Friday, 31 May 2013

Tugas Mulok Wawancara - Shafiera Syumais Aziz XI IPA 3


Dalam berdirinya sebuah negara, tidak bisa dipungkiri semua sejarah yang ada di dalamnya. Sejarah berasal dari bahasa arab, ‘syajaratun’ yang berarti pohon. Pohon di sini bukanlah pohon dalam arti harfiah, melainkan hanya sebuah simbol atas runtutan kejadian dari mulai akar, ke batang, sampai dengan daunnya. Dari hal tersebut, bisa diartikan bahwa sejarah adalah asal muasal segala sesuatu, baik itu kejadian, peperangan, penemuan-penemuan, dan masih banyak lagi.

Silsilah sebuah keluarga, atau bagaimana kita bisa mendapatkan nama kita sendiri itu juga merupakan sejarah sederhana dalam kehidupan. Seringkali, silsilah keluarga digambarkan dengan bentuk sebuah pohon, seperti pengertian syajaratun yang telah saya sebut di atas, dan dalam bahasa Inggris disebut juga sebagai family tree. Dari seorang nenek buyut, sampai kepada buyut, melahirkan nenek kita, kemudian ibu kita, barulah kita bisa diciptakan. Tanpa adanya sejarah, tanpa adanya nenek buyut kita dan tetua-tetuanya, kita tidak mungkin ada di dunia ini. Tanpa adanya catatan sejarah, tidak akan mungkin lampu bisa kembali dihasilkan. Tanpa adanya sejarah, pelajaran yang kita pelajari sekarang tidak akan pernah ada, karena tidak ada catatan akan penemuan-penemuan yang sampai saat ini kita pergunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Indonesia juga memiliki sejarahnya sendiri. Bagaimana negara ini bisa lepas dari belenggu Belanda dan Jepang, dan telah meraih kemerdekaannya sendiri, bagaimana para pejuang berusaha keras mengusir Belanda yang melakukan agresi pasca kemerdekaan, serta bagaimana para pendiri bangsa mengatasi konflik dalam negeri dengan adanya partai-partai pemberontak, bisa kita ketahui melalui sejarah yang tercatat, para pelaku, serta para saksi.

Dalam tugas sejarah untuk menyelesaikan nilai semester genap ini, kami diminta untuk mewawancarai pelaku atau saksi sejarah perjuangan bangsa Indonesia periode sebelum kemerdekaan sampai dengan Orde Lama.

Saya dan ayah saat pelantikan OSIS
A.        Profil
Narasumber saya adalah H. Abdul Aziz, ayah saya sendiri. Beliau dilahirkan di Cianjur, 24 September 1954. Beda umur saya dengannya sangat jauh, 42 tahun, dan bagi saya, beliau sudah banyak melakukan hal-hal yang luar biasa dalam bidang yang ditekuninya.

Ayah saya bersekolah SD dan SMP di Cianjur, namun ditengah pembelajaran pada masa SMP, beliau pindah untuk bersekolah di PGA. Setelah lulus, ayah saya pergi ke Ciputat untuk berkuliah di IAIN (sekarang menjadi UIN) jurusan Bahasa Arab pada tahun 1972. Beliau menyelesaikan D3 pada 1975 dan sudah mendapat gelar b.a. diumur 21 tahunnya itu. Dalam rentangan 1975-1981, beliau meneruskan studi S1 sambil bekerja menjadi guru bahasa Arab, dan sempat menjadi pramugara di pesawat yang terbang ke tanah suci, yang penumpangnya berada di sana untuk pergi haji. Tentu saja pada umur semuda itu, ayah saya juga ikut pergi haji, dan menurut saya itulah salah satu kehebatan ayah saya.

Beberapa tahun setelah mendapatkan gelar S1-nya, ayah saya menjadi PNS, bekerja sebagai peneliti di Departemen Agama. Beliau sempat menjadi Kepala Bagian, dan beberapa tahun kemudian menjadi Sekretaris Direktorat Jenderal. 1990-1991, ayah saya meneruskan kuliah S2-nya di Australia, dan harus meninggalkan ibu saya yang saat itu sedang hamil kakak saya yang kedua.

Saya selalu ingat ayah saya bercerita, “Dulu kan Papa pergi ke Australia pas mama hamil, pulang-pulang Aa tuh udah lumayan gede, trus Papa malah dipanggil ‘Om’. ‘Om, om’ gitu katanya.”.

Pulang dengan gelar S2, ayah saya bekerja kembali di Departemen Agama. Di sinilah ayah saya menekuni kariernya. Memang beliau sangat mendalami ilmu-ilmu ajaran agama Islam, dan mendedikasikan dirinya pada hal tersebut. Walaupun begitu, dunia politik yang diterjuni ayah saya sangatlah luas. Beliau sangat update akan informasi dan perkara yang terjadi setiap saat, dan memiliki banyak ‘sumber informasi’ yang selalu bisa beliau percaya. Pembicaraan di meja makan bersama ibu saya selalu menjadi pembicaraan politik yang setiap hari, nama yang keluar dari ayah dan ibu saya hampir selalu berbeda. Hal itu jugalah yang saya kagumi dari ayah saya, sosialisasi yang tinggi dan humoris membuatnya mudah disenangi banyak orang, dan walaupun saat ini sudah hampir mencapai umur 60, ayah saya dibilang ‘awet muda’.

Oleh karena itu, saya tidak terkejut ketika pada tahun 2007-2008, ayah saya mengikuti pemilihan calon anggota pusat Komisi Pemilihan Umum dan terpilih untuk menjadi bagian di dalamnya, sehingga selama 5 tahun ayah saya bekerja di KPU, beliau harus berhenti untuk sementara dari Departemen Agama. Dari sudut pandang saya sebagai orang yang sudah mengenalnya selama 16 tahun, agama adalah tiang pondasinya, dan politik adalah makanan sehari-hari dalam hidupnya. Beliau menyelesaikan studi S3 pada tahun 2010.

Dalam kariernya di KPU, ayah saya sempat ditawari untuk studi ke Fiji. Beliau bercerita, disana penduduknya jauh lebih sedikit dari Indonesia, tapi pemerintahnya bilang mereka sulit melaksanakan pemilu. Ayah saya seperti barter ilmu, beliau mendapat dan memberi pelajaran kepada pemerintah Fiji dalam banyak hal, terutama pemilu. Bahkan setelah kembali ke Departemen Agama, beliau masih dipanggil oleh pihak KPU untuk mengurus masalah yang berhubungan dengan Fiji. Hal lain yang membuat saya mengagumi beliau, ayah saya adalah orang yang dapat dipercya.

B.        Kesaksian
Ayah saya bercerita, pada masa orde lama adalah pada saat beliau masih kecil. Beliau mengingat-ingat, sekitar tahun 1961-1962, terjadi pemberontakan Darul Islam atau DI di daerah Jawa Barat. Pada saat itu, ayah saya tinggal di Cianjur bersma orang tuanya. Ketika sedang ribut pemberontakan DI tersebut, dibentuklah Pagar Betis.

Pagar betis adalah sebuah benteng pertahanan yang diciptakan oleh orang-orang di masing-masing desa untuk menjaga setiap daerah pos penjagaan. Pagar betis terdiri dari penduduk desa itu sendiri, dibantu oleh tentara yang dikirim pemerintah. Ayah saya berkata pada saat itu, beliau ingat sempat ada seorang tentara yang menginap di rumahnya di Sadewata. Tentu saja situasi saat itu sangat tegang. Kakek saya yang merupakan seorang tokoh Islam di mata masyarakat, mendengar isu bahwa akan ada korban jika ada yang menentang Darul Islam. Tetapi berkat adanya Pagar Betis, ayah dan kakek saya aman-aman saja pada masa itu. Terdengarlah kabar bahwa Kartosuwirjo ditangkap, dan legalah mereka.

Kemudian muncul PKI pada tahun 1965. Walaupun isu tentang Darul Islam menimbulkan kekhawatiran, PKI telah memberikan dampak yang lebih menegangkan dari perkara pemberontakan oleh Darul Islam sebelumnya. Saat itu, bahkan kakek saya juga khawatir akan keselamatan anak-anaknya, sehingga bagi yang laki-laki, beliau memberikan senjata tajam berupa golok, termasuk ayah saya. Ayah saya sering sekali mengasah golok yang harus dibawanya kemana-mana itu. Kata Beliau, istilahnya ‘jihad’, kalau udah ketemu dan diserang PKI, lawan saja.

“Dulu biasa kan anak-anak kecil suka korengan. Papa juga gitu. Nenek tuh suka ngasih semacem salep warna putih yang harus dipanasin pakai api dari sumbu kompor sama minyak tanah. Pas lagi diobatin, tiba-tiba ada bunyi tembakan, dor, dor, dor, gitu. Papa takut kan, namanya juga masih anak-anak. Tapi Nenek bilang, ‘Ngga usah didengerin.’. Itu bunyi tembakan bukan cuma satu kali atau dua kali, tapi memang sering.”

Kemudian, ketika masuk SMP pada tahun 1966 pasca G30S, ayah saya dan teman-temannya diajak oleh para senior untuk menjadi anggota KAPPI, Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia cabang Cianjur. Para anak SMP ini dikerahkan untuk menjaga gedung-gedung yang direbut dari anggota PKI berdarah China. Saat itu adalah dimana orang-orang China terkucilkan.

Ketika ditanya bagaimana dengan sekolah jika harus menjaga gedung-gedung tersebut, ayah saya menjawab sekolah tentu saja tetap berjalan, tetapi pulang sekolah, Beliau dan teman-temannya sesuai giliran pergi ke gedung yang telah ditentukan. Bahkan ayah saya tidak jarang menginap di gedung tersebut.

Pada masa itu, yang mengomandani anak-anak SMP seumuran ayah saya adalah anak SMA. Salah satu dari anak SMA-nya merupakan kakak dari ayah saya yang bernama Cecep. Kata ayah saya, sampai-sampai paman saya itu sering dipanggil bolak-balik ke kodim untuk mengurusi berbagai macam hal, namun karena ayah saya masih SMP, beliau hanya bisa menerima perintah dari anak yang seumuran dengan kakaknya itu.

Pada tahun 1966 itu juga, ayah saya bercerita bahwa ia dan anak-anak lain beramai-ramai latihan silat memakai pedang bambu. “Dulu sih papa bisa silat, sekarang ya udah ngga.”, begitu tuturnya pada saat wawancara ini berlangsung. Mereka dilatih di sebuah lapangan yang saat itu disebut sebagai lapangan Badak Putih, oleh para tentara, seperti anak Labschool saat BINTAMA, katanya.

Begitulah akhir dari cerita yang diberikan oleh ayah saya. Ternyata, kerusuhan tetap berlangsung hingga tahun 70-an. Walaupun kali ini krisis ekonomi terlus berlanjut, saya merasa pemerintah Indonesia di masa sekarang sudah jauh lebih stabil daripada saat ayah saya kecil dulu. Saya mendapat banyak pelajaran, untuk bersyukur atas kondisi saat ini, kebutuhan yang terpenuhi, dan mengambil hikmah dari cerita ayah saya. Sekarang saya bisa tidur dengan nyenyak sementara beliau harus ketakutan mendengar suara tembakan. Tentu saja itu adalah hal yang harus saya syukuri. Dan setelah mendengar cerita dari ayah saya, Beliau bercerita tentang banyak hal lagi yang tidak terlalu berkaitan dengan orde lama, tapi tetap memberi hikmah dan pelajaran penting bagi saya, sehingga saya semakin bangga dan menghormati ayah saya.


No comments:

Post a Comment