluh tiga tahun di Palembang , Sumatera Selatan. Dulu selain bekrja sebagai guru dari beberapa sekolah – sekolah negeri di Palembang , Sumatera Selatan. Beliau   dan menjabat sebagai kepala sekolah , kakek saya juga mengambil kuliah di UNSRI (Unibersitas Sriwijaya) . Kakek saya kuliah mengambil di fakultas hukum. Kakek saya pensiun dari pekerjaan pegawai negeri sipil (PNS) pada tahun 1996.




2.Peranan

Dalam wawancara ini saya mengupas kisah tentang peran kakek saya dalam peranannya melawan kegiatan PKI. Selain sebagai guru kakek saya juga merupakan seorang mahasiswa. Kakek saya pada saat menjadi guru juga mengikuti organisasi KAGI atau yang disebut juga Kesatuan Aksi Guru. Kakek saya menjabat sebagai ketua KAGI atau disebut juga Kesatuan Aksi Guru. Selain menjadi ketua dari Kesatuan Aksi Guru (KAGI) kakek saya juga mengikuti organisasi KAMI atau disebut juga Kesatuan Aksi Mahasiswa. Kakek saya menjabat sebagai Komandan Operasi Kesatuan Aksi Mahasiswa (KAMI). Tujuan organisasi-organisasi yang diikuti oleh kakek saya memiliki tujuan yang sama yaitu dalam rangka memberantas pengaruh – pengaruh PKI pada saat itu. Biasanya organisasi-organisasi itu melakukan razia –razia terhadap toko – toko di daerah tersebut. Menurut hasil wawancara kakek saya ketika razia – razia itu dilakukan terdapat banyak Brimob berjaga – jaga agar Kesatuan Aksi tidak terlalu overreacting atau rusuh. Kata kakek saya dari hasil kegiatan – kegiatan Kesatuan Aksi tersebut akan dilaporkan ke KODIM. Selain melakukan Razia – razia terhadap pengaruh – pengaruh PKI Kakek saya dan Kesatuan Aksi Guru (KAGI) dan juga Kesatuan Aksi Mahasiswa melakukan kegiatan demonstrasi yang dipimpin oleh kakek saya. Kakek saya pernah berpidato di depan para demonstran untuk menyemangati mereka agar tidak bosan - bosannya terus berjuang sebelum orde lama jatuh.
 Tujuan Demonstrasi Kesatuan Aksi Guru (KAGI) dan juga Kesatuan Aksi Mahasiswa (KAMI) tersebut adalah menentang orang – orang atau pejabat yang berindikasi PKI dan PNIASU (Partai Nasional Indonesia Ali Surahman) agar orang – orang PNIASU tidak melibatkan diri untuk melawan orde baru sebagai orde penentang orde lama yang didominasi oleh orang PKI. Kakek saya sering menyemangati para demonstran agar tidak bosan memberantas orang- orang PKI. Pada saat itu kakek saya jarang sekali mengajar karena disibukkan oleh kegiatan kegiatan demonstrasi bersama Kesatuan Aksi Guru (KAGI) dan Kesatuan Aksi Mahasiswa (KAMI) untuk menentang para pejabat – pejabat yang terlibat dalam kegiatan PKI.
Tri Tuntutan Rakyat (atau biasa disingkat Tritura) adalah tiga tuntutan kepada pemerintah yang diserukan para mahasiswa yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa (KAMI). Selanjutnya diikuti oleh kesatuan-kesatuan aksi yang lainnya seperti Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia (KAPI), Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI), Kesatuan Aksi Buruh Indonesia (KABI), Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia (KASI), Kesatuan Aksi Wanita Indonesia (KAWI), dan Kesatuan Aksi Guru Indonesia (KAGI), serta didukung penuh oleh Angkatan Bersenjata.
Ketika gelombang demonstrasi menuntut pembubaran PKI semakin keras, pemerintah tidak segera mengambil tindakan. Keadaan negara Indonesia sudah sangat parah, baik dari segi ekonomi maupun politik. Harga barang naik sangat tinggi terutama BBM. Oleh karenanya, pada tanggal 12 Januari 1966, KAMI dan KAPPI memelopori kesatuan aksi yang tergabung dalam Front Pancasila mendatangi DPR-GR menuntut Tritura.


Isi Tritura adalah:
  1. Bubarkan PKI beserta ormas-ormasnya
  2. Perombakan kabinet DWIKORA
  3. Turunkan harga dan perbaiki sandang-pangan
Tuntutan pertama dan kedua sebelumnya sudah pernah diserukan oleh KAP-Gestapu (Kesatuan Aksi Pengganyangan Gerakan 30 September). Sedangkan tuntutan ketiga baru diserukan saat itu. Tuntutan ketiga sangat menyentuh kepentingan orang banyak.
Pada tanggal 21 Februari 1966 Presiden Sukarno mengumumkan reshuffle kabinet. Dalam kabinet itu duduk para simpatisan PKI. Kenyataan ini menyulut kembali mahasiswa meningkatkan aksi demonstrasinya. Tanggal 24 Februari 1966 mahasiswa memboikot pelantikan menteri-menteri baru. Dalam insiden yang terjadi dengan Resimen Cakrabirawa, Pasukan Pengawal Presiden Sukarno, seorang mahasiswa Arief Rahman Hakim Gugur. Pada tanggal 25 Februari 1966 KAMI dibubarkan, namun hal itu tidak mengurangi gerakan-gerakan mahasiswa untuk melanjutkan Tri Tuntutan Rakyat (Tritura).
Akhirnya, Tujuan dari Tri Tuntutan Rakyat dapat terwujud dengan keluarnya Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar) yang memerintahkan kepada Mayor Jenderal Suharto untuk membubarkan Partai Komunis Indonesia dan ormas-ormasnya. Selain itu, Supersemar juga mengamanatkan agar meningkatkan perekonomian Indonesia sehingga dapat terwujud kesejahteraan sosial dan ekonomi bagi seluruh rakyat Indonesia.
Tindakan pembersihan di kalangan masyarakat terhadap unsur-unsur PKI dan ormas-ormasnya serta aksi-aksi tuntutan penyelesaian yang seadil-adilnya terhadap pelaku Gerakan 30 September semakin meningkat.
Di Jakarta, aksi-aksi tersebut dipelopori oleh para mahasiswa, yang kemudian membentuk wadah, yaitu Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). Langkah tersebut kemudian diikuti pula oleh para pelajar dan pemuda yang membetuk pula wadah berupa kesatuan-kesatuan aksi, yaitu Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI) dan Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia (KAPI). Muncul pula sesudah itu berbagai Kesatuan Aksi lainnya, seperti KABI (buruh), KASI (sarjana), KAWI (wanita), dan KAGI (guru).
Dengan pembentukan KAMI dan lain-lain kesatuan aksi tersebut, tuntutan-tuntutan penyelesaian politis terhadap mereka yang terlibat dalam G-30-S/PKI kian bertambah hebat. Bersama orpol-ormas yang menentang G-30-S/PKI, kesatuan-kesatuan aksi tersebut membulatkan barisan mereka dalam satu front, yaitu Front Pancasila.