Sunday, 2 June 2013

Tugas 1 Biografi - Tasya Anggita XI IPA 4


Kisah Hidup Eyang Soemartini


Saya akan menceritakan seorang wanita yang menjadi pahlawan dalam keluarganya. Beliau merupakan wanita yang tangguh dan rela berjuang. Sosok ini merupakan Eyang saya yang bernama Soemartini, yang biasa saya panggil Eyang putri. Saya mengunjungi adik dari Eyang putri, yang biasa saya panggil Eyang yoga. Semasa hidup eyang putri, dipenuhi perjuangan. Bagi eyang putri, hidup ini adalah untuk berjuang.

Eyang putri lahir 15 juli 1929, Ciamis. Dari pasangan, bapak Garniwa Natasukarya, ibu Rumkesih
Orangtua eyang mendidik secara feodal sehingga pendidikan yang diberikan orangtuanya keras seperti di kerajaan (keraton). Orang tua nya berprofesi sebagai guru dan pemilik sekolah. Ibunya seorang rumah tangga. Ketika beliau di usia remaja, tepatnya saat menjadi guru, beliau di tawan oleh belanda dan diinterogasi karena dekat dengan pejuang daerah nya.

Pendidikan terakhir nya Mulo. Selepas sekolah eyang menjadi guru sd di garut di usia yang sangat belia. Kemudian beliau merantau ke Palembang dan menjadi Manager hotel di usia 20an. Saat beliau di Palembang, beliau menikah dengan saudagar bernama Burhaman dan dikaruniai seorang anak perempuan.
Namun beliau bercerai karena suaminya pulang ke kota asalnya. Dan tidak pernah lagi mendengar kabar suaminya. Kemudian beliau meniikah yang ke dua kali dengan seorang duda ber anak 3 bergelar bangsawan (aom) tapi tidak disetujui oleh orangtua dari pihak laki-laki. Sehingga terjadi perceraian kembali. Dan mempunyai 2 orang anak. Kedua anaknya di asuh oleh keluarga pihak suami. Eyang kemudian bekerja di toko buku, bogor. Banyak kenalan nya yang merupakan mahasiswa, dan banyak juga kenalannya yang merupakan ajudan dari presiden pertama, Soekarno. Sehingga Eyang mengenal presiden Soekarno.
Suatu ketika eyang bertemu dengan seorang mahasiswa IPB jurusan kedokteran hewan bernama Imam Soedarto Djojoargono yang saya panggil Eyang kakung. Akhirnya mereka menikah. Dari perkawinannya yang terakhir ini dikaruniai 4 orang anak, 2 orang perempuan dan 2 orang laki-laki. Salah satunya ibu saya yang merupakan anak pertama.
Awal perkawinan eyang kakung di tugaskan bekerja di Aceh. Semenjak pindah ke Aceh Eyang putri sudah tidak bekerja, hanya menjadi ibu rumah tangga.Maka 3 orang anak lahir di Banda Aceh. Anak pertama lahir tanggal 22 Desember 1962, bernama Hesti Handayani yang merupakan ibu saya. Yang kedua lahir tanggal 17 agustus 1964, bernama Prio Prakoso. Yang ketiga lahir tanggal 14 Desember 1965, bernama Teguh Prabowo. Eyang kakung menjabat sebagai kepala dinas peternakan Banda Aceh. Disana Eyang ditempatkan selama 4 tahun.
Setelah itu dipindahkan ke Jakarta berdinas di Salemba, Departemen Pertanian. Mereka tinggal di daerah Setiabudi. Disana lahir anak ke empat pada tanggal 24 Juli 1967 bernama Dian Lestari. Pada tahun 1969 akkhirnya eyang bersama keluarganya pindah ke rumah dinas pertanian di Pasar Minggu. Suasana masih seperti hutan pada awalnya dan masih terisolir.

Karena kehidupannya mengalami masa penjajahan, Eyang putri memiliki sifat yang keras seperti yang dialami ketika beliau masih kecil. Beliau sangat mengutamakan tatakrama, disiplin, jujur, dan taat ibadah sebagaimana diajarkan oleh orangtua nya. Sehingga meninggalkan kesan kepada anak untuk lebih takut kepada ibu daripada ayah. Karena Eyang Kakung lebih bersifat bebas dan sabar.
Eyang Putri bergaul dengan banyak orang belanda sehingga Eyang Putri pandai berbahasa belanda. Banyak kolega Eyang kakung yang belajar berbahasa belanda kepada Eyang putri. Eyang kakung juga ingin bisa berbahasa belanda namun beliau memilih untuk les di Erasmus Huis. Dari situ banyak kenalan orang Belanda dan mereka sering berkumpul di rumah Eyang.

Ke empat anaknya bersekolah di SD Bhakti Tugas. Dan ketika SMP Ibu saya, Om pri, dan Om teguh bersekolah di SMP 41. Dan tante Dian SMP di Perguruan Cikini. Beranjak SMA ibu saya, dan om pri SMA di Perguruan cikini, sementara om teguh di SMA 3 dan tante Dian di SMA 4. Selesai SMA ibu saya mengambil jurusan kedokteran di universitas Atmajaya, Om pri di STTN sampai 2 tahun saja lalu keluar, om teguh mendapat PMDK (sekarang disebut jalur undangan) masuk ke universitas Padjadjaran fakultas ekonomi, terakhir tante dian kuliah di IKIP jurusan tata busana.

Selain bekerja di Departemen pertanian Eyang kakung bekerja mengurusi peternakan sapi milik bapak presiden Soeharto. Eyang kakung sering ditugaskan keliling daerah dan luar negri. Selama hidupnya Eyang kakung lebih sering tidak dirumah sehingga lelah karena kesibukkannya dan akhirnya pun sakit.
Pada tahun 1984 awal Eyang Kakung collapse di bandara, ketika sampai di Surabaya. Seminggu kemudian Eyang kakung kembali ke jakarta setelah mendapatkan pengobatan. Eyang kakung tetap masih terlihat pucat, dan dirawat kembali. Dan di diagnosa mengidap kanker hati. Sejak itu eyang dirawat di rumah sakit cikini. Dinyatakan bahwa oleh dokter eyang hanya bertahan 4 bulan.
 Karena sakitnya yang serius, sempat akan dirujuk ke Jepang. Maka dilakukan pemeriksaan di RSCM. Tapi hasilnya menyatakan bahwa sudah ada penyebaran, sehingga dibatalkan untuk merujuk ke Jepang. Akhirnya Eyang dirawat di RSCM. Berjalannya waktu, prediksi 4 bulan itu ternyata salah. Sehingga Eyang putri menganggap masa kritis eyang kakung sudah lewat dan dianggap sudah sembuh. Maka akhirnya Eyang kakung dibawa pulang. Eyang memang terlihat segar dan sehat ketika itu.

Sebenarnya eyang kakung tidak diberitahukan bahwa ia sakit kanker, ia hanya di beritahukan bahwa beliau hanya sakit hepatitis. Karena di takutkan akan menurunkan motivasi eyang kakung untuk hidup. Namun suatu saat ketika ada telfon dari RSCM agar pihak keluarga mengambil hasil labortorium. Kebetulan tidak ada yang menjawab, akhirnya eyang kakung lah yang mengangjat telfon tersebut. Eyang kakung menanyakan apa hasilnya, dan bilang bahwa ia adalah anggota keluarga. Pada saat itu diberitahukan bahwa kanker hati sudah menyebar ke paru-paru dan tulang. Semenjak saat itulah eyang kakung shock. Dari perilakunya setelah itu, eyang kakung tidak mau lagi makan obat teratur dan cenderung makan sesuka hatinya, karena beliau menganggap hidupnya tidak akan lama sehingga beliau ingin menikmati sisa-sisa hidupnya. Karna sudah tidak mengindahkan anjuran dokter, eyang pun mengalami pembengkakan kaki, perutnya buncit, dan mengalami sesak nafas. Pada akhirnya beliau dirawat lagi di RSCM.
Tanggal 26 Desember 1984 eyang kakung meninggal dunia pada jam 11 malam. Dan di makamkan di pemakaman umum jeruk purut.

Semenjak kepergian Eyang kakung, eyang putri membiayai anak-anaknya sendiri. Dengan cara membuka catering yang dikelola temannya, membuka kos, dan usahanya itu berjalan dengan lancar. Sehingga pada akhirnya satu persatu selesai kuliah. Dan masing-masing menikah.

Setelah menikah, anak-anaknya memiliki kehidupan sendiri sendiri. Dan eyang putri tinggal bersama om teguh dan istrinya. Suatu ketika om teguh mendapatkan beasiswa dari world bank begitu juga dengan istrinya yang mendapat beasiswa di australia. Om teguh bekerja di departemen keuangan sedangkan istrinya bekerja di DPIS. Karena terpisah oleh jarak, terjadi lah perselisihan yang membuat om teguh bercerai dengan istrinya. Dari pernikahannya om teguh tidak dikaruniai anak.

Sementara Eyang Putri tinggal sendiri, hanya anak-anaknya yang bergantian menjenguk.  Setelah 2 tahun, om teguh kembali dari sekolahnya dan menemani eyang. Masa tua eyang dihabiskan dirumah hanya kadang-kadang berjalan pagi di sekitar rumah. Namun kesehatan eyang semakin lama semakin menurun. Sehingga lebih banyak waktunya dihabiskan untuk solat dan berzikir dirumah. Suatu saat, eyang terjatuh di kamar mandi pada saat hendak solat subuh. Dan tidak dapat tertolong lagi. Eyang meninggal pada tanggal 26 juni 2007. Dimakamkan bersama eyang kakung di pemakaman umum jeruk purut.

Eyang Putri adalah seorang wanita yang kuat, tegar, berani, pandai dalam mengatur keuangan, sangat disiplin, dan keras. Tapi kekerasannya itu memberikan dampak positive pada jiwa anak-anak, sehingga dapat menghadapi segala rintangan hidup, bahwa segala sesuatu tidak diraih dengan mudah namun harus dengan perjuangan, kerja keras, tekad, dan semangat.
Eyang putri merupakan pribadi yang hebat. Belau tidak pernah gentar dalam menghadapi kesulitan di dalam hidup. Semenjak ia kecil, beliau sudah merasakan sulitnya kehidupan karena didikan feodal orangtuanya. Namun hal tersebut yang membuatnya menjadi tangguh.

2 comments:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. History keluarga yang amat mengesankan akan hebatnya tauladan perjuangan hidup Eyang Putri Soemartini mengantarkan putra putri dalam mengentas kehidupan prima. Allahumaghfirlamhum warhamhum wa'afihi wa'fu'anhum. Wa ahlal Jannah. Aamiin Yaa Rabb

    ReplyDelete