Friday, 31 May 2013

Tugas 2 - Sekar Saras Ayu Hasanah

           
Ben Sardjono, Sang Penegak Keadilan

Sebagai anak bangsa yang mencintai tanah airnya sendiri, sudah sepatutnya kita mengenal lebih- dalam sejarah bumi pertiwi ini. Karena sejarah merupakan komponen yang krusial dalam kehidupan ini. Indonesia telah banyak melewati  berbagai macam peristiwa sejarah. Dari zaman Indonesia dijajah oleh Belanda dan zaman kependudukan Jepang, hingga saat ini dimana Indonesia masih mempertahankan kemerdekaannya. Dalam meraih dan mempertahankan  kemerdekaan itu sendiri, Indonesia memiliki pahlawan – pahlawan yang terus membela negara Indonesia dengan semangat juang yang sangat tinggi.
             Di semester genap ini, saya dan teman – teman Dasecakra mendapatkan tugas sejarah untuk mewawancarai narasumber yang mempunyai peran  terhadap bangsa Indonesia. Maka dari itu saya mewawancarai eyang saya sendiri yang kebetulan adalah seorang mantan jaksa.

            Beliau mempunyai nama lengkap Ben Sardjono, yang biasa dipanggil oleh kerabat-kerabatnya “Ben”. Eyang Ben dilahirkan pada tanggal 14 bulan Oktober tahun 1937, dimana Belanda masih menjajah wilayah Indonesia. Beliau merupakan eyang yang sangat menyayangi keluarga dan teman-temannya. Saat Jepang menginjakkan kaki di Indonesia, yaitu pada tahun 1942, Eyang Ben masih berusia 5 tahun. Umur yang masih sangat kecil untuk mengetahui arti penjajahan. Di penghujung masa kependudukan Jepang, eyang sudah duduk di bangku SD, yang pada saat itu disebut dengan SR atau Sekolah Rakyat. Beliau masih ingat, setiap pagi terdapat pelajaran dimana beliau harus menundukkan badan kepada Jepang untuk memberi penghormatan kepada negeri Jepang. Membungkukkan badan kepada Jepang ini dikenal dengan istilah Seikerei. Semua itu dikarenakan Indonesia masih dibawah kekuasaan Jepang.
Tiga tahun kemudian, Tuhan memberikan hadiah istimewa untuk Indonesia, yaitu kemerdekaan. Tentu saja kemerdekaan ini tidak diraih dengan mudah. Kemerdekaan ini merupakan kemerdekaan yang telah diperjuangkan lebih dari tiga abad lamanya, dan akhirnya dapat diraih juga.  Dengan suka cita seluruh rakyat negeri ini menyambut proklamasi kemerdekaan Indonesia yang dibacakan oleh Soekarno. Tetapi, dengan merdekanya bangsa Indonesia, bukan berarti kita lepas begitu saja dari tangan Belanda. Oleh sebab itu, di tahun 1947, Eyang Ben beserta keluarga pindah ke Arjawinangun, yang pada saat itu merupakan tempat pengungsian. Penyebab kepindahan itu dikarenakan ketidak inginannya ayah dari Eyang Ben untuk berkerjasama dengan orang-orang Belanda. Dengan begitu beliau memutuskan lebih baik ia membantu orang – orang yang membutuhkan di tempat pengungsian. Di pengungsian, Eyang bersekolah sampai menduduki bangku kelas 4 SD. Eyang dan keluarganya, tinggal di tempat pengungsian sampai terjadinya penyerahan kedaulatan yang ada di penghujung tahun 1949. Setelah tahun 1949, Eyang Ben beserta keluarga pindah ke Jakarta. Dan di Jakarta eyang meneruskan pendidikannya di sekolah. Saat itu di Indonesia terpada sekolah rakyat yang bernama sekolah federal dan sekolah republik. Sekolah rakyat mempunyai dua nama, karena pada saat itu Indonesia juga sempat menganut sistem federal. Karena itulah sekolah rakyat mempunyai nama sekolah federal dan sekolah republik. Sekolah republiklah yang merupakan tempat Eyang Ben untuk meneruskan pendidikannya. Sekolah republik itu bernama Sekolah Arjuna. Sekolah Arjuna bertempat di daerah Kebon Sereh, Jatinegara, Jakarta. Eyang bersekolah di Sekolah Arjuna hanya dari kelas 4 sampai kelas 5. Kemudian eyang bersekolah di sekolah yang bernama Oranje plain untuk melanjutkan masa SDnya di kelas 6. Sekarang sekolah itu bernama Sekolah Slamet Riyadi. Setelah menamatkan pendidikannya di Sekolah Rakyat atau Sekolah Dasar Slamet Riyadi, eyang melanjutkan pendidikan ke SMP 8 yang terletak di Jl. Pegangsaan Barat. Sampai sekarang sekolah it uterus berdiri, tetapi di bagi menjadi dua bagian yaitu SMP 8 dan SMP 9. Lulus dari SMP 8, Eyang Ben masuk ke SMA Jalan Batu, yang  berada di depan Stasiun Gambir. Selain bersekolah di SMA Jalan Batu, Eyang Ben juga mendaftarkan diri di Sekolah Menengah Kehakiman Atas. Sekolah Menegah. Eyang Ben akhirnya bersekolah di Sekolah Menengah Kehakiman Atas dengan ikatan dinas. Setelah tiga tahun lamanya mengenyam pendidikan di Sekolah Menengah Kehakiman Atas, akhirnya Eyang Ben pun lulus. Lulus dari Sekolah Menengah Kehakiman Atas, Eyang Ben melanjutkan ke Perguruan Tinggi yang berada di kota Malang, Jawa Timur.  Eyang Ben bersekolah di kota Malang dari tahun 1953-1956. Tahun 1957, di umur 20 tahun beliau sudah menjadi jaksa.
Pertama kali menjadi jaksa, Eyang Ben diperbantukan di Komando Resimen Gunung Jati, Korem Cirebon. Tugas beliau adalah untuk memeriksa tahanan-tahanan pemberontakan DI/TII yang dipimpin oleh Kartosuwiryo, yang bertujuan untuk membentuk Negara Islam Indonesia.
            Orang – orang yang menjadi tahanan DI/TII sebenarnya hanya rakyat biasa. Tetapi dikenai tuduhan bersekongkol dengan pemberontak-pemberontak DI/TII. Tuduhan tersebut ada karena, pada saat patrol diadakan, pemberontak-pemberontak itu sedang ke kampong-kampung untuk meminta perbekalan ke warga. Karena mereka meminta dengan paksa, warga pun terpaksa memberikan perbekalan untuk mereka. Karena itulah rakyat-rakyat tersebut dikira membantu para pemberontak DI/TII. Meskipun begitu, mereka tetap ditahan untuk verifikasi lebih lanjut. Kartosuwiry pun pada akhirnya berhasil tertangkap, dan warga-warga kampong yang tidak bersalah akhirnya dibebaskan. Di dalam semua tahanan itu, hanya satu orang yang benar-benar merupakan anggota DI/TII.
            Selang setahun setelah berakhirnya pemberontakan DI/TII, muncul lagi pemberontakan lainnya, yaitu pemberontakan PRRI dan Permesta. Pemberontakan PRRI terjadi di Padang, sedangkan pemberontakan Permesta terjadi di daerah Sulawesi Utara. Pada tahun 1958, Eyang Ben dipindahkan ke Padang dan diperbantukan pada Penguasa Perang Sumatera Barat. Selain itu, eyang juga bertugas untuk memeriksa tahanan – tahanan pemberontakan PRRI yang berada di daerah Sumatera Barat. Tahanan-tahanan PRRI Permesta kebanyakan merupakan mahasiswa. Pemberontakan PRRI Permesta memiliki tujuan yang berbeda dengan pemberontakan DI/TII. Bukan untuk mendirikan negara, tetapi pemberontakan PRRI Permesta didasari karena ketidak sukaan terhadap pemerintahan Soekarno Yang menurut mereka pembangunan hanya dipusatkan di daerah Jawa saja, sedangkan daerah-daerah Indonesia yang lain masih banyak yang belum dibangun. Mereka sebenernya haya menginginkan pembangunan yang merata. Niat mereka ingin meratakan pembangunan adalah niat yang  baik, tetapi mereka melakukannya dengan cara yang salah dan melanggar konstitusi.
            Dalam suasana perang yang begitu menakutkan, beliau tetap bertugas disana. Meskipun akhirnya Eyang Ben hanya bertugas selama 6 bulan di Sumatera Barat. Setelah tugasnya di Sumatera Barat selesai, beliau kemudian pindah lagi ke Cirebon. Dari Cirebon eyang langsung berpindah tempat lagi ke Balikpapan. Tetapi tugas di Balikpapan hanya berlangsung selama 3 bulan, dikarenakan kondisi kerja yang tidak kondusif. Akhirnya eyang ditempatkan di Purwakarta. Tugas eyang di Purwakarta berlangsung selama satu tahun. Setelah itu eyang ditempatkan di Tembilahan yang berada di Provinsi Riau. Setelah satu tahun eyang bekerja di Tembilahan, eyang melanjutkan pendidikan di Akademi Hukum Militer. Eyang bersekola di Akademi Hukum Militer selama empat tahun, dari tahun 1961 sampai pada tahun 1965.
            Di tahun 1965 itu terjadi pemberontakan yang dikenal dengan pemberontakan G 30 S PKI, yang terjadi selewat malam di tanggal 30 September 1965 sampai di awal 1 Oktober 1965 di mana enam perwira tinggi militer Indonesia beserta beberapa orang lainnya dibunuh dalam suatu usaha percobaan kudeta yang kemudian dituduhkan kepada Partai Komunis Indonesia (PKI).
            Pada saat terjadinya pemberontakan G 30 S, beliau ditempatkan di Kejaksaan Tinggi Palembang. Tetapi sesampainya di Palembang, Eyang Ben diperbantukan lagi di Penguasa Perang Daerah Sumatera Selatan untuk membantu memeriksa tahanan-tahanan pemberontakan G 30 S. Setelah menjadi tim pemeriksa tahanan, eyang melanjutkan pendidikan Sarjana Hukum. Tetapi sebelum ujian selesai, eyang sudah dipanggil untuk dinas ke Palembang. Eyang diminta untuk ikut membantu menjadi anggota tim oditur dalam Mahkamah Militer Luar Biasa yang mengadili tokoh PKI yang berada di Sumatera Selatan. Dalam sidang tersebut, diputuskan bahwa hukuman para pelaku PKI dihukum seumur hidup. Dengan selesainya sidang tersebut, eyang kembali ke Jakarta untuk melanjutkan ujian yang sebelumnya tertunda di Perguruan Tinggi Hukum Militer. Anehnya, setelah eyang menamatkan pendidikannya di Perguruan Tinggi Hukum Militer, Eyang Ben justru memutuskan untuk berhenti bekerja di pemerintahan dan keluar dari kejaksaan. Yang kemudian dilanjutkan dengan bekerja di perusahaan-perusahaan swasta. Beberapa perusahaan yang menjadi tempat bekerja Eyang Ben adalah Pabrik Kimia, perusahaan yang memproduksi oxygen, perhutanan, perusahaan perjalanan dan perusahaan pelayaran. Dimana eyang menjadi Executive Secretary pada beberapa perusahaan tersebut.  Eyang Ben mulai bekerja di perusahaan swasta dari tahun 1967. Eyang bersama rekan-rekannya mendirikan perusahaan pelayaran, Kemudian pada tahun 1981, Eyang Ben menjadi perwakilan perusahaan pelayaran yang mengangkut LMD dari Aceh ke Korea. Kontrak tersebut berakhir pada tahun 2008. Berakhirnya kontrak tersebut juga menjadi akhir bagi Eyang Ben untuk bekerja pada perusahaan tersebut. Sekarang Eyang Ben lebih menikmati menjadi wiraswasta.
            Itulah perjalanan hidup Eyang Ben Sardjono. Beliau telah merasakan asam garam kehidupan, mulai dari zaman Belanda sampai saat ini. Meskipun pada saat zaman penjajahan Belanda Eyang Ben masih cukup kecil, ia sudah merasakan betapa susahnya kehidupan pada masa penjajahan. Karena pada masa itu, pasokan beras di Jakarta pernah dihentikan. Waktu masih kecil saja, eyang pernah berjualan rokok, ban dan lain lain. Meskipun begitu eyang senang sekali karena bisa mendapat uang yang menurutnya cukup banyak bagi anak yang masih kecil. Eyang berjualan di usia 10 tahun. Bisa dibilang keluarga Eyang Ben merupakan keluarga yang dapat menghidupi kehidupan mereka dengan berjualan dan mendirikan usaha – usaha. Di keluarag Eyang Ben tidak satupun orang yang menjadi tentara.
            Eyang Ben Sardjono merupakan satu dari sekian banyak orang yang memiliki konstribusi kepada Indonesia. Tanpa mereka, kita tidak dapat merasakan kehidupan seperti saat ini. Kehidupan yang bebas merdeka, lepas dari kekangan para penjajah dan para pemberontak. Semoga kita dapat terus meneruskan perjuangan para pendahulu kita. Dan  terus memajukan bangsa Indonesia.


No comments:

Post a Comment