Saturday, 1 June 2013

Tugas 2 Biografi - Putri Khalisha S XI IPA 1

"Sajunjunan Sauyunan", kata Nenek Siti Martini


06.45
“Pagi, neng. Apa kabar kamu?”
“Baik nek, nenek sehat kan?”
“Alhamdulillah sehat, aya naon pagi-pagi nelepon?”
“Ini nek, aku mau wawancara nenek buat tugas sejarahku, nenek nanti siang nggak ada acara, kan?”
“Ooh, boleh. Nggak ada tuh kayanya.”
“Nanti siang aku telepon lagi ya nek.”
“Atuh kenapa nggak sekarang aja?”
“Bentar lagi aku ada kelas nek, Putri mau belajar dulu.”
“Oh kitu, yaudah. Belajar sing pintar kamu ya.”

Percakapan singkat antara saya dan nenek pagi itu menjadi mood booster bagi saya. Terdengar antusiasme nenek ketika ia tahu bahwa saya akan mewawancarainya. Mendengar suaranya saja mengingatkan saya akan rumahnya yang sejuk di kawasan Bogor, Jawa Barat. Beruntung bagi saya yang kali ini akan mendengar banyak cerita dari nenek—sangat banyak, bisa saya katakan, karena kebiasaan nenek yang tidak ada habisnya ketika sudah bercerita—tentang kesaksian dia pada sejarah. Selama ini, nenek biasanya bercerita tentang masa lalu keluarga, dimana ia sering bercerita sebelum saya tidur, ketika saya menginap di rumahnya pada waktu liburan. Sejauh ini pula yang saya ketahui tentang nenek di masa lalunya adalah ia pernah bekerja, menemani kakek berpindah-pindah ke luar kota karena dinas, dan tak lama setelah bekerja ia menjadi ibu rumah tangga. Saya pun menjadi tertarik untuk mengulik sesuatu yang berbeda dari nenek.

13.30
“Maaf Put, tadi pas kamu nelepon ke rumah nenek lagi jenguk temen nenek yang sakit bareng temen-temen yang lain, tiba-tiba diajakin. Terus keinget kamu mau wawancara, yaudah nenek pamit pulang duluan ke temen-temen nenek.”
Sekali lagi, nenek bersemangat untuk diwawancara!
“Nggak apa-apa nek, sekarang Putri lagi senggang kok. Nenek udah siap?”
“Hayok atuh, mulai wawancaranya.”
Cerita dari nenek pun dimulai tentang kesaksiannya pada zaman penjajahan.

“Belanda pernah, Jepang pernah.”
Nenek yang waktu itu masih duduk di bangku Sekolah Dasar, pernah merasakan ketakutan yang amat dahsyat pada zaman penjajahan oleh Belanda. Dari rumahnya yang terletak di daerah kota Cirebon, ia terpaksa mengungsi bersama seluruh keluarganya dengan berjalan kaki sejauh 21 kilometer ke daerah pedesaan, yakni daerah yang bernama Cilimus.
“Ngeri pisan tah waktu itu, Cirebon teh diserang ama Belanda dari laut sama udara. Biar pasukan Indonesia banyak yang gerilya di daratan, tetep aja ngeri, bom sana-sini, ya nggak ada pilihan lain selain ngungsi.”
          Di Cilimus, nenek sekeluarga menetap selama kurang lebih satu bulan. Tidak ada hal yang kiranya bisa dilakukan di sana, mengingat tutupnya perkantoran dan sekolah.
“Di Cilimus aman nggak, nek?”
“Ya nggak juga, tapi mendingan daripada di kota.”
          Setelah satu bulan mengungsi, akhirnya nenek mendapat kabar bahwa kondisi di perkotaan sudah mulai aman, lalu mereka memutuskan untuk kembali ke kota Cirebon.

“Kalo Jepang gimana, nek?”
“Wah itu mah lebih sengsara lagi.”
Situasi yang digambarkan di buku sejarah saya ternyata tidak mengada-ngada. Nenek mengakui kelamnya masa penjajahan Jepang, walaupun ia masih kecil pada saat itu. Rakyat pedesaan dan orang pinggiran semakin terpuruk, sampai-sampai ada lagu yang populer pada zaman itu dengan judul ‘Orang Nganggo Kelambi Karung’. Belum lagi ditambah ketakutan yang melanda masyarakat karena tentara Jepang yang suka menculik gadis-gadis pribumi untuk diperkosa, tidak memandang siapa dia—anak petani, anak pejabat, semua diembat.
“Kakek pernah cerita ke nenek, itu bapaknya kakek teh dulu takut banget, khawatir, soalnya teh punya anak gadis banyak, adek-adeknya kakek kan banyak sing perempuan. Jadi teh kudu dijaga banget.”

“Mendingan dijajah Belanda apa dijajah Jepang?”
“Belanda lah, Jepang mah ngerusak bae.”
          Meskipun nenek mengatakan bahwa Jepang cenderung merusak bangsa ini pada saat masa penjajahannya, namun itu bukan berarti sepenuhnya merusak, melainkan sedikitnya pembangunan yang dilakukan Jepang pada negeri ini. Ditambah lagi kesengsaraan serta ketakutan seperti hal nya tentara-tentara Jepang yang menculik gadis-gadis pribumi untuk diperkosa. Ketika nenek kembali bersekolah di Sekolah Dasar pada masa penjajahan Jepang, lagu kebangsaan Jepang, ‘Kimigayo’ juga wajib dinyanyikan sebelum kelas dimulai. “Mana ngarti urang mah!” sambung nenek sembari tertawa. Lain dengan Belanda yang meskipun betah dengan lamanya masa pendudukan mereka di Indonesia, turut membangun negeri ini dengan bukti fasilitas umum serta infrastruktur yang masih kokoh sampai hari ini.

“Waktu merdeka, nenek masih kecil ya?”
“Iya, seneng deh pas itu rasanya.”
          Bukan euforia, tapi selebrasi. Siapa yang tidak bangga sama negaranya yang merdeka tanpa pemberian negara lain? Ketika itu alun-alun Cirebon dibanjiri oleh lautan masyarakat yang menyaksikan pulangnya tentara-tentara Indonesia dengan gagah. Anak-anak kecil termasuk nenek saya bernyanyi sambil mengibarkan bendera merah-putih. Bahkan di tengah suasana senang seperti ini pun, nenek yang masih bocah saja merinding ketika menyaksikan tentara-tentara itu pulang setelah mendapat perintah dari Bung Karno untuk turun dari medan gerilya, yaitu hutan-hutan di pegunungan. Dari cerita nenek, saya baru tahu bahwa kakek saya menjadi saksi sejarah langsung peristiwa proklamasi kemerdekaan Indonesia. Almarhum menyaksikan peristiwa tersebut secara live di Jalan Pegangsaan Timur.

“Pas udah SMA atau seumuran aku, nenek pernah ikut organisasi pemuda gitu nggak nek?”
“Oh nenek mah nggak pernah, nggak dibolehin sama bapak.”
          Begitu saya tanya mengapa kakek buyut saya tidak membolehkan nenek untuk mengikuti organisasi-organisasi pemuda, baik yang berbasis perjuangan kemerdekaan, politik, pendidikan, dan sebagainya, ternyata alasannya adalah karena ia adalah seorang perempuan. Mungkin memang kakek buyut saya yang cukup over-protective, takut terjadi apa-apa pada anak perempuannya, entah itu pengaruh negatif ataupun sebagainya. Nenek yang hanya menurut saja apa kata orang tuanya, juga tidak masalah terhadap keputusan kakek buyut saya, walaupun sebenernya ia mau-mau saja jika dibolehkan. Yang penting saat itu baginya serta orang tuanya adalah menjadi pelajar tanpa ikut ini-itu.

“Nenek dulu pernah kerja di mana?”
“Pernah di karesidenan.”
“Hah? Presiden?”
“Nteu, bukan presiden, tapi karesidenan Cirebon.”
           Kata-nya yang mirip membuat saya mengira nenek pernah bekerja di kepresidenan, pantas saja saya sempat kaget mendengarnya. Saya pun juga baru tahu bahwa nenek pernah bekerja di karesidenan Cirebon di bagian administrasi.
“Nggak banyak yang nenek kerjain buat negara ini, tapi selama nenek jadi pegawai yang kerja untuk negara dengan jujur, nggak macem-macem, nggak aneh-aneh, itu juga udah cukup kok. Lain tah sama kakek kamu.”
        Mulai bicara tentang kakek, nenek mula-mula bercerita tentang bagaimana ia bertemu kakek. Saya mendengarnya ceritanya sambil senyum-senyum sendiri, awalnya tidak terbayang bagaimana ceritanya nenek yang jauh di Cirebon bisa jodoh dengan kakek yang anak Jakarta sejak lahir. Ternyata dulu nenek saya sering main ke Jakarta, mengunjungi kakak laki-lakinya yang tinggal di sana. Kebetulan, kakek saya adalah tetangga dari kakaknya nenek saya selama di Jakarta. Lalu, begitulah. “Yaudah, terus jalan deh tuh asmaranya.” kata nenek saya, kembali tertawa.

“Kakek itu orangnya nggak sabaran, nurun tuh sifatnya ke bapak kamu. Tapi gara-gara sifatnya itu, Bank BNI cabang Banyuwangi selamat.”
          Almarhum H. Mochtar, kakek saya, memang terkenal tidak sabaran. Saya tahu itu, mengingat saya pernah dimarahinya ketika saya menegurnya memakai sandal di dalam rumah saya. Ya ampun, gitu doang dimarahin.
          Sebelum bekerja di BNI, kakek yang baru lulus kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) sempat bekerja di perikanan. Selepasnya bekerja di perikanan, kakek ditemani oleh nenek saya berpindah-pindah, karena memang sering dipindah tugaskan sebagai pemimpin cabang. Pernah ia bertugas di Cianjur selama 2 tahun, kemudian selama 14 tahun ia habiskan untuk bertugas di Jawa Timur, yakni di Banyuwangi, Tulung agung, Jember, hingga Surabaya. Di Banyuwangi inilah, ia menyelamatkan cabang yang hampir bangkrut. Kemerosotan cabang ini sebelumnya diakibatkan oleh pemimpin cabang yang terlalu lembek, tidak tegas terhadap karyawan-karyawannya. Berdasarkan cerita nenek, jam 12 siang saja, sudah banyak karyawan yang pulang. Selama kakek menjabat sebagai pemimpin cabang BNI di Banyuwangi, ia mengubah sistem dengan menarik pegawai-pegawai pos (dimana terdapat layanan pos di BNI, yang kerjanya di belakang) menjadi teller bank. Baginya, nggak penting yang cantik-cantik, yang penting yang rajin-rajin. Sejak saat itu, BNI cabang Banyuwangi tersebut berhasil pulih, bahkan menghasilkan surplus yang cukup besar.
          Sifat kakek yang tidak sabaran ini tidak hanya membuat kakek terus naik pangkat dan memulihkan bank-bank yang hampir bangkrut selama ia berpindah-pindah tugas, tetapi juga membuatnya berkarir dalam training karyawan-karyawan. Ketika ia bertugas di Jakarta, ia menjabat di bidang pendidikan, di situlah ia berkesempatan untuk menjadi pembicara dalam melatih karyawan-karyawan BNI. Sumber Daya Manusia (SDM) yang matang merupakan aset yang sangat besar bagi sebuah perusahaan, juga bagi sebuah negara.

“Emangnya nenek nggak capek pindah-pindah terus nemenin kakek?”
“Enggak atuh, nenek mah betah-betah aja.”
          Walaupun tidak pernah memiliki pengalaman berorganisasi selama masa mudanya, ternyata nenek pernah menjadi ketua Dharma Wanita pada tahun 80an, selama ia menemani kakek pindah kesana-kemari di sekitar Jawa Timur. Kegiatan yang dilakukan di organisasi ini antara lain adalah kegiatan-kegiatan keterampilan, seperti memasak, menjahit, bermain kolintang, dan lain-lain. Selain menjadi ketua Dharma Wanita, kegiatan nenek selama di Jawa Timur adalah mengikuti arisan di daerah-daerah kabupaten seperti Madiun dan Kediri. Arisan tersebut merupakan bagian dari rangkaian acara laporan bulanan BNI di cabang BNI setempat. Tidak hanya di daerah kabupaten, sesekali laporan diadakan di kota Surabaya, dimana ia mengadakan arisan bersama pemimpin BNI wilayah Jawa Timur.

“Balik lagi soal penjajah nek, apa pendapat nenek tentang itu?”
“Oh, nenek punya cerita sendiri tentang itu.”

“Terakhir sebelum pensiun, kakek kamu itu dinasnya di Tulung agung. Di sana dia bikin rencana untuk make uang pensiun buat jalan-jalan sama nenek ke Jerman, Belanda, sama Perancis. Dapet 3 bulan tuh kita di Eropa. 1 hal yang kakek pengen banget, yaitu disemirin sepatunya sama orang Belanda. Eh beneran kejadian. Udah gitu, sepatunya nggak dilepas pas lagi disemir. Waktu udah selesai disemir, kakek ngasih uang lebih ke orang Belanda itu, nyuruh dia simpen kembaliannya. Orang Belanda itu seneng banget, kakek kamu ketawa-ketawa aja. Kata dia ‘sini lu hormat sama gua, semirin sepatu gua, enak aja udah ngejajah negara gua.’”

No comments:

Post a Comment