Wednesday, 29 May 2013

Tugas-2 Biografi Ghina Faradisa Hatta XI IPA 1



Bu Imam, Seorang Saksi Pendidikan Indonesia

Hari itu adalah hari yang cerah. Hari ketika saya mengunjungi ibu haji Roekistini Imam Doeryat binti Soemoeroe, yang akrab dipanggil dengan panggilan ibu Imam. Ibu haji Roekistini Imam Doeryat binti Soemoeroe merupakan tetangga dari nenek saya, yang bertempat tinggalkan di Tebet. Pada awalnya, saya bermaksud mewawancarai nenek saya. Tetapi, setelah mengetahui bahwa nenek saya belum lahir pada saat kemerdekaan Republik Indonesia di tahun 1945, nenek saya pun menyarankan saya untuk mendatangi ibu haji Roekistini Imam Doeryat binti Soemoeroe. Saat itu jam menunjukkan pukul sekitar 16.20 WIB, ketika saya berangkat menuju rumah ibu haji Roekistini Imam Doeryat binti Soemoeroe, yang rumahnya hanya berjarak sekitar 5 sampai 6 rumah dari rumah nenek saya. Saya mengunjungi rumah ibu haji Roekistini Imam Doeryat binti Soemoeroe bersama nenek saya. Setelah bersapa salam, saya pun memulai wawancara saya dengan Beliau.
Bu Imam dan saya, Ghina Faradisa

BIOGRAFI SINGKAT

Ibu hajjah Roekistini Imam Doeryat binti Soemoeroe akrab dipanggil dengan panggilan ibu Imam. Beliau lahir pada hari Senin, tanggal 25, bulan Agustus, tahun 1930 di Daerah Istimewa Yogyakarta, tepatnya di Pengok. Ibu hajjah Roekistini Imam Doeryat binti Soemoeroe dibesarkan dengan penuh kasih sayang oleh kedua orang tua Beliau, yaitu ayah Beliau yang bernama Raden Soemeroe, dan ibu Beliau yang bernama Soeprapti dengan gelar hajjah. Ayah dari Bu hajjah Roekistini Imam Doeryat binti Soemoeroe merupakan seorang kepala stasiun dari Netherlands Indische Spoorwag Maatscapay, atau disingkat dengan sebutan NIS.

Ibu hajjah Roekistini Imam Doeryat binti Soemoeroe yang merupakan seorang wanita asal Yogyakarta ini sekarang telah menetap di Jakarta Selatan, tepatnya di Tebet, untuk waktu yang cukup lama. Beliau telah berpindah-pindah tempat tinggal beberapa kali sebelumnya, dikarenakan pekerjaan sang ayah yang menuntut untuk berpindah-pindah. Dari Yogyakarta, ibu hajjah Roekistini Imam Doeryat binti Soemoeroe sempat berpindah ke kota Magelang, kemudian ke kota Solo, yang kemudian dilanjutkan dengan kota Surabaya, kota dimana ibu hajjah Roekistini Imam Doeryat binti Soemoeroe berkuliah dan bertemu sang calon suami, yang sekarang menjadi suami Beliau.

Pernikahan antara ibu hajjah Roekistini Imam Doeryat binti Soemoeroe dan suami Beliau yang bernama haji Imam Doeryat, diadakan di kota Yogyakarta, pada tahun 1955. Pernikahan antara ibu haji Roekistini Imam Doeryat binti Soemoeroe dan haji Imam Doeryat melahirkan seorang bayi perempuan yang cantik jelita. Bayi tersebut memiliki sebuah nama, yaitu Rotno Imawati, dengan tanggal kelahiran 24 April 1856, dan bertempatkan di Surabaya, tepatnya di Jalan Taman Embong Macan No. 5.

Pada suatu hari, seorang pasangan dari Belanda menjadi tamu di kediaman ibu haji Roekistini Imam Doeryat binti Soemoeroe dan suami. Selama menjadi tamu di kediaman ibu haji Roekistini Imam Doeryat binti Soemoeroe, pasangan Belanda tersebut dimasakkan masakan Jawa oleh ibu Imam. Ternyata, tamu pasangan Belanda tersebut sangat puas dan senang hatinya, selama bertamu di kediaman ibu haji Roekistini Imam Doeryat binti Soemoeroe. Kemudian, pasangan Belanda tersebut menawarkan suami ibu haji Roekistini Imam Doeryat binti Soemoeroe, yang tidak lain adalah bapak haji Imam Doeryat untuk ke Samarinda. Beliau pun mengiyakan, dan selama bapak haji Imam Doeryat pergi ke Samarinda, ibu haji Roekistini Imam Doeryat binti Soemoeroe bersama sang putri tercinta pindah ke kota Jakarta pada tahun 1974. Dan yang kemudian berkumpul lagi bersama suami Beliau di Jakarta.

KESAKSIAN
Wawancara saya bersama ibu haji Roekistini Imam Doeryat binti Soemoeroe diawali dengan cerita Beliau ketika lahir dan hidup di kota Yogyakarta sampai di usia 8 tahun, yang kemudian pindah ke kota Magelang. Ketika tinggal di kota Yogyakarta, ibu haji Roekistini Imam Doeryat binti Soemoeroe bersekolah di sekolah dasar Belanda khusus perempuan yang pada saat itu bernama Neutral Hollas Indische Messes School. Sekolah dasar tersebut terletak di Jalan Malioboro, di dekat daerah Danurjan. Sebenarnya sekolah dasar pada saat itu ada pula yang bercampur antara perempuan dan laki-laki, tetapi ibu haji Roekistini Imam Doeryat binti Soemoeroe memutuskan untuk bersekolah di sekolah dasar khusus wanita.

Pada tahun 1938, di usia 8 tahun, yang ketika saat itu ibu haji Roekistini Imam Doeryat binti Soemoeroe duduk di kelas 5 Sekolah Dasar, Beliau beserta keluarga Beliau pindah ke kota Magelang. Beliau berpindah ke kota Magelang, dikarenakan pekerjaan ayah Beliau yang menuntut untuk berpindah-pindah tempat. Beliau bercerita, “Saya pindah ke Magelang, soalnya Bapak saya adalah ketua stasiun di perusahaan kereta api Netherlands Indische Spoorwag Maatscapay. Waktu itu, ada juga perusahaan kereta api lain, namanya saya lupa, tapi disingkat menjadi S.S.”

Ketika saya membawa topik mengenai sekolah Beliau di kota Magelang, Beliau mulai menceritakan bagaiman Beliau menjalani hari-hari sekolah Beliau, dari belajar huruf kanji Bahasa Jepang, sampai mencari bahan sebagai bahan peledak untuk tentara Jepang. Ibu haji Roekistini Imam Doeryat binti Soemoeroe menceritakan bahwa ketika Beliau tinggal di Yogyakarta, pada saat itu masih merupakan zaman penjajahan oleh bangsa Belanda, sementara ketika ibu haji Roekistini Imam Doeryat binti Soemoeroe tinggal di kota Magelang, ketika itu  sudah merupakan zaman penjajahan oleh bangsa Jepang.

Ibu haji Roekistini Imam Doeryat binti Soemoeroe pergi ke sekolah yang mencampur antara perempuan dan laki-laki. Setiap berangkat ke sekolah, Beliau selalu berjalan kaki, dan setiap sebelum masuk ke kelas masing-masing, seluruh murid harus berbaris dan menyanyikan lagu kebangsaan bangsa Jepang. “Sekolah pada waktu itu tidak teratur. Tetapi harusnya kami bersekolah setiap hari Senin sampai hari Kamis. Sedangkan hari Sabtu dan Jumat kami wajib ikut kerja bakti,” cerita ibu haji Roekistini Imam Doeryat binti Soemoeroe. Setiap hari Senin, murid-murid belajar seperti biasa, tetapi ibu haji Roekistini Imam Doeryat binti Soemoeroe menekankan pada pelajaran Bahasa Jepang, yang juga menuntut murid-murid untuk belajar baca dan tulis huruf kanji. Ibu haji Roekistini Imam Doeryat binti Soemoeroe berkomentar, “Sulit sekali untuk belajar huruf kanji itu, kompleks.”. Pembelajaran tetap dilaksanakan sampai hari Kamis, yang kemudian di hari Jumat dan Sabtu dilanjutkan dengan kegiatan lain, yang merupakan kegiatan selain pembelajaran.

Kerja bakti wajib dilaksanakan dan diikuti oleh seluruh murid pada hari Jumat dan Sabtu. Kerja bakti tersebut mempunyai sebutan, yaitu Kengrohosi. Setiap Sabtu dan Jumat tersebut seluruh murid melakukan kegiatan yang bermacam-macam, dari terkadang mencari buah-buahan tertentu, yang merupakan bahan dasar peledak. Selain mencari buah-buahan tertentu tersebut, ibu haji Roekistini Imam Doeryat binti Soemoeroe juga menceritakan bahwa mereka mencari iles-iles, yang juga merupakan bahan dasar dari peledak. Kedua bahan dasar tersebut kemudian diberikan kepada bangsa Jepang. “Kami perempuan-perempuan, sebenarnya karena kami dari sekolah khusus perepmpuan, makanya hanya kami perempuan-perempuan yang menaiki dan menuruni gunung untuk mencari buah yang saya lupa namanya itu, dan iles-iles. Kedua benda tersebut sepertinya dipakai untuk membuat bom. Nantinya diberikan ke tentara Jepang,” jelas ibu haji Roekistini Imam Doeryat binti Soemoeroe.

Selain mencari iles-iles ataupun mencari dan memetik buah-buahan tertentu untuk dijadikan sebagai bahan dasar peledak, ibu haji Roekistini Imam Doeryat binti Soemoeroe juga mengatakan bahwa terkadang seluruh murid melakukan pendidikan baris-berbaris, atau sebagai Pasukan Baris Berbaris. Ibu haji Roekistini Imam Doeryat binti Soemoeroe serta murid-murid perempuan lainnya berbaris sambil memegang tonggak kayu. “Sambil baris-berbaris, kami juga masing-masing memegang tonggak kayu, seperti layaknya para pejuang pemuda laki-laki,” cerita ibu haji Roekistini Imam Doeryat binti Soemoeroe, ketika menceritakan kegiatan baris-berbaris tersebut. Kegiatan lainnya yang juga dilakukan oleh seluruh siswi Sekolah Menengah Pertama Rantai Kentjana Magelang adalah kegiatan menjahit. Seluruh siswi ditugaskan untuk menjahit pakaian yang terbuat dari karung goni, dan diperuntukkan untuk pejuang Indonesia. Selain itu, terdapat pula kegiatan memasak. “Masa, bekicot juga kami masak, lho. Dan bekicot tersebut pada akhirnya akan dimakan,” jelas ibu haji Roekistini Imam Doeryat binti Soemoeroe. Selain menjahit dan memasak, seluruh murid juga dilatih untuk berpidato di sekolah, pada hari Jumat atau Sabtu tersebut. Selagi Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat,  dan Sabtu penuh dengan kegiatan, hari Minggu merupakan hari libur.

Ibu haji Roekistini Imam Doeryat binti Soemoeroe bercerita mengenai rumah Beliau di Magelang. Beliau menceritakan bahwa di belakang rumah ibu haji Roekistini Imam Doeryat binti Soemoeroe di Magelang, terdapat sebuah asrama Jepang yang mempunyai sebutan dengan nama “tangsi”. Disitulah murid-murid melakukan kerja bakti Kengrohosi dan terkadang, seperti kata ibu haji Roekistini Imam Doeryat binti Soemoeroe, “kadang-kadang kami disuruh menari tarian Jawa juga disitu,”.

Sekali lagi, pekerjaan ayah dari bu haji Roekistini Imam Doeryat binti Soemoeroe menuntut Beliau sekeluarga untuk pindah ke Solo pada tahun 1945. Ketika ibu haji Roekistini Imam Doeryat binti Soemoeroe, Belanda kembali menyerang. “Ada bom, kita ditembaki, tapi Belandanya tidak tahu ada dimana. Mereka tidak kelihatan. Tapi karena kita diserang terus, PKI tidak masuk Solo, sih. Walaupun, ada saudara saya yang dibunuh oleh PKI di Ngawi,” cerita ibu haji Roekistini Imam Doeryat binti Soemoeroe. Karena diserang dan tidak diketahui kapan dan darimana diserangnya, ibu haji Roekistini Imam Doeryat binti Soemoeroe bercerita bahwa sering kali Beliau beserta keluarga Beliau disuruh untuk meninggalkan dan mengosongkan rumah Beliau yang bertempatkan di depan Stasiun Balapan. “Waktu itu, ketika sebelumnya Belanda masih menjajah dan Jepang tiba-tiba masuk Indonesia, banyak rumah-rumah yang ditinggali Belanda kosong ditinggal pergi para bangsa Belanda, dan akhirnya ditempati bangsa Jepang. Nah, ketika Indonesia merdeka, rumah-rumah yang ditinggali Jepang dulu, karena Jepang pergi, maka rumah mereka kosong tidak ada yang menempati. Akhirnya kami, Indonesia, menempati rumah-rumah tersebut. Jadi, waktu itu rumah saya ada piano Belanda juga,” cerita ibu haji Roekistini Imam Doeryat binti Soemoeroe mengenai keadaan Solo dan rumahnya pada waktu itu.

Solo bukan perhentian terakhir ibu haji Roekistini Imam Doeryat binti Soemoeroe. Kemudian Beliau pindah ke Surabaya untuk melanjutkan studi ke jenjnang yang lebih tinggi. Di Surabay itu lah, Beliau bertemu dengan calon suaminya, yang sekarang telah menjadi suami belahan hati Beliau, bapak haji Imam Doeryat. Setelah kemudiannya Beliau dan bapak haji Imam Doeryat melaksanakan pernikahan di Yogyakarta, karena kedua orang tua dari ibu haji Roekistini Imam Doeryat binti Soemoeroe tinggal di Yogyakarta. Setelah menikah, Beliau kembali ke Surabaya, melahirkan putri tercintanya, dan pada akhirnya pindah ke Daerah Khusus Ibukota Jakarta, menetap sampai sekarang ini.

PENUTUP

KESIMPULAN
Ibu haji Roekistini Imam Doeryat binti Soemoeroe, yang akrab dipanggil dengan hanya Bu Imam saja, telah merasakan bagaimana pendidikan di saat penjajahan Belanda, maupun penjajahan oleh bangsa Jepang. Ketika masa penjajahan Jepang, Pendidikan diberikan dengan pengaruh penuh bangsa Jepang, seperti belajar baca dan tulis huruf kanji. Pendidikan juga diikuti dengan kegiatan yang menguntungkan bangsa Jepang, seperti mencari bahan dasar peledak untuk bangsa Jepang, menari tarian Jawa untuk menghibur para bangsa Jepang, dan sebagainya. Pendidikan akademis juga hanya dilakukan dari hari Senin sampai Kamis, dan itupun tidak teratur, begitu kata ibu haji Roekistini Imam Doeryat binti Soemoeroe.

SARAN
Sulitnya untuk menuntut ilmu pada zaman penjajahan seharusnya membuka pikiran kita untuk lebih menghargai dan bersyukur, karena kita dapat menuntut ilmu tanpa sesulit zaman dahulu. Pendidikan yang bagus adalah salah satu ciri negara maju. Jika Indonesia memiliki sistem pendidikan yang lebih bagus lagi, maka negara kita yang tercinta ini dapat lebih banyak lagi menghasilkan pemuda-pemudi hebat yang dapat merubah Indonesia dan dunia menjadi lebih baik lagi.

No comments:

Post a Comment