Friday, 31 May 2013

Tugas 2,Biografi - Galavia Permata XI IPA 3

"Ia persembahkan pendidikan untuk anak-anak bangsa"

Oma Lei, begitu panggilan akrab dari cucu – cucu beliau. Leila Moedahar nama panjangnya, beliau merupakan nenek dari dua belas orang cucu dan saya termask di antaranya. Ketika itu tahun 1942 , Oma lei masih ber-usia lima tahun, dan pada saat itu jepang mulai menginjakkan kakinya di tanah Indonesia. Tidak banyak yang bisa Oma Lei ingat mengenai peristiwa tersebut dikarenakan ia masih sangatlah kecil untuk menyadari apa yang terjadi di sekitarnya. Tapi ada segelintir kenangan mengenai perasaan resah yang di rasakan oleh kedua orangtuanya dan kakak-kakaknya pada masa itu. 
Perang Pasifik atau Perang Asia Pasifik, atau yang dikenal di Jepang dengan nama Perang Asia Timur Raya (Greater East Asia War )adalah perang yang terjadi di Samudra Pasifik, pulau-pulaunya, dan di Asia. Konflik ini terjadi antara tahun 1937 dan 1945, namun peristiwa-peristiwa yang lebih penting terjadi setelah 7 Desember 1941, ketika Jepang menyerang Amerika Serikat serta wilayah-wilayah yang dikuasai Britania Raya dan banyak negara lainnya.
Perang ini dimulai lebih awal dari Perang Dunia II yaitu pada tanggal 8 Juli 1937 oleh sebuah insiden yang disebut Insiden Jembatan Marco Polo Peristiwa tersebut menyulut peperangan antara Tiongkok dengan Jepang.Konflik antara Jepang dan Tiongkok dan beberapa dari peristiwa dan serangannya yang penting juga merupakan bagian dari perang tersebut. Perang ini terjadi antara Jepang dan pihak Sekutu (yang termasuk Tiongkok, Amerika Serikat, Britania Raya, Filipina, Australia, Belanda dan Selandia Baru). Uni Soviet berhasil memukul mundur Jepang pada 1939, dan tetap netral hingga 1945, saat ia memainkan pernanan penting di pihak Sekutu pada masa-masa akhir perang.
Thailand, setelah dijajah pada 1941, dipaksa bergabung dengan pihak Jepang. Jerman Nazi dan Italia juga adalah sekutu Jepang, dan angkatan laut mereka beroperasi di Samudra Pasifik dan Hindia antara tahun 1940 dan 1945.
Antara tahun 1942 dan 1945, terdapat empat wilayah otorita Sekutu yang berperang melawan Jepang: Tiongkok, wilayah Samudra Pasifik, Asia Tenggara dan wilayah Pasifik Barat Daya.
Perang Pasifik berakhir pada 15 Agustus 1945 dan perjanjian menyerahnya Jepang ditandatangani oleh wakil dari sekutu yaitu Jendral Douglas McArthur dan Jepang diwakili oleh Mamoru Shigemitsu di atas kapal USS Missouri
Pada tugas kali ini, saya tidak akan membahas kisah Oma Leila melainkan kisah dari Ayah beliau Buyut Moedahar yang menurut kesaksian Oma Lei, memiliki kisah yang begitu menarik ketika mereka hidup pada masa-masa awal berdirinya Negara Indonesia. 
Buyut Moedahar merupakan anak tunggal dari sebuah keluarga yang sangat sederhana, bisa dibilang keluarga yang kurang mampu. Ayahnya hanyalah seorang penjahit kecil-kecilan di daerah Padang Panjang, Sumatera Barat. Walaupun dengan keterbatasan ekonomi keluarganya, Buyut Moedahar tetap mendapatkan pendidikan yang baik di padang. Ia menempuh pendidikan di sebuah sekolah yang didirikan belanda. Hanya ada dua anak dari kampungnya yang menempuh pendidikan formal, sisanya berdagang bersama orangtua mereka. 
Dengan pendidikan formal yang di tempuhnya, Buyut Moedahar dapat menguasai bahasa Belanda dengan fasih. Bahasa belanda yang ia kuasai bukan hanya bahasa Belanda yang sehari hari digunakan oleh masyarakat pada zaman itu, tapi Buyut Moedahar dapat menguasai bahasa Belanda tingkat tinggi yang biasanya hanya dikuasai orang-orang Belanda yang berpendidikan formal.
Setelah beranjak dewasa, Buyut Moedahar berprofesi sebagai guru di sebuah sekolah yang ada di Padang Panjang. Sekolah tersebut bernama CVO atau masyarakat pribumi biasa menyebutnya dengan Normal School. Walaupun ber profesi sebagai guru, Buyut Moedahar mengabdi tanpa mendapatkan bayaran dari profesi tersebut. Oleh karena itu, seiring dengan keadaan yang semakin buruk, ditambah dengan kesulitan mendapatkan pangan dimana mana. Buyut Moedahar memutuskan untuk menjual barang-barang yang ia miliki.
Ketika itu Indonesia sudah mendapatkan kemerdekaannya dari tangan Jepang, Namun belanda menjalankan aksi Agresi Militer I dan II. Agresi militer satu berlangsung selama tahun 1945 sampai dengan 1949 dimulai dengan masuknya Sekutu diboncengi oleh Belanda (NICA) ke berbagai wilayah Indonesia setelah kekalahan Jepang, dan diakhiri dengan penyerahan kedaulatan kepada Indonesia pada tanggal 27 Desember 1949. Terdapat banyak sekali peristiwa sejarah pada masa itu, pergantian berbagai posisi kabinet, Aksi Polisionil oleh Belanda, berbagai perundingan, dan peristiwa-peristiwa sejarah lainnya.
Buyut Moedahar seperti hari-hari biasanya sedang berjualan di Bukit Tinggi, Sumatera Barat tempat ia tinggal semenjak ia sudah bertumbuh dewasa. Cara duduknya yang aneh karena tidak biasa berdagang menyebabkan anggota NICA menghampirinya dan menuduh Buyut bahwa beliau pastilah bukan seorang pedagang. Buyut Moedahar yang diajak berbicara dengan bahasa belanda secara refleks menjawab pertanyaan tersebut dengan bahasa beanda yang fasih,  anggota NICA yang menyadari bahwa buyut berbicara dengan bahasa Belanda yang tidak biasa di gunakan oleh masyarakat republican biasa langsung mengetahui bahwa buyut adalah seorang yang terpelajar.
Pasukan NICA langsung menekankan kepada buyut apakah beliau seorang guru ataukah bukan, karena di tekan oleh perasaan yang panik dan takut, Buyut menjawab dengan jawaban yang sebenarnya. Beliau mengakui bahwa ia adalah seorang guru. Dan dengan perintah yang diberikan oleh pasukan NICA beliau menunjuk teman-temannya sesama guru.
Pasukan NICA memaksa Buyut untuk meninggalkan usaha dagangnya, dan melanjutkan profesinya sebagai guru. Belanda meminta Buyut untuk mendirikan sekolah formal di Bukit Tinggi. Sekolah formal yang didirikan buyut dan teman-temannya adalah IMS. Buyut bersama teman-temannya sesama guru menjadi tenaga pengajar di IMS, sementara itu masyarakat republican yang lain berjuang menghadapi pasukan Belanda yang kembali mendarat di Indonesia.
Guru – guru yang mengajar di IMS mendapatkan balasan atau upah dari pemerintah Belanda berupa uang, sandang, pangan, sehingga keluarga Buyut Moedahar merasakan hidup yang berkecukupan, sementara masyarakat republican yang turun ke medan perang merasakan hidup susah yaitu tinggal didalam hutan untuk melakukan penyerangan tanpa ransum makanan dan terpisah dari keluarga mereka.
Hal tersebut menimbulkan perselisihan antara masyarakat federal dan masyarakat republican. Buyut dan teman-teman guru seperjuangannya pada zaman itu di golongkan sebagai kaum federal yang dianggap satu kubu dengan Belanda. Sehingga banyak masyarakat Sumatera Barat yang membenci Buyut Moedahar, namun masyarakat republican tidak dapat melukai Buyut dan guru-guru lainnya karena secara tidak langsung Buyut telah menyediakan atau membuka sarana pendidikan bagi anak-anak yang berada di Bukit Tinggi dan sekitarnya. Namun tidak bisa dipungkiri intesifitas (ketegangan) antara kedua kelompok itu tidak terelak lagi.
Selain sebagai guru Buyut juga kerap kali diminta untuk menjadi pemain biola di kafe-kafe mewah milik Belanda dimana pada malam hari orang-orang Belanda sering mengadakan pesta dansa. Buyut merupakan seseorang yang memiliki darah seni dalam dirinya, ia mampu memainkan banyak sekali jenis instrumen musik seperti biola, cello, piano, terompet, saxsophone, terombone, bahkan klarinet dan masih banyak instrumen lainnya. Keahlian beliau memainkan instrumen tersebut berawal dari kemauan dirinya sendiri, ia mempelajari instrumen tersebut secara diam-diam dengan meminjam biola milik temannya.
Selama Belanda berada di Indonesia, Buyut Moedahar secara diam diam melakukan aksi pemberontakan melalui lukisan lukisannya. Beliau merupakan seorang pelukis karikatur terkenal di bukit tinggi dan sekitarnya, guru lukis beliau adalah bapak wakidi. Buyut moedahar membuat karikatur karikatur yang menggambarkan keadaan penyerangan terhadap belanda, dengan kalimat kalimat kemerdekaan untuk bangsa. Beluai melukis karikatur karikatur tersebut menggunakan nama samaran sehingga orang orang belanda tidak dapat mengetahui bahwa ialah sang pelukis. Apabila orang orang belanda tersebut mengetahuinya, maka nyawa buyut sangat terancam.
Buyut Moedahar menyayangi alat alat musiknya sama seperti ia menyayangi dirinya sendiri, beliau tidak bisa lepas dari biola dan cello nya sehingga kerap kali saat berpindah pindah tempat ia terlihat menenteng-nenteng koper yang ber isi biola dan cello nya. Ketika itu sebuah pesawat tempur sedang terbang di ketinggian, pilot dari pesawat tersebut mengira bahwa buyut yang sedang berjalan melintasi sebuah lapangan membawa senjata yang ia sembunyikan di dalam dua koper di tangannya. Kedua koper itu sesungguhnya berisi biola dan cello kesayangan buyut.
Pesawat tersebut menembakkan peluru-peluru nya ke arah buyut untuk memberikan peringatan. Buyut Moedahar yang begitu takut dengan kejadian tersebut, segera melemparkan koper yang ia pegang dengan bantingan keras sehingga kedua koper tersebut terbuka, dan sebuah biola dan sebuah cello terlihat menyembul dari koper koper tersebut. Sehingga pilot yang tadinya mengejar buyut berhenti melakukan serangan dan menaikkan ketinggian pesawat.
Setelah Belanda pergi meninggalkan Indonesia, pada tahun 1951 Buyut Moedahar memutuskan untuk pindah dari padang, sumatera barat. Ia memutuskan untuk membawa istri dan ke duabelas anak-anaknya untuk pergi berangkat ke pulau jawa, tepatnya jogjakarta. Untuk berangkat ke jogja, Buyut terpaksa meninggalkan harta bendanya terutapa alat musik kesayangannya yang tidak bisa ia bawa ke jogja seperti contohnya piano kesayangan buyut yang sekarang masih ada di rumah kerabat kami di padang. 
Selain membawa pakaian dan benda benda penting, tidak lupa ia membawa semua alat musik yang bisa ia bawa sehingga setiap anak membawa satu alat musik di tangan masing masing. Keluarga buyutpun berangkan ke jogja naik kapal. Buyut telah menyiapkan satu gulung lukisan lembah ngarai yang ia buat ketika ia masih di padang, dan menjadikannya sebuah modal untuk mendapatkan pekerjaan di jogja. Dengan gulungan lukisan indah tersebut, beliau menghampiri mentri kebudayaan di jogjakarta yang bernama Pak Harsono dan memohon untuk diperkenankan mengajar di ARSI dan ASMI sekolah seni rupa dan sekolah musik nomor satu di jogja pada saat itu. Pak Harsono langsung jatuh hati dengan lukisan lembah ngarai karya buyut, sehingga permohonan beliau dikabulkan dan ia berprofesi sebagai tenaga pengajar di dua universitas besar tersebut. 
Begitulah cerita kisah panjang nan menarik mengenai Buyut Moedahar, Oma Lei yang sangat gemar bercerita kepada cucu-cucunya menutup cerita nya dengan sebuah pesan “jangan pernah berhenti belajar, berusaha, sehingga apa yang kamu inginkan dapat tercapai sesuai dengan apa yang kamu inginkan dan insyaAllah lebih baik dari apa yang kamu inginkan.”
foto dengan narasumber: Oma Leila

No comments:

Post a Comment