Friday, 31 May 2013

Tugas Biografi - Gavirazi Muhammad XI IPS 3


Eyang Moesaleh


Senin 27 Mei 2013, Saya mewawancarai eyang buyut saya yaitu ibu Muttmaunah, yang sering saya panggil Bu buyut, ibu lahir tahun 1932. Setelah saya memutuskan untuk mewawancarai  ibu buyut saya , saya langusng menelponnya dan mengatur waktu agar kita dapat berbincang, saya sekalian ingin menjenguk ibu buyut saya yang sudah sebulan tidak saya jenguk,dan sehubung rumah saya di jln cipete dan rumah ibu buyut saya ada di mpr, jaraknya sangat dekat sehingga saya hanya perlu berjalan kaki untuk mencapai rumahnya.

Saya mengunjungi kediaman beliau yang terletak di Jalan MPR setelah selesai sekolah saat menjelang Maghrib,sesampai disana, saya diajak makan terlebih dahulu oleh om saya yang kebetulan saat itu juga sedang menjenguk ibu, saat saya sampai di kamar ibu, terlihat ibu yang sedang tertidur pulas, badannya yang terbaring, tidak bisa berdiri karena dulu pernah terkena kecelakaan terlihat sang lemas dan lemah , wajar saja usianya sudah 90 dan sudah terbaring selama bertahun tahun. Akhirnya saya menunggu selama 2 jam sampai ibu terbangun, saat ib terbangun ternyata di sedang terkena sakit flu, jadi saya langsung bertanya secepatnya agar tidak terlalu mengganggu jam tidur ibu, ibu adalah orang yang sangat ramah dan baik, dan dia dengan senang hati menjawab semua pertanyaanku walaupun kondisi fisik sedang tidak sehat.

Ibu Buyut adalah anak tertua dari 7 bersaudara, Bapaknya bernama Eyang Soman dan Ibunya bernama Ngajinah.Ibu menghabiskan semasa hidupnya di Jakarta, dan melalui ibu buyut, saya akan bertanya tentang suaminya yaitu Drs.Moersaleh Mse. yang telah menjadi polisi saat masa penjajahan Belanda dan Jepang di Indonesia. dan menurut saya Eyang saya pasti melihat dan merasakan kejadian-kejadian saat kemerdekaan.




Biografi


Drs. Moersaleh Mse lahir di Blitar tanggal 29 November 1917 dan Wafat di usia 75. Pada tahun 1992. Merupakan anak tertua dari 5 bersaudara dari pasangan Wiryo Sujono dan Eyang Askamah.Sebagai Anak tertua Eyang Mursaleh diajarkan menjadi orang yang mandiri dan bertanggung jawab.

Bapak dari beliau adalah tentara, jadi wajar beliau menjadi orang yang berpendidikan keras dan taat pada aturan.Ayahnya yang merupakan pekerja keras yang inigin mendidik anakanya agar menjadi orang yang berguna bagi orang disekitarnya, mendengar dedikasi dan komitmen kedua orangtua ini dalam membesarkan anaknya betul-betul hal yang jujur membuat saya sangat kagum dengan Eyang eyang saya.

Beliau menghabiskan masa kanak-kanaknya di Kediri, Dari cerita yang saya dengar bapak dari kecil memang bercita-cita menjadi polisi, beliau adalah anak yang sangat penasaran terhadap ilmu, dan sesudah bermain ia sering belajar bermacam-macam hal. Semasa Sekolah Dasar beliau mengikuti Sekolah Rakyat di Kediri. Yang pada zaman belanda disebut Schakel School, keadaan sekolah yang minim fasilitasnya tidak menggoyahkan semangatnya untuk mendapatkan ilmu, beliau memang orang yang sangat serius dang pekerja keras da kecilnya Beliau bersekolah di sana selama 5 tahun, dan Melanjutkan ke tingkat pendidikan SMP.

Beliau melanjutkan tingkat pendidikannya ke sekolah MULO yang berkepanjangan Meer Uitgebreid Lager Onderwejis. MULO adalah sekolah menengah pertama pada zaman kolonial Belanda. Meer Uitgebreid Lager Onderwejis berarti “Pendidikan Dasar Lebih Luas” dan MULO menggunakan Bahasa Belanda sebagai Bahasa pengantar. Beliau bersekolah di MULO yang terletak di Surabaya. Dan beliau Melanjutkan pendidikannya ke SMA.

Beliau melanjutkan tingkat pendidikannya dari sekolah MULO ke sekolah STOVIA yang berkepanjangan School Tot Opleiding van Indische Artsen.dan beliau melanjutkan tingkat pendidikannya ke kuliah.Beliau mengambil kuliah Mosvia (Middlebare Opleiding School Voor Indlandsche Ambtenaren. Beliau mengikuti kuliah Mosvia selama 3 tahun dan beliau pindah ke kuliah UCSD (University of San Diego. Mengambil jurusan Public Administration Beliau mendapatkan gelar Master Of Science, beliau dan teman-temannya juga pendiri Permias (persatuan Mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat) yang sampai sekarang masih berlanjut,setelah menyelesaikan masa kuliahnya, beliau kembali ke Indonesia.

Ibu Buyut menggambarkan beliau sebagai orang yang sangat berkomitmen terhadap pekerjaannya, sikapnya pemberani dan berkemauan tinggi, hobi beliau adalah berjalan kaki di pagi hari Ibu buyut bertemu eyang moersaleh saat ia sedang bertugas menjadi polisi di pacitan, mereka menikah saat Indonesia tengah di bawah penjajahan jepang.

Setelah mereka menikah mereka dikaruniai 3 anak, anak kedua adalh nenek saya sendiri,mereka membesarkan mereka dengan kasih sayang dan didikan yang keras sehingga anak-anaknya menjadi orang yang sukses dan berhasil dalam hidupnya.

Peranan

Setelah Beliau kembali ke Indonesia beliau memilih untuk menjadi polisi, beliau berkerja di bagian Intel, Beliau pensiun pada tahun 1972 dan menjadi anggota Lemhanas (Lembaga Ketahanan Nasional) adalah lembaga pemerintah non kementrian Indonesia yang bertugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pendidikan pipinan tingkat nasional, pengkajian strategic ketahanan nasional dan pemantapan nilai-nilai kebangsaan.

Lembaga Pertahanan Nasional berdiri pada tanggal 20 Mei 1965 berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1964, dan berada langsung di bawah Presiden. Pada tahun 1983, lembaga ini berubah nama menjadi Lembaga Ketahanan Nasional, yang berada di bawah Panglima ABRI. Pada tahun 1994 lembaga ini berada langsung di bawah Menteri Pertahanan dan Keamanan. Tahun 2001, Lemhannas merupakan Lembaga Pemerintah Non Departemen yang bertanggung jawab kepada Presiden. Sejak tahun 2006, berdasarkan Perpres No. 67 Tahun 2006, mengingat beban dan tanggung jawab lembaga, maka jabatan Gubernur Lemhannas disejajarkan dengan Jabatan Menteri.

Berikut adalah daftar Gubernur Lemhannas:

 1.Mayjen (TNI) Wiluyo Puspoyudo (1965-1967)                                                                                                                        

 2.Mayjen (TNI) Suadi (1968-1970)                                                                                                                    

 3.Letjen (TNI) A. Kosasih (1970-1974)                                                                                                                 

 4.Letjen (TNI) Sayidiman Suryohadiprojo (1974-1978)                                                                                      

 5.Letjen (TNI) Sutopo Yuwono (1978-1983)                                                                                                                                

 6.Letjen (TNI) Soebijakto (1983-1989)                                                                                                      

 7.Letjen (TNI) Soekarto (1989-1994)                                                                                                        

 8.Mayjen (TNI) R. Hartono (1994-1995)                                                                                                                 

 9.Letjen (TNI) Moetojib (1995-1996)                                                                                                                 

 10.Letjen (TNI) Sofyan Effendi (1996-1998)                                                                                                                    

 11.Letjen (TNI) Agum Gumelar, M.Sc. (1998-1999)                                                                                    

 12.Letjen (TNI) Johny J. Lumintang (1999-2001)                                                                                       

 13.Prof. Dr. Ermaya Suradinata, MH (2001-2005)                                                                                        

 14.Prof. Dr. Muladi, SH (2005-2011)                                                                                                   

 15.Prof. Dr. Ir. Budi Susilo Soepandji, CES, DEA (2011- sekarang)                                                     

Beliau juga menjabat menjadi dosen di PTIK (Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian) dan Di UI sementara, beliau dan muridnya musanef juga membuat buku berjudul “Pedoman Membuat Skripsi”.beliau juga pernah dikirim oleh Indonesia untuk menjadi Inspektur polisi di san diego di persatuan San Diego Police Department.                                                                                                                        

Semasa menjadi polisi beliau menjabat menjadi Komandan Jendral dan Komisaris, beliau bertugas di berbagai tempat, seperti Jakarta, blitar,dll. Beliau mengalami berbagai macam kesulitan dalam pekerjaannya, terutama saat terjadi kekerasan dimana-mana saat masa itu.Salah satu cerita yang saya dengar adalah saat PKI menyerang Jepang di Jakarta dan teman eyang saya termasuk korban saat itu.                                                                                                                                                                      

Saat terjadi Proklamasi, Adik eyang saya termasuk orang yang melihat kejadian bersejarah itu, pada saat itu eyang saya sedang tugas di blitar, jadi sayang nya ia hanya mendengar dari radio saja. Pada saat eyang saya menjadi komisaris, ia terkenal karena pengetahuannya yang luas dan wibawa yang tinggi.                                                                                                                                                

Menurut saya peranan eyang saya dalam masa kemerdekaan cukup banyak, ia menjadi dosen dan guru besar di PTIK(perguruan tinggi ilmu kepolisian) sangat berarti, karena ia telah mengajarkan ilmunya yang luas ke pemuda pemuda Indonesia yang akan memegang Indonesia, dan pemuda-pemuda itu akan menurunkan ilmunya ke anak anaknya.                                                                 

Perminas (persatuan mahasiswa Indonesia di amerika serikat) yang didirikan olehnya juga sangat membantu mahasiswa Indonesia yang berkuliah di Amerika Serikat, Bapak saya sendiri yang berkuliah di Houston, Texas juga sangat terbantu oleh organisasi ini.              
itulah hasil wawancara saya dengan ibu buyut saya dan berakhirlah cerita ini.
                                

No comments:

Post a Comment