Friday, 31 May 2013

Tugas2-Biografi Nabilah Nindita Putri Rusman XI IPS 1


Abdurrahman Thaib, Kejujuran Itu Bukan Hanya Sebuah Kata
            Halo perkenalkan nama saya Nabilah Nindita Putri Rusman dari XI IPS1. Sehubungan dengan adanya tugas sejarah dari pak Shobirien, saya mendapatkan tugas untuk mencari orang untuk diwawancara dan ditanyakan mengenai biografi atau kisah hidupnya serta tentang kontribusinya terhadap Indonesia Tercinta kita ini.
Pada awalnya, saya serta teman-teman sudah memutuskan untuk pergi ke sebuah panti jompo veteran. Tapi ternyata usaha kami itu belum berhasil. Karena sampai sana kita tidak boleh masuk karena beberapa kesalahan teknis serta jam kunjung yang salah. Karena itu saya akhirnya memutuskan untuk menulis tentang profil orang yang sangat saya cintai dan banggakan. Saya mewawancarai ibu saya sendiri tentang kakek saya. Saya akan menulis tentang seorang yang saya idolakan yaitu kakek saya sendiri. Kakek saya tersebut ini adalah ayah dari ibu saya. Ibu saya adalah anak pertama dari sebelas bersaudara. Cukup banyak bukan? Ya mungkin kakek saya berprinsip tentang banyak anak banyak rejeki.
a.       Biografi
Padang, 10 Oktober  1933 terlahirlah ke dunia ini seorang bayi laki laki yang sangat dinanti. Diberikannya nama Abdurrahman Thaib. Ia merupakan anak ke-2 dari 3 bersaudara. Ia lahir serta besar di Sumatra Barat dan tumbuh menjadi pribadi yang baik, santun, jujur serta dermawan. Pada usianya yang ke-25 ia menikahi seorang gadis yang telah membuatnya jatuh hati sejak pertamakali bertemu.
Rohani Zein merupakan nama gadis itu. Selang setahun setelah pernikahan mereka, mereka dikaruniai oleh  seorang bayi perempuan yang dinamakan Rahmi Zetha Rahman yang merupakan anak pertama mereka. Setelah rahmi berumur 6 tahun dan mengalami sakit selama sebulan, Rahman mulai curiga dan menanyakan sebabnya ke orang pintar yang ia tau dan menyarankannya untuk mengganti nama anaknya tersayang itu. Akhirnya ia menyuruh anaknya untuk memilih nama nya sendiri. Akhirnya terpilihlah sebuah nama yaitu Erna. Akhirnya nama anak pertamanya menjadi  Erna Zetha Rahman. Selain Erna, Rahman memiliki 3 anak lainnya.
Seiring berjalannya waktu, Rahman pun akhirnya diterima untuk menjadi pegawai Bank Indonesia di kantor pusatnya yakni di Jakarta Pusat. Dan jadilah ia tinggal di Jakarta pusat bersama istri tersayangnya serta ke 3 buah hatinya yang sangat ia cintai. Hingga pada suatu hari saat anak ke – 4nya lahir, sang istri mengalami suatu kejanggalan proses pemulihan, hingga sebulan setelah anak ke-4nya lahir, sangat disayangkan sang Istri yang sangat ia cintai meninggal dunia pada usia yang baru ke-28 tahun. Dengan hati yang terluka dan perasaan bingung terhadap apa yang harus ia lakukan, akhirnya ia memutuskan untuk menikah lagi dengan adik dari istrinya yang tak lain merupakan tante dari anak-anaknya. Ia melakukan itu dengan harapan serta tujuan agar anak-anaknya tak terlantar dan ada yang mengurusi saat ia mencari nafkah di setiap paginya. Akhirnya pernikahan pun dilaksanakan. Waktu demi waktu terus berjalan, dan sampai waktu dimana pada akhirnya ia  menjadi salah satu pejabat penting bagi Bank Indonesia pada kala itu. Hingga pada akhirnya waktunya sangat tersita sangat banyak hingga jarang sekali ada waktu untuk menemani anak-aanaknya.
Namun walaupun begitu, beliau merupakan pribadi yang sangat bertanggung jawab. Karena itu, setiap kali ada waktu, ia pasti mengajak anak-anaknya serta istri tercintanya ke suatu tempat peristirahatan. Tiap kali, lokasinya selalu tidak tetap. Misalnya pada liburan kali ini pergi ke Bandung, lalu liburan selanjutnya ke pangandaran. Sering kali ia menjadi tempat curhat bagi anak-anaknya. Seiring berjalannya waktu dan anak-anaknya telah beranjak dewasa, saat anak pertamanya, Erna telah menikah, ia tiba-tiba saja terkena penyakit serangan jantung. Setelah itu ia memutuskan untuk dioprasi saja. Waktu pun akhirnya kian berlalu. Hingga ia akhirnya telah tua, pension serta memiliki banyak cucu.
Di hidupnya, ia sangat ingin sekali mempunyai cucu perempuan. Karena itu, akhirnya puji Syukur Alhamdulillah pada 15 Maret 1996 lahirlah ke dunia ini seorang bayi perempuan dari erna serta suaminya Rusman Kurnita. Yaitu saya sendiri. Mengingat kontribusi besar yang telah diberikan kakek saya terhadap bank Indonesia, kakek saya, yg biasa kami panggil ‘gaek’ gaek merupakan bahasa padang dari kakek. Gaek saya hingga akhir hayatnya sering kali mendapatkan royalty-royalty. Namun sedihnya, pada bulan February 2010, Gaek saya tersayang meninggal dunia. Semua pihak yang mengenalnya sangat sedih serta berkabung mendengar kabar ini. Namun saya yakin pasti banyak orang yang mendoakan kebahagiaan orang sebaik serta se jujur dia agar bahagia di kehidupan yang abadi.

b. Kontribusi
sebagai seorang ayah bagi ke-11 buah hatinya, sudah merupakan hal yang pasti bila ia senantiasa mencoba untuk menjadi seorang yang baik serta dapat dibanggakan oleh semua orang terlebih lagi keluarganya sendiri. Karena itu menurut keluarganya beliau merupakan orang yang sangat disegani, di hormati serta dihargai bagi semuanya. Beliau sangat menanamkan prinsip kejujuran bagi keluarganya. Bagi beliau, kejujuran merupakan segalanya. Dan bagi beliau, kejujuran itu bukanlah hanya sekedar kata-kata yang dapat kgihan, keluar begitu saja dari mulutnya. Beliau sangat menjunjung tinggi nilai kejujuran serta memperaktekkannya  dalam kehidupan sehari-harinya.
            Kehidupan beliau setiap harinya mulanya merupakan pegawai biasa saja di Bank Indonesia Jakarta Pusat, namun karena kegigihan, kejujuran hingga akhlaknya yang mulia, ia dinaikkan pangkat bberapa kali dan akhirnya menjadi pejabat atau bisa dibilang orang yang lumayan memegang peranan penting.
Apa kah itu bank Indonesia? Bank Indonesia . Yang kita kenal dengan singkatan BI, dulu disebut De Javasche Bank  merupakan bank sentral Republik Indonesia. Sebagai bank sentral, BI mempunyai satu tujuan tunggal, yaitu mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Kestabilan nilai rupiah ini mengandung dua aspek, yaitu kestabilan nilai mata uang terhadap barang dan jasa, serta kestabilan terhadap mata uang negara lain.
Untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan,  BI didukung oleh tiga pilar yang merupakan tiga bidang tugasnya. Ketiga bidang tugas ini adalah menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter, mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran, serta mengatur dan mengawasi perbankan di Indonesia. Ketiganya perlu diintegrasi agar tujuan mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah dapat dicapai secara efektif dan efisien. BI juga menjadi satu-satunya lembaga yang memiliki hak untuk mengedarkan uang di Indonesia.
Berikut ini merupakan sedikit dari sejarah Bank Indonesia. Pada 1828 De Javasche Bank didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda sebagai bank sirkulasi yang bertugas mencetak dan mengedarkan uang.
Tahun 1953, Undang-Undang Pokok Bank Indonesia menetapkan pendirian Bank Indonesia untuk menggantikan fungsi De Javasche Bank sebagai bank sentral, dengan tiga tugas utama di bidang moneter, perbankan, dan sistem pembayaran. Di samping itu, Bank Indonesia diberi tugas penting lain dalam hubungannya dengan Pemerintah dan melanjutkan fungsi bank komersial yang dilakukan oleh DJB sebelumnya.
Pada tahun 1968 diterbitkan Undang-Undang Bank Sentral yang mengatur kedudukan dan tugas Bank Indonesia sebagai bank sentral, terpisah dari bank-bank lain yang melakukan fungsi komersial. Selain tiga tugas pokok bank sentral, Bank Indonesia juga bertugas membantu Pemerintah sebagai agen pembangunan mendorong kelancaran produksi dan pembangunan serta memperluas kesempatan kerja guna meningkatkan taraf hidup rakyat.
Tahun 1999 merupakan Babak baru dalam sejarah Bank Indonesia, sesuai dengan UU No.23/1999 yang menetapkan tujuan tunggal Bank Indonesia yaitu mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah.
Pada tahun 2004, Undang-Undang Bank Indonesia diamandemen dengan fokus pada aspek penting yang terkait dengan pelaksanaan tugas dan wewenang Bank Indonesia, termasuk penguatan governance. Pada tahun 2008, Pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No.2 tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang No.23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas sistem keuangan. Amandemen dimaksudkan untuk meningkatkan ketahanan perbankan nasional dalam menghadapi krisis global melalui peningkatan akses perbankan terhadap Fasilitas Pembiayaan Jangka Pendek dari Bank Indonesia
 Karena keberhasilannya di Jakarta, kakek saya beberapa kali pindah bertugas di BI Sumatra Utara yaitu tepatnya di Pematang Siantar, serta BI di Yogyakarta. Karena tugasnya tersebut, keluarganya termasuk ibu saya sendiri ikut merasakan kehidupan nomaden, dimana mereka harus berpindah-pindah tempat tinggal, berganti teman main serta beradaptasi dengan segala sesuatu halnya yang dapat terbilang baru lagi. Mungkin karena itu, ibu saya serta hamper seluruh om-tante yang saya miliki dari keluarga ibu, semuanya memiliki sifat ramah, mudah membaur serta senang membuat pertemanan baru. Menurut narasumber saya sendiri yakni ibunda saya tercinta, walaupun jabatan kakek saya terbilang tinggi serta upah yang didapatkan bisa dibilang besar, namun ia harus dengan adil membagi uang yang ia miliki kepada ke- 11 orang buah hati tercintanya. “gaek itu dulu memang pejabat, tapi hidup mama dulu nggak seperti hidup teman-teman mama yang bisa liburan ke luar negri, naik pesawat. Buat mencukupi kebutuhan mama sama ade-adek mama aja susah. Tapi walaupun gitu, gaek itu nggak pernah sama sekali mau nerima uang dari yang nggak jelas. Yang dia terima tuh harus bener-bener jelas ya kalo engga dia gamau terima, bil” kira-kira begitu tutur ibu saya yang biasa saya panggil mama itu.
Ya, memang benar sekali. Dahulu, saya ingat kakek memang sering bercerita kepada saya mengenai bagaimana perjuangannya. Mungkin konteks perjuangan disini berbeda dengan arti perjuangan yang ditulis oleh teman-teman saya yang lain. Jujur saja, mengapa saya memilih kakek saya sebagai seorang pejuang yang saya akhirnya tulis untuk buat biografinya adalah karena ia pejuang kejujuran yang sesungguhnya. Ia merupakan orang ter jujur yang pernah saya kenal di sepanjang hidup saya.
 Ada masa saat gaek bercerita kepada saya, saat itu gaek sedang kesusahan karena factor ekonomi yang sedang terdesak, dan banyak sekali orang yang mencoba ‘mendekati’nya atau ‘mendekati’ keluarganya yakni anak-anaknya. Pendekatan itu bisa dilakukan pihak pihak tersebut dengan berbagai cara. Sebagai contoh, saat itu anak-anak gaek, yakni om-om serta tante-tante saya masih berumur belia dan dikala itu, dvd player sedang menjadi trend dikalangannya. Secara tiba-tiba saja, ada paket kiriman dari orang yang sedang mendekati gaek, padahal dikiranya itu paket dari gaek, om –om serta tante tante saya semuanya sudah senang tapi akhirnya gaek menyuruh untuk mengembalikannya lagi. Gaek saya merupakan orang yang sangat jujur. Satu lagi contoh kejujurannya ialah saat itu ia menerima sejumlah uang, namun ia tak tahu uang itu asalnya dari mana namun hanya tertulis itu dari BI. Beliau pun bergegas ke bagian administrasi dan memaksakan tidak ingin mengambil uang itu. Hingga pegawainya saat itu kebingungan mau menaruh uang tersebut dimana. Prinsip gaek adalah, kita harus menerima uang yang jelas-jelas saja. Yang sudah jelas kalau uang itu kita terima karena dari jerih upaya serta kerja keras kita sendiri.
Dan itulah yang membuat saya bangga terhadapnya dan menganggapnya pahlawan yang sesungguhnya. Dimana saat teman-temannya terbawa ‘arus’ saat masa pak Harto, beliau memilih untuk berani menolak dan tidak mengikutinya meski harus menjual hari liburnya agar mendapatkan upah tambahan guna memenuhi kebutuhan keluarganya. Dari pengalaman langsung ibu saya yang merupakan anak tertuanya dan tahu betul mengenai bagaimana kehidupannya. Saya sangat mengagumi serta menghormati orang sepertri gaek. Karena saya yakin orang seperti itulah yang dibutuhkan oleh negara kita ini untuk menyongsong masa depan yang lebih indah di kemudian harinya.

No comments:

Post a Comment