Saturday, 1 June 2013

Rayhan Athaya - XI IPS 1



Bismillahirrahmanirrahim, kalli ini saya mengadakan suatu wawancara untuk memenuhi nilai tugas saya, kali ini saya akan mewawacarai salah satu bagian dari keluaarga saya, yaitu nenek saya sendiri, beliau akan menjadi saksi sejarah dari alm.Dr.Marzuki, nenek ssaya member sebuah buku yang bernama “Drama Kedokteran Terbesar” buku tersebut menceritakan sebagian dari masa masa penjajahan  jepang di Indonesia, sepertti ini ceritanya
Kenangan Masa Kenpei (kenpei – herinneringen)
Gij die hier binnentreedt, laat alle hoop varen (van dante
(barang siapa yang masuk ke sini, akan kehilangan harapan)
Dari catatan almarhum Dr.Marzuki
Ny.L.Kodyat putri d r.marzuki menginginkan saya mempergunakan catatan ayahnya tentang pengalaman beliau sebagai salah seorang korban dalam peristiwa yang kita peringati ini.
Sebagai kepala jawatan kesehatan kota Jakarta waktu itu, dr.marzuki dianggap ikut serta dalam komplotan penyuntikan vaksin beracun di daerahnya, ia diambil ken pei tai dari kantornya pada tanggal 20 oktober 1944 pada siang hari,saya diciduk oleh 2 sipir dari kenpei dari tempat kerja medis saya, akan saya coba member gambaran, sebagai contoh dari ribuan pengalaman korban korban lain, seperti juuga di eropa (Gestapo) yang mengalami siksaan seperti di neraka.
Pada tangggal tersebut sore pukul 13.30 di aula ssekolah tinggi hukum (rechtshoogeschool ;RH) yang sejak pendudukan jepang telah diduduki oleh kenpeitai yang terkenal jahat, saya mengalami apa yang dikatakan oleh van dante, tanpa saya sadari. Tadinya RH adalahh tempat hukum yang dijunjung tinggi, tetapi sekarang RH tempat hukum diinjak injak oleh kaki tirani terbesar yang menerapkan keadaan tanpa hukum yang sempurna.
Berikut ini beberapa kutipan dari catatan tersebut, sebagai  pelengkap dari apa yang telah dikisahkan di tempat lain:
Waktu untuk berpikir tidak diberikan kepada saya. Sesudah baju bagian atas dan isi kantong diberikan kepada sipir pejaga jepang yang kejam , maka saya diantar ke “tempat tinggal” saya yang baru.di hari pertama itu telah dicicipkan kepada saya penghinaan yang masih akan saya rasakan berbulan bulan lamanya. Dalam keadaan membungkuk, supaya dapat melewati  pintu sel yang rendah, bagian belakang saya diterjang sehingga saya memasuki sel dengan kecepatan luar biasa.
Empat belas hari lamanya saya didiamkan saja,seolah olah dilupakan, suatu waktu yang sangat lamanya rasanya, menggelisahkan dan menegangkan syaraf.
Lahir kota gadang(sumatera barat) 27 January 1893 meninggal di Jakarta 8 maret 1957. Lulus stovia 29 november 1919 dan ujian arts di laiden tahun 1933. Kurang lebih 7 tahun kepala jabatan kesehatan kota Jakarta, dari april 1942 sampai 1 oktober 1949, terhitung 10 bulan dalam tahanan ken pei tai. Beliau memulai jabatannya itu hanya dengan 4 dokter dan 3 polikilinik. Waktu ditinggalkannya karena sakit, D.K.K(djawatan keseatan kota) memiiliki 500 karyawan, diantaranya 20 dokter , 1 rumah sakit rakyat dengan 150 tempat tidur, 3 rumah bersalin, 15 poliklinik, 7auto ambulans, dan 2 auto jenazah.
Setelah 14 hari berlalu, tanpa disangka sangka tibalah interogasi pertama. Saya punya firasat bahwa interogasi ini berkaitan dengan apa yang disebut “persoalan vaksin”. Hal ini sebenarnya adalah sebagai berikut: tim  medis militer jepang telah memesan vaksin kolera-tifus-disentri (CTD) dari institute Pasteur bandung, yang dipimpin oleh dokter jendral jepang dimana vaksin itu akan diberikan kepada romusha (kuli) dan ternyata juga untuk anggota militer mereka. Ternyata belakangan diketahui bahwa vaksinasi itu terkontaminasi dengan toktinus tetanus, dimana terjadi korban 100an orang, sama seperti yang terjadi di lubeck di tahun1924 dengan ttuberkulin. Andaikata di dalam suatu laboratorium sseperti instituut Pasteur dengan begitu banyak bakteri bakteri yang membahayakan nyawa tidak dilakukan ketelitian yang tinggi, maka akan terjadi keadaan keadaan fatal akibat dari keccerobohan. Sebagaimana kita ketahui ssoal tetanus itu berasal dari klender, tempat tinggal romusha unntuk transport ke luar jawa. Penyakit ini timbul beberapa minggu setelah vaksinasi, yang diantara lain dibantu oleh 1 dokkter 2 perawat dari DKK yang saya pimpin. Keterlibatan Eijkman instituut dan rumah sakit umum(general hospital), dimana kepalanya juga terlibat, bagi saya sebenarnya tidak jelas, tetapi ternnyata setelah penyelidikan menurut jepang, menurut keadaan tidak berhubungan ini dapat dikembangkan
Rupanya segala sesuatu telah diatur demikian rupa sehingga dari hasil pemeriksaan harus terbukti bahwa suatu komplotan beberapa dokter Indonesia yang anti Nippon dan pro sekutu telah melaksanakan sabotase dengan meracuni vaksin yang disuntikkan kepada romusha. Dan mereka yakin saya adalah salah seorang pelaku tersebut,
Pada interogasi pertama saya dipukul di kepala dengan sedemikian kerasnya, sehingga saya langsung tidak sadar. Belakangan saya anggap ini keadaan  yang menguntungkan karena saya tidak bereaksi secara reflex(Dr. marzuki adalah ahli pencak silat-red), oleh karena itu tidak mengerjakan hal hal yang agresif, sesuatu yang memang saya takutkan akan saya lakukan, dan oleh karena itu saya lolos tidak dibunuh seperti seekor anijing, sebagaimana mungkin terjadi pada kolaga K (Dr. kajadu-red) ketika saya sudah sadaar kembali( setelah disiksa), timbullah keinginan saya yang luhur untuk bertahan hidup. Saya mendapat semangat karena ternyata kolega STn(Dr.sitanela-red) yang jauh lebih tua dan tidak terlatih dalam bidang olahraga seperti saya, dapat melwati semua siksaan siksaan dengan tetap hidup
Yang sangat utama dari setiap interogasi adalah: “mengaku sajalah, hal itu sudah jelas, yang lain lain juga sudah mengaku, yang ditunggu adalah pengakuanmu” saya dianggap tahu benar segala hal mengenai konspirasi ini dan mereka juga tahu kedudukan saya dalam proses monster ini, jadi pengakuan saya secara resmi diperlukan, dan selanjutnya hal hal yang detail nanti akan ditambahkan, sehingga kesimpulan akhir adalah hasil dari penyidikan yang teliti dan objektif, lima belas hari berturut turut penyidikan ini berlangsung. Pada suatu waktu saya telah putus asa; mengaku sesuai dengan kehendak berarti mati, tidak mengaku akhirnya mungkin mati juga akibat siksaan. Maka saya minta supaya saya dibunuh saja. Jawab mereka “kami tidak mau rekas-rekas”(r=1), menegakkan bulu roma saya. Interogasi yang teratur tidak pernah terjadi, karena setiap jawaban yang tidak sesuai dengan mereka lansung diteriaki “BOHONG”, dan dilanjjutkan dengan siksaan siksaaan terdahulu, yang dialami semua korban.
Sebagai pengisi waktu kami di sel membuat rangking dari repertoire penyiksaan sebagai berikut:
a.       Pemukulan dengan tangan kosong
b.      Pemukulan dengan tongkat panjang atau pendek dari kayu
c.       Pemukulan dengan bamboo atau tongkat karet
d.      Berjam jam berlutut diatas papan setrika dengan sepotong kaayu di lipatan lutut dan menyangga beban berat dengan 2 tangan
e.      Penggantungan dengan 2 tangan dalam posisi terpelintir(skrup ganda), dengan jari jari kaki hanya beberapa senti di atas tanah
f.        Penyiksaan listrik, yang disukai di tempat tempat sensitive
g.       Penenggelaman dimana korban dengan kedua kaki tangan diikat pada bangku, muka ditutup dengan kain, dan air disiramkan ke muka dari keran yang dibuka besar besar, kalau dia pingsan, maka kesenangan penyiksa berkurang,, dan ditinggalkan begitu saja kepada alam(vis medicatrix naturae)
h.      Pembakaran dimana sebatang rokok yang sedang menyala akan ditempelkan pada korban, tapi tidak sampai api rokok itu mati, atau Koran diikatkan ke salah satu anggota badan dan di bakar
i.         Tanpa makan atau tanpa tidur, bisa sampai terjadi 20 hari seperti yang terjadi pada saya.
Kombinasi dari siksaan itu sering terjadi terutama kombinasi penggantungan dan penyiksaan llistrik, tak seorang pun yang tidak mendapat pengulangan dari siksa ini, sehingga tidaklah salah kalau kolega-kolega saya mengatakan tidak perlu masuk neraka lagi, karena telah mengalaminya. Bagi saya yang terberat adalah penghinaan yang saya dapat, disbanding siksaan fisik, sebab siksa fisik itu separah parahnya apapun juga pasti akan pulih dan mudah dilupakan, tiap kali saya kembali ke sel, saya dikelilingi oleh teman teman saya yang diam hening, namun menunjukan sikap empatti, jadi tidak heran bahwa dengan segala perbedaan ras, agama, kedudukan dalam masa masa cobaan ini, telah terbentuk ikatan erat yang tidak mudah dipatahkan.
Sesudah tanggal 15 november 1944, saya tidak ditanyai lagi. Berbulan-bulan menunggu selalu dibayangi oleh ancaman bahwa tiap malam mungkin merupakan malam terakhir buat saya. Merupakan suatu ironi besar, bahwa keadilan dan hak asasi manusia diinjak-injak dalam gedung sebelum perang dipergunakan tempat mendidik orang dalam ilmu hukum dengan segala aspek kemanusiaannya.
Peristiwa yang tidak terlupakan terjadi di depan sel kami pada tanggal 9 desember 1944. Di atas sebuah tandu berbaring sejawat Dr. Marah Achmad Arif dalam keadaan sakaratul maut; dan kami tidak berdaya untuk menolongnya.
Ken Pei Tai rupanya telah selesai dengan pemeriksaannya. Beberapa kawan telah dibebaskan. Saya dipindahkan ke tempat tahanan polisi, dimasukkan dalam sel sempit bersama dengan macam-macam penjahat dan tersangka. Keadaan tempat tinggal lebih buruk daripada di Ken Pei Tai. Untungnya di sini tiap hari saya menerima makan dari rumah, sehingga dalam tempo tiga bulan keadaan fisik saya mulai baik kembali.
Sehari sesudah Republik Indonesia diprokamasikan, pada tanggal 18 Agustus 1945 saya dibebaskan. Hanya mereka yang pernah kehilangan kebebasannya akan mengerti sepenuhnya apa artinya sesudah 10 bulan dalam kurungan kembali ke pangkuan keluarga. Lepas dari segala bentuk belenggu bagaimanapun entengnya dirasakan, adalah hak asasi buat tiap manusia dan tiap bangsa.
Semoga Allah yang Maha Kuasa juga membebaskan bangsaku dari belenggu penjajahan bangsa asing, buat selama-lamanya.”Dr. Marzuki meninggal dunia di Jakarta pada tanggal 8 Maret 1957, dalam usia 64 tahun

No comments:

Post a Comment