Monday, 3 June 2013

Tugas 2 - Biografi Alfath Arya Nugraha XI IPS 1



Kakek Supendi dan pengalamannya dalam menghadapi PKI

Di kesempatan kali ini saya akan bercerita tentang pengalaman dan hal-hal apa saja yang telah almarhum kakek saya, Supendi bin H. Ruba’i alami ketika revolusi dari orde lama ke orde baru dari sudut pandang Nenek dan Aki Iceng melalui wawancara lewat telfon, tetapi akan dimulai dengan biografi singkat beliau dari sudut pandang saya sendiri sebagai cucu pertama.

Kakek lahir tanggal 6 September 1940. Dari kecil saya memanggil kakek saya dengan panggilan kiki karena bahasa sunda dari kakek adalah aki tetapi namanya juga anak kecil sukanya nyerocos akhirnya terciptalah nama panggilan tersebut. Beliau adalah orang yang begitu kebapakan, terlebih lagi ketika ibu saya masih bekerja sebagai pramugari dengan jam terbang tinggi dan ayah saya sering dinas keluar kota, kiki dan nenek sering tinggal di rumah saya di Jakarta. Banyak hal yang telah kiki ajarkan dan berikan. Berbeda dengan ayah saya, kiki lebih sering membiarkan saya melakukan hal-hal baru yang belum tentu dibolehkan ayah, bisa dibilang kiki tidak begitu protektif dalam membiarkan cucunya belajar. Jika liburan keluarga saya pasti pulang kampung ke Cikoneng (sebuah daerah yang berada di antara Ciamis dan Tasikmalaya) dan tinggal di rumah kiki dan nenek. Ketika sedang berada disana saya pasti lebih banyak menghabiskan waktu bersama kiki karena saya sering diajak ke kebon yang berada di gunung tidak jauh dari rumah dan ke stasiun kereta api yang berada di pusat kota Tasikmalaya. Saya ingat waktu itu pernah bermain di gerbong-gerbong kereta batu bara yang sudah terjogrok tidak terpakai di stasiun tersebut bersama kiki, lalu karena tidak mau menuruti larangan kiki dan tidak hati-hati saya terjatuh dari gerbong tersebut dan menyebabkan robeknya bibir saya dan mimisan dari hidung. Kiki tersenyum dan mengambilkan kapas sambil mendiamkan saya yang merengek tidak berhenti. Memang pada saat itu saya bandel dan suka tidak nurut jika diberitahu akhirnya saya mengalami kecelakaan. Dalam perjalanan pulang ke Cikoneng, darah saya masih terus mengucur dan hanya disumbat dengan kapas. Bukan main malunya saat itu karena kami menggunakan motor sehingga orang-orang di pinggir jalan banyak yang heran ketika melihat saya bercucuran darah. Sesampainya di Cikoneng kami tidak kembali ke rumah melainkan langsung menyusul ke kebon karena waktu itu keluarga dari kiki dan nenek saya sedang ingin ngebotram (atau lebih familiar dengan nama piknik) dan makan siang di saung yang berada di kebon. Ketika saya dan kiki datang keluarga saya heran dan bertanya kenapa saya bercucuran darah dan kiki menjawab dengan sedikit berbohong agar yang lain mengira bahwa kejadian tersebut bukan salah saya. Betapa baiknya beliau. Kiki mempunyai masalah dengan jantungnya, pertama kali diketahui pada tahun ’94. Selama masa sakitnya beliau sama sekali tidak terlihat seperti orang sakit, bahkan terkadang beliau masih suka merokok. Sakit tersebut diderita selama 14 tahun, hingga pada tanggal 1 mei 2008 kiki dikalahkan oleh penyakitnya. Saya ingat persis kiki berpulang satu hari sebelum saya melaksanakan kegiatan khatamul qur’an bersama SD saya. Seputaran Maghrib ayah saya tiba-tiba mendapat telfon dari nenek yang sedang histeris. Ketika itu juga keluarga saya langsung mengetahui apa yang terjadi dan tanpa banyak omong kami langsung membereskan pakaian untuk berangkat ke Cikoneng. Selama perjalanan saya dan adik diperintahkan untuk terus berdo’a buat kiki. Baru sampai toll cileunyi ayah saya dikabarkan bahwa kiki sudah meninggal dunia. Kami sampai di Cikoneng pada larut malam dan sudah banyak orang yang bertahlil di rumah kiki. Selama disana saya terdiam sama sekali bahkan tidak menangis dan masih tidak percaya kiki sudah tiada.

Selama hidupnya, kiki pernah berurusan dengan orang-orang PKI sewaktu beliau masih seorang pemuda, tepatnya sekitar tahun ’65 dan ’66. Pada periode 60an, Indonesia sedang berada pada sebuah masa-masa kelam ketika rakyat-rakyatnya pada saat itu tidak merasa aman karena adanya aliran ekstremis beraliran komunis. Partai Komunis Indonesia atau PKI, merupakan partai komunis terbesar di dunia dengan anggota total sebanyak 20 juta jiwa anggota dan pendukung. Berawal dari masa kepemerintahan presiden pertama, yaitu Ir. Soekarno yang kala itu dekat dengan tokoh-tokoh komunis, membuat PKI semakin kuat karena adanya  ikatan yang cukup dekat dengan presiden. Di daerah-daerah PKI juga masih ada saking banyak dan tersebarnya. Di masa 20an tahunnya, kiki pernah tercebur langsung dalam konflik antara rakyat anti komunis dengan PKI, walaupun peranannya hanya sebagai akomodator para anggota non komunis. Pertengahan tahun 1965, bisa dibilang merupakan titik klimaks PKI berkuasa. Pada saat itu, di Cikoneng terdapat banyak anggota-anggota PKI yang menetap, bahkan ada yang berkedudukan seperti satgas, terlebih lagi salah satu petinggi PKI yang bernama Kartosuwiryo tinggal di sebuah bukit yang berada di Ciamis. Rumah kiki pernah menjadi sasaran penggrebekan PKI karena dicurigai sebagai markas Organisasi Pemuda Muhammadiyah. Nenek saya bercerita pada saat itu rumahnya pernah didatangi orang-orang PKI pada malam hari sekitar jam 12, untungnya ketika itu sedang tidak ada kegiatan pemuda. Kiki selalu menyediakan rumahnya jika sedang dibutuhkan oleh pemuda-pemuda muhammadiyah untuk dijadikan sebagai tempat rapat. Walaupun kiki dekat dengan orang-orang anggota organisasi anti komunis, beliau tidak pernah ikut dalam salah satu organisasi tersebut. Pada masa-masa itu kiki dan nenek hampir tidak bisa hidup tenang karena selalu saja ada anggota PKI yang mengusik. Tidak hanya laki-laki, tetapi juga perempuan-perempuan PKI yang tergabung dalam Gerakan Wanita PKI atau disingkat Gerwani. Orang-orang PKI pada saat itu sering mengadakan pawai, bahkan nenek saya bilang, Nini Oom (kakaknya) pernah ikut-ikutan pawai tersebut karena tidak tahu bahwa pawai tersebut adalah pawai anggota PKI. Rumah kiki waktu itu tidak jauh dari rumah tinggal anggota-anggota PKI, tapi juga tidak jauh dari rumah pemimpin Organisasi Pemuda Muhammadiyah regional Cikoneng, Aki Zaenal. Aki Iceng bercerita setiap hari Aki Zaenal membagi tugas bagi 5 pemuda dari tiap desa untuk menjaga desa dan anggota pemuda Muhammadiyah lainnya dari penggrebekan PKI. Bulan september 1965 menjadi titik balik dari supremasi PKI. Gerakannya pada tanggal 30 yaitu Gerakan September Tiga Puluh atau Gestapu memang mengejutkan bangsa Indonesia, tetapi pada saat itulah kemarahan rakyat-rakyat non komunis Indonesia pecah. Aki Iceng mengatakan bahwa beliau sebagai anggota Pemuda Muhammadiyah menjadi saksi saat terbentuknya kesatuan aksi organisasi masyarakat Indonesia yang digandeng oleh Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia (KAPI) dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). Hingga tahun 1966 kesatuan aksi tersebut sering mengadakan demo, dan puncaknya adalah demo di depan Istana Bogor pada tanggal 24 Februari dan memacu letusan senjata berapi dan mengakibatkan terbunuhnya seorang tokoh mahasiswa, Arief Rahman Hakim. Tritura baru dapat terwujud setelah keluarnya Supersemar yang memerintahkan untuk membasmi seluruh antek-antek PKI. Pemuda Muhammadiyah regional seputaran tasik dan ciamis mengadakan rapat di rumah Aki Bana di Margaluyu. Selanjutnya para pemuda tersebut melaksanakan perintah dan langsung menuju rumah rumah warga yang berada di sekitar daerah tempat tinggal PKI, yang salah satunya merupakan rumah kiki. Rumah rumah warga tersebut akan dijadikan sebagai tempat untuk menampung anggota PKI yang sudah ditarik dan digrebek. Anggota-anggota PKI yang sudah tertangkap tersebut kemudian dibawa dan dikumpulkan di tempat yang lebih besar seperti gedung olah raga.

Menurut saya peranan kiki dalam masa revolusi dari orde lama ke orde baru bisa dibilang cukup berjasa karena beliau sudah menyediakan rumahnya untuk digunakan para pemuda muhammadiyah untuk mengadakan rapat pada larut malam untuk menentukan kegiatan apa saja yang akan mereka laksanakan demi untuk bisa membubarkan PKI, dan bagi saya beliau juga telah berjasa dalam membentuk karakter saya untuk menjadi seperti sekarang ini dan untuk menjadi saya dikemudian hari.

No comments:

Post a Comment