Friday, 31 May 2013

Tugas 2 - Biografi Rozaan Wiryanto XI IPA 2

Perjuangan Asep Syarifudin untuk Indonesia

A.    Pembukaan
  Indonesia memiliki sangat banyak peristiwa-peristiwa bersejarah yang tersebar di banyak wilayah. Peristiwa yang membuat trauma di rasakan oleh seluruh kalangan yang ada di Indonesia, dari rakyat biasa sampai ke pejuang-pejuang kita. Trauma ini-pun terkadang membentuk suatu budaya baru di masyarakat. Tentara-tentara yang berperang di Indonesia pada masa itu rela mengorbankan dirinya demi negara ini, mereka tidak takut akan luka fisik maupun mental terhadap dirinya, bahkan sampai kehilangan nyawanya sekalipun, semua itu tidak lain hanyalah demi tanah air-nya. Itulah bukti kecintaan para pejuang-pejuang perang pada masa itu.

B.    Biografi
Asep Syarifudin, biasa di panggil Cecep ia adalah salah satu veteran yang mengorbankan dirinya demi tanah air. Ia lahir di Bandung pada tahun 1927 tepatnya di bulan maret tanggal 25 ia lahir di keluarga yang sederhana. Ia dan keluarganya cukup agamis, terlebih lagi ia dipesantren-kan di Pesantren yang bagus di daerahnya. Walaupun ia memiliki keyakinan islam yang kuat, tp ia sangatlah toleran terhadap sesama Islam maupun non-Islam. Ia termasuk murid yang berprestasi di pesantren itu. Ia menguasai banyak bahasa. Bahasa Inggris, Belanda, Jepang, Indonesia, Sunda, dan juga sedikit bahasa Jerman (karena ada kemiripan dengan bahasa belanda). Salah satu sahabatnya sejak kecilnya adalah almarhum ayah dari kakek saya. Persahabatan mereka berlangsung sangat lama walaupun mereka memiliki jalan hidup yang berbeda, dan karena alat komunikasi saat itu masih sangat terbatas, mereka sempat tidak bertemu lagi, bahkan  saat almarhum kakek buyut saya meninggal dunia ia tidak sempat menjenguknya dan hanya mendapatkan kabar saja melalui surat yang datang ke rumahnya. Eyang Asep Syarifudin dinyatakan lulus dan diperbolehkan meninggalkan pesantrennya dan disarankan untuk berdakwah pada umur 16 tahun, yaitu pada  tahun 1943 Ia berdakwah di daerah Bandung dan sekitarnya bersama dengan sahabatnya. Awal-mulanya adalah dakwah “panggilan”. Yaitu dari rumah ke rumah di daerah desanya. Lalu ia mencoba untuk berdakwah dari masjid ke masjid. Setahun sudah eyang Arif melakukan hal tersebut, Tetapi karena keadaan Indonesia yang sedang di jajah oleh Jepang itu, ia merasa terpanggil untuk ikut serta dalam membela negara, di tambah lagi aturan wajib militer oleh Bung Karno dan pada akhirnya masuklah ia ke dalam pelatihan militer Bandung pada tahun 1944 tepatnya di umur 17 tahun. Sejak itulah perpisaan antara dirinya dan sahabatnya sejak kecilnya itu. Sahabat sejak kecilnya itu tidak ikut serta dalam militer, tetapi masuk ke kepolisian.  
Eyang menjalani pelatihan selama 1 tahun lalu ikut berpartisipasi dalam pertahanan di daerah Bandung. Bahkan sampai-sampai beliau kehilangan satu dari kakinya di hari yang sangat bersejarah dan di kenang bagi masyarakat Indonesia sebagai peristiwa Bandung lautan api. Insiden ini memakan cukup banyak korban. 
3 tahun kemudian (21 tahun), beliau bertemu dengan seorang gadis yang cantik jelita saat melawati sebuah rumah.  Gadis itu bernama Mimin Suryani. Dia berumur 4 tahun lebih muda dari eyang. Akhirnya takdir beliau untuk bertemu pasangannya terkabul. Dan mereka setuju untuk menjalin hubungan baik dengan tujuan mengenal satu sama lain sebelum menuju ke hubungan yang lebih serius. Setelah berkenalan selama 1 tahun, Eyang Cecep memberanikan diri untuk melamar Mimin dirumahnya. Tak disangka oleh Eyang Cecep, orang tua sang gadis menerima lamaran tersebut dengan baik dan menyutujui atas lamaran yang diajukan. Dua bulan kemudian setelah lamaran, mereka akhirnya menikah dan secara resmi menjadi pasangan suami istri. Eyang Cecep bersama isterinya tinggal di rumah sederhana di daerah Tebon Mangu, Bandung. Setelah beberapa tahun menikah akhirnya mereka memiliki sepuluh anak. Dari kesepuluh anak Eyang Cecep, mereka memiliki tujuh belas cucu. Dan sekarang, eyang Cecep sudah mempunyai 6 cicit dari ke tujuh belas cucunya.
   Sebagai tanda terima kasih terhadap dirinya, beliau diberi  banyak penghargaan, seperti medali, salahsatunya medali 45, piagam-piagam, dan lain-lain.  menjadi seorang aktivis di organisasi Pejuang di Bandung yang di kenal sebagai DHD 45 sampai hari ini. Kantor DHD 45 (kantor organisasi kejuangan 45)  terletak di Jalan Sunda 45, Bandung. DHD adalah organisasi yang bertujuan meningkatkan jati diri bangsa terhadap nilai-nilai perjuangan 45. Organisasi ini sangat penting untuk tetap memelihara sejarah dan perjuangan bangsa Indonesia, menyemangati generasi-generasi muda untuk tetap berani berkorban demi bangsanya, dan serta membantu dalam membiayai hidup para veteran 45.
C.     Peranan
      Eyang cecep pertama memasuki militer di Indonesia pada tahun 1944 (saat berumur 17 tahun) karena saat itu Indonesia dalam kondisi di bawah jajahan Jepang, maka Soekarno membuat kebijakan untuk mewajibkan semua pemuda 17 tahun keatas untuk ikut serta dalam militer Indonesia. Tetapi eyang tidak sempat melawan Jepang karena pada masa satu tahun, eyang masih dalam pelatihan militer. Setelah kemerdekaan, barulah eyang dapat ikut serta dalam pertahanan negara.  Di dalam militer, eyang berpangkat sebagai cpm (Polisi Militer)
      Polisi militer (PM) ialah polisi dari organisasi militer. Polisi militer bertugas di wilayah penegakan hukum (termasuk penyelidikan kejahatan) pada kepemilikan militer dan mengenai anggota militer (bahkan dalam kasus tertentu, dapat juga melibatkan polisi sipil, terutama jika kasus tersebut melibatkan warga sipil), keamanan instalasi, perlindungan pribadiperwira militer senior, pengaturan tahanan perangtahanan militer, pengendalian lalu lintas militer, penandaan rute dan memasok kembali manajemen rute. Tak semua organisasi militer berkaitan dengan area tugas tadi. Di beberapa negara, angkatan polisi militer - umum dikenal sebagai gendarmerie, meski masih ada ragam nama lain (seperti Carabinieri di Italia, Marechaussee di Belanda, Pasukan Internal di Rusia dan beberapa negara CIS, atauPolicia Militar di Brasil) - juga bertugas sebagai angkatan polisi nasional, sering bertindak sebagai back-up kuat untuk polisi sipil dan/atau menjaga ketertiban daerah pelosok. Anggotanya dikenali dengan ban lengan (biasanya berwarna biru gelap) bertuliskan "PM" (tergantung negara dan bahasa).
      Pada saat-saat beliau bertugas dibawah Pimpinan Nasution pada tahun 1946, itulah saat dimana sedang terjadi banyak penyerangan-penyerangan yang dilakukan oleh pihak Belanda terhadap Indonesia. Peperangan yang terjadi di bandung pada bulan Februari sampai Maret, berlangsung hampir setiap hari. Banyak warga Bandung yang menjadi korbannya.
      Pada bulan Maret, tepatnya tanggal 24, terjadi sebuah peristiwa yang sangat bersejarah di Bandung, yaitu peristiwa Bandung Lautan Api(BLA).  Tanggal 24 Maret 1946 tersebut, Dalam waktu tujuh jam, sekitar 200.000 penduduk Bandung membakar rumah mereka, meninggalkan kota menuju pegunungan di daerah selatan Bandung. Hal ini dilakukan untuk mencegah tentara Sekutu dan tentara NICA Belanda untuk dapat menggunakan kota Bandung sebagai markas strategis militer dalam Perang Kemerdekaan Indonesia. Latar belakang terjadinya BLA yaitu Pasukan Inggris bagian dari Brigade MacDonald tiba di Bandung pada tanggal 12 Oktober 1945. Sejak semula hubungan mereka dengan pemerintah RI sudah tegang. Mereka menuntut agar semua senjata api yang ada di tangan penduduk, kecuali TKR dan polisi, diserahkan kepada mereka.
      Orang-orang Belanda yang baru dibebaskan dari kamp tawanan mulai melakukan tindakan-tindakan yang mulai mengganggu keamanan. Akibatnya, bentrokan bersenjata antara Inggris dan TKR tidak dapat dihindari. Malam tanggal 24 November 1945, TKR dan badan-badan perjuangan melancarkan serangan terhadap kedudukan-kedudukan Inggris di bagian utara, termasuk Hotel Homann dan Hotel Preanger yang mereka gunakan sebagai markas. Tiga hari kemudian, MacDonald menyampaikan ultimatum kepada Gubernur Jawa Barat agar Bandung Utara dikosongkan oleh penduduk Indonesia, termasuk pasukan bersenjata. Ultimatum Tentara Sekutu agar Tentara Republik Indonesia (TRI, sebutan bagi TNI pada saat itu) meninggalkan kota Bandung mendorong TRI untuk melakukan operasi "bumihangus". Para pejuang pihak Republik Indonesia tidak rela bila Kota Bandung dimanfaatkan oleh pihak Sekutu dan NICA. Keputusan untuk membumihanguskan Bandung diambil melalui musyawarah Madjelis Persatoean Perdjoangan Priangan (MP3) di hadapan semua kekuatan perjuangan pihak Republik Indonesia, pada tanggal 24 Maret 1946. Kolonel Abdoel Haris Nasoetion selaku Komandan Divisi III TRI mengumumkan hasil musyawarah tersebut dan memerintahkan evakuasi Kota Bandung. Hari itu juga, rombongan besar penduduk Bandung mengalir panjang meninggalkan kota Bandung dan malam itu pembakaran kota berlangsung. Bandung sengaja dibakar oleh TRI dan rakyat setempat dengan maksud agar Sekutu tidak dapat menggunakan Bandung sebagai markas strategis militer.





      Setelah kota Bandung menjadi lautan api, listrik di Bandung mati dan kota pun menjadi gelap. Saat itu pasukan sekutu datang menyerang, dan pertarungan sengit-pun terjadi antara sekutu dan TRI. Pertarungan terjadi sangat sengit di daerah Dayeuhkolot. Disanalah tempat eyang Cecep bertarung dan tertembak pada bagian kakinya. Hal itu memaksa beliau untuk mundur dari pertempuran dan di evakuasi segera ke rumah sakit. Tetapi karena lamanya pengobatan karena ramainya rumah sakit tersebut, akhirnya terjadi infeksi pada luka tembak di kaki  eyang dan dengan terpaksa demi keselamatan eyang diamputasi-lah kaki sebelah kirinya.
      Setelah hari itu berlalu, perjuangan eyang belumlah selesai. Eyang tetap mengabdikan dirinya pada negara. Beliau tetap menjadi CPM Batalyion III Jawa. Tugas beliau sekarang adalah memastikan bahwa indonesia sudah benar-benar merdeka dan tetap akan terus merdeka sampai kapanpun. Harapan eyang untuk Indonesia yaitu semoga Indonesia tetap bersatu sampai kapanpun, jangan ada perpecahan walau ada sebuah perbedaan, tetap utuh, dan tetap-lah berjuang melawan para penjajah dalam bidang apapun.

D.    Penutup
Sekian adalah Biografi dan peranan Asep Syarifudin, seorang veteran Bandung yang sangat cinta dan bangga kepada negaranya. Semoga biografi yang singkat ini dapat membuka pikiran dan semangat masyarakat Indonesia serta menumbuhkan rasa cinta kita semua kepada Republik Indonesia.

No comments:

Post a Comment