Thursday, 20 June 2013

Tugas 1 Kesaksian Sejarah - Ganendra Arya XI IPA 1



Kakek tuh terdiri dari 7 bersaudara. Tinggalnya dulu di Purwakarta terus pindah ke Jakarta entah kapan. Yaudahdeh akhirnya saya memutuskan untuk menanya-nanyai kakek tentang jaman dulu tuh bagaimana sih kek?

Jaman jepang tuh kakek udah lahir. Pas jaman-jaman kakek umur 3 tahun, Soekarno tuh yang jadi ketua pemuda pada saat itu. Kalo gak salah tuh dia jadi pemimpin Putera. Bekerja sama dengan tentara Dai-Nippon yang dipimpin oleh Kaisar Hiruhito, para pemuda dikumpulkan disuruh membantu membuat jalan, terowongan, rel kereta api dan lain-lain. Namun setelah Soekarno tidak ada, pekerjaan tersebut dialihkan menjadi romusha, kerja paksa Jepang. Jaman sekarang tuh romusha masih ada, ”nanti malem kalo kamu liat ANTV kalo gak salah, ada cerita jaman dulu.” tuturnya. Romusha tuh sangatlah keji. Gali sungai, bangun jalan, bawa batu dari sungai ke jalan tapi gak pakai makan istirahat minum. Dibayar juga nggak pernah. Banyak yang meninggal karena kelaparan, malaria dan terjangkit penyakit lainnya. Terus pemuda-pemuda tuh banyak yang dikirim ke Birma. Di Birma, Jepangpun berkuasa juga. Di Jawa ini, ada di Cilacap, mereka tuh disana membangun goa. Goa-goa disana fungsinya untuk menyimpan harta-harta peninggalan Jepang. Menggali batubara dilakukan di Umbilin, Tanjung inim. Kebanyakan, Jepang tuh bermulut manis, omongannya tidak cocok sama perbuatannya.

Dulu kakek tuh kelas 1 SD. Tiap pagi tuh kakek nyanyi Kimigayo, kalau sudah nyanyi Kimigayo lalu langsung olahraga. “Kalau nggak lari, ya palingan lompat. Kakya kisumi!!” kalau lagi lari kakek nyanyinya “Ichi ji san ichi ji san” gitudeh pokoknya. Bukan halo-halo labschool ya hahaha.

Tapi Jepang tuh membuat semangat anak-anak tinggi, tadinya kita tuh dianggepnya bangsa sepenggolan. sepenggolan tuh dua sen setengah. Kita tuh dianggepnya kuli. Dibayarnya ya sepenggolan juga. Anak buahnya dibayar satu sen. Satu sen itu satu per seratus rupiah.

Kita memang sangatlah murah pada waktu itu. Kakaknya kakek tuh udah masuk Pembela Tanah Air. Nantinya PETA akan lain dengan Heiho. Heiho tuh sudah menjadi tentara terus masuk ke tentara Dai-Nippon. Kalau PETA tidak, mereka buatan Indonesia, tetapi belum menjadi tentara Dai-Nippon. PETA disiapkan kalau ada tentara sekutu datang, yang melawan adalah PETA. Terus perwira PETA banyak yang dikubur di sekitaran Acol kalau nggak salah.

Kakek sewaktu kecilnya hafal nyanyian Jepang, soalnya dinyanyikan setiap hari. Kimigayo, Sora Akete apalah itu dan lagu-lagu peperangan. Lagu-lagu tersebut intinya tentang semangat semua. Karena itulah Indonesia ditanamkan semangat yang tinggi oleh Bung Karno. ”Percaya kepada diri sendiri”. Gotong royong pun juga begitu, se-tonari gumi semuanya saling bahu membahu bekerja sama membenahi lingkungan yang kotor. Tonari gumi tuh RT pas jaman Jepang. Ada yang bersihin jalan, bersihin got dan membangun tembok-tembok. Kita selalu bersatu, mempunyai rasa bersatu.

Akhirnya terjadilah pemberontakan, karena Jepang sudah dibom di Nagasaki dan Hiroshima. Tentara Jepang yang di sini dilucuti tidak mau, mereka maunya menyerahkan kepada Belanda lagi. Akhirnya terjadilah pemberontakan dimana-mana. Ada di Jogja, Cilacap, Simpang Lima. Pas waktu itu, kakaknya kakek sekolahnya di magelang. Dia jadi tentara pelajar. Pas lagi jaga tawanan, kan ngantuk-ngantuk gitulah. Taunya senjata yang dipegang dia tiba-tiba meletus soalnya kecepencet, panik semua. Tentara Jepang yang ditawan pun juga makin ketakutan. Akhirnya senjatanya disita terus kakaknya kakek dipindah tugaskan ke jaga pos.

Kan kakek masih SMP waktu Jepang pergi meninggalkan Indonesia. Indonesia yang sudah terlalu pedih dijajah Jepang bukannya menyambut kepergian Jepang dengan sebuah ”huuu” atau lemparan batu, melainkan dengan suatu festival. Ada yang bernyanyi, ada yang menari tradisional Jawa, ada yang membacakan Puisi dan lain-lain. Bahagianya hati mereka saat itu. Kakek mengambil peran dalam tarian Jawa yang dimainkan dekat dermaga situ. Hampir saja kakek dibawa ke Jepang karena bujukan tentara Jepang untuk ikut ke negara asalnya. Kalau ikut, mungkin aku nggak akan dilahirkan ya hahaha

Pas udah Indonesia merdeka kan Belanda masih nggak rela kalau kita udah lepas dari penjajahan. Akhirnya meletus tuh agresi militer. Jawa diserang semuanya tuh. Jakarta, Jogja, Surabaya dan lain-lain. Kakek tuh tinggalnya di Purwokerto, jauh dari mana-mana. Jadi kalo ada tentara Belanda yang dateng, bukan Belanda asli yang ngerampas harta kita. Tapi Ambon-Cina yang tau seluk beluk hutan.

Takut di sandera, akhirnya kakek sekeluarga mengungsi ke desa asalnya buyut. Entah dimana kakek sudah lupa, pokoknya nun jauh dari Purwokerto. Mereka mengungsi hanya membawa apa yang mereka bisa bawa. Makananan, ceret, air, dandang dan pakaian secukupnya.

Perjalanan pun dilakukan selama berminggu-minggu. Bahkan sampai satu bulan pun mereka tetap berjalan. Hinggah di sana-sini. Numpang makan minum, mandi serta bermalam. Jangan kira perjalanan ini mudah, mereka berjalan tanpa menggunakan alas kaki.

Pas kakek sekeluarga mau nyebrang suatu jembatan, ”Oii, jangan lewat sini! Mau diledakin.” Ternyata jembatan itu dihancurkan agar pasukan belanda tidak bisa mencapai daerah tersebut. Akhirnya kakek mencari jalan alternatif lain agar sampai di desa kelahiran buyut

Akhirnya mereka tiba di desa kelahiran buyut dengan selamat semuanya. tujuh orang bersaudara dan dua orang tua pun disambut secara hangat di desa tersebut. Maklum dulu buyut seorang priyayi. Priyayi tuh pegawai pemerintah, jadi istilahnya ya orang terpelajar lah gitu. Dulu buyut kerjaannya yang ngurusin pinjaman di bank rakyat gitudeh. Jaman dulu pegawai pemerintah masih terhormat, beda sama sekarang.

Kakek dan keluarganya menetap sementara di desa tersebut. Buyut beralih profesi menjadi penanam tembakau. Waktu itu pasarnya sangatlah jauh. Kira-kira ya tigapuluh kilometer jalan kaki. Walaupun sangatlah jauh, buyut sangatlah gigih menjual tembakau tersebut. Tembakau dihargai sangatlah mahal. Kira-kira ya 10 rupiah. Pada jaman dulu 10 rupiah tuh bisa menyetarai 10 juta jaman sekarang loh.


No comments:

Post a Comment