Friday, 31 May 2013

Tugas Biografi - Nabil Argya Yusuf XI IPS 2

Nenek Asni, Sisi Lain G-30S

 "History will be kind to me for I intend to write it."
  - Winston Churchill

Sejarah, secara definisi adalah segala macam hal yang terjadi pada masa lampau. Karena itu pelajaran sejarah, adalah ilmu yang meniliti dan menyelidiki peristiwa-peristiwa yang sudah berlalu. Ilmu sejarah bukanlah ilmu yang mempunyai jawaban definitif seperti matematika ato fisika, sejarah adalah ilmu yang subjektif, tergantung intepretasi masing-masing peniliti dan tidak mempunyai jawaban yang pasti. Karena itu lah keaslian sejarah dapat diolah-olah dan direvisi sehingga sesuai dengan motif suatu pihak. Hal ini digambarkan dengan baik oleh mantan Perdana Mentri Inggris, Sir Winston Churchill, yang kurang lebih berarti: "Saya akan ditanggap baik dalam sejarah, karena saya yang akan tulis" 

Indonesia, sebagai negara yang berdaulat dan merdeka, memilki sejarah yang relatif muda dibanding negara-negara lain. Maklum umur kita sebagai negara resmi masih belum sampai seabad. Namun pada masa tersebut sudah banyak momen-momen signifikan yang kerap menjadi topik yang menarik, dan terkadang  kontroversial. Dalam tulisan ini, saya akan mengulas salah satu bab tergelap dalam buku sejarah Republik Indonesia, yaitu Gerakan 30 September 1965.

Apa yang anda ketahui mengenai Gerakan 30 September 1965? Bila dikutip dari buku-buku sejarah, biasanya seperti ini lah yang terlihat:

Gerakan 30 September atau yang sering disingkat G 30 S PKI, G-30S/PKI, Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh), Gestok (Gerakan Satu Oktober) adalah sebuah peristiwa yang terjadi selewat malam tanggal 30 September sampai di awal 1 Oktober 1965 di mana enam perwira tinggi militer Indonesia beserta beberapa orang lainnya dibunuh dalam suatu usaha percobaan kudeta yang kemudian dituduhkan kepada anggota Partai Komunis Indonesia.
  
Begitulah  hal-hal dasar yang kita ketahui mengenai peristiwa tersebut. Kita sudah sering membaca mengenai korban-korban dari tragedi ini, yaitu 6 pejabat tinggi TNI dan 3 anggota lainnya. Saya tidak bermaksud untuk mengacuhkan  kematian mereka, tapi menurut saya masih jarang pembahasan mengenai kepahitan yang dialami oleh pihak lain, yaitu terhadap para anggota-anggota PKI dan keluarga anggotanya, serta orang yang tidak terkait terhadap partai tersebut, namun juga ikut menderita. Inilah topik utama tulisan ini

Ketika kecil saya amat mengidolai kakek saya. Beliau adalah  orang yang paling berpengaruh dalam membentuk karakter serta cara berpikir saya. Sejak saya masih kecil saya mengetahui bahwa beliau adalah mempunyai peran dalam sejarah, namun saya baru mengerti ketika saya remaja, dan beliau sudah tiada. Kakek adalah salah satu dari banyak korban tuduhan-tuduhan yang tak berdasar. Di tulisan ini, saya akan mewancarai orang yang paling dekat dengan sang almarhum, yaitu nenek saya, Budi Asni.

Saya mewawancara nenek di rumah saya di daerah Pejaten. Wawancara berlangsung pada malam hari di ruang tamu, ayah saya juga ikut berkontribusi. Meskipun masih sangat kecil ketika perisiwa ini terjadi, ia masih bisa ingat beberapa kenangan yang mungkin dapat memperlengkap tulisan ini.


A. Biografi

Budi Asni, yang saya lebih akrab panggil nenek, lahir di Jakarta pada tanggal 9 November 1928. Beliau adalah anak kedua dari Nazir, seorang pegawai adminstratif dan Zaitun, seorang ibu rumah tangga. Keduanya adalah sepasang perantau dari Sumatra Barat, tepatnya Kotogadang. Beliau memilki 1 kakak perempuan, almarhum Zaidah dan 2 adik perempuan. Ketika lahir beliau tinggal di Jl. Pemadam Kebakaran, Petojo; yang pada waktu itu bernama "Brandweerweg"

Beliau menerima pendidikan SD dan SMP di sekolah-sekolah di dekat rumahnya yaitu di daerah Petojo, lalu beliau melanjutkan pendidikan di SMA 1 Budi Utomo, dan lulus pada tahun 1946.

" Masa muda Ibu relatif tenang. Tak banyak yang terjadi pada masa kecilku. Kami tidak terlalu kaya dan juga tidak miskin, ibu sangat beruntung bisa dapat pendidikan yang bagus. Ibu tidak terlalu ingat pada proses kemerdekaan Indonesia, karena ibu masih muda dan belum mengerti politik"

Setelah lulus dari SMA, beliau tidak mengikuti pendidikan lanjut, tetapi langsung mencari pekerjaan. Beliau sempat berganti-ganti pekerjaan, yang pertama dan yang paling lama adalah sebagai pegawai keuangan. Pada awal dekade 50an beliau pindah untuk bekerja di bagian adminstrasi di koran harian Merdeka. Disinilah dimana beliau bertemu dengan calon suaminya yaitu Joesoef Isak, yang ketika itu berjabatan sebagai pempimpin redaksi. 
Kakek

Meskipun saya tidak sempat mewawancarai kakek saya, rasanya saya harus sisakan sedikit biografi mengenai beliau karena ia memegang peran penting di tulisan ini. Joesoef Isak lahir di Jakarta pada tanggal 15 Juli 1928. Beliau adalah keturunan Ambon dan memiliki 3 adik. Sejak ayahnya meninggal ketika beliau umur 8 tahun, kakek saya sering menghabiskan waktu bersama pamannya yang suka membawakan buku-buku bekas dari gedung Belanda. Menghabiskan waktu berjam-jam untuk membaca adalah hobi beliau yang lekat sampai akhir hayatnya. Kesenangannya ini tentu amat memperluas wawasannya. ia amat gemar membaca mengenai politik, terutama mengenai Marxisme dan Lenninisme. Pengaruh kedua tokoh tersebut sangat besar terhadap karir beliau di dunia jurnalistik.

Budi Asni menikahi Joesoef Isak pada tanggal 9 November 1956, berketepatan dengan ulang tahun nenek saya yang 32. Mereka dikarunia 3 putra; Verdi, ayah saya Lutfi dan Desan. Mereka tinggal di Singamaharaja sampai tahun 1971, dimana mereka pindah ke daerah Duren Tiga. Ibu sampai sekarang masih tinggal di rumah tersebut.

B. Peranan

Pada tahun 1960an, dunia sedang mengalami sebuah "perang" yang tidak terlihat. Sebuah perang yang menggunakan ideologi dan teknologi ketimbang kekerasan bersenjata. Pada masa ini dunia sebagian besar dibagi menjadi dua: Blok kanan, yaitu negara-negara yang memegang ideologi kapitalisme seperti Amerika Serikat dan Blok Kiri, yakni negara-negara komunis seperti Uni Soviet, China dan Kuba. Selama bertahun-tahun kedua kubu ini berlomba-lomba dalam perkembangan-
perkembangan teknologi, politik, ekonomi dan lain-lain.

Indonesia pada masa ini adalah negara "muda" yang sedang mencoba untuk membangun dirinya sendiri. Meskipun pemerintahan Indonesia tidak mengikuti kubu kanan maupun kiri, presiden pada masa itu, Soekarno mulai melirik terhadap ideologi komunis. Indonesia pada masa itu memilki hubungan baik dengan Uni Soviet, sampai mereka membantu dalam pembangunan Stadium Gelanganggang Olahraga Bung Karno. Soekarno yang dikenal keras dan tegas, seperti digambarkan dengan kata-katanya "Go to hell with your aid" (persetan dengan "bantuanmu") sebagai tanggapan terhadap penawaran modal asing dari negara kapitalis. Wajar bila kubu kanan berantisipasi bahwa Soekarno berpotensi untuk menjadi seperti Fidel Castro atau Stalin.

Pada tahun 1965, nenek saya adalah ibu rumah tangga biasa dengan kesibukan kesehariannya tidak beda dengan ibu-ibu selayaknya. Kakek saya sempat menjadi pemimpin redaksi di koran harian bernama "Merdeka" sampai dia di keluarkan. Beliau berkenan bahwa penyebab dia dipecat adalah pemilik harian tersebut dengan direksi kakek saya yang dianggap terlalu "kiri", dia juga tidak suka dengan persahabatan kakek saya dengan Njoto, wakil sekjen Partai Komunis Indonesi (PKI) setelah karirnya di Merdeka berakhir kakek saya berjabat sebagai sekjen Persatuan Wartawan Asia Afrika, sebuah organisasi yang menyatukan wartawan-wartawan dari negara-negara Asia dan Afrika. Kebanyakan negara tersebut belum atau baru merdeka dan disatukan oleh Soekarno agar bisa berkerja sama menuju kesejahteraan.

Ketika G-30S terjadi, nenek saya mendengar berita tersebut melalui berita radio, hal yang umum pada masa itu. Beliau mengaku bahwa pada saat itu dia tidak terlalu peduli dengan peristiwa itu, dia tidak mengerti politik dan tidak sama sekali menyangka bahwa kejadian tersebut akan sangat mempengaruhi hidupnya. Selama beberapa hari awal nenek tenang saja dan tidak khawatir sama sekali, sampai perlahan-lahan banyak teman-teman suaminya dari kalangan jurnalis, ditahan, dan beberapa seperti Njoto yang dibunuh atau istrinya yang dipenjara bersama anak-anaknya, termasuk yang berumur 1 tahun. Nenek dan keluarga mulai paranoid, bahkan ayahnya nenek, Zaitun sampai memaksa kakek saya untuk membakar semua buku-buku dan foto-foto yang berbau komunis.

Nenek dan keluarga hidup khawatir selama berbulan-bulan. Gambaran bahwa sang kepala keluarga akan ditahan sudah kerap muncul di benak keluarga nenek. 2 tahun berlalu sebelum akhirnya yang ditunggu-tunggukan akhirnya datang. Suatu malam pada tahun 1967, 4 anggota TNI muncul dengan membawa senjata dan surat perintah untuk menangkap kakek saya. Mereka menggeledah rumah, mencari barang-barang yang bisa dikaitkan dengan PKI. Nenek saya mengenang bahwa prajurit-prajurit tersebut sangat baik dan sopan, mereka mengerti jelas bahwa apa yang mereka lakukan sangat berat terhadap keluarga kakek. Tetapi tetap saja rasa sedih nenek tidak berkurang. Ayah dan paman saya, Verdi, terbangun dari tidurnya dan menangis ketika melihat sebuah pandangan yang sungguh tidak enak. Ayah saya yang pada waktu itu hanya berumur 8 tahun, ingat jelas ketika ia duduk di kursi rotan yang sekarang masih ada di rumah itu, hanya bisa pasrah melihat ayahnya ditangkap. Kakek tidak berkata apapun, ia hanya membelai kepala Desan, anak bungsunya yang masih tidur terlelap, mengucapkan selamat tinggal sebelum menyerahkan dirinya.

"Ketika melihat ayah dibawa pergi didalem mobil truk, sempat terlintas di pikiran bahwa kita tidak akan bertemu lagi"  

Prajurit-prajurit tersebut tidak memberi penjelasan sama sekali mengenai apa yang akan mereka lakukan kepada kakek saya. Nenek terpaksa pergi keliling Jakarta untuk mencari keberadaan kakek. Pada akhirnya nenek menemukan kakek ditahan bersama tahanan politik lain di Pasar Baru. Disitulah dimana kakek saya dipaksa menetap. Setelah sekitar beberapa bulan, kakek saya akhirnya dibebaskan dan dapat kembali ke keluarganya. Sayangnya kondisi ini tidak bertahan lama, kakek saya kembali dibawa ke tahanan tanpa sidang. Namun kali ini di Penjara Salemba, dan kali bukan hanya dalam itungan bulan, namun tahunan.

Periode merupakan dimana nenek saya paling banyak diberi cobaan. Nenek yang tadinya tidak berkerja kini terpaksa mencari nafkah untuk menjaga ketiga anaknya yang masih belum remaja. Tiap hari beliau membanting tulang. Keluarganya juga sering menjadi korban prasangka karena terlibat dengan tapol "orang-orang tidak secara terbuka mencemooh kita, tapi jelas bahwa mereka takut dengan kita karena tidak mau ikut campur dengan keluarga tapol" tutur ayah saya. Tidak hanya itu, beban nenek juga ditambahkan dengan kekhawatiran akan nasib kakek. Banyak teman-teman yang beliau yang tanpa berita apapun dan secara tiba-tiba dibawa ke Pulau Buruh untuk disiksa. Nenek tiap sekali seminggu diizinkan menemui kakek dipenjara untuk sejam saja. Nenek biasanya membawa makanan-makanan untuk kakek yang pasti sudah muak dengan makanan penjara. Disini juga mereka menggunakan kesempatan untuk berkomunikasi; sepertinya kakek walau berada ditahanan tetap penuh akal. Beliau menulis pesan di kertas rokok lalu dia gulung dan dia selipkan di rongga-rongga tas rotan yang digunakan untuk mengirim makanan. Namun kakek menggunakan pesan-pesan tersebut hanya untuk menanyakan kondisi keluarganya dan bukan untuk mensalurkan keluh kesahnya karena dia tidak ingin menambah beban nenek. "Jangan perlihatkan perasaanmu, terutama bila tidak perlu" adalah salah satu kata-kata kakek yang saya pegang teguh sampai sekarang.

Kakek saya akhirnya dapat kembali bersama keluarganya pada tahun 1972. Meskipun senang dapat kembali bersama keluarga, tantangan tetap ada di kehidupan keluarga mereka. Kakek tidak dapat kembali ke posisi awalnya di orde baru Soeharto, yang menegakan sistem "bersih lingkungan" yaitu laranangan untuk tapol ataupun keluarga tapol untuk menjadi pegawai. Pada tahun 1979, kakek ayah berkerja sama dengan dua mantan tapol lainnya yaitu Pramoedya Ananta Toer dan Hasjim Rachman. Kedua orang ini mengalami nasib yang jauh lebih buruk, mereka ditahan di Pulau Buru selama 15 tahun. Disana mereka mengalami berbagai macam siksaan yang sangat tidak manusiawi. Pramoedya Ananta Toer adalah penulis ternama yang ditahan karena menjadi anggota Lekra, yaitu komunitas seniman komunis.

Pada awalnya ketika serangkai tersebut berkumpul dengan rencana untuk menerbitkan buku karya Pram yaitu Bumi Manusia. Pada tahun 1980 mereka membangun penerbitan buku bernama Hasta Mitra. Mereka berhasil menerbitkan Bumi Manusia, yang merupakan jilid pertama dari Tetralogi Pulau Buru, sebuah seri dengan 3 buku lainnya. Meskipun disambut baik dengan masyarakat,
pemerintah kembali menyerang. Buku-buku Hasta Mitra dilarang dengan alasan yang sama sejak tahun 60an, yaitu "berbau komunis", padahal kakek terang-terangan menyatakan bahwa tidak ada agenda kiri sama sekali dan Bumi Manusia hanya karya seni. Hasta Mitra tidak menyerah begitu saja, mereka tetap menulis dan menerbit. Sempat juga ada insiden yang melibatkan anak sulungnya dan paman saya Verdi, ia ditahan selama sehari dan dipecat dari FIS UI karena mengundang Pram untuk seminar.

Meskipun sering diganggu dengan polisi-polisi, untungnya kakek tidak pernah ditahan lagi, dan ketika order baru hancur, larangan buku-buku Hasta Mitra pun dicabut. Sejak itu karya-karya terbitan mereka mulai lebih dihargai oleh masyarakat. Semua akibat jerih payah serta kesabaran kakek dan ketiga temannya. Sekarang mereka semua sudah meninggal dunia, meskipun demikian, mereka tetap dikenang melalui karyanya.




No comments:

Post a Comment